Divorce

Divorce
52



Ronny yang mendengar Clara memperkenalkan dirinya sebagai pelayan pun hanya bisa diam karena mengira Clara tidak ingin orang lain tau tentang hubungan mereka sebenarnya.


"Pelayan yang mengurus apartement? Lalu untuk apa kau berada di kantor Ronny?" tanya Silvia heran.


"Saya ke sini untuk mengantar makan siang Pak Ronny Bu? jawab Clara.


"Ya... jadi kamu mau makan siang di sini Ron, pada hal aku pikir ingin mengajak mu keluar untuk makan siang." ujar silvia kecewa sambil bergelayutan di tangan Ronny.


"Tidak apa-apa Bu, Ibu tetap dapat makan siang Bersama Pak Ronny. Saya akan membawa kembali makan siang Pak Ronny." ujar Clara yang mengambil kembali bekal yang tadi hampir Ronny buka.


"Kalau begitu selamat menikmati makan siangnya Bu, Pak. Saya permisi dulu." ujar Clara sambil terpaksa tersenyum dan berjalan keluar dari ruangan Ronny.


Sesampainya di luar ruangan Ronny, Winda pun menghampiri Clara.


"Dasar wanita gatal, masih berani kamu godaain Pak Ronny? Lihat tu Bu Silvia sudah kembali. Asal kamu tahu ya, dia itu salah satu anak pemengang saham di perusahaan ini. Jadi jangan harap kamu bisa merebut Pak Ronny dari Bu Silvia." ujar Winda sambil menatap Clara dengan tatapan yang mengejek.


Clara yang mendengar apa yang diucapkan Winda padanya pun hanya bisa menahan air matanya diam dan memilih pergi dari situ.


***


Di ruangan Ronny.


"Siapa dia sebenarnya Ronny? Melihat sikapnya saat menatap aku dan kamu sepertinya dia bukan hanya sekedar pelayan mu? tanya Silvia.


"Dia mantan istri ku Silvia."


"Apa? Jadi dia wanita yang meninggalkan mu dulu, lalu kenapa dia bisa menjadi pelayan mu? tanya Silvia penasaran.


"Ceritanya panjang Silvia, tapi semua ini karena takdir yang mempertemukan kami kembali."


"Takdir? Apa bukan karena dia sengaja ingin mendekati mu kembali Ronny." ujar silvia tak percaya.


"Benar Silvia, takdirlah yang mempertemukan kami kembali. Kalau dia memang sengaja ingin mendekati ku kembali, maka dia tidak akan menolak ajakan ku untuk kembali bersama," terang Ronny.


"Kau ingin kembali bersamanya lagi? Bukankah kau sangat membencinya Ronny?" tanya Silvia lagi.


"Awalnya aku pikir juga begitu Silvia, tapi setelah ia kembali lagi dalam hidup ku. Aku baru menyadari ternyata aku tidak bisa membencinya." ujar Ronny.


"Kalau begitu kenapa ia menolak mu Ronny, bukankah sekarang kau sudah menjadi pengusaha yang sukses."


"Ntah lah Silvia, mungkin selama ini aku salah paham padanya. Sepertinya dulu dia meninggalkan ku bukan karena masalah ekonomi, Sebab beberapa kali aku memintanya untuk kembali bersama dan dia selalu menolaknya dengan alasan kalau dia belum bisa melupakan luka yang pernah ku berikan padanya." Ronny pun tampak sedih menceritakan masalahnya kepada Silvia.


"Tapi kalau menurut ku sepertinya dia masih mencintai mu Ronny. Apa kau tidak bisa melihat ada rasa cemburu dimatanya saat aku datang dan memeluk mu tadi?"


"Benarkah?" tanya Ronny tak percaya.


"Tentu saja Ronny, mana mungkin aku salah menilai sikap seseorang. Apa kau lupa kalau aku ini seorang pisikolog." ujar Silvia yakin.


"Ya..., tentu saja aku percaya. Lalu sekarang aku harus bagaimana agar bisa mendapatkannya kembali?" tanya Ronny.


"Caranya?"


"Buat dia cemburu bodoh, begitu saja harus diajari." ujar Silvia sambil menarik gemas hidung Ronny.


"Kalau begitu, sepertinya aku butuh bantuan mu Silvia." Ronny pun tersenyum bahagia memikirkan rencananya.


"Baiklah, aku akan membantu mu tapi ingat bayaran ku ini mahal lo." canda Silvia.


"Tidak masalah, berapa pun yang kau minta aku memberikannya. Tapi sebelumnya kita pergi makan siang dulu yuk aku sudah lapar nih." ujar Ronny yang kemudian pergi makan siang di luar bersama Silvia.


***


#Flashback.#


Setelah perceraiannya dengan Clara selesai Ronny pun seperti orang gila yang tidak lagi mempunyai semangat hidup.


Berhari-hari dia melalui hidupnya hanya dengan minum-minum. Sampai suatu hari sekelompok penangih hutang datang untuk menangih hutangnya kepada pada Ronny.


Tetapi Ronny yang saat itu benar-benar hanya menghabiskan waktunya untuk minum-minum pun tidak mempunyai uang membayar hutangnya kepada penagih hutang tersebut.


Karena merasa marah Ronny tidak membayar hutangnya, para penangih hutang itu pun lantas menghajar Ronny sampai babak belur dan meninggalkannya tergeletak di jalanan yang sepi.


Di saat-saat dirinya tak berdaya itu lah Ronny bertemu dengan ayah Silvia yang kebetulan lewat dan menolongnya.


Ayah Silvia, Herman Santoso lalu membawa Ronny yang sudah tidak sadarkan diri pulang kerumahnya dan merawat Ronny sampai pulih kembali.


Saat Ronny sudah mulai pulih, ia pun menceritakan apa yang terjadi dengan kehidupannya. Setelah mendengar cerita Ronny, Herman Santoso pun teringat akan dirinya yang juga di tinggal pergi oleh ibu Silvia saat kehidupannya sedang dalam masa-masa sulit seperti Ronny.


Karena merasa Ronny anak yang baik dan mempunyai nasib yang sama dengannya. Herman Santoso pun akhirnya mengivestasikan uangnya agar Ronny bisa membangun dan memulai usahanya kembali.


Dan semenjak itulah Ronny menjadi semakin dekat dengan Silvia dan ayahnya. Karena kedekatan mereka itu jugalah ayah Silvia sempat ingin menjodohkan Ronny dan Silvia. Tetapi karena Ronny tidak mempunyai perasaan apa pun pada Silvia iya pun menolak rencana perjodohan itu.


Ayah Silvia awalnya kecewa karena Ronny menolak putrinya, tetapi karena ia tidak bisa memaksakan perasaan Ronny untuk menyukai putrinya, akhirnya pun bisa mengerti dan hanya bisa menganggap Ronny sebagai anaknya sendiri.


Orang-orang yang tidak tahu tentang hubungan mereka sebenarnya pun akhirnya salah mengartikan kedekatan hubungan mereka. Termasuk Winda yang sudah bekerja lebih dari dua tahun sebagai sekertaris Ronny, menganggap kalau Silvia adalah kekasih Ronny.


Flashback selesai.


Sesampainya di apartement Clara hanya bisa terduduk sambil menangis menatap kotak bekal yang pada akhirnya harus dibawanya kembali. Kini begitu dia mengingat apa yang Winda katakan dan mengingat kejadian di kantor saat Silvia yang tiba-tiba masuk memeluk Ronny, hatinya pun merasa sangat sakit.


"Kenapa Ronny tidak pernah mengatakan kalau dia sudah mempunyai kekasih dan apa maksudnya dengan berusaha mendekati ku kembali selama ini? Apa semua ini hanya bagian dari permainan nya untuk balas dendam pasa ku?" pikir Clara.


"Ya tuhan apa yang harus ku lakukan sekarang. Dan bagaimana dengan anak yang ku kandung ini, apakah aku sebaiknya pergi saja dari sini tanpa memberi tahunya kalau aku sedang mengandung anaknya?"


"Tidak, aku harus kuat demi anak ku. Aku tidak akan pergi begitu saja . Ya aku harus memastikan terlebih dahulu apa benar Ronny hanya mempermainkan ku selama ini."


Clara pun akhirnya kembali ke kamarnya beristirahat dan menunggu Ronny pulang untuk berbicara padanya.