Divorce

Divorce
47



Clara duduk di meja makan sambil melihat Ronny mondar mandir mempersiapkan peralatan makan dan lauk pauk yang di beli Ronny sebelum pulang.


"Huek..." Clara pun langsung menutup mulut dan hidungnya dengan tangan karena hendak muntah mencium aroma ikan Grapu goreng yang dihidangkan Ronny di hadapannya.


"Bau sekali,"protes Clara.


"Apanya yang bau Ra?" tanya Ronny terlihat bingung karena ia tidak mencium bau apa pun.


"Itu ikan yang kamu bawa bau amis sekali, sepertinya ikan itu sudah tidak segar lagi sebelum di masak." ujar Clara sambil menujuk ikan yang berada di meja.


"Gak bau kok Ra, aku belinya juga di restoran terkenal gak mungkin mereka pakai ikan yang tidak segar."


"Beneran bau banget Ronny, aku yang menciumnya saja sampai mau muntah rasanya." Jelas Clara yang melihat ronny tidak mempercayai apa yang ia ucapkan.


"Beneran gak bau kok," Ronny pun mengangkat ikan yang ada di depannya dan menciumnya dari dekat.


"Hidung kamu gak sakit juga kan Ra?" tanya Ronny karena ia merasa aroma ikan yang ia cium tadi masih normal dan tidak sebau yang Clara katakan.


"Enak aja, Hidung kamu yang sakit. Masa ikan yang bau banget gitu gak ke cium sama hidung kamu." protes Clara.


"Ya udah deh, aku singkirkan aja ya." Ronny pun mengalah dan langsung memasukan ikan itu ke dalam plastik dan membuangnya ke tong sampah.


"Sekarang kita makan apa Ra? masak kita makan cuma nasi pakai sayur ini aja." tanya Ronny karena tadi dia hanya membeli ikan gurami goreng dan tumis brokoli saja untuk makan siang.


"Aku gorengi telur ceplok aja ya untuk lauknya." saran Clara.


"Ya udah deh. Tapi biar aku aja yang goreng, kamu tunggu di sini aja ya Ra."


"Ya baik lah, jangan lama-lama ya.Aku da lapar banget nih." ujar Clara.


Tidak lama kemudian Ronny pun selesai mengoreng telur dan mereka pun menghabiskan makan siangnya bersama.


setelah makan siang Clara pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat dan menonton tv karena Ronny melarangnya melakukan pekerjaan apapun.


***


Tiga hari pun berlalu, selama tiga hari ini Clara terkadang masih saja selalu merasa pusing dan mual, terutama di pagi hari. Tetapi karena ia tidak ingin Ronny mengkhawatirkan nya. Ia pun selalu berusaha menyembunyikan nya dari Ronny.


Pagi ini Clara pun bangun pagi-pagi sekali dan bersiap-siap ke pernikahan Dita karena dia akan menjadi pengiring sahabatnya itu nanti.


"Aduh jangan sampai kumat lagi deh." ucap Clara sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Udah beberapa hari ini kok begini terus ya? Apa sebaiknya aku periksa kedokter aja ya?" tanya Clara kepada dirinya sendiri.


Clara pun kemudian mengambil sebungkus tolak angin yang ia simpan di laci dan meminumnya.


"Pokoknya bagaimana pun hari ini aku harus bisa bertahan sampai pernikah Dita selesai." ucap Clara menguatkan dirinya sendiri.


Dengan langkah berat Clara pun bergegas mandi dan memakai gaun yang semalam Dita titipkan kepada Bima untuknya.


Gaun berwarna pink yang panjangnya sampai ke mata kaki pun tampak indah di tubuh Clara yang ramping.


Kemudian Clara pun duduk di depan meja Rias, ia mengambil beberapa make up yang Ronny sediakan untuknya saat ia pindah ke apartement dan memolesnya tipis ke wajahnya. Selesai memoles wajahnya dengan make up Clara pun mengambil catok dan meng Curly rambut bagian bawahnya agar tambal bergelombang.


"Selesai." ucap Clara setelah menyelipkan jepit rambut berhiaskan bunga-bunga yang senada dengan warna pakaian yang sedang ia kenakan di rambut bagian samping dekat telinga bagian kanannya.


Clara pun bangkit dari duduknya dan melihat pantulan dirinya di depan cermin.


"Kau cantik sekali Clara, pria-pria yang melihat mu sekaramg ini pasti akan langsung jatuh hati pada mu." puji Clara pada dirinya sendiri.


"Huek... " tidak lama kemudian Clara pun juga merasa mual.


"Ya tuhan, bagai mana ini. Kalau seperti ini terus bagai mana aku bisa pergi ke pernikahan Dita."pikir Clara.


Tidak lama kemudian telepon gengamnya pun berbunyi.


"Hallo Ra, kamu siap-siap ya. Sebentar lagi aku akan ke sana jemput kamu." terdengar suara Bima dari ujung telepon. Semalam Clara dan Bima sudah janjian kalau mereka akan berangkat kepernikahan Dita bersama-sama.


"Iya Bim, aku tunggu ya." ucap Clara yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Setelah duduk diam selama beberapa saat Clara yang sudah merasa agak baikkan pun bangkit dan keluar dari kamarnya.


"Kenapa menatap ku seperti itu." tanya Clara saat melihat Ronny hanya diam saja dan menatapnya tanpa berkedip.


"Hari ini kau cantik sekali Clara. Rasanya aku sampai tidak rela melepaskan tatapan ku dari mu." jawab Ronny.


"Aku kira kenapa,"Clara pun memutar kedua bola matanya jengah.


"Udah ah..., pagi-pagi gak usah ngengombal." ujar Clara sambil berjalan mengabaikan Ronny dan memilih duduk di sofa ruang tamu menunggu Bima.


"Kamu sudah mau pergi Ra." tanya Ronny.


"Sebentar lagi." jawab Clara sambil memainkan Ponselnya.


"Kalau gitu aku yang antar aja ya Ra." tawar Ronny.


"Gak usah Ron, makasih. Bentar lagi Bima juga bakalan datan jemput aku, kami udah janjian semalam." tolak Clara.


"Oo..." jawab Ronny singkat, kemudian ia pun kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel menghubungi Bima.


"Hallo, lagi di mana Bim?" tanya Ronny.


"Lagi di jalan Pak, mau jemput Clara."


"Kalau begitu sekarang kamu telepon Clara dan bilang kalau kamu gak jadi jemput dia." perintah Ronny.


"Tapi Pak, saya sudah hampir sampai."


"Udah gak ada tapi-tapian, kamu telepon Clara sekarang." Ronny pun langsung memutuskan sambungan telepon dengan Bima, dan kembali turun ke bawah.


"Dasar gila, suka-suka dia aja main perintah dan mutusin sambungan telepon. Gak tau apa dia, ini hari kan libur jadi aku bebas dong mau ngapain aja." omel Bima meluapkan rasa kesalnya kepada Ronny, tetapi tidak lama kemudian ia pun mengambil teleponnya dan menghubungi Clara.


"Hallo bim, Kamu sudah sampai?" tanya Clara saat menjawab sambungan telepon Bima.


"Maaf Ra, aku gak bisa jemput kamu deh. Kamu bisa kan pergi sendiri aja." ujar Bima.


"Ya uda deh, gak apa-apa kok Bim. aku bisa kok pergi sendiri." Walau kecewa karena sudah menunggu, Clara pun tidak ingin menyulitkan Bima agar tetap menjemputnya.


"Kenapa Bima gak jadi jemput." tanya Ronny yang tiba-tiba sudah berada di belakang Clara."


"Hmm... iya, Bima tiba-tiba gak jadi jemput nih.


"Kalau gitu aku yang antar aja ya Ra." tawar Ronny lagi.


"Baiklah." ucap Clara pasrah.