
Cukup lama Clara menunggu Ronny pulang. Tapi sampai langit menjadi gelap pun, Ronny belum juga menujukan batang hidungnya di apartement.
Clara yang awalnya menunggunya didalam kamar pun akhirnya memilih keluar dan duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan yang tidak menentu.
"Sudah pukul hampir pukul delapan malam, kenapa dia belum pulang juga." Clara yang merasa khawatir pun berulang kali mengejek jam di ponselnya.
"Apa sebaiknya aku menghubungi Ronny saja, tidak biasanya dia belum pulang sampai jam segini." pikir Clara bimbang.
"Ah..., tidak.
Aku tidak boleh menghubunginya, bagaimana kalau saat ini dia bersama wanita itu."
"Sebaiknya aku tetap menunggunya pulang saja." ujar Clara pasrah dan mengharap Ronny secepatnya pulang.
Beberapa waktu kemudian, Ronny pun akhirnya pulang saat waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Saat masuk ke apartementnya, Ronny cukup terkejut saat mendapati Clara tertidur di sofa panjang yang berada di ruang tamu.
Dengan langkah pelan Ronny pun berjalan mendekati Clara dan berjongkok menatap wajah Clara yang tertidur.
"Benar apa yang Silvia katakan, kau pasti akan menunggu ku." ujar Ronny sambil tersenyum bahagia karena rencananya berhasil.
Ronny sengaja menghabiskan waktunya untuk bekerja di kantor sampai selarut ini, karena ia ingin memastikan, apakah benar apa yang silvia katakan kalau Clara pasti akan khawatir dan menunggunya jika ia pulang terlambat malam ini.
"Tunggu saja Clara, tidak lama lagi aku akan membuat mu menyadari kalau kau sebenarnya masih sangat mencintai ku." Ronny pun kemudian bangkit dan mengendong Clara dengan hati-hati memindahkannya ke kamar agar dapat beristirahat dengan lebih nyaman.
***
Paginya, Clara pun bangun dan terkejut karena seingatnya semalam ia masih menunggu kepulangan Ronny di ruang tamu.
"Bagaimana aku bisa disini? Apa Ronny yang memindahkan ku ke kamar tadi malam?" Pikir Clara mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam.
Lalu Clara pun segera bangun dan membersihkan dirinya lalu keluar untuk memulai aktifitasnya.
Saat Clara tengah menyiapkan kopi untuk Ronny, Ronny pun turun dengan pakaiannya yang sudah rapi.
"Kau sudah mau pergi bekerja Ron?" tanya Clara.
"Ya, aku sudah mau pergi bekerja." ujar Ronny sambil menerima kopi yang Clara berikan untuknya.
"Semalam kau pulang jam berapa?" tanya Clara.
"Semalam aku pulang sekitar jam sebelas malam. Ada apa sepertinya kau menunggu ku." ujar Ronny.
"Tidak, aku tidak menunggu mu." elak Clara.
"Lalu kenapa kau sampai tertidur di sofa semalam."
"Aku hanya tidak sengaja tidur disana." ujar Clara berbohong.
"Baguslah kalau kau tidak menunggu ku. Soalnya aku keluar bersama Silvia semalam." Ronny yang tahu kalau Clara berbohong pun sengaja memanas-manasi Clara.
"Jadi benar mereka bersama semalam.
sepertinya apa yang Winda katakan benar kalau wanita itu dan Ronny adalah sepasang kekasih." batin Clara.
"Ada apa Clara kenapa kau diam saja? Apa ada yang sedang kau pikirkan sekarang?" tanya Ronny yang melihat Clara diam terpaku ditempatnya.
"Hmm..., tidak. Tidak ada yang sedang ku pikirkan." Elak Clara yang tersadar dari lamunannya dan kemudian pun langsung mengambil gelas kopi yang sudah habis di minum Ronny dan membawanya Ke dapur.
"Hmm ya."
"Bukankah saat mengantar makan siang semalam kau ingin membicara sesuatu dengan ku. Apa yang ingin kau bicara Ra?" tanya Ronny.
"Emm..., semalam.
Sepertinya tidak ada hal yang penting kok, lupakan saja hal itu." jawab Clara sambil mencoba tersenyum kepada Ronny.
"Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk memberi tahu Ronny tentang kehamilan ku. Ya, sebaiknya pembicaraan ini aku tunda saja dulu" Pikir Clara di dalam hatinya.
"Ya baiklah kalau begitu. Sebaiknya aku kekantor sekarang." Ronny pun beranjak pergi tetapi saat dirinya belum mencapai pintu keluar ia pun kembali berbalik.
"Oh ya aku lupa, nanti siang tolong buatkan dua bekal makan siang dan antarkan ke kantor ku seperti biasa."
"Dua bekal makan siang?" tanya Clara binggung.
"Ya benar Clara, dua bekal makan siang. Soalnya semalam Silvia bilang dia ingin mencoba masakan mu setelah aku bilang kalau masakan yang kau masak sangat enak." ujar Ronny berbohong.
Sebenarnya Silvia tidak pernah meminta di buatkan bekal makan siang buatan Clara. Itu hanya ide Ronny yang tiba-tiba saja muncul untuk membuat Clara cemburu.
"Dasar brengsek, semudah itu kah kau meminta ku memasak untuk kekasih mu sekarang." batin Clara kesal.
"Ya baiklah, aku akan mengantarkan dua bekal makan siang ke kantor mu hari ini." ujar Clara.
"ingat jangan terlambat dan masaklah yang enak." pesan Ronny yang kemudian benar-benar pergi ke kantor.
"Lihat saja nanti Ronny, aku pasti akan memasak makanan yang sangat enak untuk mu" ujar Clara yang kemudian masuk ke kamarnya untuk mengambil dompet dan pergi ke pasar terdekat untuk membeli bahan masakan yang diperlukan nya.
Beberapa saat kemudian Clara yang sudah kembali dari pasar pun segera mulai memasak bahan-bahan yang di belinya di pasar tadi.
"Aku pastikan Ronny, kau pasti akan sangat menikmati bekal makan siang yang lezat ini. tunggulah aku akan segera mengantarkan nya untuk mu." ujar Clara yang baru saja selesai mengemas dua bekal makan siang dan segera bersiap-siap hendak mengantarkan bekalnya ke kantor.
Di kantor.
"Hallo Silvia." sapa Ronny yang menghubungi Silvia dengan ponselnya.
"Ada apa Ronny, baru semalam kita bertemu apa sekarang kau sudah merindukan ku" canda Silvia.
"Ya, kau benar aku merindukan mu Silvia. Jadi maukah kau ke kantor ku siang ini? tanya Ronny.
"Ada apa ini, tidak biasa-biasanya kau meminta ku untuk ke kantor mu.
"Tidak ada apa-apa Silvia. Aku hanya ingin mengundang mu makan siang di kantor ku."
"Makan siang? Tidak mungkin kau begitu baik mengundang ku makan siang Ronny. Jadi katakan lah ada apa sebenarnya. Saat ini pasti saat ini sedang butuh bantuan ku kan." tebak Silvia.
"Ya kau benar Silvia, aku sedang butuh bantuan mu"
"Baiklah, katakan apa yang bisa ku bantu." tanya Silvia
"Tadi pagi aku bilang ke Clara, kalau kau sangat ingin mencoba masakan yang ia masak. Jadi aku menyuruhnya untuk membuatkan kita bekal makan siang hari ini Silvia.
"Oo..., jadi kau ingin mengunakan ku untuk membuat wanita mu cemburu Ronny." tebak Silvia selah mendengar apa yang Ronny katakan
"Baik lah Ronny aku akan membantu mu, tapi ingat kau harus membayar ku mahal untuk bantuan ini. Ha ha ha... "
"Sip..., tenang aja deh. Kalau begitu aku akan menunggu ke datangan mu di kantor ku sekarang." ujar Ronny yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.