Divorce

Divorce
59



Setelah sepanjang hari tertidur akhirnya Clara pun terbangun.


"Kau sudah bangun Ra?" ujar Ronny yang sudah sepanjang hari juga selalu menjaga dan menemani Clara.


"Aku dimana?" tanya Clara


"Kau di rumah sakit Ra." beritahu Ronny.


"Rumah sakit?" Clara pun kemudian mencoba mengingat apa yang terjadi padanya.


"Anak ku bagai mana dengan anak ku Ronny, dia baik-baik sajakan? tanya Clara panik begitu mengingat apa yang terjadi.


"Tenanglah Clara, anak kita baik-baik saja."


Clara pun dapat bernapas lega setelah mendengar keadaan anaknya.


"Syukurlah kau baik-baik saja sayang, mama tidak akan sanggup jika harus kehilangan mu lagi." ujar Clara sambil mengelus perutnya.


"Apa maksud perkataan mu Clara? tanya Ronny.


Clara yang mendengar pertanyaan Ronny pun terdiam.


"Jawab Clara apa maksud perkataan mu tadi?"


"Sudah lah Ronny, aku tidak ingin membahasnya lagi dengan mu. Sekarang pergi dan temuilah kekasih mu itu, aku tidak memerlukan mu disini." usir Clara.


"Kau salah paham Clara, bukankah sudah ku katakan kalau aku dan Silvia hanya berteman."


"Salah paham? Berhentilah mempermaikan ku Ronny, apa aku sebodoh itu sampai tidak bisa melihat kedekatan kalian."


"Percayalah Clara aku tidak pernah punya niat mempermaikan mu, aku bisa menjelaskan nya pada mu apa yang terjadi tadi siang."


"Sudahlah Ronny aku tidak ingin mendengar penjelasan mu lagi. Sekarang pergilah, aku biarkan aku istirahat." Clara pun lalu berbaring dan memungungi Ronny.


Ronny yang tidak ingin berdebat karena melihat kondisi Clara yang belum pulih pun memilih mengalah dan keluar dari situ dan menunggu Clara di luar.


"Bagaimana keadaan Clara Pak?" tanya Bima yang dari tadi siang menunggu di luar.


"Kamu masih di sini Bim? tanya Ronny yang mengira Bima sudah pulang.


"Iya Pak." jawab Bima.


"Kalau begitu kamu pulanglah Bim, Clara sudah sadar dan baik-baik saja sekarang."


"Tidak apa-apa Pak, mungkin nanti ada yang Bapak butuhkan saya bisa membantu Pak.


"Terima kasih Bim. Tapi sebaiknya kamu pulang saja, ini juga sudah malam." ujar Ronny.


"Baiklah kalau begitu kalau Bapak butuh bantuan, Bapak bisa hubungi saya." Bima pun kemudian berbalik hendak pulang, tetapi langkahnya pun terhenti karena melihat Dita dan Rian yang baru saja datang.


"Bima, bagaimana keadaan Clara?" tanya Dita yang tahu apa yang terjadi kepada Clara sekarang dari Bima.


"Clara sudah baik-baik saja Ta." jawab Bima.


"Syukurlah kalau begitu Bim, tapi kenapa Clara bisa sampai terjatuh Bim?"


"Tadi siang Clara keluar dari ruangan Pak Ronny sambil berlari dan menabrak ku sampai terjatuh Ta." terang Bima.


"Apa? Jadi ini gara-gara kamu lagi." Dita pun langsung menghampiri Ronny yang berada tak jauh dari mereka.


"Apa kamu lakukan kepada Clara sampai dia keluar dari ruangan mu dengan berlari seperti itu?" desak Dita.


"Clara salah paham saat melihat aku dan Silvia bersama tadi siang Ta. Aku mau menjelaskan nya tapi dia langsung berlari keluar begitu saja."


"Dasar brengsek, Apa tidak cukup sekali saja Clara keguguran karena kamu Ronny. Sekarang malah karena wanita lain kau membuatnya hampir keguguran kembali." Dita pun mendorong tubuh Ronny dengan emosinya yang memuncak.


"Apa selama ini kau berpikir kalau Clara dulu memilih bercerai dengan mu karena dia tidak tahan hidup susah bersama mu Ronny?" tanya Dita.


"Kau salah Ronny, Clara memilih bercerai dengan mu karena dia kecewa pada mu yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada dirinya."


"Kalau saja malam itu kau tidak mengabaikannya yang kesakitan meminta pertolongan mu, dia tidak akan kehilangan bayinya dan memilih bercerai dari mu Ronny." terang Dita yang membuat Ronny seketika terduduk lemas.


"Aa aku tidak tahu itu Dita, bahkan aku tidak tahu kalau Clara pernah hamil." ujar Ronny.


"Tentu saja kau tidak tahu, kau selalu sibuk dan mementingkan pekerjaan mu." tunjuk Dita dengan emosi.


"Sudah Dita, hentikan." Rian yang melihat istrinya terus memojokan Ronny pun berusaha menghentikan nya.


"Ya, Dita sebaiknya kau tenang sekarang. Bukankah kau datang untuk melihat Clara." ujar Bima.


"Ya kau benar Bima, aku kesini untuk melihat Clara bukannya untuk mengurusi pria bodoh ini."


Dita dan Rian pun kemudian masuk menjeguk Clara.


"Bapak baik-baik saja." tanya Bima yang melihat Ronny tampak syok dengan apa yang Dita katakan.


"Aku benar-benar benar-benar bodoh Bima, aku mengira Clara meninggalkan ku dulu karena aku tidak mampu memberikan nya kehidupan yang layak. Suami macam apa aku ini yang bahkan tidak tahu kalau istrinya hamil dan keguguran." sesal Ronny.


"Sudahlah Pak, tidak usah dipikirkan lagi. Yang terpenting sekarang kalau Bapak tidak mau kehilangan Clara lagi, Bapak harus meluruskan kesalah pahaman yang ada antara Bapak dan Clara sekarang."


"Ya kau benar Bima, tapi saat ini Clara tidak mau mendengarkan penjelasan ku." ujar Ronny sedih.


"Bersabarlah Pak, saat ini kondisi Clara juga belum pulih. Sebaiknya Bapak tunggu saja sampai keadanya jauh lebih membaik baru membicaraka nya lagi."


"Baiklah Bima terima kasih atas saran mu. Kalau tidak ada kamu, saat ini aku benar-benar bisa berpikir harus bagaimana."


"Tidak apa-apa Pak, kalau begitu sebaiknya sekarang Bapak beristirahat saja dulu."


"Tidak Bim, aku akan tetap di sini menjaga Clara. Kau pulang dan istirahatlah, besok perusahaan masih mengharapkan mu untuk membantu ku mengurusnya.


"Baik Pak, tenang saja saya akan membantu sebisa saya." ujar Bima yang kemudian pun pergi meninggalkan Ronny.


Beberapa saat kemudian.


"Ra, kami balik dulu ya. Nanti kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk memberitahu ku." ujar Dita yang sedang berpamitan kepada Clara.


Setelah Rian dan Dita keluar Ronny pun kembali masuk untuk melihat Clara kembali.


"Kamu butuh sesuatu Ra?" tanya Ronny.


"Aku hanya butuh kamu untuk tidak terus menganggu ku. Pergilah... " usir Clara.


"Maafkan aku Ra, selama ini aku tidak tahu apa yang sudah kau alami. Aku dulu aku suami yang bodoh Ra, sehingga tidak menjaga mu dan calon anak kita dengan baik."


"Kau sudah tahu?" tanya Clara.


"Ya, aku sudah tahu kesalahan ku dulu Ra."


"Kalau begitu pergilah Ronny, tidak ada yang perlu di bicarakan lagi."


"Banyak yang harus kita bicarakan Clara. Aku mihon dengarkan dulu apa yang mau ku katakan." bujuk Ronny.


"Apa yang ingin dibicarakan lagi Ronny, semuanya sudah berlalu. ku mohon pergilah, aku benar-benar lelah dan istirahat."


"Baiklah kalau itu mau mu, tapi aku benar-benar tidak akan pernah melepaskan mu lagi Clara." Ronny pun kemudian keluar dari Ruangan Clara.


Tetapi walau pun dia keluar, dia tetap menjaga Clara dari luar.