
"Winda, Kamu Windakan." panggil Clara yakin.
"Apa kabar Win?
Aku ngak nyangka bisa ketemu kamu di sini Win." sapa Clara sambil tersenyum bahagia.
Sudah cukup lama Clara tidak bertemu Winda. Ya tepatnya setelah lulus dari SMU mereka tidak pernah saling bertemu kembali.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Winda dengan ketus, dan tampak berbeda sekali dengan sikap Clara yang bahagia dapat bertemu kembali dengannya.
"Aku datang kesini untuk mengantar bekal makan siang pak ronny Win." terang Clara.
"Oo..., jadi kamu yang menjadi pelayan di apartement Pak Ronny." ujar Winda yang terlihat memandang Clara dari atas sampai kebawah untuk memperhatikan penampilan Clara yang ada di hadapannya.
"Percuma dong jadi juara kelas dan rebutan anak anak disekolah.
Tapi ujung-ujungnya cuma bisa jadi seorang pelayan. Mana janda lagi." ejek Winda
Walau tidak pernah bertemu.
Winda sedikit banyak tahu tentang keadaan Clara yang sudah bercerai dari teman sekolah mereka yang mengetahui keadaan Clara.
"Kamu kok gitu sih ngomongnya Win.
Apa salahnya menjadi seorang janda dan pelayan. Aku juga tidak merugikan orang lain dengan status ku. Dan pekerjaan ku ini juga pekerjaan yang halal, tidak ada yang buruk dengan itu." jelas Clara
"Tidak buruk kata mu.
Kamu itu kesini mau godain Pak Ronny kan." tuduh Winda
"Kamu ngomongnya makin lama kok makin keterlaluan Win. Sedikit pun aku gak ada maksud atau pun buat godain Pak Ronny"elak Clara yang tidak terima tuduhan Winda padanya.
"Alah..., sok baik lagi kamu.
Udah jelas deh semuanya, ngapai juga kamu ke sini kalau gak ada maksud buat godain Pak Ronny ha."
"Aku kesini cuma ngantar bekal Pak Ronny Win."
"Ngantar bekal?
Eh lu pikir gue ni **** apa.
Selama ini tu ya, pelayan Pak Ronny tu gak pernah ada yang ngantar bekal kesini.
Dasar lu nya aja kegatelan mau cari perhatian sama Pak Ronny kan." ujar Winda yang terus-terusan ingin menjelekan Clara.
Di dalam ruangan Ronny.
Ronny dan Bima sedang membahas pekerjaan. Kemudian terdengar suara ribut-ribut dari depan ruangannya.
"Ada apa di luar Bim," tanya Ronny kepada Bima
"Saya tidak tahu Pak," jawab Bima.
"Coba kamu cek dulu," perintah Ronny
"Baik Pak."
Bima pun kemudia keluar dari ruangan Ronny.
Begitu sampai di depan iya pun melihat Clara yang sedang berdebat dengan Winda.
"Clara, Winda..., ada apa ini?" tanya Bima.
"Ini lo bim ada janda kegatelan yang datang mau godain Pak Ronny." jawab Winda.
"Kamu ini ngomong apa sih Win.
Maksud kamu itu apa ngomong begitu?"
"Buat apa coba dia kemari kalau bukan karena kegatelan.
Aku ini uda kenal dia dari jaman sekolah Bim jadi aku tau kelakuan dia Bim." terang Winda.
"Jaga omongan kamu Win...
Clara itu kemari disuruh Pak Ronny.
Pak Ronny sendiri yang minta diantarin bekal makan siang nya kesini.
Jangan sembarangan menuduh kamu.
Udah kerjakan tugas tugas kamu aja sana." ujar Bima membela Clara
Winda pun kembali ke kursinya dengan wajah cemberut. Dia tidak suka kalau Bima yang selama ini iya suka ternyata Membela Clara.
"Clara kamu gak apa-apakan?" tanya Bima.
"Gak apa-apa kok Bim.
Aku uda biasa dengan kelakuan Winda, dari jaman sekolah dia emang udah begitu sifatnya." jawab Clara.
"Ya udah, bekal Pak Ronny biar aku yang antar aja ke Pak Ronny."
Clara pun memberikan bekal itu ke Bima, dan Bima pun menerimanya.
"Kamu udah makan siang Ra." tanya Bima lagi
"Belum Bim." jawab Clara.
"Ini udah hampir jam makan siang.
Kamu tunggu sebentar aku antar bekalnya trus kita makan siang bareng ya Ra." ajak Bima.
"Gak usah deh Bim.
Lain kali aja.
Kerjaan ku juga masih banyak nih.
"Ya udah deh, hati-hati di jalan ya Ra.
Dan Jangan lupa makan siang."
"Iya, terima kasih ya Bim." Clara akhirnya pun kembali ke apartemen. Banyak pekerjaan yang sedang menanti untuk diselesaikan nya.
Di kantor, Bima mengantarkan kotak makan siang ronny keruangannya.
"Ini bekal makan siang Bapak Pak."
"Letakkan saja di situ."
Bima pun meletak kan kotak makan siang itu di meja dekat sofa yang ditunjuk Ronny tadi.
"Ada apa tadi ribut-ribut di luar Bim" tanya Ronny.
"Winda menganggu Clara tadi Pak.
Seperti nya Winda dulu teman sekolah Clara.
Tetapi ada masalah apa diantara mereka berdua saya juga tidak tahu Pak." jelas Bima
"Hmmm...,ya sudah kalau begitu. Nanti kamu ingatkan Winda untuk tidak membuat masalah disini. Masalah pribadi dan masalah di kantor jangan di campur aduk." pesan Ronny.
"Baik, akan saya sampai kan kepada winda nanti." ujar Bima mengerti.
"Kalau begitu sampai disini saja.
Ini juga sudah jam makan siang.
Kamu boleh istirahat sekarang Bim....
Pekerjaan mu bisa kamu lanjutkan lagi nanti."
"Baik Pak, permisi..." Bima pun keluar dari ruangan Ronny.
Di depan ruangan Ronny, Bima kembali bertemu dengan Winda yang meja kerjanya bersebelahan dengannya. Bima pun langsung menegur Winda sesuai pesan Ronny kepadanya.
"Win..., kamu kalau ada masalah sama Clara, sebaiknya kamu selesaikan saja diluar kantor jangan disini." ujar Bima
"Siapa juga yang ada masalah Bim.
Anak itu duluan kok yang cari masalah."elak Winda.
"Aku tahu kamu itu orang nya bagai mana Win. Awas aja kalau besok-besok kamu gangguin Clara lagi."
"Jadi kamu belain anak itu nih." protes Winda
"Aku ngak belain siapa-siapa Win.
Aku cuma belain yang yang tidak bersalah.
Lagian ini pesan dari Pak Ronny sendiri.
Aku cuma disuru sampaikan ke kamu doang kok." Bima pun kemudian berjalan pergi meninggalkan Winda yang berwajah cemberut karena habis di omelin Bima.
Sementara itu.
Setelah bima keluar tinggal lah Ronny sendiri di ruangannya.
Dia pun bangkit meninggalkan pekerjaan nya dan berjalan ke arah sofa kemudian duduk di sana.
Sesaat dia memandang kotak makan siang yang ada di hadapan nya.
Kemudian iya pun meraih kotak bekal itu dan membukanya.
Tampak makanan dan beberapa potong kue yang tampak lezat di hadapannya.
Ronny pun mulai memakan makan siangnya.
Baru suapan pertama ia pun berhenti sesaat.
"Kau masih pintar dalam hal memasak Clara.
Tidak bahkan kini masakan mu terasa lebih lezat." ujar Ronny.
Seaat pikiran nya kembali teringat akan masa-masa bahagianya saat bersama clara.
Dia ingat bagaimana setiap hari Clara menyiapkan bekal makan siang untuk di bawanya setiap pagi saat hendak pergi bekerja.
Dan saat pulang Clara selalu menyambut nya dengan makan malam yang sudah terhidang di meja.
Perasaan sedih kini pun menyelimuti dirinya.
"Kenapa kau tidak mau menunggu dan percaya kalau aku benar-benar bisa memberikan mu kebahagian Clara.
Kalau saja kau mau menunggu ku sedikit lagi saat itu. Lihat lah betapa sukses nya aku sekarang." guma Ronny.
"Sudahlah apa yang sedang ku pikirkan.
Waktu yang sudah berlalu tidak mungkin kembali lagi. Nikmati saja semua ini Clara."
Seketika sadar semuanya sudah berlalu, Ronny pun berusaha tak mau mengingat semua masa lalunya lagi.
Ia memilih melanjut kan memakan makanannya dengan cepat, lalu ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya
****
"Semua nya beres.
Tinggal menu makan malam.
Panasin lauk siang tadi aja deh buat makan malam nya, capek banget." ujar Clara
Clara pun memanaskan lauk yang disiapkan nya siang tadi sebagai menu makan malam.
Seharus nya lauk itu adalah makan siangnya tadi. Tetapi di karena kan pekerjaan nya masih banyak yang harus diselesaikan, Clara pun melewatkan makan siangnya.