Divorce

Divorce
58



Beberapa hari pun telah berlalu semenjak mereka kembali bersama kembali. Selama beberapa hari ini hubungan Clara dan Ronny pun sangat baik. Bahkan hampir setiap saat Ronny selalu berusaha menunjukan perhatiannya kepada Clara.


Clara yang dapat merasakan perhatian Ronny beberapa hari ini trrhadapnya pun ingin membalas semua perhatian yangbRonny Ronny berikan padanya. Maka dari itu pun hari ini Clara bermaksud memberi kejutan untuk Ronny dengan memasak makanan kesukaan Ronny dan membawanya kekantor untuk makan siang bersama disana.


Walau pun sebenarnya Ronny sudah beberapa hari ini Ronny selalu melarang Clara untuk bekerja dan menolak Clara membuatkan bekal makan siang lagi untuknya. Ronny melalukan itu karena dia tidak ingin melihat Clara kelelahan.


Oleh karena itu, maka hari ini pun Clara akan membuatkan bekal dan mengantarnya tanpa memberi tahu Ronny terlebih dahulu.


"Papa pasti akan senang dan terkejut saat melihat kita mengantarkan bekal makan siang untuknya nak." ujar Clara sambil mengelus perut datarnya itu. Dan lalu dia pun segera berangkat ke kantor Ronny dengan senyum yang mengambang di bibirnya.


***


Di kantor Ronny.


Ronny yang tengah bekerja pun menyambut kedatangan Silvia yang memang sengaja dia undang untuk datang.


"Ada apa Ronny, Kenap kau meminta ku datang ke kantor mu hari ini. Apa kau butuh bantuan ku lagi." ujar Silvia yang lalu memilih duduk di Sofa ruangan itu.


"Tidak Silvia, aku tidak butuh bantuan mu lagi." Ronny pun bangkit dari kursi kerjanya dan ikut duduk menemani Silvia di sofa.


"Lalu untuk apa kau menyuruh ku datang ke sini Ronny?" tanya Silvia.


"Menurut mu untuk apa?" ujar Ronny yang malah berbalik bertanya.


"Dari raut wajah mu sepertinya ini hal yang baik. Apa kau menyuruh ku kesini karena ingin memamerkan ke bahagian mu." tebak Silvia.


"Kau benar Silvia, aku mengundang mu kemari karena ingin berbagi kebahagian ku dengan mu."


"Alah, paling juga kamu cuma mau pamer kalau Clara sudah mau menerima Cinta mu kembali." ejek Silvia.


"Kau benar Silvia, Clara sudah mau menerima ku kembali sekarang. Tapi bukan hanya itu saja Silvia, ada satu lagi kebahagian yang ingin ku bagikan dengan mu."


"Satu kebahagian lag?" tanya Silvia bingung.


"Ya satu kebahagian lagi Silvia. Coba tebak apa itu."


"Ah..., sudah lah aku malas main tebak-tebakan. Ayo cepat katakan apa itu Ronny?" ujar Silvia yang tak sabar.


"Aku akan segera menjadi seorang ayah Silvia." ujar Ronny dengan bersemangat.


"Apa? Benarkah itu Ronny?"


"Ya itu benar Silvia, saat ini Clara sedang hamil. Kau tidak ingin memberi ku selamat Silvia?" tanya Ronny.


"Ya, tentu saja.


Selamat untuk mu Ronny, aku juga ikut bahagia mendengarnya." Silvia pun bangkit dan memeluk Ronny sebagai ucapan selamatnya.


Dan tepat pada saat itu juga, Clara yang berniat memberi kejutan kepada Ronny pun masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga kini ia pun melihat Silvia dan Ronny yang saat ini tengah berpelukan.


"Pletak... "


Clara pun menjatuhkan kotak makan yang sedang dibawanya karena terkejut melihat Ronny dan Silvia yang sedang berpelukan.


Sementara Ronny dan Silvia yang mendengar suara benda yang terjatuh pun langsung melepaskan pelukan mereka dan melihat kearah asal suara.


"Clara...," Ujar Ronny terkejut saat melihat Clara berdiri diam sambil menangis di sana.


Ronny yang tahu kalau Clara telah salah paham kepadanya pun mendekati Clara dengan maksud ingin memberi penjelasan kepada Clara.


"Clara, tunggu Ra." jerit Ronny yang tidak dihiraukan oleh Clara yang tetap saja berlari.


Karena terburu-buru ingin menghindari Ronny yang mengejarnya. Clara pun terjatuh karena tidak berhati-hati dan menabrak Bima yang saat itu keluar dari lift.


"Clara kamu tidak apa-apa?" tanya Bima yang langsung membantu Clara begitu melihatnya terjatuh.


"Clara..., apa kau baik-baik saja. Apa kau terluka? ujar Ronny yang juga menghampiri Clara dan mencoba menolongnya.


"Aaa..., sakit." jerit Clara.


"Mana yang sakit Ra?" tanya Ronny panik.


"Sakit..., perut ku sakit sekali." ujar Clara yang terlihat sangat kesakitan.


"Maafkan aku Ra, maaf." Ronnybpun terlihat panik melihat keadaan Clara.


"Apa yang kau tunggu Ronny cepat bawa dia kerumah sakit sekarang." jerit Silvia menyadarkan Ronny yang panik dan tidak tahu harus berbuat apa karena takut melihat keadaan Clara yang terus menjerit kesakitan.


"Ya..., benar kerumah sakit"


"Bima siapkan mobil, kita bawa Clara kerumah sakit sekarang." perintah Ronny yang langsung mengendong Clara yang sudah tampak sangat kesakitan.


Di dalam perjalanan kerumah sakit.


"aaa..., sakit sekali." tangis Clara.


"Tahanlah sebentar lagi Clara, kita akan segera sampai dirumah sakit. semua pasti akan baik-baik saja Ra." ujar Ronny yang berusaha menenangkan Clara walau pun ia sendiri saat ini sangat merasa takut.


"Maafkan aku Clara, ini semua salah ku." ujar Ronny sambil menangis karena merasa sangat bersalah.


"Jika aku kehilangan anak ku lagi, aku tidak akan pernah memaafkan mu lagi Ronny."


"Aaa..., Cukup sekali aku harus merasakan sakitnya kehilangan anak ku karena kamu Ronny." ujar Clara ditengah-tengah rasa salitnya.


"Apa maksud mu Clara aku tidak mengerti." tanya Ronny yang merasa binggung dengan apa yang Clara ucapkan tadi.


Tapi Clara yang sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya pun akhirnya pingsan tanpa sanggup menjawab pertanyaan Ronny.


Tidak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit. Dan Clara pun langsung mendapatkan penanganan dari dokter disana.


"Bagai mana keadaan istri saya Dok?" tanya Ronny saat melihat Dokter keluar dari ruangan Clara sedang di rawat.


"Keadaan istri Bapak baik-baik saja, dan untungnya kita masih bisa mempertahankan kandungannya. Tapi walau pun kandungan istri Bapak bisa di selamatkan, istri Bapak masih harus benar-benar beristirahat dan jangan terlalu banyak berpikir. Karena saat ini kandungannya cukup lemah dan ada kemungkinan untuk terjadinya keguguran." ujar dokter itu menjelaskan kondisi Clara.


"Baik Dok, tapi apa sekarang saya boleh melihat istri saya Dok." tanya Ronny.


"Ya, silahkan tapi tolong untuk tidak menganggu istirahatnya, apa lagi sampai membuatnya terlalu banyak bepikir." pesan dokter itu.


"Baik Dok, terima kasih." ujar Ronny yang kemudian masuk keruangan di mana Clara saat ini sedang di rawat.


Melihat Clara yang masih tertidur Ronny pun memilih duduk di samping Clara.


"Maafkan aku Clara.


Semua ini karena aku yang tidak bisa menjaga dengan baik." ujar Ronny pelan sambil mengenggam tangan Clara dengan lembut karena takut menganggu istirahatnya.