Divorce

Divorce
41



Dari dalam selimut yang di dekapnya semalaman Clara pun terbangun dari tidur nyanyaknya. Lalu ia bangkit dan duduk bersandar di ujung tempat tidurnya sambil menatap Ronny yang masih tertidur di aampingnya.


"Untung semalam dia tidak macam-macam."ucap clara pelan takut sampai membangunkan Ronny.


"Loh selimut ini dari mana?"pandangan mata Clara jatuh pada selimut berwarna abu-abu yang sedang Ronny pakai. Dan rasa Penasaranny pun muncul karena ia tidak melihat keberadaan selimut itu semalam.


"Sebaiknya sekarang aku mandi saja, setelah itu baru membangunkan Ronny dan bersiap pergi kerumah sakit." pikir Clara yang tidak terlalu memikirkan dari mana datangnya selimut yang Ronny pakai.


Clara bangkit dan berjalan ke arah meja yang terdapat di sudut kamar.


"Dimana ya, kok gak ada? Dan dari mana barang-barang ini? Kenapa malah ada di sini, sementara pakaian kotor ku menghilang ntah kemana."ucap Clara bingung saat mendapati pakaian kotornya menghilang dan telah berganti dengan beberapa paper bag yang di bawa Ronny semalam saat ia masih tidur.


"Dasar brengsek, bisa-bisanya semalam aku mempercayai ucapannya." Clara yang membuka paper bag yang ronny bawa pun menyadari kalau ia telah di permainkan oleh Ronny semalam.


"Lihat saja nanti setelah kau bangun aku akan membalasnya." ucap Clara yang kemudian pergi ke toilet untuk membersihkan dirinya.


tidak lama kemudian Clara yang sudah selesai membembersihkan dirinya pun keluar dari toilet dengan memakai gaun model kaos selutut berwarna coklat bermotifkan gucci dan logo gucci besar pada bagian dada yang ia dapatkan di dalam parpar bag yang ronny bawa semalam.


"Ronny, bangun Ron..." panggil Clara saat melihat Ronny yang tertidur, pada hal dia sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit.


"Biarkan aku tidur sebentar lagi Ra, aku masih mengantuk." ucap Ronny yang masih engan untuk bangun.


"Tapi ini sudah siang Ron, dan kita masih harus ke rumah sakit sebelum pulang ke jakarta."


"Ya baiklah." ucap Ronny yang dengan malas beranjak dari kasurnya untuk bersiap-siap ke rumah sakit.


"Ini kopi mu, minumlah." ucap Clara sambil memberikan kopi yang dibuatnya saat Ronny mandi tadi.


"Terima kasih Clara." ucap Ronny yang menerima kopi pemberian Clara.


"Byurr..., uhuk uhuk..." Ronny pun terbatuk-batuk dan menyemburkan kopinya ke lantai.


"Apa yang kau masukan kedalam kopi ku Clara kenapa rasa pedas sekali."tanya Ronny sambil mengambil botol air mineral yang berada di dekatnya dan meminumnya.


"Aku hanya memasukan sisa sambal dari makan malam kita dan lada ini Ronny." ucap Clara sambil menunjukan botol tempat lada dari sisa makan malam mereka yang belum di bereskan.


"Kenapa kau melakukan itu pada ku Clara?tanya Ronny.


"Itu cara ku berterima kasih pada mu karena sudah membelikan gaun tidur untuk ku semalam Ronny."


"Sudah ku katakan aku tidak tahu soal gaun itu Clara, pelayan di mall lah yang memilihnya untuk mu."elak Ronny.


"Lalu bagaimana kau menjelaskan soal gaun ini Ronny, kenapa kau menyembunyikan nya dari ku semalam." tunjuk clara pada gaun yang sedang di kenakannya.


"Aku tidak menyembunyikan nya dari mu Clara, aku hanya lupa memberikan nya pada mu semalam."


"Lupa? Bagaimana mungkin kau bisa melupakan nya Ronny."ucap Clara kesal.


"Ah sudahlah Clara, tidak perlu membahasnya lagi. Sebaiknya sekarang kita lekas pergi kerumah sakit saja, kalau tidak nanti kita akan kesorean balik ke Jakarta." Ronny pun berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menarik Clara pergi.


***


Setelah sampai di Rumah sakit.


"Mbak Nisa" panggil Clara yang sudah berada di ruangan Radit di rawat.


"Oo..., Clara.


Baru datang Ra?" Tanya Nisa.


"Terima kasih Ra."


"Bagaimana keadaan Kak Radit sekarang Mbak?." tanya Clara.


"Sudah jauh lebih baik Ra. Tinggal menunggu Radit sadar saja."


"Syukurlah Mbak."


"Mbak Nisa, untuk Mbak Nisa. Maaf kalau Clara sama ini sudah merepotkan Mbak dan Kak Radit." Ujar Ronny sambil menyodorkan sebuah amplop coklat yang sengaja di siapkannya tadi.


"Apa ini Ron?" tanya Nisa.


"Ini uang untuk melunasi hutang-hutang Clara selama ini Mbak."


"Tidak usah Ron, semalam biaya operasi Radit yang kamu bayar saja sudah melebihi hutang Clara pada kami. Bahkan seharusnya sekarang kami lah yang berhutang kepada kalian." Ujar Nisa menolak pemberian Ronny.


"tidak apa-apa Mbak ambil lah.


Uang semalam tidak usah dipikirkan lagi, itu memang niat kami untuk membantu Mbak Nisa dan Kak Radit. Jadi Mbak tidak perlu mengembalikan nya."


"Tapi ini terlalu banyak Ron. Kalian pasti juga akan membutuhkan nya Nanti. Jadi maaf Mbak gak bisa menerimanya."


"Ambillah Mbak. Saat ini Mbak yang lebih butuh ini untuk biaya perawatan Kak Radit ke depannya."


"Baiklah Clara. Terima kasih sudah mau membantu Mbak, semoga Tuhan selalu memberikan berkatnya dan membukakan pintu rejeki untuk keluarga kalian." ujar Nisa yang tidak tahu kalau selama ini Clara dan Ronny sudah lama bercerai.


"Setelah ini kita harus bicara Ronny." Bisik Clara di telinga ronny pelan takut kalau sampai Nisa mendengarnya.


Setelah beberapa saat mereka duduk menemani Nisa di rumah sakit. Mereka pun pamit kepada Nisa untuk kembali ke Jakarta.


Di dalam mobil Ronny, dan dalam perjalanan kembali ke Jakarta.


"Kenapa kau tidak membicarakan pada ku terlebih dahulu kalau kau ingin membayarkan hutang ku ke Mbak Nisa tadi Ronny? tanya Clara.


"Memangnya kenapa, Apa ada yang salah? tanya Ronny.


"Tentu saja salah, walaupun gaji yang kau berikan cukup besar, tapi harus berapa lama baru aku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu untuk membayar mu kembali." jawab Clara yang pusing memikirkan uang yang telah ronny keluarkan untuk Radit.


"Aku tidak menyuruh mu untuk membayar ku kembali Clara." ucap Ronny.


"Tentu saja aku harus membayar mu kembali, aku tidak ingin berhutang apa pun pada mu."


"Kalau begitu kembalilah pada ku maka kau tidak akan berhutang apa pun pada ku Clara."


"Jangan bermimpi, aku tidak mungkin kembali dengan mu."


"Terserah pada mu saja lah clara."ucap Ronny yang tahu betapa keras kepalanya Clara.


"Begini saja aku akan mencicil mu saja setiap bulannya. Kau boleh memotong gaji ku dua juta rupiah selama enam bulan ke depan. setelah itu lewat dari enam bulan kau boleh memotong gaji ku sebesar empat juta rupiah bagai mana apa kau setuju?"


Kenapa selama enam bulan ini aku hanya boleh memotong gaji mu dua juta rupiah, sedang kan enam bulan kedepan aku bisa motong gaji mu empat juta rupiah. Selama enam bulan ini kemana akan kau pakai uang dua juta itu sampai tidak bisa kau pakai untuk membayar ku Clara?" tanya Ronny ingin tahu.


"tentu saja aku harus membayar dita terlebih dahulu. Sudah terlalu lama aku berhutang padanya." ucap Clara yang tidak berpikir kalau Ronny akan penasaran bagai mana dia bisa berhutang kepada Dita.


NB: Di novel ini aku sengaja tidak menunjukan apa agama Clara dan Ronny. Biarlah pembaca sendiri yang berimajinasi apa agama mereka.