
"Oh tuhan, apa kau buta? Jelas-jelas pak Ando sedang berusaha mendekatkan kita! Dan itu jelas salahmu yang membual cerita kalau kau pernah menyukaiku atau semacamnya!"
Ekspresi Lam bagai tersambar petir karena menyadari sepenuhnya kesalahannya. Ia mengerang keras tak lama setelahnya.
"Aaaagh. Aku kehilangan berjam jam dari usia produksiku karena hal bodoh ini."
"Kenapa kau tidak menghubungiku dan bertanya? Kau tak perlu menunggu selama itu." Elly juga tak mengerti mengapa suaranya sarat akan nada khawatir yang menggelikan.
Lam memasangkan lagi topi Elly ke kepalanya sembari menjawab dengan suaranya yang berat, "dan darimana aku bisa mendapatkan nomormu, nona manager yang terhormat?"
"Kau bisa bertanya pada pak Ando. Kalaupun ia tak punya, aku yakin ia memiliki kartu namaku."
"Kemudian ia akan bertanya, 'kau tak punya nomor sahabat dekatmu?' Dan hancurlah sandiwara bodoh kita."
Elly bungkam. Lam memperhatikan gerak geriknya yang menundukkan kepala dan memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya. Wanita ini terlihat kecil di matanya sekarang dan itu membuat emosinya meluap hilang dengan cepat. Lam justru merasa geli karena jaket kulit yang dikenakan Elly terlalu besar untuknya. Jelas kalau itu jaket pria.
"Apa itu jaket ayahmu?"
Tak tahan untuk tidak menyuarakan pertanyaannya, Lam merasa takjub akan dirinya sendiri yang benar benar keluar dari karakternya malam ini. Pada awalnya ia mengira ia tidak akan bisa tidur semalaman
seperti biasa jika sedang menahan emosi dan berakhir dengan menghabiskan bergelas gelas alkohol.
"Enak saja! Ini jaketku!"
Lam menyeringai karena Elly yang memukul lengannya dengan kepalan tangan cantiknya. Oh tidak, lebih tepatnya Lam menyeringai karena jawaban Elly. Lega yang tidak beralasan.
"Ayo duduk disuatu tempat. Aku ingin mendengar apa yang dilakukan Vino hari ini."
"Apa?" Elly gagal faham mendengar kata kata Lam yang mengejutkan. Terlebih melihat pria itu melangkahkan kakinya keluar dari halaman.
"Tidak masalah kalau kau tidak mau."
"Hei, tunggu!" Elly mengejar langkah besar Lam dan berusaha mensejajarinya.
"Kau.. tidak marah lagi?"
"Hmph...hahaha!" Tawa Lam yang mengalir membuat Elly benar benar ingin mengubur dirinya sendiri hidup hidup. Kenapa pula ia terlihat seperti gadis SMP yang puber sekarang?
"Apa kau sadar kalau kau sekarang terlihat berbeda, nona Manager?"
"Dimana kita akan duduk?" Elly mengalihkan pembicaraan dengan nada angkuhnya yang berusaha keras dipulihkannya.
"Oh, aku tersanjung kau menerima duduk denganku. Kukira kau akan menolak duduk dengan staf rendahan sepertiku." Jangan tanya alasannya. Lam benar benar menikmati menggoda wanita disebelahnya sekarang.
"Ini masalah pekerjaan."
Jawaban singkat Elly membuat Lam bersiul.
"Ayo duduk di dalam mobilmu saja. Berikan kuncinya."
"Kenapa?"
"Agar tidak ada orang yang melihat. Aku tidak mau terlibat gosip apapun."
Elly refleks menghentikan langkahnya. Tak mengerti dengan kakinya yang tiba tiba kehilangan tenaga. Apa ia terlalu lelah?
"Hei, kenapa?" suara Lam yang berada beberapa langkah di depannya mengejutkannya.
"Apa kau baik baik sana tidak berada di kantormu sejak sore? Bukankah kau bilang hanya kau yang bisa melakukan pekerjaan itu?" Elly bertanya setelah mereka duduk di dalam mobil.
Lam menghembuskan nafas panjang. "Kurasa kau harus tahu kalau aku paling tidak suka pekerjaanku digantikan orang lain. Apalagi jika kursiku diduduki orang lain. Berkat nona manager terbaik yang mulia, aku harus membiarkan orang lain menggantikanku. Bagaimanapun, BM tidak bisa dibiarkan tidak berfungsi. Para calon model itu mengejar waktu."
Anggukan mengerti Elly bersamaan dengan dering ponsel milik Lam yang segera dikeluarkan dari sakunya. Elly berhasil melirik nama pemanggilnya. 'Chena'.
"Oh, baru saja dibicarakan," gumam Lam sebelum mengangkatnya yang diikuti Elly oleh ekor matanya. "Ada apa, Chen?"
"Lam, ada anak muda memasuki kantormu dan langsung menjatuhkan diri di sofa! la tertidur pulas tanpa mendengar laranganku! Ia bahkan sepertinya tak menyadari kehadiranku! Aku sudah berusaha membangunkannya tapi tidak berhasil!"
Lam mengerang frustasi. Kenapa akhir akhir ini kantornya sering diterobos masuk? Lam meminta lawan bicaranya untuk menghidupkan panggilan video.
Elly membesarkan matanya saat melihat lawan bicara Lam. Seorang gadis berambut merah gelap dengan mata besar dan hidung kecil yang menggemaskan. Makhluk imut seperti ini bagaimana bisa menjadi kenalan staf menyebalkan disampingnya?
"Tunjukkan dia," pinta Lam yang langsung diiyakan oleh Chena. Diarahkannya kamera belakangnya pada pria muda yang terlelap di sofa Lam bahkan tanpa melepas sepatunya.
Lam mengeluh karena tepat seperti dugaanya. Itu Vino. "Sudahlah, biarkan dia. Coba periksa apa in memakai lensa kontak atau tidak. Jika ia tidak terbangun, kau saja yang lepaskan. Kurasa kotaknya ada di sakunya.."
"Hei, kau baik baik saja dengan ini? Kau bahkan tidak pernah mengizinkanku duduk di kursimu walau aku temanmu selama bertahun tahun!!"
"Berisik, Chena. Tidak pernah ada yang kuizinkan menduduki kursi kerjaku. la tertidur di sofa. Dan ia kelelahan. Lakukan saja apa yang kupinta. Bahkan kurasa kau akan melakukan lebih baik dari itu."
"Darimana kau tau?" Kamera telah kembali berganti ke kamera depan dan menunjukkan wajah imut gadis berambut merah yang menggerak gerakkan alisnya pada Lam. Menggoda Elly untuk mencakarnya. Oh yeah, Elly memperhatikan, lebih tepatnya menonton ekspresi mereka.
"Ck, aku mengenalmu, Chen. By."
Lam memutus panggilan dan mengalihkan pandangannya pada Elly. "Jangan khawatir. Chena akan mengurus anak itu."
Elly memandang Lam dengan jengah. Lam menaikkan satu alisnya tidak mengerti.
"Apakah anak tadi memiliki kemampuan untuk menggantikanmu?"
"Oh, Chena? Kami mempelajari IT bersama sama selama beberapa lama. Ia pernah menjadi sekretaris pak Ando karena kemampuannya. Tapi kemudian ia mengundurkan diri karena merasa tak cocok dengan pekerjaannya. Sekarang ia hanyalah asisten kesekian koki kami di dapur dengan segudang waktu luang. Itulah yang ia inginkan."
Lam menyandarkan tubuhnya setelah meletakkan handphonenya di dashboard. Sambil memejamkan matanya, ia melontarkan pujian pada dirinya sendiri yang bisa berbicara panjang lebar pada makhluk yang beberapa jam lalu membuatnya naik darah.
Lam yang tidak menyadari handphonenya diambil alih oleh Elly gagal paham saat Elly bertanya, "passwordnya apa?"
"Hah?"
"Handphonemu."
Lam membuka matanya dan menatap Elly aneh. "Apa yang membuatmu tertarik dengan handphoneku?"
"Aku akan memberikan nomorku. Kurasa kita akan sering terlibat mulai sekarang."
Elly yang sebenarnya mati matian menahan debaran jantungnya khawatir akan jawaban yang akan diberikan Lam. la bahkan tidak yakin apakah wajah stoic yang sekarang ditunjukkannya terlihat sempurna atau tidak. la baru saja meminta nomor Lam, demi tuhan!
Lam mengambil handphonenya dari tangan Elly dan menyerahkannya kembali setelah membukanya. Wallpaper hutan indah dengan anak sungai yang menyambut mata Elly serta merta membuatnya tersentuh.
"Aku tau kalau kau sebenarnya pria yang lembut," gumannya pelan sembari tersenyum tulus.
"Apa yang kau kat-" Lam tertegun oleh senyum yang dibuat oleh pemilik wajah disampingnya. Wajah menyebalkan dengan rambut pendek yang sering ditutupi topi olahraga dan selalu memasang ekspresi sinis atau merendahkan ini ternyata memiliki senyum yang luar biasa menenangkan hatinya.