
Melewati hari pertama yang sudah rumit, ditambah lagi dengan kedatangan Elvis membuat Zack semakin pusing. Ini hari kedua untuk menemui orang tua Aquarabella. Sialnya, Zack bingung harus datang ke sana pagi sekali, siang, atau malam. Sementara Aquarabella pasti menghitungnya maksimal sampai jam 12 malam.
"Oh God, kalau seperti ini aku bisa gagal. Mana hari ini ada rapat penting di kantor. Huft, sebaiknya aku ke sana dulu saja untuk meminta waktu pertemuan itu."
Setelah bersiap, Zack buru-buru sampai lupa membawa jasnya. Dia hanya memakai kemeja yang kancing atasnya tidak sempurna alias tersisa tiga lagi yang belum dikancingkan sehingga menampakkan sedikit dada bidangnya.
"Zack! Kamu mau ke mana?" panggil Beatrix.
"Mama?" Zack menghentikan langkahnya.
"Lihatlah penampilanmu yang berantakan itu! Apa itu pantas menjadi CEO?" tegur Beatrix.
Zack meneliti pakaiannya lagi. Dia benar-benar terkejut. Hanya karena seorang Aquarabella, dia bisa sekacau ini. Bagaimana nantinya kalau benar-benar menikah? Apakah akan lebih kacau dari sekarang?
Meneliti penampilannya yang berantakan dan tidak lagi merespon ucapan mamanya, Zack kembali lagi ke kamar untuk mengambil dasi berikut jasnya. Ini hari terkacau sepanjang hidupnya.
"Zack, kamu mau ke mana, sih? Kenapa buru-buru seperti itu?" teriak Beatrix sedikit kencang. Pasalnya, putranya itu langsung pergi ke depan.
Sepanjang jalan, Zack berharap agar pagi ini keberuntungan menjadi miliknya. Agar setelah ini semuanya bisa bebas dan tinggal menunggu kelanjutannya saja.
...🍒🍒🍒...
Meja makan sudah terhidang beraneka ragam menu untuk seluruh anggota keluarga. Semuanya disiapkan oleh nyonya rumah dan beberapa pelayan.
Suasana meja makan di rumah keluarga Sean Armstrong masih terlihat sepi. Sean, kepala keluarganya belum turun dari kamar. Mungkin saja sedang bersiap. Sementara putrinya, yang baru pulang dari rumah sakit kemarin juga belum terlihat turun.
"Bi, semuanya sudah siap?" tanya Callista.
"Iya, Nyonya."
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan memanggil putriku dulu, Bi. Kalau Tuan sudah turun, sampaikan saja kalau aku sedang ke kamar putrinya."
"Baik, Nyonya."
Mengetuk kamar putrinya tidak lagi dilakukan. Namun, Callista bisa langsung masuk karena wanita paruh baya itu melarang putrinya untuk mengunci pintunya.
Ceklek!
Callista melihat putrinya masih berbaring di ranjang, tetapi tidak sedang tertidur. Gadis itu sedang memeluk guling di balik selimutnya. Callista mendekati putrinya dan mengelus puncak kepalanya.
"Sayang, bagaimana kabarmu hari ini?"
"Aqua semakin membaik, Mom. Bekas operasi kecil itu tidak sakit, hanya saja mengingat pada saat perutku sakit, itu benar-benar luar biasa. Aku tidak ingat kalau sampai pingsan."
"Semangat, Sayang. Apakah pria itu akan bertanggung jawab?" tanya Callista. Semenjak datang ke rumah pria itu, dia belum tahu kabar terbaru. Namun, kemarin Callista sempat melihat pria itu melakukan konferensi pers di televisi.
"Tinggal lihat perjuangannya hari ini, Mom. Kalau memang dia serius, dia akan datang ke mari. Aku memberikan waktu tidak lebih dari dua hari untuk melangsungkan konferensi pers dan meminta restu pada Mommy dan daddy."
"Kenapa kamu lakukan itu, Sayang? Kalau dia datang, tetapi kalau tidak?"
"Itu artinya dia telah mempermainkan putri daddy Sean, Mom."
"Sayang." Callista mengecup puncak kepala putrinya. "Sarapan ke meja makan?"
"Tidak, Mom. Aku mau di kamar saja. Beberapa hari di rumah sakit, aku merindukan kamarku ini."
Callista tersenyum. Putrinya sudah kembali seperti semula. Walaupun gadis itu telah kehilangan dua hal berharga dalam hidupnya, namun putrinya tidak terlihat terpuruk sama sekali. Entah karena gadis itu mampu menyembunyikan luka dan enggan berbagi, atau memang kenyataannya seperti itu.
"Mom, sampaikan pada daddy. Kalau pria itu datang pagi ini, katakan padanya tidak bisa menerima tamu di pagi hari. Suruh datang ke kantor siang hari. Namun, daddy hari ini ada rapat penting. Biarkan saja dia menunggu di sana. Itu masih belum sebanding dengan perlakuannya padaku, Mom."
"Kamu sengaja membuatnya frustrasi?"
Aquarabella mengangguk dibalik selimutnya. Rasanya ini bukan hal buruk untuk mengerjai seorang Zack Leoline.
"Tentu saja, Mom. Siapa lagi yang mau menerima Aquarabella yang sudah tidak sempurna ini?"
Mata Callista berkaca-kaca. Putrinya benar-benar menyedihkan di matanya. Aquarabella duduk untuk memandang mommynya.
"Mom, jangan bersedih seperti itu! Setidaknya Aqua sekarang baik-baik saja."
"Mommy hanya khawatir pada pernikahanmu, Sayang. Apa kamu mau menikahi duda?"
Kini giliran Aquarabella yang tersenyum memandangi mommynya. Rasanya tidak hanya tersenyum, namun tertawa terbahak-bahak andaikan bisa. Sayang, Aquarabella masih menghargai usaha mommynya beberapa puluh tahun yang lalu.
"Mommy ini amnesia atau sengaja menakutiku?"
"Loh, kenapa sayang? Apa ucapan Mommy salah?"
"Tidak salah. Aku rasa, Mommy harus bercermin lagi. Memangnya siapa Sean Armstrong sebelum menikahi Callista?"
Sejenak Callista teringat akan posisinya yang sama seperti dirinya. Dia menikahi duda. Sekarang apa bedanya dengan putrinya.
"Sudahlah. Mommy kalah menghadapi dirimu. Sebentar lagi Bibi akan mengantarkan makanan untukmu. Mommy kembali ke meja makan dulu. Takutnya daddymu sudah menunggunya."
"Ya, Mom."
Baru saja mendekati meja makan dan bertemu dengan suaminya, Callista dikejutkan dengan suara bel yang menurutnya terlalu pagi untuk bertamu.
"Siapa pagi-pagi begini datang, Mom?" tanya Sean.
"Entahlah, Dad. Mommy buka pintunya dulu, ya?" pamitnya.
"Hemm."
Callista bergegas ke depan. Dia takut kalau pria itu yang datang dan bertemu suaminya. Karena menurut Aqua, pria itu harus dibuat bertekuk lutut dalam sehari.
Ceklek!
Benar saja, seorang pria sudah berada di depan pintu rumah keluarganya. Callista memandang pria itu memang sudah berumur, tetapi masih kelihatan muda sekali.
"Selamat pagi, Tante," sapa Zack.
"Pagi juga. Maaf, kenapa bertemu sepagi ini?" tanya Callista yang pura-pura tidak tahu.
"Zack ke sini ingin meminta restu pada tante dan om untuk meminang Aquarabella, Tante."
"Sayangnya tidak bisa dilakukan pagi ini. Sebaiknya kamu menemui suamiku di kantor siang ini. Mendekati makan siang, temui dia dan mintalah restu kepadanya."
"Tidak bisa pagi ini, Tante? Kebetulan siang ini aku juga ada rapat penting. Rasanya tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
"Ya, itu resikomu. Mau bagaimana lagi, kan? Suamiku sudah berangkat." Callista beralasan. Untung saja mobil suaminya masih di garasi.
"Baiklah, Tante. Nanti siang, aku akan ke kantor untuk menemui Om."
"Iya, maaf ya."
Zack pulang dengan perasaan kecewa bercampur khawatir. Pagi ini saja sudah gagal. Berapa waktu yang sudah dibuangnya secara percuma? Belum lagi nanti siang dia harus menghadiri rapat. Rupanya tidak mudah untuk mendapatkan Aquarabella seutuhnya. Zack harus berjuang dari pagi hingga entah sampai kapan. Waktu terus berjalan. Bagaimana pun juga, Zack sudah menyanggupi syarat tersebut.
...🍒🍒🍒...
Yuk, sambil menunggu update, kepoin karya teman Emak juga. Ini keren banget loh...