
"Di depan gerbang saja, kak. Tidak usah masuk."
"Kau yakin? Dari gerbang ke pintu rumahmu lumayan jauh lho."
Tawa Shirley pecah mendengar ucapan Elly yang diucapkannya dengan raut serius itu.
"Hei, aku serius! Aku tahu kau lelah. Pemotretan hari ini banyak menggunakan konsep yang berbeda beda."
"Aku baik baik saja."
"Baiklah. Terserah kau saja."
Elly menghentikan mobilnya di depan gerbang besar yang serta merta terbuka karena para satpam telah mengenal baik mobilnya. Shirley mencondongkan tubuhnya dari kursi tengah ke kursi penumpang di sebelah sopir. Diulurkannya jarinya untuk menyentuh pipi pria yang tertidur pulas disana dengan rambutnya yang acak acakan.
"Dia benar benar tertidur pulas," lirih Shirley.
"Dia telah bekerja keras hari ini."
"Kau benar." Shirley tersenyum lembut melihat wajah tidur Vino yang terlihat begitu polos. Dia benar benar tampan dengan potongan rambut barunya. Garis rahangnya yang tegas, bibirnya yang sedikit terbuka, dada bidangnya yang bergerak naik turun, semua bagai keajaiban di mata Shirley.
"Cukup, Shirley. Turunlah."
Teguran tegas Elly membuyarkan lamunan Shirley. la tertawa getir, lantas bertanya,
"Kak, kau pernah merasakan perasaan seperti ini? Ini benar benar baru untukku."
Elly menghela nafas lelah. Ia takut jika gadis ini membuka hatinya untuk seseorang. Takut karena ialah yang paling tahu, jika gadis
ini kembali dilukai, ia akan benar benar tamat.
"Perasaan seperti apa?"
"Terlalu ingin sampai terasa sakit."
"Kau kelelahan, Shirley. Turun dan beristirahatlah segera. Besok kita memiliki jadwal penerbangan pagi yang penting."
"Sebelum itu boleh aku menciumnya?"
"Apa?!"
"Pipinya, pipinya maksudku," bantah Shirley segera yang kaget sekaligus takut akan bentakan Elly.
"Tidak, Shirley."
"Кak.."
Shirley menghentikan perkataannya saat Elly tiba tiba menurunkan kaca jendelanya dan melambai ke pos satpam di samping gerbang besar rumahnya. Seorang petugas berseragam segera tergopoh gopoh menghampiri mobil mereka.
"Ya, Nona? Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong antarkan Shirley ke rumahnya," ujar Elly sembari memberi isyarat ke kursi dibelakangnya menggunakan ibu jarinya.
"Baik." Petugas tersebut segera membukakan pintu untuk Shirley sebelum menepi ke samping.
Elly melirik dan menangkap ekspresi terluka dan kecewa yang mewarnai wajah Shirley saat ia turun. Ia menggertakkan giginya. la bersumpah kalau fakta bahwa ialah yang menyebabkannya ialah yang paling membuatnya kesal.
"Shirley."
Elly memanggil Shirley setelah pintu mobilnya ditutup. Shirley menoleh dengan lesu. Tatapan Elly melembut.
"Aku minta maaf. Tapi aku melakukan ini untuk kebaikanmu."
"Ya, kak. Aku tahu."
"Aku menerimanya sebagai temanmu. Tapi untuk lebih dari itu, kau mungkin butuh lebih banyak waktu. Kita belum terlalu mengenalnya. Jangan terlalu mudah mempercayai seseorang sejauh itu. Aku yakin kau paham sekali soal itu."
"Aku tahu, kak. Selamat malam."
Shirley melambaikan tangannya singkat sebelum melanjutkan langkahnya bersama satpam yang tegap berjalan disisinya. Elly tentu mengerti jika ucapan Shirley bermakna,
"Cukup. Jangan teruskan."
Diliriknya Vino yang terlelap di sampingnya. Damai. Sama sekali tak menyadari perdebatan yang disebabkannya.
"Hei, bocah," ujar Elly tanpa berharap disahuti panggilannya.
"Kau datang ke kehidupannya sebagai apa?Kutukan atau anugerah?"
\*\*\*
"Vino, bangun!"
Vino yang merasa nyeri luar biasa dilengannya terbangun cepat sembari meringis. Sang pelaku pencubit tersenyum lebar melihatnya membuka matanya.
"Ayo turun. Kita sudah sampai diasramamu."
Vino menolehkan kepalanya ke belakang. "Dimana Shirley?"
"la sudah kuantar terlebih dahulu." Elly membuka pintunya terlebih dahulu.
"Kau tidak perlu turun," cegah Vino sebelum menyusul turun.
"Hahaha. Aku tidak turun untukmu, nak. Tapi untuknya." Elly memberi isyarat pada siluet seorang pria yang berdiri bersandar di beranda halaman asrama Vino sembari menyilangkan tangannya di depan dada.
"Apa itu kak Lam?"
"Hanya ia staf arogan yang bekerja disini. Kurasa ia memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan denganku." Elly terkekeh. Sepenuhnya tak mengerti mengapa ia merasakan perasaan puas saat ini.
"Hoam." Vino menguap setelah mengangkat bahu. Ia tak begitu mengerti dengan perkataan Elly. Tapi masa bodoh. la terlalu lelah. Ia hanya ingin segera membaringkan tubuhnya di tempat yang nyaman.
Mereka berjalan beriringan menuju asrama modelling. Diluar tidak lagi terlihat orang orang berlalu lalang karena jam telah menunjukkan
pukul 8 lewat.
Siluet Lam semakin jelas saat mereka mendekati asrama. Pria itu mengeluarkan aura membunuhnya dari tatapannya yang menajam saat menatap kedatangan mereka. Terlihat jelas kalau ia sedang marah.
Elly yang terkikik kecil melihatnya sukses membuat Vino menjengit kaget. Bagaimana bisa ia tertawa saat melihat malaikat maut di depan mata? Seingat Vino tadi Elly bilang sepertinya Lam memiliki hal yang ingin dibicarakan dengan Elly kan? Demi Tuhan, Vino sama sekali tidak berniat ikut campur sekarang.
Vino mempercepat langkahnya mendahului Elly dan sampai di halaman terlebih dahulu. la tak sadar menahan napasnya saat melepas sepatu, kemudian melangkah melewati sisi Lam.
"Malam, kak."
Oke, Lam sama sekali tak melihatnya. la akan tidur dengan damai. Kemarahan itu bukan untuknya. Segera ia berlari menuju lift untuk memenuhi godaan kantuknya.
"Good luck, kak Elly," bisiknya sambil melambai singkat ditengah larinya pada Elly yang baru saja menjejakkan kakinya di beranda. Elly melihat lambaian itu tapi tidak membalasnya. Pandangannya justru ia arahkan ke arah pria besar yang terlihat jelas sedang menahan kekesalan untuknya. Tatapan tajamnya yang menusuk membuat Elly mengerang dalam hati. Baru kali ini ada staf asrama yang terang terangan berlaku sekurang ajar ini padanya. Tapi entah kenapa, ia justru menyukainya. Itu terlihat seksi.
"Kurasa kau tidak perlu berwajah menyeramkan seperti itu. Aku mengembalikan modelmu dengan utuh." Elly menepis pikiran anehnya barusan dan berdiri di depan Lam, mendongakkan kepala untuk menatapnya.
"Ck." Lam meraih topi Elly yang menutupi wajahnya dan melepasnya untuk menatap langsung matanya.
"Apa kau tahu berapa lama aku menyia-nyiakan waktuku untuk menunggu kalian di pintu sialan ini?" Geraman Lam dengan suara rendah itu berhasil membuat nyali Elly ciut.
"Ta, tak ada yang memintamu untuk menunggu disini."
Elly menyumpahi dirinya sendiri yang tergagap seperti orang bodoh. Tanpa sadar ia menggigit bibirnya. Gerakan yang tertangkap sempurna oleh Lam yang langsung merasakan gelenyar aneh di tubuhnya.
"Ini semua berkat drama anehmu!" Lam yang tiba tiba mengalihkan pandangannya sembari menaikkan suaranya seoktaf membuat Elly tersentak kaget.
"Maaf, aku tidak bermaksud berteriak." Buru-buru Lam menambahkan walau egonya menentangnya. Ia merasa perlu melakukannya. In benar benar berteriak di luar kendalinya karena kaget akan betapa mudahnya wanita di depannya memberikan reaksi aneh ke tubuhnya. Sepertinya ia sudah terlalu lama tidak bersama wanita.
Elly yang takjub akan Lam yang meminta maaf tersenyum sesaat. Lagi lagi merasa bodoh karena ia merasakan perasaan tersanjung hanya karena hal sepele. "Apa maksudmu drama aneh?"
"Yah, karena sandiwara bualanmu tentang teman lama, pak Ando memintaku untuk menunggu disini hanya untuk menyambut kepulanganmu! Aku punya pekerjaan dan banyak staf lain yang sedang kosong!"
Elly menepuk keningnya tak percaya.
"Oh tuhan, apa kau buta? Jelas-jelas pak Ando sedang berusaha mendekatkan kita! Dan itu jelas salahmu yang membual cerita kalau kau pernah menyukaiku atau semacamnya!"
Ekspresi Lam bagai tersambar petir karena menyadari sepenuhnya kesalahannya. Ia mengerang keras tak lama setelahnya.
"Aaaagh. Aku kehilangan berjam jam dari usia produksiku karena hal bodoh ini."