Divorce

Divorce
04



"Bapak mau langsung pulang ke apartement atau ke kantor dulu pak?." Tanya Bima kepada atasannya setelah mereka baru saja kembali dari luar kota.


"Kita ke kantor aja dulu Bim....


Baru juga jam dua siang, masih terlalu awal untuk pulang.


aku juga masih ada pekerjaan yang harus di selesai di kantor."


"Baik pak...."


"Oh ya, bagai mana dengan pelayan barunya bim. Apa sudah ada?"


"Sudah pak, dan hari ini pelayan baru untuk bapak juga sudah mulai bekerja pak." jawab Bima.


"Hmmm baguslah kalau begitu, saya harap kali ini pelayan yang kamu cari itu bisa bekerja dengan baik."


Dia pun kembali ke kantor dan bekerja. tidak terasa sekarang jam pun sudah menunjukan hampir pukul enam sore. Karena sudah sangat lelah setelah pulang dari luar kota. Diapun segera bersiap siap untuk pulang ke apartementnya sekarang.


Setiap hari dia selalu berangkat bekerja pukul delapan pagi dan pulang ke apartement setelah pukul enam sore. oleh karena itu dia sengaja menyuruh pelayan yang bekerja di apartemen nya datang bekerja pukul sembilan pagi dan pulang pukul enam sore, agar tidak bertemu dengannya saat berada di apartement. Dia melaku kan itu karena dia tidak suka melihat ada orang asing di rumah nya saat ia juga sedang berada di rumah.


***


Pintu apartemen telah terbuka, dia pun dapat melihat apartemen nya kali ini sudah tampak rapi dan bersih, berbeda dengan keadaan nya saat terakhir kali dia meninggalkan apartement nya untuk pergi keluar kota.


saat itu apartement nya cukup berantakan.


Mulai dari lantai yang mulai berdebu, dapur yang kotor sampai keranjang sampah yang penuh karena sudah beberapa hari tidak di buang.


"Seperti nya pekerjaannya cukup rapi dan bersih juga."Ujarnya menilai hasil kerja pelayan barunya.


Setelah melihat sekelilingnya dan kembali ke kamar untuk membersih kan diri serta menganti pakaian nya dengan yang lebih santai.


Setelah itu dia pun kembali turun ke bawah.


Kini perutnya sudah terasa sangat lapar dan minta untuk segera diisi.


Dia berjalan menuju meja makan dan membuka tudung saji kecil itu.


di sana sudah tersedia sepiring nasi goreng sosis dengan telur mata sapi.


"Ha... kok cuma nasi goreng.


Bagai mana sih si bima ini cari pelayan.


kenapa yang di carinya gak pernah ada yang benar hasil kerjanya.


Masa untuk makan malam aku cuma di buatin nasi goreng.


Bisa masak atau engak sih pelayan baru ini." omelnya.


"krukk... krukkk... krukkk"


Karena sudah sangat lapar perutnya pun berbunyi.


"Ah, sudah lah.


Mana lapar banget lagi.


Kalau harus pesan makanan diluar pasti harus menunggu lagi.


Semoga aja rasa nasi gorengnya ini enak.


Kalau tidak lihat saja besok, dia tidak usah bekerja lagi."


Dia pun akhirnya mau duduk dan makan.


Baru suapan pertama yang masuk kemulutnya, dia pun terdiam sesaat.


"Rasa nasi goreng ini....


Kenapa rasanya seperti nya tidak asing bagi ku." ujarnya heran


Rasa nasi goreng itu sebenarnya sangat enak dan sangat sesuai dengan lidahnya.


Akan tetapi rasa nasi goreng itu mengingatkannya pada seorang wanita.


Walau sudah lima tahun semua itu berlalu. Tetapi dia belum juga dapat melupakan wanita yang telah meninggalkannya. Walau hatinya yang terluka selalu mengatakan benci kepada wanita itu. Sebenar nya tersimpan rasa rindu dan cinta yang masih begitu besar disudut hatinya.


"Rasa masakan ini sama persis seperti masakannya.


Walaupun sudah lama tidak memakan masakan nya, aku tidak akan pernah lupa rasa masakan nya.


Atau jangan jangan... " dia pun merasa curiga kalau pelayan barunya itu adalah seseorang yang penah di kenalnya.


"Ha ha ha...


Tapi tidak mungkin itu dia.


Apa yang sedang ku pikirkan.


wanita itu meninggal kan ku karena takut hidup susah.


Mungkin sekarang dia sudah menikah lagi dengan seorang pria kaya, mana mungkin dia menjadi seorang pelayan. Apa lagi pelayan ku.


Sudahlah, mungkin ini hanya kebetulan dan aku yang sudah terlalu banyak berpikir. ujarnya menyangkal semua rasa curiganya.


Akhirnya sepiring nasi goreng itu pun habis di makannya dengan lahap.


Selesai makan dia pun merasa haus dan bermaksud mengambil air dingin di kulkas.


"Pantas dia cuma masak nasi goreng.


Ternyata sudah tidak ada apa apa lagi di kulkas.


Besok saja akan ku suru si Bima untuk membantu nya berbelanja." ujarnya saat mendapati kulkasnya sudah kosong.


***


Seperti biasa nya pukul tujuh pagi sang pemilik apartemen pun bangun untuk bersiap siap ke kantor.


Seperti biasanya juga hanya segelas kopi hitamlah yang menemani paginya ia sudah terbiasa melewat kan sarapan paginya.


Setelah selesai meminum kopi nya, jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. dia pun turun dari apartemen dan mengambil mobilnya di pakiran. Setelah itu ia pun pergi ke kantor dengan menyetir mobilnya sendiri, baginya menyetir sendiri lebih nyaman dari pada memakai seorang supir, oleh karena itu dia tidak memakai jasa supir kemana pun ia pergi. Kecuali kalau pun ada pekerjaan kantor yang mengharuskan dia keluar bersama asistennya Bima, barulah bima yang akan menggantikannya menyetir mobil. Selebihnya dia selalu menyetir mobilnya sendiri.


***


Begitu tiba di kantor dia langsung masuk ke ruangan nya. Bima dan Winda sekertarisnya pun segera menyusul ke ruangannya, untuk melapor kan masalah perusahaan dan jadwal kegiatannya hari ini.


Selesai melapor sekertaris nya Winda pun keluar dari ruangan nya dan kembali bekerja di ruangan nya sendiri. Sekarang tinggal lah Bima yang masih berada di ruangannya.


"Apa ada hal lain lagi Bim." tanyanya.


"Nanti siang saya akan mampir ke apartemen bapak, untuk menemui pelayan baru bapak yang baru mulai bekerja semalam pak. Saya kesana untuk mengambil lamaran kerjanya yang belum di serah kan serta menjelas kan tugas tugas nya pak."


"Baik, dan kalau begitu nanti kamu juga sekalian tanya dan bantu dia untuk membeli barang apa saja yang diperlukan untuk keperluan rumah ya Bim." perintahnya kepada Bima.


"Baik pak.


Dan bagai mana pekerjaannya pak.


Apa bapak puas dengan hasil kerjanya."


"Sejauh ini pekerjaannya bagus, rasa masakan nya juga cocok dengan saya. kita lihat saja dalam satu minggu ini kalau benar benar bagus dia dapat tetap bekerja."


"Baik pak.


Saya mengerti."


Setelah itu Bima pun keluar dari ruangan atasan nya dan bermaksud melanjutkan pekerjaannya.


"**terima kasih"


"ternyata membuat novel itu tidak lah mudah.


semoga novel yang banyak kekurangan ini dapat di terima"


*semangat semangat semangat aku pasti bisa*** :)