
Lam masih bisa merasakan keberadaan wanita itu di dekatnya.
"Yah, tapi setidaknya ia tidak lagi menggangguku. Sebentar lagi
ia akan pergi dengan sendirinya," pikirnya sambil menyunggingkan senyum miring. la bangga berhasil membalas setimpal harga dirinya yang diinjak injak tadi pagi.
Tiba tiba Lam dikejutkan oleh suatu suara yang berdenging keras di telinganya dalam sekejap.
"ZİNG!"
Belum sempat ia menggerakkan tubuhnya untuk melihat sumber suara, jantungnya sudah hampir meledak berkat suara selanjutnya yang bersumber tepat di sampingnya. Entah apa yang akan terjadi pada gendang telinganya andai saja ia tidak mengenakan headphonenya.
"LAM PIERCE!!"
Dan matanya kembali bertemu dengan mata itu. Mata yang menyala tegas itu seakan bangga telah berhasil membuatnya menoleh. Wanita itu menggenggam mikrofon di meja Lam. Terhubung ke speaker yang terdengar ke seluruh lantai BM. Biasanya Lam menggunakannya saat mengumumkan hal hal darurat.
Seringai Elly membuat Lam menggeram marah. Dialihkannya perhatiannya kembali pada monitor dimana terlihat olehnya para penghuni kabin yang kehilangan konsentrasi mereka.
Ini buruk jika diteruskan, pikir Lam dan sontak menekan tombol 'off' untuk menonaktifkan seluruh program. la sedang tidak bisa fokus sekarang dan ia tidak ingin mengambil resiko.
Matanya mengikuti pergerakan samsak yang kembali dan balok pijakan mereka menyatu kembali ke lantai travelator. Menunggu hingga seluruh kabin benar benar kembali ke keadaan awal mereka sebelum melayani wanita pengganggu di dekatnya ini.
Elly yang menyangka kembali diacuhkan berdecak, lantas menarik dalam nafasnya dan,
"DENGARKAN AKU!!"
'Graaak!'
Lam bangkit dari kursinya dengan kasar, mencengkram tangan Elly yang kukuh menggenggam kuat mikrofon, dan menunduk menatap tajam mata Elly.
"Hentikan itu sialan! Apa kau gila?! Kemana harga dirimu?!"
Elly yang sebenarnya ciut karena tinggi tubuh Lam dan tatapannya yang mengintimidasi mengepalkan tangannya yang bebas, tapi tak mengalihkan matanya. la masih menolak untuk menyerah.
"Apa kau akan mendengarku sekarang?"
"Dalam mimpimu!"
Elly merengsek maju ke depan hingga dadanya hampir menyentuh mikrofon. Tindakannya membuat Lam refleks menarik tangannya menjauh agar tidak ikut tersentuh oleh tubuhnya. Tapi tentunya itu tak berlangsung lama. Lam kembali menarik bahunya ke belakang saat ia menarik nafas, siap untuk kembali berteriak.
"Kau tahu kalau suaramu terdengar oleh siapapun yang berada dilantai ini?! Kau akan menimbulkan gosip aneh dan merepotkan, nona manager."
"Aku tak keberatan. Aku bukan public figur. Tak akan ada yang memasukkanku ke media. Kalaupun ada gosip, tak akan berlangsung lama."
"Aku yang keberatan."
Elly yang terperangah oleh ucapan Lam menjadi lengah dan mengendurkan genggamannya pada mikrofon. Detail kecil yang tidak dilewatkan oleh Lam untuk merebut mikrofon tersebut dalam satu tarikan.
"Ah!"
Lam mendekatkan wajahnya pada mikrofon dan menarik nafas,
"Saya meminta maaf pada seluruh penghuni kabin atas ketidaknyamanan yang kami berikan. Program boxing kita untuk siang ini tidak akan dilanjutkan. Silahkan anda semua beristirahat dan sekali lagi, maafkan kelalaian kami dalam menjaga kenyamanan bersama. Terima kasih."
Lam, mematikan mikrofon sebelum mengangkat wajahnya ke layar monitor. Berkata pada Elly tanpa menoleh ke arahnya.
"Pergilah, nona. Kau benar benar menggangguku. Kalau kau benar benar membutuhkan sesuatu, kenapa tidak kau gunakan ancaman seperti 'turuti aku atau akan kuminta direktur untuk memecatmu!' atau semacamnya. Aku tidak akan bisa menolak dan aku tahu kau bisa melakukannya."
"Aku tidak mau dianggap rendahan oleh staf sepertimu."
"Setidaknya mungkin itu lebih berkelas dari yang kau lakukan sekarang. Kalau kau tidak pergi, aku yang akan pergi."
Lam sudah melangkah satu langkah ke depan saat merasakan tarikan pada kaosnya.
"Kumohon."
Lam melirik dan menggertakkan giginya saat melihat Elly yang membungkukkan diri padanya, sambil menarik kausnya.
"Hentikan itu. Kau tidak pantas melakukannya."
"Aku akan terus melakukannya sampai kau mau mendengarku."
"Ck! Dan apa untungnya bagiku?"
"Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan!"
"Apapun?" ulang Lam dengan intonasi yang membuat Elly merinding. Lam memutar matanya saat tak mendengar jawaban apapun.
"Kau terlalu naif."
Lam bersiap melanjutkan langkahnya yang kembali terhenti oleh tarikan yang semakin menguat dari belakangnya.
"Lepaskan a-"
"Kumohon, dengarkan aku. Ini semua kulakukan demi Shirley. Aku tahu kau peduli padanya sejak kau setuju merahasiakan kunjungannya ke kabin Vino malam itu tanpa meminta imbalan apapun dari kami. Aku tak tahu pasti alasanmu, tapi kurasa kau bisa
menolongku."
hidupnya ia belum pernah memohon kepada seorang pria.
Tapi mengingat Shirley yang telah lama kesepian dan menutup dirinya membuatnya berpikir kalau ini bukankah apa apa. Senyuman lebih cocok menghias wajah gadis itu dan Elly sungguh tidak akan membiarkannya menghilang lagi..
Tubuh Lam yang perlahan berbalik ke arahnya membuat Elly tersentak kaget dan melepas tarikannya pada kaus Lam. Diangkatnya tubuhnya hingga pandangannya bertemu dengan mata yang telah berubah menjadi lebih redup itu. Tatapan Lam tidak lagi terasa mengintimidasi, tapi sorot matanya kali ini justru lebih membuatnya bertanya tanya.
"Aku akan mendengarmu."
"Su, sungguh?"
Lam sudah berjalan mendahuluinya dan duduk di sofa, kemudian menatapnya seakan bertanya,
'Apa lagi yang kau tunggu?'
Senyum Elly mengembang dan bergerak untuk duduk dihadapannya.
"Sudah kuduga kau menyukainya."
"Aku tak pernah berkata seperti itu."
"Tapi kau langsung menerima saat aku menyebut namanya."
"Aku hanya kasihan pada nona manager yang terhormat karena telah menundukkan kepalanya untuk memohon padaku."
"Kau-"
"Jangan buat aku kembali merubah keputusanku. Cepat katakan, apa yang terjadi? Dan apa yang kau inginkan?"
Elly sungguh tidak suka berada di posisi dimana ia dikendalikan oleh lawan bicaranya. la kira kali ini pun ia akan memegang kendali seperti biasanya. Tapi pria di depannya lebih keras kepala dari yang ia duga dan ia tak memiliki apapun untuk menundukkannya.
Satu hal yang ia tahu, pria ini peduli pada Shirley dan untuk sekarang itu cukup untuknya.
Elly menarik nafas dalam sebelum memulai ceritanya.
"Tadi malam aku mendapat kabar dan pak Budi bahwa pak Rom telah meluluskan Vino dan BM sebelum waktunya. Karena aku tahu Shirley akan senang mendengarnya, aku memilih memberitahunya. Sebelumnya aku sudah menyangka kalau Shirley akan memunta untuk bertemu dengannya. Dan karenanya aku sudah melakukan berbagai persiapan untuk seluruh negosiasi pembatalan jadwal Shirley selama satu hari ini."
Lam menatap tajam Elly, meminta penjelasan lebih tanpa suara. Elly menyisir rambut pendeknya ke belakang dengan senyum kecut.
"Ya, ya, aku minta maaf. Jangan tatap aku seperti itu. Aku mengaku telah berbohong padamu. Bukan aku yang akan makan dengan Vino, tapi Shirley. Ini disiapkan sebagai
ucapan selamat akan kelulusannya. Aku hanya menjemputnya dan memastikan tidak ada masalah."
"Padahal kau tahu benar papanya akan marah besar jika mengetahui ini. Membatalkan jadwal pekerjaan untuk sebuah sarapan romantis? Sungguh manis."
"Aku tahu, sungguh aku tahu. Dan aku juga sudah memperingatkan anak itu. Tapi kau tahu apa yang selalu ia katakan?"
Lam menatapnya, menunggu.
"Dia bilang, 'Aku mungkin akan kembali jatuh terpuruk jika papa melakukan sesuatu padanya, tapi aku takut kalau aku juga akan jatuh terpuruk jika tidak menggenggan
tangannya."
Lam bungkam seribu bahasa. Lidahnya terasa kering, tak kuasa menyuarakan komentar apapun.
"Aku tahu saat saat terpuruk anak itu dan aku tidak ingin melihatnya lagi."
Beberapa saat keheningan diantara mereka. Lam sudah memejamkan matanya, meredam sesak didadanya yang tiba tiba terasa.
Elly yang menyadari Lam tak lagi menatapnya menyangka bahwa Lam tidak mendengarnya. la mencondongkan tubuhnya ke arah Lam dan berkata dengan nada mendesak,
"Ia mungkin terlihat seperti bintang yang terang sekarang, tapi ia pernah benar benar terpuruk! la pernah benar benar kehilangan keinginannya untuk hidup! Kau mungkin tidak akan mengerti karena tak tak pernah melihatnya seperti itu. Tapi sungguh dia-"
"Aku mengerti."
"Eh?"
"Aku sungguh mengerti lebih dari yang kau duga. Karena itu lanjutkan. Aku mendengarmu."
Lagi. Elly kembali menangkap sorot mata redup itu walau sekilas, dan entah kenapa Elly tidak menyukainya. Tapi sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu.
"Semuanya sebenarnya sudah berada dalam kendaliku. Aku bisa jamin tidak akan ada yang tahu akan sarapan kejutan ini. Tapi barusan Shirley kembali memohon padaku untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang mustahil jika tanpa bantuanmu."
"Kalau begitu katakan kalau itu mustahil padanya, nona manager. Selesai. Kau tak perlu mempersulit dirimu seperti ini."
"Dia berkata, 'Aku mengandalkanmu, kak!' dengan bersemangat . Dia tahu hanya aku yang bisa dimintai tolong olehnya, yang berpihak sepenuhnya padanya. Bagaimana aku bisa mengecewakannya?"
Lam mendesah keras dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Seperti yang kukatakan, kau terlalu naif. Benar benar berbeda dengan imej angkuhmu biasanya. Aku sungguh merasa terhormat bisa melihat sisi dirimu yang lain."
"Kau menyindirku?"
"Lupakan. Apa yang harus kulakukan? Tidak. Sebelum itu, apa yang diminta nona Shirley?"