Divorce

Divorce
60



Ke esokan harinya.


Silvia yang pagi-pagi sekali datang untuk menjenguk Clara pun terkejut melihat Ronny tidur di bangku panjang yang ada di depan ruangan Clara.


"Ronny..., bangun Ron." panggil Silvia.


"Silvia, kapan kau datang?" tanya Ronny setelah bangun dan melihat Silvia yang membangunkan nya.


"Baru saja, tapi apa yang sedang kau laku kan disini Ronny. Kenapa kau tidak menjaga Clara di dalam?"


"Clara tidak ingin melihat ku Silvia, dia masih marah dan salah paham karena kejadian semalam." terang Ronny.


"Kau belum menjelaskan padanya Ronny."


"Dia tidak mau mendengarkan apa yang ku katakan Silvia, Dia terlalu kecewa pada ku saat ini." Ronny pun tak bisa menahan tangisnya saat bercerita dengan Silvia."


"Tenang lah Ronny, kalau dia tidak mau mendengarkan mu, biar aku yang akan mencoba berbicara dengannya."


"Sebaiknya jangan Silvia, dokter sudah berpesan untuk tidak membuat Clara tertekan saat ini." cegah Ronny.


"Itu tidak akan terjadi Ronny, kau lupa apa pekerjaan ku? Aku ini seorang psikolog Ronny, aku tahu batas-batas yang harus ku jaga. Biarkan aku yang coba berbicara padanya kali ini Ronny. ini juga kesalahan ku Ronny, kalau saja aku tidak memeluk mu semalam ini semua pasti tidak akan terjadi." ujar Silvia merasa bersalah.


"Kau tidak perlu merasa bersalah Silvia, ini bukan salah mu."


"Tapi setidaknya biarkan aku coba berbicara padanya Ronny. Kalau tidak, aku tidak akan bisa merasa tenang."ujar Clara.


"Baiklah, kau boleh coba berbicara dengannya. Tapi ingat jangan sampai dia tertertekan." pesan Ronny kepada Silvia.


Silvia pun kemudian masuk keruangan Clara setelah Ronny mengijinkan nya masuk.


"Hai Clara." Sapa silvia yang melihat Clara sedang duduk termenung di ranjangnya.


"Bu Silvia, kenapa Ibu kesini?" tanya Clara yang terkejut melihat Silvia datang.


"Tentu saja untuk menjenguk mu Clara.


Bagaimana, Apa kamu baik-baik saja sekarang?"


"Ya, saya baik-baik saja Bu. Mari silakan duduk." ujar Clara sambil mempersilahkan Silvia duduk dikursi yang ada di samping tempat tidurnya.


"Terima kasih sudah mau menerima ku Clara." ujar silvia yang dibalas Clara hanya dengan tersenyum.


Walau Clara salah paham kepada Ronny dan Silvia, tetapi ia tidak ingin menyalahkan Silvia karena menurutnya hanya Ronnylah yang bersalah karena mempermainkan nya.


"Kau tahu Clara, selain menjenguk mu sebenarnya aku juga ingin berbicara dengan mu." ujar Silvia membuka pembicaraan.


"Sepertinya tidak ada yang harus kita bicarakan bu."


"Tentu ada Clara, ini tentang Ronny."


"Kalau tentang itu sebaiknya kita tidak perlu membicarakan nya Bu, saya dan Pak Ronny tidak ada hubungan apa-apa." ujar Clara yang bermaksud untuk tidak menganggu hubungan Silvia dan Ronny.


"Bagaimana mungkin kau tidak ada hubungan dengan Ronny kalau saat ini kau sedang mengandung anaknya Clara." ujar Silvia yang membuat Clara terkejut.


"Bagaimana Ibu tahu, tapi tenang saja bu saya tidak bermaksud merebut Pak Ronny dari ibu. Walau anak yang ku kandung ini anak Pak Ronny tapi ini benar-benar tidak ada hibungannya dengan dia." ujar Clara panik.


"Tenanglah Clara, kau salah paham. Aku dan Ronny tidak seperti yang kau pikirkan Clara."


"A apa maksud Ibu?"


"Ya kau salah paham Clara, aku dan Ronny bukanlah sepasang kekasih kami hanya berteman Clara." terang Silvia.


"Lalu yang ku lihat kemarin siang itu apa?" tanya Clara yang masih tidak percaya.


"Itu hanya salah paham Clara, aku memeluk Ronny kemarin hanya ingin memberinya selamat." Silvia pun kemudian mengambil tangan Clara dan mengengamnya.


"Asal kau tahu, kemarin Ronny sangat bahagia saat bercerita pada ku kalau kalian telah kembali bersama dan akan segera mempunyai seorang bayi Clara."


"Ya, aku akui, kalau aku pernah menyukai Ronny bahkan ayah ku pernah menjodohkan kami Clara. Tapi dia tidak pernah menerima cinta ku karena ia masih sangat mencintai Clara."


"Kau tahu Clara, aku bertemu Ronny pertama kali saat ayah ku membawanya pulang dalam keadaan terluka cukup parah."


"Ronny terluka?" tanya Clara.


"Ya, saat itu kalian baru bercerai dan dia terluka karena dipukuli oleh penangih hutang yang lalu membuang dipingir jalan dalam keadaan terluka."


"Ayah ku yang kebetulan lewatlah yang menemukan nya dan membawanya pulang untuk di rawat."


"Semenjak itu lah Ronny menjadi dekat dengan kami. Bahkan dia sudah menjadi bagian dari keluarga kami Clara. Sebagai kakak untuk ku dan putra untuk ayah ku, tidak lebih dari itu Clara."


Clara yang mendengarnya pun akhirnya hanya menangis. Dia merasa begitu bodoh karena hampir mencelakai anaknya sendiri karena kesalah pahamannya kepada Ronny dan Silvia.


"Kau mau memaafkan nya Clara?" tanya Silvia.


Clara yang sedang menangis pun hanya bisa menganggukan kepalanya cepat.


"Kalau begitu aku akan memanggilnya. Dia sudah menunggu mu diluar semalaman." Silvia pun bangkit dan keluar memanggil Ronny.


"Masuklah." panggil Silvia.


"Clara mau menemui ku?" tanya Ronny.


"Ya, cepatlah jangan biarkan dia menunggu. mu."


Ronny pun kemudian bergegas masuk menemui Clara.


"Maaf." ujar Clara saat melihat Ronny masuk.


"Tidak Clara, akulah yang seharus minta maaf." Ronny pun langsung berlari memeluk Clara.


"Tidak, akulah yang harus minta maaf karena tidak mau mendengar penjelasan mu Ronny."


"tidak Clara, kau tidak bersalah aku lah yang salah." ujar Ronny tak mau kalah.


"Sudah-sudah kalian berdua memang bersalah, berhentilah berdebat." Ujar Silvia yang masuk dan menyela pembicaraan Ronny dan Clara.


"Terima kasih Silvia berkat kau Clara mau memaafkan ku." ujar Ronny.


"Kalau begitu kau harus memberi ku hadiah Ronny." pinta Silvia.


"Katakan lah apa yang kau inginkan aku pasti akan memberikan nya." ujar Ronny yang tampak sangat bahagia.


"Aku ingin sebuah pernikahan." ujar Silvia yang membuat Ronny dan Clara bingung.


"Pernikahan?"


"Ya pernikahan, apa kau tidak ingin menikahi Clara?" ujar Silvia yang membuat Clara tersipu malu.


"Ya, tentu saja Silvia."


Beberapa minggu kemudiaan.


Setelah keadaan Clara benar-benar pulih Ronny dan Clara pun akhirnya menikah kembali.


Dan untuk pernikahan nya kali ini Ronny membuat pesta yang cukup besar sehinga orang-orang yang melihatnya menjadi iri kepada Clara, termaksud Winda yang tidak menyangka kalau Clara adalah istri bosnya sekarang.


Setelah pernikahannya Ronny dan Clara pun kemudian pindah ke rumah besar yang di beli Ronny sebagai hadiah pernikahannya untuk Clara.


Beberapa bulan setelah pernikahan mereka. Clara pun akhirnya melahirkan seorang putra yang tampan untuk Ronny.


Bersama keluarga kecilnya akhirnya mereka pun hidup bahagia bersama.


#The End#


Terima kasih buat kalian yang sudah mau membaca novel ku yang banyak kekurangan nya ini. Dan terima kasih juga atas dukungan kalian, karena itu sangat berarti bagi ku.