
"Kok lo disini Sar, Jel" Tanya Luna mencairkan suasana yang tegang atas kehadiran Sarah dan Angel.
"Udah bel barusan.. emang kalian gak denger?," jawab Sarah yang dibalas gelengan kepala Luna dan Rara.
Angel melihat wajah Rara yange terlihat sembab. "Raa, emang sakit banget ya sampe nangis gitu."
"Hehehe, iya nih," jawab Rara kaku.
"Gue ada berita baru nih.. berhubung lo juga ada Raa!," ucap Sarah dengan nada semangatnya, yang membuat siapa saja akan menggelengkan kepala melihat tingkah sarah.
"Berita apaan?," Tanya Luna penasaran.
" Sekolah kita kedatangan murid baru!," seru Angel.
" Gue kira apaan.. taunya B aja gaada berita special tuh," balas Luna meremeh.
"Murid barunya laki- laki.. cakep banget!, dia pindahan dari Milan.. lo tau kan model terkenal di Eropa? Itu loh.. Stef yang pernah kolab sama Rara.. Stef kan terkenal karena dekat sama Rara..otomatis ketenaran Rara nular ke Stef..lo tau juga gak Rara itu model terkenal di Eropa..?," cerocos Sarah dengan suara cemprengnya itu. Namun, pernyataan Sarah membuat Rara kembali mengeluarkan bulir air matanya. Rindu yang sudah lama terpendam akhirnya terselesaikan.
" Lah, Raa kok nangis.. pulang yukk! Kayaknya lo sakit banget, deh," bujuk Angel. Rara menggelengkan kepala membalas bujukan Angel.
Rara menghapus air matanya. 'Lo harus kuat Raa, hadapi masalah lo dan lupakan masa lalu," batin Rara menyemangati diri, lalu tersenyum melupakan beban pikirannya.
"Stef, kelas berapa?," Tanya Luna penasaran.
"12 IPA 1," jawab Sarah.
"Kok bisaa kelas 12 pindah- pindah!," sahut Angel yang memasang wajah bingung.
"Namanya juga Orkay bisa pindah kemana aja dan kapan aja," balas Sarah lalu mendapatkan anggukan mengerti dari Angel.
" Kuylah makan! Gue udah laper," ajak Sarah kemudian semua beranjak berjalan menuju Kantin kecuali Rara yang masih berdiam diri pada kasur empuk UKS.
" Kalo sakit itu makan!," ucap Reza ketus dan dingin di ambang pintu UKS kemudian dengan cepat Sarah, Angel, dan Luna melangkah pergi menuju Kantin Sekolah. Reza melemparkan sebuah roti kearah Rara.
" Makan!," bentak Reza. Rar menurut daripada ia kena amukan Reza.
" Papa tadi menelpon acara Pertunangan kita akan dilaksanakan minggu depan di Germanny, kita akan libur kurang lebih 2 minggu," jelas Reza detail.
" Okay! Berate gak jadi hari ini?."
" Iyaa" raut wajah Rara kini berubah yang semula sedih karena banyak beban pikiran kini beban- beban tersebut hilang karena ucapan Reza.
" Thanks, Zaa" Rara berlari menuju kantin berniat menyusul para sahabatnya.
Reza menyeritkan kening. " Bukannya masih sakit!," teriak Reza yang masih didalam UKS.
" Udah sembuh!," balas Rara girang sambil berlari. Namun, tanpa Rara sadari seseorang laki- laki tengah memperhatikannya dengan tatapan rindu.
" Erinnern Sie sich noch an unsere Versprechen? (Apakah kamu masih ingat dengan janji kita?)," ucap seorang laki- laki tersebut.
❄💭❄💭❄💭❄
Jam sudah menunjukan pukul 16:10 Rara, Luna dan Sarah sudah keluar kelas dan berjalan menuju gerbang sekolah untuk menunggu jemputan mereka. Sedangkan Angel sudah pulang sekitar 5 menit yang lalu.
Setelah sampai didepan gerbang sekolah, Sarah menoleh kekanan dan kekiri. Rupanya, orang tua maupun supir Sarah belum menjemputnya. Namun, Sarah menemukan sepasang mata yang tengah memperhatikan Rara dari kejauhan. Sarah tahu orang itu, laki- laki idamannya yang baru saja menjejakan kakinya tadi pagi di Sekolah Merpati Putih.
" Itu namanya Stefan Raa, Lun," Sarah menunjukan tangannya kearah Stefan lalu serentak mata Rara dan Luna melihat kearah tunjuk tangan Sarah. Tatapan yang sudah lama ia rindukan kini kembali seperti keajaiban. Rara berbalik menghindari tatapan itu lalu berlari kecil meninggalkan tatapan rindu itu. Stefan yang menyadari Rara tengah menghindar dengan gesit mengejarnya lalu menggenggam tangan Rara erat. Kini mereka tengah berdiri ditengah lapangan dengan posisi Rara yang membelakangi Stefan.
" Lepasin!," bentak Rara.
" Vermisst du nicht? (Apakah kamu tidak rindu?)," pertanyaan Stefan membuat Rara mengeluarkan bulir air matanya kembali.
" Entschuldigung, ich kenne dich nicht (Maaf saya tidak kenal anda)."
" Warum warten Sie nach Jahren des Komas nicht auf mich? (Kenapa kamu tidak menungguku setelah bertahun- tahun aku Koma?)," pertanyaan Stefan kini bertambah membuat isakan kecil dari Rara.
" Warum hast du mich in Ruhe gelassen? Lass mich alleine kämpfen ( Kenapa kamu meninggalkanku sendiri? Membiarkan aku berjuang sendirian)."
" Erinnern Sie sich noch an unsere Versprechen? (Apakah kamu masih ingat dengan janji kita?)."
" Stop, Kak," lirih Rara yang sudah lemas.
" Sis? Was für ein neuer Anruf ist das ... (Kak? Panggilan baru apa itu..)."
" Warum vermeiden Sie es und tun sogar so, als würden Sie es vergessen? Anstatt mich zu umarmen, Miss ( Kenapa kamu menghindar dan bahkan pura pura lupa? Bukannya memelukku rindu)," pertanyaan Stefan membuat Rara tersungkur kebawah dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara.
Bugh!!
Satu tonjokan keras melayang ke rahang Stefan. Reza menonjok Stefan dengan wajah merah marahnya. " PERGI LO, DASAR GAK TAU DIRI!," bentak Reza.
" Wer ist das, Ra? ( Ini siapa, Ra?)" Tanya Stefan sambil memegang rahangnya. Namun, beberapa detik kemudian satu tonjokan keras dari Reza mengenai wajah Stefan lagi, itu cukup membuat Rara semakin menjerit. Tonjokan balas membalas pun terjadi, cukup membuat geger satu sekolah.
Diruang Kepala Sekolah Reza dan Stefan masih saja bertengkar tetapi tidak menggunakan fisik, hanya menggunakan lisan.
" Wer bist du, Rara? (lo siapanya Rara?)" Tanya Reza dengan nada yang sedikit berat menahan amarah. Bagaimana tidak marah, Rara pacarnya; dibuat menangis dengan Stefan yang baru saja menginjakan kakinya tadi pagi disekolah ini.
" Freund! (pacar!)" jawab Stefan dengan nada tinggi membuat Reza sedikit kaget karna pernyataan Stefan yang mengaku pacar Rara.
" Es gibt keinen Freund, der weint, es gibt einen ehemaligen Freund! (Gak ada pacar yang bikin nangis, yang ada lo mantan!)" ucap Reza ketus sambil berfikir positif bahwa Stefan hanyalah masa lalu Rara yang sudah terlupakan.
" Wenn ja, frage ich, wer bist du, Rara? (Kalo gitu gue Tanya, lo siapanya Rara?)" Tanya Stefan balik.
" Ich Lo, frag mich Lernen Sie meinen zukünftigen Ehemann kennen (Gue? Lo Tanya gue? Kenalin gue calon suaminya)" jawab Reza mengejek.
" Ist das wirklich Raa? ( Apakah itu benar Raa?)" Tanya Stefan pada Rara yang tengah duduk lemah disamping kepala sekolah. Kepala sekolah yang sudah tidak mengerti bahasa mereka hanya terdiam, memperhatikan.
" Kannst du es oder nicht? Vor Ihnen steht ein Principal (Kalian bisa diem gak sih? Depan lo ada Kepala Sekolah)" Rara kini berteriak menengahi Reza dan Stefan.
" Aber er war zuerst Raa (Tapi dia duluan Raa)" bela Stefan.
" Wie ist er zuerst! (Apaan dia duluan!)" ucap Reza tidak mau kalah.
" Wer ist zuerst die Nichtecke? ( Yang nonjok duluan siapa?)" balas Stefan.
" Wer hat Rara zuerst zum Weinen gebracht? (Yang bikin nangis Rara duluan siapa?)" timpal Reza, Rara hanya terdiam menggelengkan kepala melihat tingkah kekanak- kanakan mereka.
"KALIAN BISA DIEM GAK! SAYA TIDAK MENGERTI APA YANG KALIAN UCAPKAN, BISA TIDAK KALIAN GUNAKAN BAHASA INDONESIA" teriak Kepala Sekolah yang langsung membuat Reza dan Stefan terdiam.
"Rara" panggil Kepala Sekolah dengan lembut.
"Iya. Bu" balas Rara.
" Apa yang mereka bicarakan?" Tanya Kepala Sekolah sambil menatap tajam Reza dan Stefan.
" Sebuah soal dengan perbedaan pendapat, Bu," jawaban Rara hampir membuat Reza dan Stefan tertawa sedangkan Kepala Sekolah menyeritkan kening.
" Soal?" Tanya Kepala Sekolah memastikan.
" Iya Bu" jawab Rara lagi.
" Kalau boleh tau soal apa?" Tanya Kepala Sekolah detai.
" IPA BU," jawab Stefan bersemangat agar memastikan Kepala Sekolah.
" Masa Bu kata Stef Katak melahirkan jelas jelas bertelur Bu," timpal Reza yang membuat Rara hendak tertawa. Namun, tawanya hanya ia simpan dalam hati. 'Oh, gini dramanya' batin Stefan.
"lah kan emang Bu katak melahirkan..kalo gak gak akan ada kecebong Bu," balas Stefan melanjutkan drama.
" Sudah- sudah katak saja dibahas.. karena kalian bertengkar karna soal tentang katak.. ibu maafkan tapii jika kejadian ini terulang lagi. Ibu tidak akan segan segan menghukum atau pun menskors kalian.. Mengerti!?" tegas Kepala Sekolah lalu dibalas anggukan kepala Reza dan Stefan.
" Dan kamu Reza, kamu murid teladan tetapi bisa berantem juga cuman karena soal," ucap Kepala Sekolah pada Reza yang sedang tertawa dalam benaknya karena drama ini.
"Kan saya laki- laki,Bu," balas Reza lalu diangguki Kepala Sekolah.
" Silahkan kalian semua keluar tanpa membuat keributan lagi," Rara,Reza dan Stefan keluar dengan perlahan tanpa membuat kegaduhan. Diluar banyak sekali siswa maupun siswi yang mengerubungi Ruang Kepala Sekolah mencari info tentang kegaduhan yang baru saja terjadi. Samar samar Rara mendengarkan sedikit pembicaraan Siswi yang ia tidak kenal, saat melewati mereka, hendak berjalan pulang.
" Si Rara itu katanya Model terkenal di mjEropa lho.. gue kira dulu wajahnya bule karna Oplas.. taunya asli," ucap seorang Siswi, ntah Rara tidak tahu namanya.
" Pantesan bisa deket sama Reza yang bule dan juga Stefan yang bule..enak banget yaa jadi dia," balas seseorang.
" Tadi gue denger pas Reza sama Stefan berantem itu karna ngerebutin Rara..terus berantem aja mereka pake bahasa alien alias bahasa luar," Timpal Seseorang.
Diparkiran Reza sudah dulu sampai dimobil lalu diikuti Rara yang menaiki mobil.
"Pulang sama siapa, Ra?" Tanya Stefan sambil menaiki mobilnya.
"Gue lah BEGO!," jawab Reza didalam mobil dengan kaca mobil yang terbuka sedangkan Rara terdiam dan menaiki mobil Reza dengan hati hati.
"Gue nanya Rara!," balas Stefan sambil menyalakan mobil.
" BODOAMAT!," seru Reza lalu melajukan mobilnya dengan kencang sedangkan Stefan mengikut mobil Reza walau sangat kencang karna dia ingin tahu dimana rumah Rara berada.
-----------
INSTAGRAM: lieka_leo
WATTPAD: liekaleo
kalian ngeship siapa? comment