Divorce

Divorce
55



Setelah menyelesaikan makan siangnya bersama Silvia, Ronny pun ikut bersama Silvia kerumah Silvia untuk mengunjungi Herman santoso yang sudah lama tidak ia temui.


Sebab Herman santoso baru saja kembali dari luar negeri bersama Silvia putrinya beberapa hari yang lalu.


"Om Herman, sepertinya aku harus kembali sekarang." ujar Ronny yang baru menyadari kalau sekarang waktu sudah hampir menunjukan pukul 12 malam.


Sangking asiknya Ronny berbincang dengan Om Herman setelah menikmati makan malamnya di rumah Silvia, Ronny pun akhirnya lupa waktu untuk pulang.


"Malam ini menginaplah di sini Ronny. Sekarang sudah terlalu larut untuk pulang, akan berbahaya jika kau berkendara semalam ini." Pinta Herman Santoso.


"Tapi Om..." Ronny pun hendak menolak karena teringat dengan Clara yang sendirian di apartement dan pasti juga sedang menunggu kepulangannya.


"Sudah lah Ronny..., jangan membantah lagi.


Hanya untuk malam ini saja menginaplah disini " bujuk ayah Silvia.


"Baiklah Om, kalau begitu malam ini aku akan menginap disini." ujar Ronny yang merasa tidak enak menolak permintaan Om Herman.


"Begitu dong, seperti sama orang lain aja." ujar Om herman yang lalu mengantar Ronny ke kamar tamu.


Beberapa saat kemudian.


Di kamar tamu yang disediakan oleh ayah Silvia, Ronny pun mengambil ponselnya hendak menghubungi Clara dan mengabari kalau dia tidak akan pulang ini.


" Ya..., batrenya habis lagi. Bagaimana caranya menghubungi Clara kalau begini."


"Apa pinjam Charger sama Silvia aja ya."


Ah... tapi ngak mungkin juga aku pinjam Charger malam-malam begini. Silvia pasti sudah tidur sekarang." ujar Ronny bingung.


"Ya sudahlah, mungkin begini juga baik. Semonga saja sambil menunggu ku malam ini, Clara bisa menyadari kalau aku masih sangat berarti baginya." pikir Ronny yang kemudian beristirahat sampai pagi.


Pagi harinya, setelah bangun Ronny pun bersiap-siap kembali ke aprtement. Tetapi langkahnya sempat tertunda karena Om Herman dan Silvia mengajaknya untuk sarapan bersama terlebih dahulu.


Walau Ronny sudah terbiasa tidak sarapan di pagi hari. Tapi untuk menghormati Om Herman dan Silvia iya pun tidak dapat menolak ajakan mereka. Dan setelah menyelesaikan sarapannya barulah Ronny benar-benar dapat kembali ke apartementnya.


***


Di apartement, Clara pun tampak duduk meringkuk memeluk kakinya di sofa masih menunggu Ronny yang semalaman tidak pulang dan juga tidak dapat di hubungi.


"Ceklek"


Pintu apartement pun terbuka, Clara pun langsung bangkit dan menatap tajam pada Ronny yang sedang berjalan masuk.


"Clara...," Ronny pun terkejut melihat Clara yang tampak kusut dengan kedua matanya yang bengkak karena menangis dan tidak tidur semalaman.


Clara yang melihat Ronny mendekatinya pun langsung membalikan badannya hendak masuk ke kamar untuk menghindari Ronny.


Saat ini rasa cemburu Clara yang mengira Ronny bermalam dengan Silvia dan amarahnya kepada Ronny yang tidak memberinya kabar jika tidak pulang semalaman pun menumpuk menjadi satu.


Ronny yang melihat Clara menghindarinya pun berhasil mengejar Clara sebelum ia masuk ke kamar dan memeluknya erat dari belakang,


"Ra..., kamu kenapa?" tanya Ronny.


"Lepas...," ujar Clara sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan erat Ronny.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Ronny lagi yang tidak mau melepaskan Clara.


"Lepas Ronny, aku bilang lepaskan aku." Clara yang tidak menjawab pertanyaan Ronny hanya terus meminta dan berusaha lepas dari pelukan Ronny. Tetapi bukannya melepaskan Clara Ronny malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Tidak Clara, aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu menjawab pertanyaan ku." ujar Ronny yang tetap ngotot ingin Clara menjawab pertanyaan nya.


"Pertanyaan mu? Bukankah tanpa menanyakan nya pun seharusnya kau sudah tahu aku kenapa?"


"Aku tidak tahu Clara. Sungguh, bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak mengatakan nya." ujar Ronny sambil melepaskan pelukannya agar dapat menatap wajah Clara.


Sebenarnya saat ini Ronny tahu kalau Clara sedang marah padanya karena dia sudah membuat Clara menunggu kepulangan nya dari semalam. Tapi Ronny sengaja pura-pura tidak tahu agar Clara mau menunjukan perasaannya yang sebenarnya.


"Kau ini bodoh atau bagaimana Ronny? Tidak mungkin kau tidak tahu kalau aku sudah menunggu mu semalaman? jerit Clara yang sudah tidak dapat menahan emosinya lagi.


"Kau menunggu ku semalaman Clara?" tanya Ronny.


"Ya, aku menunggu mu semalaman. Kau puas." jawab Clara emosi.


"Maaf Clara, semalam aku kerumah Silvia dan menginap di sana. Aku tidak tahu kalau kau akan menunggu ku semalaman."


"Ya, tentu saja kau tidak tahu Ronny. Bagaimana kau bisa tahu kalau saat itu kau sedang bersenang-senang dengan kekasih mu." ujar Clara yang sudah tidak dapat membendung air matanya.


"Apa yang kau katakan Clara? Siapa yang kau maksud dengan kekasih ku? Silvia kah? "


"Ya, Silvia. Memangnya siapa lagi wanita yang selalu bersama mu selain dia."


"Kau cemburu Clara?" tanya Ronny.


Clara yang mendengar pertanyaan Ronny pun terdiam.


"Jawab Clara kau cemburukan?" tanya Ronny lagi.


"Ya, kau benar aku cemburu Ronny, lalu kenapa? Kau puas sekarang telah berhasil mempermainkan perasaan ku? ujar Clara yang kemudian berbalik hendak meninggalkan Ronny.


"Tunggu Clara. Aku bisa menjelaskan semuanya." Ronny pun menarik tangan Clara dan menahannya agar tidak pergi.


"Untuk apa lagi Ronny, semuanya sudah cukup jelas sekarang. Kau tidak perlu menjelaskan apa pun lagi pada ku."


"Tidak Clara, bagaimana pun aku harus menjelaskan nya pada mu."


"Baiklah kalau itu mau mu, sekarang jelaskan lah apa yang mau kau jelaskan." ujar Clara malas.


"Dengar Clara, aku tidak pernah bermaksud mempermainkan perasaan mu. Sedikit pun tidak pernah. Dan asal kau tahu hubungan ku dan Silvia juga tidak seperti yang kau pikirkan Clara, kami hanya berteman."


"Teman? Orang-orang di luar juga tahu kalau dia itu kekasih mu Ronny. Berhentilah untuk membodohi ku."


"Orang-orang diluar hanya melihat kedekatan kami Clara, mereka hanya asal berbicara tanpa tahu yang sebenarnya terjadi."


"Dan dengar Clara. Ayah Silvia dulu pernah menolong ku maka dari itu aku dan Silvia sangat akrab, bahkan karena kedekatan kami, aku sudah menganggap Silvia sebagai adik ku sendiri Clara." terang Ronny.


"Benarkah." tanya Clara ragu.


"Benar Clara, percayalah hubungan kami hanya sebatas itu." ujar Ronny sambil menghapus air mata Clara.


"Baiklah aku percaya. Tapi kalau aku tahu kau membohongi ku jangan harap aku memaafkan mu Ronny."


"Percayalah Clara, aku tidak akan membohongi mu." Ronnypun meraih tubuh Clara dan memeluknya.


"Kau mencintai ku Clara." tanya Ronny.


"Ya, aku mencintai mu. Bahkan sangat-sangat mencintai mu Ronny."jawab Clara yakin.


"Kalau begitu mau kah kamu memulai semuanya lagi bersama ku Clara?"


"Ya aku mau Ronny." jawab Clara.