Change

Change
17.TERBIASA



Rara mengganti kompresan di kening Reza mencelupkannya lagi ke air dingin dan memerasnya, lalu menempelkannya lagi di kening Reza.


"Gimana, udah baikan?," tanya Nenek Merisa.


"Belum, Nek. Panasnya belum turin juga," ujar Rara cemas. Sudah dari jam dua pagi Rara jagain Reza. Panasnya belum kunjung turun, untungnya tadi saat sampai rumah Rara, Reza masih sadar. Jadi, Reza masih bisa membersihkan tubuhnya lebih dulu.


Rara juga sudah mengetik SMS untuk Dira memakai Handphone Reza. Agar kedua orang tua Reza tidak khawatir. Untungnya lagi, Reza diizinkan menginap dirumah Rara.


"Raaa..." gumam Reza diantara tidurnya, Rara meringis kasihan melihat Reza seperti itu. Reza memanggilnya dalam keadaan seperti ini.


"Mau dipanggilin dokter aja gak?," saran Merisa yang diblas gelengan kepala. Rara ingin merawat Reza sampai sembuh. Bagaimana nanti disaat mereka bersama lalu Reza sakit? Apakah dokter akan selalu menjaganya? tentu tidak.


Tunggu Rara mengebutnya "Bersama"? Apakah Rara sudah terbiasa dengan kisah cinta baru ini?


"Kamu jangan biarin sampe kainnya ikut anget, terus Reza nya jangan diselimutin hiar panasnya gak makin naik," saran Merisa lagi.


"Iya, Nek." Rara kembali mengganti kain yang di pakai untuk mengompres Reza.


"Cepet sembuh, Zaa," ucapa Rara berbisik ditelinga kiri Reza.


β„πŸ’­β„πŸ’­β„πŸ’­β„


"Reza udah baikan?," tanya Merisa kepada Rara yang sedang sibuk berkutat dengan alat dapur. Rara sedang membuatkan bubur untuk Reza. Untung saja hari ini hari minggu, Jadi Rara taj perlu khawatir soal siapa yang akan menjaga Reza.


"Udah, Nek. Dia lagi main HP tuh," ucap Rara menyicipi buburnya sedikit, takut kalau ada bumbu yang kurang. Dan benar saja, kurang garam.


" Bagus deh. Nenek hari ini ada urusan sama kakek di Germany. jadi kamu baik- baik disini yaa.. kalo ada apa- apa telpon Nenek ya," pamit Merisa menatap cucunya yang sudah menghadapkan tubuhnya kearahnya.


"Ja Schon, Sei vorsichtig, Oma( Yaudah, hati hati, Nek)," ucap Rara yang spontan menggunakan bahasa Germany ketika Merisa mengucapkan Germany.


"Oma liebt dich. Oma geht, tschiiss( Nenek cinta kamu, Nenek berangkat ya, Bye)," ucap Merisa lalu meraih kopernya.


"Bye," kata Rara kembali memasak buburnya yang hampir matang itu. Merisa berlalu pergi.


"Wah, Adek masak apa?," tiba- tiba saja Rico datang, memeluk Adik perempuannya ituΒ  penuh manja.


"Masak bubur," jawab Rara masih sibuk dengan buburnya itu.


"Buat gue yaa, Dek? Wah, makasih tumbenan lo baik," kata Rico melirik adiknya, Walau Rara sedang membelakangi Rico.


"Buat Reza," koreksi Rara. Rico membulatkan matanya, kaget.


ngapain dia disini sepagi ini?. batin Rico betanya- tanya


"Tadi malem waktu anter gue pulang dia mendadak sakit. So he's staying here," kata Rara lagi, membuat Rico membulatkan matanya lebar, Menginap?.


"DIA TIDUR DIMANA!? KOK GUE GAK TAU!!," teriak Rico antusias.


"Di kamar gue," ucap Rara terlihat lelah. Terang saja, semalam Rara hampir tidak tidur.


Suara derap langkah kaki Rico yang cepat mulai menjauh. Rara berani bertaruh kalau Rico sedang buru- buru menghampiri Reza dikamarnya, abangnya itu terkadang kelewat lebay.


Rara mematikan api kompor dan menuang bubur buatannya ke dalam mangkok, lalu membawanya ke kamarnya.


untuk Reza.


β„πŸ’­β„πŸ’­β„πŸ’­β„


"Zaa," Rara masuk ke dalam kamar.


Reza dan Rico menoleh ke asal suara, menatap Rara yang sedang menaruh mangkuk diatas nakas.


"Makan dulu," ujar Rara tanpa senyum.


"Jutek amat, Dek. Gak gue omelin kok pacar lo," ledek Rico mencoba mencairkan suasana


"Keluar sana, Bang," kata Rara mengempaskan tubuhnya di atas sofa membelakangi tempat tidur.


Reza menatap rambut Rara yang dikuncir cepol asal- asalan. Pandangannya kembali beralih kepada Rico. Rico berjalan keluar kamar Rara.


"Bang!," panggil Reza saat Rico baru saja keluar kamar Rara.


"Adek lo cantik," lanjut Reza.


"Yoi, pasti dong.. abangnya aja ganteng," balas Rico dengan senyumnya, lalu berlari ke lantai bawah. Tak mau mengganggu Rara dan Reza lagi.


Reza menganggukan kepalanya dan menatap ke arah Rara lagi. Rara belun berpindah posisi sejak tadi. Masih sama, menatap TV dengan kepala yabg disandarkan pada punggung sofa.


"Ra, Thanks yaa udah Rawat gue," ucap Reza dengan satu helaan nafas. Baru kali ini Reza bersikap ramah, tak sedingin biasanya kepada Rara.


"Bubur buatan lo enak," Reza bangkit dari duduknya, menghampiri Rara yang sedang duduk di sofa.


"Ra, kok diem aja sih," ucao Reza berjalan ke depan sofa. Reza melihat ada lingkaran hitam pada kantung mata Rara. dan sekarang, Rara sedang tertidur lelap disofa. Rara memang kurang tidur dan kelelahan.


Reza tersenyum kecil, hatinya bimbang dan penuh tanya. Mereka belum lama saling kenal, tapi seperti sudah bertemu lama layaknya teman lama.


"Lain kali jangan paksain diri lo,Ra," bisik Reza lalu menggendong Rara. Entah kenaoa Reza mau melakukan ini, padahal dia termasuk orang yang cuek. Apa karena Rara Special dihatinya? atau Reza sudah terbiasa dengan kisah cinta baru ini? Reza masih bimbang.


Dibaringkannya tubuh Rara diatas kasur. Dengan hati- hati, Reza menyelimuti tubuh Rara sampai pangkal lehernya.


"Sweet Dream, Ra." Reza mencium kening Rara sekilas lalu berlalu pergi untuk pulang.


β„πŸ’­β„πŸ’­β„πŸ’­β„