Change

Change
41. Job!



"Kau terlihat seperti model yang hebat sekarang."


Vino tersenyum kikuk sambil bergerak seakan memperbaiki kacamatanya, merasa bodoh saat tak menemukanya. Elly tergelak melihatnya.


"Hahaha. Kurasa kau harus segera melupakan kebiasaanmu itu."


Shirley dan bu Nans yang ikut tertawa sekilas mengundang semburat merah di pipi Vino.


"Karena itulah kau harus menggunakan ini." Shirley memberikan barang yang diberi Elly padanya pada Vino.


"Bukalah," katanya pada Vino yang mengangkat alis tak mengerti.


Vino menurut dan membukanya. Sepasang lensa kontak yang terlihat benar benar mahal ditangkap oleh retina matanya.


"Itu hadiah dariku atas kelulusanmu. Pakailah."


"Tapi ini benar benar mahal. Kurasa..."


"Pakai atau aku akan menciummu!"


Vino bergidik dan mengangguk serta merta. Tahu kalau gadis ini benar benar bisa saja melakukannya.


"Ancaman murahan macam apa itu, Shirley!?"


"Eh, tidak bu! Aku tahu kalau dia tidak akan membiarkanku melakukannya!"


Vino memasang kedua lensa tersebut ke matanya, mengabaikan Shirley yang mengaduh karena dihadiahi cubitan kecil oleh Bu Nans.


"Bagaimana? Perlu ku bantu?"


"Tidak, kak. Terima kasih."


Vino mengedip ngedipkan matanya beberapa kali sampai akhirnya dapat menyesuaikan diri dengan adanya benda asing di matanya.


"Sempurna!" sorakan Shirley disambut anggukan setuju oleh bu Nans dan Elly.


"Yak, kalau begitu ayo pergi."


"Eh? Sudah langsung mau pergi? Kau tidak mau


makan dulu?"


"Aku tergila gila dengan nasi gorengmu, bu. Percayalah. Tapi kali ini aku buru-buru, dan aku sudah makan sebelum kesini."


Bersama staf IT brengsek menyebalkan, tambah Elly dalam hati.


Shirley bangkit berdiri dan memasang atribut penyamarannya.


"Ayo bekerja, Vino."


"Eh? Kerja?"


"Ya, kerja! Kau kira untuk apa kau disihir bu Nans seperti ini?"


"Ap-"


"Ssst." Shirley meletakkan telunjuknya di atas bibir Vino yang langsung bungkam.


"Ayo, kita akan terlambat." Elly sudah keluar dari ruang belakang tersebut. Mereka semua menyusulnya termasuk Bu Nans.


Shirley kesal saat menyadari tatapan seluruh pengunjung salon yang rata rata gadis muda tersebut tertuju pada Vino. la sempat tergoda memberikan topi dan kacamatanya untuk dikenakan pria di sebelahnya. Tapi itu hanya akan membuat situasi semakin runyam.


"Datanglah lagi secepatnya," ujar Bu Nans tepat saat Elly membukakan pintu mobil untuk Shirley.


"Tentu, bu." Shirley menyahut sebelum mengecup singkat pipi bu Nans dan masuk ke dalam mobil.


"Kau juga, Vino. Datanglah kapanpun. Kau harus menjaga penampilanmu, karena kau model sekarang. Gunakan sisir bergigi runcing untuk menyisir rambutmu. Sisir dengan benar, sesuaikan dengan arahnya. Aku juga menyarankanmu menggunakan minyak rambut agar kesehatan rambutmu terjaga. Kau juga bisa menggunakan hair spray karena kau akan sering terpapar matahari dan berkeringat. Tapi setelah kau menggunakan spray, sebagai finishing touch gunakan jarimu untuk menyisir rambutmu. Itu akan membuatnya terlihat lebih natural. "


"Whoa, whoa. Kau bahkan tidak pernah memberitahukan padaku cara merawat rambut sampai seperti itu."


"Kau yang tidak mau kuperhatikan. Jadi diam."


"Hahaha. Tentu saja aku bercanda. Aku bukan model. Ayo masuk, Vino."


Vino mengangguk dan tersenyum tipis pada bu Nans.


"Terima kasih banyak, bu."


Bu Nans mengangguk dan mengacungkan tinju saat Elly menjulurkan lidah ke arahnya sebelum naik mobil menyusul Vino. Diikutinya mobil tersebut hingga hilang dari pandangannya.


\*\*\*\*


Billy yang mendapat pesan tersebut sentak bangkit dan berteriak pada pata stafnya.


"Segera pastikan semuanya siap dan berada di tempatnya! Artisnya akan datang!"


Seluruh staf riuh berlarian kesana kemari mempersiapkan segalanya. Semua tahu kalau pemotretan kali ini benar benar penting dan tidak boleh gagal sama sekali, atau tidak ada kempatan kedua.


"Hei, dimana fotografernya?"


"Kamera, kamera!"


"Pak, lightingnya sudah pas atau belum? Mohon dicek!"


"Untuk sekarang, oke. Kita akan mengubahnya sesuai kebutuhan. Bagaimana dengan make-up? Outfit?"


"Semua ready, pak!"


"Yeah, kita akan sukseskan juga pemotretan kali ini!"


"Apakah akan ada sesi outdoor, pak?"


"Kita akan lihat situasi. Pastikan saja segalanya siap."


"Baik, pak!"


Setelah memastikan segalanya, Billy bergegas keluar dari studionya menuju halaman kantornya. Bermaksud menyambut sendiri supermodel yang akhirnya setuju bekerja sama dengannya setelah melewati berbagai prosedur kontrak dan embel embelnya.


Billy menarik beberapa staf yang berpapasan dengannya untuk mengikutinya. Mereka tiba di luar tepat saat mobil yang ia ketahui milik Elly


terlihat memasuki pekarangan kantornya dan melaju hingga berhenti di depan lobi tempat Billy dan para stafnya berada.


"Ckiiit."


Suara rem berdecit bersamaan dengan Elly yang melompat keluar dari mobilnya. Shirley didalam menahan tawanya melihat Vino yang mengusap dadanya karena belum terbiasa dengan cara berhenti Elly yang tidak biasa.


"Selamat datang. Senang melihat anda."


Billy menjabat tangan Elly dengan senyuman lebarnya.


"Terima kasih. Maafkan keterlambatan kami. Ada beberapa hal yang perlu saya urus terlebih dahulu."


"Oh, tidak masalah, nona. Anda datang tepat pada waktunya."


Merasa tidak ada gunanya lagi memperpanjang basa basi, Elly berbalik dan membukakan pintu untuk Shirley. Billy dan para stafnya tak sadar menahan nafas saat Shirley turun hingga berdiri sempurna di depan mereka. Aura bintangnya tetap terasa walau penampilannya biasa. Senyum simpul yang ditunjukkannya saat Billy menjabat tangannya pun memikat, membuat siapapun tak dapat memalingkan mata darinya, termasuk Vino. Gerak geriknya membuat Vino tersadar sepenuhnya bahwa gadis ini bukan gadis yang sedari pagi bersamanya. Gadis ini berbeda.


Gadis ini idolanya.


"Hei, Vino, ayo turun."


Vino tersentak kaget oleh suara Elly yang ternyata telah membuka pintu mobil untuknya dan menatapnya aneh.


"Oh, oke." Vino segera mengayunkan kakinya turun dan bangkit berdiri keluar dari mobil.


"Pak Bil, ini Vino. Model pemula kami."


Vino menatap pria yang dipanggil 'Pak Bil' oleh Elly. Pria setengah baya yang tambun tapi berpakaian necis tersebut menatapnya sebelum mengangguk singkat dan menjabat


tangannya.


"Saya Billy. Selamat datang di studio kami."


"Terima kasih, pak. Mohon bimbingannya."


Vino merasa jantungnya berdegup saat pria tambun ini meremas tangannya sekilas. Refleks ia menyapukan pandangannya dan menangkap para staf di belakang Billy yang masih belum mengalihkan pandangan mereka dari Shirley. Vino merasakan perasaan kesal yang alasannya tak begitu ia mengerti.


Vino bergerak mendekati Shirley dan menepuk kepalanya. Dari ekor matanya ia dapat melihat para staf sialan itu membelalakkan mata dan saling berbisik, mempertanyakan kehadirannya yang baru mereka sadari.


"Oh? Vino?" Mata indah Shirley yang tidak lagi ditutupi kacamata hitamnya menatapnya dengan pandangan bertanya.


"Pekerjaan apa sebenarnya yang akan kita lakukan?"


Shirley mengedipkan matanya.


"Tentu saja pekerjaan sebagai model. Bagaimana? Pekerjaan pertamamu bersama supermodel dunia. Karasa kau harus mensyukuri ini seumur hidupmu."


Vino tertawa menanggapinya. Tentunya ia telah


menduganya. Pertanyaan tadi hanyalah pancingan dan ia berhasil mendapatkan mangsanya. Ia bersumpah kalau ia sungguh sangat menikmati pandangan kaget dan tak


percaya orang orang yang tadinya, bahkan tak menyadari keberadaannya. Ya, ia kesal karena mereka tak melihatnya.