Duda, I Love You

Duda, I Love You
Honey Menyerah



Sepanjang jalan, Honey nampak terdiam. Walaupun dia duduk bersebelahan dengan Beatrix, tidak mungkin Honey akan menceritakan kejadian barusan. Dia juga tidak mengerti apa tujuan mantan istri Tuannya untuk mendekatinya. Entah sekadar ingin tahu kabarnya atau ada tujuan lain. Honey juga tidak tahu.


Beatrix melihat perubahan pelayannya yang terlihat berbeda. Sebenarnya Beatrix bukan wanita yang ingin tahu tentang kehidupan orang lain, tetapi kali ini rasanya ucapannya tak bisa tertahan.


"Honey, kamu kenapa? Kulihat setelah kembali, sepertinya kamu sedang banyak pikiran? Maaf, bukannya aku ikut campur urusanmu, tetapi kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita padaku," ucap Beatrix.


Honey melirik sekilas majikannya. Mana mungkin dia bisa menceritakan pertemuannya dengan mantan istri Zack. Dia takut kalau Beatrix akan salah paham kepadanya.


"Aku baik-baik saja, Nyonya," jawabnya.


"Kalau kamu memang sedang tidak enak badan, sampai di rumah bisa langsung masuk ke kamar dan beristirahat. Sebelum itu, jangan lupa bawakan paper bag itu ke dalam ya!" perintah Beatrix.


"Baik, Nyonya." Rasanya Honey memang perlu istirahat dan memikirkan ucapan Scarlett barusan. Setelah itu, dia akan memutuskan untuk pulang ke rumahnya atau tetap berlanjut.


Sampai rumah, seperti kesepakatannya dengan Beatrix, Honey membawa semua paper bag itu. Setelah meletakkannya, dia masuk ke kamar dan hanya membawa satu paper bag pemberian Beatrix.


Ceklek!


Honey menutup pintunya. Dia meletakkan paper bag itu di atas nakas. Setelah itu, Honey merebahkan dirinya di atas ranjang. Tak lupa, dia melepas kacamata dan meletakkannya di atas nakas.


Honey memejamkan matanya. Dia berharap setelah ini ada keajaiban untuk terlepas dari keluarga Leoline. Memikirkan ucapan Scarlett untuk keluar dari rumah ini sudah dipikirkan masak-masak. Dia perlu berbincang dengan Beatrix untuk mencari solusi masalahnya.


Rasanya aku tidak akan melanjutkan misiku. Aku sudah cukup lelah. Sikap Zack tetap saja seperti itu. Apa memang ucapan Scarlett semuanya benar? Kalau aku mencoba menanyakan ini pada Nyonya Beatrix, tentu wanita itu akan menanyakan balik alasanku di balik ini semua.


Honey beranjak dari ranjangnya. Dia berusaha untuk menemui Beatrix. Entah ada di mana wanita itu. Dia harus menanyakannya pada pelayan Senior di dapur.


"Bi, Nyonya Beatrix ada di mana? Aku ingin bertemu dengannya," ucapnya.


"Ehm, sepertinya masuk ke ruang kerjanya. Tempatnya ada di sana," tunjuk pelayan itu pada Honey.


"Terima kasih." Honey bergegas mencari keberadaan Beatrix. Sampai di depan ruangan wanita itu, Honey memberanikan mengetuk pintu. Tak ada salahnya mengatakan keberatannya selama ini. Semoga saja Beatrix mau membantunya.


Tok tok tok.


"Siapa?" tanya Beatrix.


"Honey, Nyonya," balas Honey dari luar.


Ceklek!


"Ada apa, Honey?"


"Maaf, Nyonya ... bolehkah aku berbicara denganmu?"


Beatrix mengernyitkan dahinya. Baru kali ini Honey terlihat ingin berbicara serius dengannya. Mungkin saja dia mengalami masalah pelik yang sungkan untuk diungkapkan. Berhubung setelah pulang dari butik, dirinya memberi kesempatan, saat ini Honey akan mengatakan hal penting yang membuatnya tidak nyaman.


Honey duduk di sofa ruangan itu. Ruang kerja yang berukuran tiga puluh meter persegi itu memang sangat luas. Hanya sebuah sofa sudut yang mendominasi ruangan itu. Sisanya hanya rak buku dan beberapa buku yang tersusun rapi di sana.


"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan denganku! Apa ini mengenai putraku?" selidik Beatrix.


Honey sebenarnya ingin bertanya mengenai Scarlett, tetapi itu tidak mungkin dilakukan. Sekali lagi berbicara dengan Beatrix menyebut nama wanita itu akan menjadi masalah besar untuknya. Honey sebisa mungkin harus membicarakan masalah pribadinya dan tidak boleh melebar ke mana-mana.


"Ehm, begini, Nyonya ... selama ini, aku merasa kalau sikap Tuan Zack tidak pernah berubah. Aku sudah mencoba segala macam cara agar pria itu mau menghargai siapapun yang ada di sekitarnya. Namun, tampaknya aku menyerah, Nyonya. Anda tahu sendiri kan bagaimana putra Anda selalu memarahiku disetiap kesempatan. Jujur saja, Nyonya, andaikan aku tidak butuh banyak uang untuk biaya hidup keluargaku, sedari awal aku akan menolak pekerjaan ini. Maafkan ucapanku bila menyinggung Anda, Nyonya," terang Honey.


Sudah bisa diduga Beatrix, lambat laun pelayan Zack akan mengeluhkan dengan sikap putranya. Ini bukan sekali saja. Honey termasuk pelayan pertama yang paling kuat bertahan selama ini.


Aku tidak bisa melepaskan Honey begitu saja. Sejauh ini dia sudah bekerja cukup baik. Zack terlihat sangat cocok dengan kinerjanya walaupun terkadang pria itu suka sekali marah.


"Apa ada lagi keluhanmu tentang putraku?"


"Tidak hanya putramu, Nyonya, tetapi juga keponakanmu itu. Rasanya aku seperti mainan yang harus dikerjakan ke sana ke mari. Jujur saja, malam itu memang Tuan Zack mengamankanku untuk tidur di kamarnya. Bukan tanpa sebab, melainkan hanya ingin menjauhkanku dari perintah Tuan Ernest. Kalau Tuan Ernest memakai pelayanan dariku, dia suka sekali berlama-lama. Hal itu membuat Tuan Zack terus-terusan memarahiku. Ini membuat pekerjaanku tidak nyaman, Nyonya. Sekali lagi aku minta maaf telah berkeluh kesah padamu," ucap Honey menunduk.


Beatrix memang tidak bisa tegas menghadapi keponakannya itu, tetapi sekarang mendapatkan keluhan dari pelayan Zack, dia harus ambil sikap. Secepatnya dia harus meminta Ernest pergi dari rumahnya. Kedatangan pria itu justru membuat keributan antara putranya dan pelayan pribadinya.


"Baiklah. Ada lagi keluhanmu yang lain?"


"Ada lagi, Nyonya. Kalau misalnya sikap dan perilaku Tuan Zack belum berubah juga, maka aku minta maaf padamu, Nyonya. Aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Walaupun kontrak kerja yang Anda berikan masih lumayan panjang, aku yakin kalau Anda bisa memaklumkan keputusan yang telah kubuat. Sekali lagi, aku mohon maaf padamu, Nyonya."


Skak mat! Jurus terakhir Honey untuk mengawali hidupnya agar bisa terlepas dari Zack dan Ernest secara bersamaan.


"Oke. Aku sudah mendengar keluhanmu. Mengenai kontrak kerja, kamu tidak perlu mempermasalahkannya lagi. Itu sebenarnya bukan hal yang terlalu penting. Soal gaji, kamu tidak ada masalah kan? Masalahmu hanya pada Zack dan Ernest. Baiklah, pertama aku akan berbicara dengan Zack dari hati ke hati. Aku harap anak dudaku itu bisa berubah. Entahlah setelah perceraiannya dengan Scarlett, dia menjadi semakin emosional."


Deg!


Apa yang disembunyikan Scarlett padaku? Sepertinya Zack penuh dengan misteri.


"Lalu, mengenai Ernest, secepatnya aku akan menegurnya dan memintanya untuk pergi dari rumah ini. Kamu jangan menyerah untuk selalu menghadapi putraku, Honey. Sepanjang pengamatanku, hanya kamu pelayan yang mampu membuatnya memiliki sifat untuk melindungi seseorang. Kalau kamu menyerah sekarang, aku harus berbuat seperti apalagi untuk mendapatkan pelayan sepertimu?" ucap Beatrix.


Rupanya Beatrix tidak ingin melepaskan Honey begitu saja. Dia memang sudah bekerja dengan baik untuk putranya. Bahkan, wanita itu mau berbicara lagi dengan Zack yang sangat sulit dikendalikan itu. Apakah Honey siap untuk keluar dari rumah keluarga Leoline atau tetap bertahan di sana? Honey juga masih bingung menunggu keputusan Beatrix.


...🍇🍇🍇...


Halo kakak readers. Emak hadir lagi merekomendasikan karya tamat milik teman Emak. Cus bisa baca marathon....Jangan lupa favorit, like, dan tinggalkan jejak komentar.


Rafa Dan Fatar by Author Libra


Terima kasih. Miss You All 😍😍😍🙏🏻🙏🏻🙏🏻