Divorce

Divorce
49



Selesai melakukan usg Clara pun kembali keruang konsultasi di mana Bima sedang menunggu.


"Saya akan resepkan Vitamin dan obat yang dapat mengurangi pusing dan mual Ibu ya." ujar dokter itu sambil menuliskan sesuatu di secarik kertas.


"Baik Dok." jawab Clara.


"Ini Bu, nanti selain mengkomsumsi vitamin ini, Ibu juga harus banyak mengkomsumsi makanan bergizi, dan susu hamil juga ya Bu biar dedeknya tambah kuat.


"Baik Dok, pasti akan saya lakukan," jawab Clara sambil menerima resep yang dituliskan Dokter untuknya.


"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi Bu?


"Dulu saya pernah keguguran dok apa itu akan mempengaruhi kandungan saya saat ini Dok." tanya Clara.


"Kalau Ibu pernah keguguran maka pada kehamilan berikutnya resiko untuk mengalami hal yang sama juga akan meningkat. Oleh karena itu, sebaiknya Ibu benar-benar harus menjaga kondisi Ibu jangan sampai Stress dan kelelahan ya Bu, dan jangan lupa pola makan juga harus benar-benar menjaga Ibu." terang dokter itu kepada Clara.


"Pasti Dok, saya akan ingat semua yang dokter katakan tadi. Kalau begitu kami permisi dulu ya dok." Jawab Clara yang kemudian keluar dari ruangan dokter itu.


"Kamu pernah keguguran Ra." Bima yang dari tadi penasaran akhirnya pun bertanya kepada Clara.


"Iya Bim, tapi Ronny sampai sekarang tidak tahu kalau aku dulu pernah hamil." jelas Clara.


"Ha... kenapa bisa sampai seperti itu Ra? Bima pun semakin terkejut dan penasaran mendengar penjelasan Clara.


"Ceritanya panjang Bim, aku harap kau tidak memberitahu Ronny tentang kehamilan ku sekarang ini atau pun aku yang pernah keguguran."


"Baiklah aku tidak akan menceritakannya. Tapi sebaiknya kau juga tidak merahasiakan ini darinya. Bagaimana pun dia adalah ayah dari anak yang sedang kau kandung," nasihat Bima.


"Tentu Bim, aku pasti akan memberitahjnya tapi tidak untuk sekarang. Aku belum siap Bim, pikiran ku kacau untuk saat ini." terang Clara.


"Baiklah kalau itu mau mu, aku juga tidak akan memaksa. Tapi ingat, kau juga jangan sampai terlalu stress, ingat apa yang dokter katakan tadi Ra." tegas Bima.


"Iya, iya... , sekarang kita balik yuk, aku da capek banget nih, mau istirahat," ajak Clara.


"Baiklah, tapi apa kamu gak mau ke apotik dulu Ra, buat tebus resep dokter tadi?" tanya Bima.


"Oh iya aku lupa Bim, kalau gitu nanti kita singgah ke apotik dulu ya Bim." Clara pun kemudian diantar Bima ke apotik terlebih dahulu baru pulang ke apartement Ronny.


Didalam perjalanan kembali ke apartement telepon genggam Clara pun berbunyi Ra.


"Hallo Ra, uda balik belum?" tanya Ronny yang berniat menjemput Clara karena hari sudah mulai gelap.


"Aku uda di jalan ni Ron bentar lagi juga sampai apartement."jawab Clara.


"Ha... kok kamu gak bilang-bilang sih Ra kalau mau balik, tadi kan aku uda bilang kalau aku mau jemput kamu." Protes Ronny.


"Iya maaf Ron, tadi aku lupa." Bohong Clara yang tidak ingin menceritakan kejadian sebenarnya.


"Jadi kamu sekarang pulang diantar siapa?" tanya Ronny lagi.


"Aku diantar Bima Ron, udah ya nih juga da mau sampai nanti sampai apartement baru kita bicara lagi." Clara pun langsung menutup sambungan teleponnya dengan Ronny.


***


Di apartement.


"Ah... Brengsek nih si Bima, uda tau kalau Clara itu milik ku masih juga berani dekatin Clara." Ronny yang kesal pun membanting telepon genggamnya ke sofa yang ada di ruang ramu.


"Makasih ya Bim" ucap Clara setelah Bima mengantarnya sampai ke apartement Ronny.


Tiba-tiba dari dalam apartement terdengar suara Ronny menyela pembicaraan Clara dan Bima. " Baru pulang Ra."


"Oh iya Pak, ini baru sampai." jawab Clara yang melihat Ronny sedang berjalan kearahnya.


"Selamat malam Pak." Sapa Bima saat melihat Ronny muncul dari dalam dan tiba-tiba merangkulkan tangannya dibahu Clara yang sedang berdiri di pintu.


Clara yang merasa risih Ronny merangkulnya di depan Bima pun mencoba melepaskan tangan Ronny dari tubuhnya. Tapi bukannya menjauh Ronny malah semakin mengeratkan rangkulannya.


"Malam, habis antar Clara Bim?"tanya Ronny


"He he he... iya nih Pak." ucap Bima sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa tidak enak dengan Ronny.


"Oh... kalau gitu masuk dulu yuk Bim." tawar Bima.


"Emm... gak usah Pak, Saya cuma ngantar Clara aja kok." tolak Bima.


"Ayolah Bim duduk dulu sebentar, aku harus berterima kasih pada mu karena sudah merepotkan mu mengantarkan Clara ku pulang."


"Tidak apa-apa Pak, saya tidak merasa repot kok. Lagian ini juga sudah malam Pak dan sepertinya Clara juga butuh istirahat karena ia tadi sempat pingsan di pesta Dita." alasan Bima untuk menolak tawaran Ronny.


"Maaf Ra. Kamukan cuma berpesan agar aku tidak mengungkit kehamilan mu saja, jadi tidak masalahkan kalau aku bilang kamu pingsan tadi siang." Batin Bima sambil tersenyum melihat Clara yang sedang menatapnya tajam saat ini.


"Kamu sakit lagi ra? tanya Ronny sambil memeriksa Clara dari bawah sampai keatas dengan tatapannya yang khawatir.


"Gak kok Pak, aku baik-baik saja kok." jawab Clara yang tidak ingin Ronny khawatir padanya.


"Bagaimana bisa baik-baik saja Ra, kalau kamu sampai pingsan seperti itu."


"Beneran Pak aku baik-baik, iyakan Bim." Clara pun memberi kode dengan tatapannya kepada Bima agar mau membantunya berbicara dengan Ronny.


"Iya Pak, Clara sekarang baik-baik saja. Tadi saya sudah membawanya kedokter, dan dokter bilang dia hanya kelelahan dan hanya butuh istirahat. ujar Bima.


"Benaran Ra kamu cuma kelelahan." tanya Ronny yang memastikan apa yang Bima ucapkan.


"Beneran kok Pak, saya cuma kelelahan"


"Kalau begitu sekarang kamu harus istirahat dan jangan melakukan apa pun yang bisa membuat mu kelelahan."


"Iya, iya... aku akan istirahat."jawab Clara malas.


"Emm... Pak, karena Clara mau istirahat sekarang saya saja pulang dulu ya."ujar bima.


"Ya baiklah, kamu boleh pulang sekarang dan terima kasih sudah jaga Clara untuk ku."


"Iya Pak. Kalau begitu permisi." Bima pun langsung membalikan badannya dan pergi meninggalkan Ronny dan Clara.


Setelah Bima pergi Ronny pun mengajak Clara masuk dan memapahnya sampai ke kamar.


"Kenapa masih ada disini, kembalilah ke kamar mu." usir Clara yang melihat Ronny tak kunjung keluar dari kamarnya.


"Aku hanya ingin memastikan jika kau benar-benar istirahat Clara." alasan Ronny.


"Iya nanti aku pasti istirahat, sekarang kamu keluarlah, soalnya aku mau mandi dulu." usir Clara sambil mendorong Ronny untuk keluar dari kamarnya.