
"Nanti pulang kerja kamu aku jemput ya Ra?" tawar Bima
Bima menawarkan diri mengantar Clara sepulang bekerja nanti. Semakin dia mengenal Clara, Bima pun semakin merasakan ke tertariknya pada Clara.
"Ngak usah deh Bim.
Nanti aku bisa pulang sendiri kok," tolak Clara
"Gak apa-apa deh Ra, aku jemput aja ya nanti.
Biar kamu gak usah susah-susah naik angkot," Bima pun berusaha membujuk Clara.
"Gak susah kok Bim.
lagian aku nanti juga harus mampir ke toko kue sebentar ada yang harus ku beli juga di sana."
"Serius nih, gak mau di anterin cowok ganteng."
"Ha ha ha... iya Bim.
Aku masih ada urusan sepulang kerja, maaf mungkin lain kali aja ya Bim." tolak Clara halus.
"Ya udah deh, kalau begitu sekarang aku balik kantor dulu ya ra.
Soalnya masih ada kerjaan di kantor jadinya gak bisa terlalu lama disini." pamit Bima
Iya, kalau begitu hati-hati di jalan ya Bim.
Walau kecewa Clara menolak tawarannya, tetapi Bima tidak bisa memaksa cCara untuk mau di antar pulang olehnya.
Dia sadar, dia baru mengenal Clara beberapa hari ini.
Dan jika ingin mendekati clara, sepertinya masih terlalu cepat untuk menyerah karena hanya satu kali penolakan saja.
sepertinya dia harus berusaha lagi di lain hari.
***
Clara sengaja menolak Bima, dari perlakuan Bima padanya, Clara tahu Bima sedang berusaha ingin mendekatinya.
Clara tidak ingin memberikan harapan apapun kepada Bima. Oleh karena itu sebisa mungkin dia menolak ajakan Bima.
Sebenarnya selama beberapa waktu ini selain Bima masih ada beberapa pria yang berusaha untuk dekat dengannya juga.
Tetapi semua pria itu juga Clara tolak, bahkan dia tidak pernah memberi harapan sedikitpun kepada mereka.
Sadar Clara tidak memberi tanggapan dari usaha mereka.
Para pria itu biasanya mundur untuk mendekati Clara dengan sendiri nya.
****
"Ini surat kontrak nya Pak." Bima pun menyerahkan surat kontrak kerja Clara kepada Ronny sekembalinya ia ke kantor.
"Apa sudah selesai di tanda tangani Bim," tanya Ronny.
"Sudah Pak."
"Emm... apa ada bagian dari kontrak yang membuatnya keberatan Bim?" tanya Ronny memastikan.
"Tidak ada Pak.
Setelah saya jelaskan point-point penting dari isi kontrak, dia langsung menanda tangani nya Pak." jelas Bima.
"Kerja bagus Bim, Terima kasih."
"Sama sama Pak.
Kalau tidak ada yang Bapak butuhkan lagi saya undur diri keruangan saya pak." Bima kemudian pun keluar dari Ruangan Ronny.
Tadi sekembalinya ke kantor Bima langsung menemui Ronny untuk menyerahkan surat konrak kerja yang sudah di tanda tangani Clara kepada Ronny.
Ronny yang kini sudah menerima surat kontrak itu pun tersenyum dengan sinis memandang surat kontrak yang sudah ada di tangannya sekarang ini.
"Aku pasti akan membuat mu membayar atas semua rasa sakit yang pernah kamu berikan pada ku clara."
Bukan kah kamu pernah berkata tidak akan pernah ingin melihat ku lagi dalam hidup mu."
"ha ha ha..."
"Bahkan kalau kau tidak ingin melihat ku lagi sekarang, kau juga tidak dapat pergi dari gengaman ku Clara..."
"Kau harus tetap tinggal sampai aku sendiri yang menyuruh mu untuk pergi."
"Selama aku belum mengijikan mu pergi, jangan berharap untuk pergi Clara.
Kamu harus tetap ber ada disini, membayar semua rasa sakit yang pernah kau berikan perlahan-lahan." ucap Ronny yakin pada di rinya sendiri.
Malam harinya saat berada di apartement, Ronny berpikir keras bagaimana caranya agar dapat membalas Clara.
Sampai akhirnya ide itu pun muncul.
Ronny mengambil sebuah kertas dan pena.
" to: clara
Tolong kamu gantikan dan cuci semua selimut, sprei dan gorden dikamar ku dengan yang baru.
Dan juga, mulai sekarang tolong siapkan makan siang ku dan antarkan ke kantor sebelum jam dua belas siang."
Setelah menulis catatan itu Ronny berjalan kedapur dan menumpahkan sisa jus yang di minumnya tadi ke meja dan lantai yang ada di dapur.
Belum puas dengan apa yang dibuatnya Ronny pun berjalan keruang tamu dan mengacak acak ruangan itu juga.
semua bantal-bantal sofa yang tersusun rapi tadinya, kini sudah terlempar ke beberapa sudut ruangan itu.
Meja dan sofa pun tak luput dari ulah Ronny.
dia pun mendorong dan mengeser meja dan sofa yang cukup besar dan berat itu menjadi berantakan.
Selesai melakukan itu dia pun memandangi hasil kerjanya itu.
"Sepertinya untuk saat ini sudah cukup.
Aku yakin kau akan terkejut dan kewalahan besok untuk merapikan semua ini."
"Membuatnya berantakan saja sudah cukup melelahkan, apa lagi untuk membereskan nya."
Ini masih awal untuk mu Clara.
ha ha ha..." ucap Ronny sambil tersenyum dan tertawa jahat.
Lalu Ronny pun berjalan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Saat ini dia sedang bahagia memikirkan betapa kesulitan Clara besok melihat hasil kerjanya.
Sedangkan dilain tempat.
Clara sedang yang bahagia bercerita kepada Dita, kalau saat ini dia telah dikontrak dan mendapatkan kenaikan gaji yang cukup besar.
Gajinya saat ini bahkan lebih besar dari gaji Dita yang bekerja sebagai pegawai kantoran.
"Selamat ya Ra.
Aku ikut bahagia mendengarnya." Ucap Dita.
"Terima kasih Ta.
Dengan begini aku bisa segera melunasi Semua hutang-hutang ku pada mu dan kak Radit."
"Kamu gak usah pikirkan hutang mu pada ku Ra
Kamu lunasi saja dulu hutang mu kepada kakak sepupu mu Radit.
Aku belum membutuhkan nya kok."
"Aku pasti segera lunasi hutang ku pada kamu juga Ta.
Walau kamu bilang kamu tidak butuh, tapi aku tahu pernikahan mu yang tidak lama lagi pasti butuh biaya yang gak sedikit Ta."
"Aku masih punya tabungan kok Ra
Kamu tenang aja deh." tolak Dita.
"Terima kasih ya Ta.
Aku gak tau harus bagaimana kalau gak ada kamu.
Dari dulu kamu yang selalu bantu aku.
Aku berhutang banyak ke kamu Ta."
Kamu itu uda ku anggap kakak aku sendiri ra.
Aku iklas kok bantuin kamu." Clara dan Dita pun berpelukan sambil menetes kan air mata haru.
Dita adalah orang yang selalu membantu Clara. Mulai dari kesulitan yang Clara alami saat masih menikah sampai Clara memilih bercerai selalu Dita yang menolong Clara.
"Walau belum bisa melunasi hutang ku ke kamu.
Tapi aku pasti akan memberikan hadiah yang bagus untuk pernikahan mu nanti." janji Clara.
"Bener ya Ra
Aku ngambek lo nanti kalau hadiah nya gak bagus. Ha ha ha..." ucap Dita sambil menunjukan jari kelingkingnya.
"Pasti Ra
Kamu tunggu aja deh. Ha ha ha..." Clara pun ikut menaitkan kelingkingnya ke jari Dita tanda ia sudah berjanji.
Akhirnya mereka pun menghabiskan malamnya dengan canda dan tawa.
Tidak ada kesedihan di wajah Clara malam ini. Clara merasa keberuntungan nya mulai perlahan menghampirinya saat ini.
Dia tidak tau kalau masalah baru sedang menantinya di depan.