
"fratello?(kakak?)" Gumam Stefan dengan wajah kaget.
Cara
Kakak?. Batin Rara bertanya tanya.
"perché sei qui con quel killer? (mengapa kamu disini dengan pembunuh itu?)" Ucap Kakak Stefan yang tak lain bernama Olin. Tatapan yang Sama persis dengan 3 tahun yang lalu. Rara ingat itu adalah Kak Olin yang selalu menindasnya.
"Fratello Olin (kak olin)," sapa Rara sopan sambil membungkukan kepala sedikit. Rara harus tetap sopan pada Kak Olin walau dahulu ia selalu ditindas dengannya.
"sei così coraggioso! (Kamu berani sekali!)" Balas Olin dengan ancang ancang Ingin memukul namun dengan cepat Stefan menghentikannya dengan cara menggenggam erat tangan Olin.
"smettila sorellina, basta! (hentikan kak, sudah cukup!)" Teriak Stefan kesal. Bodyguard yang menjaga segera mengamankan Rara dari Olin.
"Non so quale sia la mia colpa, quindi mi fai sempre cose cattive (aku tidak tahu apa salahku sehingga kamu selalu berbuat buruk pada ku)" balas Rara pada Olin sedangkan Olin menanggapi dengan senyum miringnya.
"hai dimenticato? (Kau sudah lupa?)" Stefan membulatkan mata lalu mencegah kakaknya itu untuk mengatakan kata kata ketus lagi, kata kata yang sebenarnya tidak ada.
"È abbastanza, sorella! non lui ma io che non è attento (cukup kak olin! bukan dia tetapi aku saja yang kurang berhati hati)," jelas Stefan dengan cepat, Olin hanya memperhatikan adikya yang terus saja membela Rara.
"Nona, sebaiknya anda pulang tuan Reza sedang menunggu anda di mobil," saran salah satu bodyguard Rara. Olin yang tidak mengerti apa yang di ucapkan hanya terdiam bisu.
"Tetapi Stef masih disini," tolak Rara tidak ingin meninggalkan Stefan berdua dengan kakaknya yang begitu emosional.
"kau kembalilah Raa aku akan mengurus kakak ku," Stefan memberi izin Rara untuk pulang. Rara memutar mutarkan cincin yang Stefan berikan tadi, menimbang nimbang saran yang di berikan bodyguardnya itu.
"Tapi apakah tidak apa apa? Bagaimana jika kakak mu memukulmu?" Tanya Rara khawatir yang langsung mendapat senyum tipis dari Stefan.
"Aku adiknya, tidak mungkin kakak ku akan memukulku, aku sudah mengetahui sifat kakakku dari kecil. Tenang saja Raa aku tidak akan kenapa napa," jawab Stefan masih dengan senyum tipisnya.
"Baiklah, aku akan pulang, kamu nanti jangan lupa pulang yaa Stef," pamit Rara sambil mengingatkan Stefan untuk pulang ke mansionnya.
"Iyaa, hati hati," balas Stefan. Rara pergi dengan dikawal para bodyguardnya itu. Olin dengan cepat mengambil ancang ancang untuk menarik Rara untuk ia hantan lagi tetapi usahanya gagal karena Stefan sudah menahannya lebih dahulu.
"ehi, dove stai andando! (Hey, mau kemana kau)," teriak Olin tetapi teriakannya tidak dihiraukan Rara.
"cagna! ( Dasar jalang!)," Umpat Olin sedikit berteriak.
❄💭❄💭❄💭❄
"Bagaimana jalan jalannya tadi?" Tanya Reza ketika ia sedang duduk menonton televisi sedangkan Rara duduk bermain handphonenya menunggu kabar dari Stefan.
"Si monkey kok gak ikut kenapa?" Tanya Reza lagi. Euhh.. rasanya Rara sedang diintrogasi oleh Reza. Belum lagi panggilan seperti apa itu, Monkey? Sungguh malang sekali nasib Stefan mendapat panggilan yang menjijikan seperti itu, tetapi rasanya lucu Reza dan Stefan mempunyai nama panggilan sayang mereka.
"Kerumahnya," jawaban Rara lagi lagi singkat, padat, dan jelas membuat Reza menambah kesal lalu dengan cepat mencium lembut bibir Rara. Rara kaget secara mendadak sekali Reza memegang tengkuk leher Rara dan melahap habis bibirnya.
Third kiss gue astagaa. Batin Rara.
"Jawabnya singkat sihh..jadi pengen nyium," bela Reza atas kelakuannya yang secara tiba tiba membuat Rara terdiam cukup lama sambil menatap manik mata Reza.
"Kenapa? Mau dicium lagi?" Goda Reza membuat Rara sadar oleh lamunannya itu.
"Gak, makasih," balas Rara, matanya dengan cepat tertuju dengan handphonenya yang bergetar karena notifikasi pesan.
Notifikasi handphone Rara menampilkan pesan masuk dari Stefan yang segera Rara buka.
StEfAn: Aku akan pulang!
Rara_np.ken: Aku menunggu mu, ayo cepat!
StEfAn: Iyaa:))
Rara senang dengan pesan tersebut walau terlihat biasa namun Rara senang karena Stefan mengingat dirinya untuk diberi kabar darinya. Rara lagi lagi memutarkan cincin ditangannya sambil tersenyum lebar.
Reza menatap Rara aneh karena dengan durasi yang pendek Rara bisa mengubah suasana hatinya dengan cepat. Tidak biasanya, ada apa dengan Rara?
"Apa yang membuatmu senang?" Tanya Reza bingung.
"Tidak ada apa apa, memang kenapa?" Jawab Rara dengan membalikan pertanyaan Stefan sedangkan Reza menggelengakan kepala.
"Besok kita pulang yaa," ajak Reza pada Rara. Rara menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Ayolahh, aku hanya ingin berlibur di berlin bukan di milan," ajak Reza lagi dengan nada yang diubah seperti anak kecil yang memohon pada ibunya.
"Zaa, kan aku belum selesai sama masalahku," jawab Rara kesal karena Reza membuat buat nadanya seperti anak kecil terlebih mukanya yang mendramai. Tetapi sangat lucu untuk terus dipandang, tungu tunggu sebenarnya hati Rara dengan siapa, Reza atau Stefan? Inilah yang Rara benci semakin dalam menggali masa lalu semakin bingung untuk memilih.
"Tapi aku sangat bosan disini, kau asyik dengan si monkey itu," keluh Reza, lagi lagi Reza memanggil Stefan dengan sebutan Monkey. Rara sedikit kesal dengan panggilan itu namun kesalnya tidak melebihi rasa bahagianya saat ini, Rara segera menetralkan rasa kekesalannya itu.
"Kan memang hanya dia yang tau tentang masa lalu ku..jika kamu tau sudah ku tanyakan lebih awal," Jawab Rara yang membuat Reza terdiam tanpa kata- kata.