
Sesampainya di rumah sakit, Clara dan Ronny langsung ke bagian informasi untuk mencari tahu di mana keberadaan Radit di rawat.
"Mbak Nisa" panggil Clara saat melihat istri Radit sedang duduk di lorong ruang ICU di mana Radit sedang di rawat.
"Clara.
Kok bisa ada di sini." tanya Nisa.
"Iya Mbak, tadi kami ke rumah untuk menemui kalian. Tapi kata bu Yanti kak Radit kecelakaan dan berada di rumah sakit sekarang." jelas Clara.
"Trus keadaan kak Radit sekarang bagaimana Mbak." tanya Clara lagi.
"Keadaan Radit gak baik ra, semalam karena hujan lebat dia tergelincir saat mengendarai sepeda motornya. Kepala Radit terbentur aspal dan dia koma sekarang." ucap Nisa yang kembali menangis mengingat apa yang sudah terjadi kepada suaminya.
"Trus dokter bilang apa Mbak." tanya Clara lagi.
"Radit harus di operasi, ada gumpalan darah yang terperangkap di kepalanya." ujar Nisa sambil berusaha menahan tangisnya.
"Jadi kenapa kak Radit masih berada disini dan belum di operasi Mbak? tanya Clara.
"Kakak gak punya biayanya Ra. Uang kami baru saja kami gunakan untuk membeli sebuah rumah. Jadi sekarang Mbak gak punya uang lagi untuk biaya operasi Radit, sementara kalau Mbak menjual rumah itu, tentu saja butuh waktu." ujar Nisa menjelaskan.
"Kakak yang sabar ya.
Kak Radit pasti akan baik-baik saja." Hibur Clara.
"Ra, walaupun Mbak tahu ini tidak cukup untuk biaya operasi Radit, tapi bisa tidak kalau kamu melunasi hutang mu pada kak Radit sekarang. Mbak mohon Ra, Mbak tahu ini akan memberatkan mu tapi Mbak juga gak tau lagi harus dari mana mendapatkan biaya operasi Radit Ra." ujar Nisa.
Sementara Clara hanya bisa terdiam. Dia juga tidak tahu dari mana harus mendapatkan uang untuk membayar hutangnya kepada Radit agar Radit bisa segera di operasi.
"Berapa biayanya Mbak? biar saya yang membayar biaya operasinya." tanya Ronny yang bermaksud menanggung biaya operasi Radit.
"Biaya operasinya Seratus lima puluh juta."
"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan mengurus semuanya." ujar ronny yang pergi meninggalkan Clara dan Nisa.
Tidak lama kemudian Ronny pun kembali lagi.
"Semuanya sudah beres, sekarang dokter sedang mempersiapkan operasi untuk Kak Radit, kalian tenanglah Semuany pasti akan baik-baik saja." ujar Ronny.
"Terima kasih Ron, Kau sudah mau membantu. Nanti pasti aku akan menganti uang mu walau pun harus mencicilnya." Ujar Clara.
"Sudahlah nanti saja baru kita bahas, sekarang sebaiknya kau temaninMbak Nisa dulu." jawab Ronny
Clara pun menuruti perkataan Ronny, sekarang ia pun berada di sisi Mbak Nisa untuk membantunya mempersiapkan operasi yang akan Radit jalani sebentar lagi.
Tidak lama kemudian dokterpun datang dan melakukan operasi pada Radit.
Karena operasi yang dilakukan merupakan operasi besar, maka operasi itu pun akan berlansung cukup lama.
"Ini makanlah dulu Mbak." Clara pun memberikan makanan yang baru dibelinya kepada Nisa.
"Tidak Ra, Mbak ngak lapar. Kamu saja yang makan Ra." tolak Nisa.
Aku tadi sudah makan sama Ronny di kantin rumah sakit. Dan makanan ini sengaja kami beli karena tahu Mbak pasti belum makan dari semalam."
"Tapi melihat kondisi Radit yang seperti ini Mbak gak bisa makan Ra." tolak Nisa lagi.
"Bagai mana pun Mbak harus makan, kalau Mbak gak mau makan, nanti Mbak bisa jatuh sakit lo. Dan kalau Mbak jatuh sakit nanti siapa yang jagain Kak Radit." bujuk Clara, dan untung saja setelah bujukkan nya itu, Nisa pun akhirnya mau makan walaupun hanya sedikit.
***
Beberapa jam setelah operasi berjalan.
"Sebaiknya kalian balik dan beristirahat saja dulu Ra, biar Mbak sendiri saja yang menunggu operasinya selesai." saran Nisa setelah operasi Radit berjalan selama hampir dua jam dan belum selesai juga.
"Tapi kasian Ronny Ra, tampaknya dia sudah kelelahan." bujuk Nisa, yang tidak tega melihat Ronny sudah tampak tertidur dengan posisi masih duduk di kursi.
"Baiklah Mbak, kalau ada apa-apa jangan lupa mengabari Clara ya Mbak."
"Pasti Ra, kalau ada apa-apa pasti Mbak kabari kok".
Kemudian Clara pun membangunkan Ronny yang tertidur dan mengajaknya pulang.
"Ron, Ronny..." Clara memanggil Ronny sambil mengguncang pelan tubuhnya.
"Hmm..., Ada apa?" Ronny pun terbangun dan dengan berat dia membuka matanya.
"Kita balik yuk." ajak Clara.
"Operasinya sudah selesai?"
"Belum sih, tapi kelihatannya kamu capek banget. Kita balik aja yuk nanti kalau ada apa-apa pasti Mbak Nisa akan kabari kita."
"Oh... ya uda deh. Kalau gitu kita balik hotel aja ya, besok baru kita lihat keadaan Kak Radit lagi sebelum balik ke jakarta." saran Ronny.
"Baiklah, tapi kita pamit dulu ya sama Mbak Nisa."
Kemudian mereka pun mendatangi Nisa yang sedang duduk tidak jauh dari tempat mereka tadi.
"Mbak Nisa, kami pamit dulu ya. Besok kami akan mampir ke sini lagi sebelum balik ke Jakarta."
"Iya Ra gak apa-apa, kalian hati-hati ya di jalan." pesan Nisa
Kemudian Clara dan Ronny pun keluar dari rumah sakit.
Saat mereka hanya berdua di dalam mobil. Ronny pun akhirnya menanyakan hal yang sejak tadi ingin di tanyakan nya saat mereka masih berada di rumah sakit, tetapi karena merasa tidak enak dengan Nisa akhirnya ia pun mengurungkan niatnya
"Kamu kenapa bisa sampai berhutang ke Kak Radit Ra?"
"Emm, itu karena... " Jawaban Clara ragu.
"Karena apa? Jawab dong Ra, kok malah diam aja."
"Itu karena kak Radit yang membayar biaya operasi dan rumah sakit Ibu. Saat Ibu mengalami kecelakaan dulu kita tidak punya uang sama sekali jadi Kak Radit lah yang membayar semua itu dengan mengunakan uang yang seharusnya dia pakai untuk membeli rumah yang akan dia tempatinya setelah menikah dengan Mbak Nisa." ucap Clara menjelaskan apa yang terjadi dulu.
"Kenapa dulu kau tidak pernah menceritakan hal ini pada ku Clara." ucap Ronny terkejut dan dengan sedikit emosi.
"Saat itu aku hanya tidak ingin menambah beban mu lagi Ron. Hutang-hutang yang disebabkan patner usaha mu dulu saja sudah cukup menyulitkan mu."
"Tapi walau bagaimana pun itu juga tanggung jawab ku Ra. Sudah seharusnya kita menanggung itu bersama."
"Sudahlah, itu sudah lama berlalu kau tidak perlu memikirkan nya lagi."ucap clara
"Jadi berapa hutang mu ke kak Radit?"tanya Ronny
"Delapan puluh lima juta. Tapi aku sudah mencicilnya selama lima tahun ini. Jadi sekarang kira-kira tinggal enam puluh juta rupiah."
"Selama ini kau pasti sangat kesulitan harus menanggung semua beban ini sendiri Clara."
"Maafkan aku, dulu aku hanya sibuk dengan urusan ku sendiri. Aku tidak pernah berpikir kalau kau harus sampai menanggung beban seberat itu Clara." ucap Ronny yang menyesal dengan sikapnya dulu.
Sementara Clara yang mendengar Ronny meminta maaf padanya pun tidak dapat lagi membendung air matanya.
"Semua sudah berlalu dan aku sendiri yang tidak ingin memberitahu mu jadi kau tidak perlu merasa bersalah Ronny."
"Sudahlah sebenarnya kalau dipikir kita berdua sama-sama bersalah dalam hal ini. Jadi jangan menangis Clara. Mulai sekarang aku akan membereskan semua nya untuk mu. Dan mulai sekarang juga aku berjanji, aku pasti akan membahagiakan mu." Ronny yang telah menghentikan mobilnya di tepi jalan pun memeluk Clara yang tidak dapat berhenti menangis kedalam dekapannya.