
Sudah lebih sepuluh menit Rara selesai diperiksa penyebab pingsannya Rara yang lumayan lama. Dokter pribadi Rara mengatakan bahwa Rara hanya dehidrasi karena cuaca yang sangat panas, suhu tubuh Rara dengan suhu lingkungan Rara sangatlah tidak cocok itu mengakibatkan dehidrasi pada Rara.
Rara terus mengumpat Reza dalam batinnya karena Reza menyuruhnya terus berlari dan tidak diperbolehkan untuk minum air pemberian Kak Alex.
"Raa," panggil Reza lembut.
"Hmmm," jawab Rara yang sedang tertidur dikasur empuknya.
"Maaf" ucap Reza memohon maaf pada Rara karena dia menghukum Rara untuk berlari di siang bolong.
"Udah ahh. Pulang gih Zaa!," usir Rara.
"Yakin mau gue pulang Ra?," goda Reza dengan senyum khasnya. Entah kenapa, Reza tidak terdengar dingin lagi, sikapnya seakan mencair begitu saja. Reza yang disekolah dengan di rumah sungguh sangat berbeda.
'Gue kesel tapi pengen lo disini ngerawat gue' batin Rara.
Namun, hati dan pikiran Rara berkata lain. Lihat saja sekarang, Rara mengagukan kepalanya saat Reza pamit pulang.
" Ya udah, salam buat Nenek Merisa dan Kakek Ray," kata Reza mengacak rambut Rara dengan refleks.
"Iya," balas Rara pelan. Hatinya melayang entah kemana.
"Oiya, besokan libur dan juga senin udah ulangan akhir semester gue mau ngajak lo ke toko buku," kata Reza lagi lalu diangguki Rara. Reza pun berbalik pergi.
"Ehh , ada yang ketinggalan," ujar Reza membalikan badan menghadap Rara, ditatapnya Rara yang juga sedang menatapnya.
'Jangan bilang dia mau cium gue lagi!' jerit Rara dalam hati.
Cupp!
Sesuatu yang hangat dan lembut mendarat sempurna di bibir mungil Rara. Rara membulatkan matanya tak percaya.
Barusan...
"Biar gak dehidrasi," ucap Reza dengan tulus lalu dengan cepat pergi dari kamar Rara.
"GILA GUE DICIUM DIBIBIR," teriak Rara setelah Reza benar benar keluar dari kamarnya.
"FIRST KISS GUE,NJIRR!," teriak Rara lagi.
❄💭❄💭❄💭❄
Rara sudah menunggu Reza di café yang sudah dikirim alamatnya Via WA tadi. Reza bilang tidak bisa menjemput kerumah karena Reza masih berada dikantor pusat membantu ayahnya. Perusahaan Caaesar milik Om Vito.
Tadinya Rara kesini diantar supir Rara lalu Rara menyuruh supir itu ntuk kembali dan tidak menunggu Rara karena Rara pasti akan diantar pulang oleh Reza. Namun, sudah satu jam Rara menunggu di café ini. Sosoknya tidak muncul juga.
Rara mendengus kesal dan meraih I-phone yang ditaruhnya di tas kecil lalu memutuskan untuk menghubungi Reza saja. Apa Reza balik – baik saja?
Baru saja jari- jemari Rara berselancar pada layar I- phone miliknya, satu pesan sudah masuk. Senyum Rara mengembang ketika mengetahui nama Reza yang tertera dilayar. Rara membuka pesannya dan saat itu juga senyum rara memudar.
Reza_Dvc: Maaf Raa, jalannya macet total. Lo pulang aja dari pada kelamaan nunggu.
Rara mendengus kesal. Rara melirik cuaca di luar dari kaca café. Cuaca sudah mendung. Rara membaca lagi WA yang Reza kirim lalu tersenyum kecut.
'Niat gak sih lo? Jalan sama gue' bati Rara kesal.
Tanpa membalas pesan dari Reza, Rara menaruh selembar uang diatas meja dan berlalu pergi.
❄💭❄💭❄💭❄
Setelah berpamit pulang pada ayahnya Reza melangkah turun menju mobilnya di pakiran basement. Namun, langkahnya melambat ketika ia berada dilantai bawah kantornya.
Sosok wanita yang mirip sekali dengan kisah masa lalunya sedang berdebat dengan Resepsionis yang sedang berjaga. Reza melangkah mendekat dengan sosok wanita wanita tersebut. Alih alih pembicarannya terdengar Reza.
" I Want to go in and meet Reza's Father.. he knows me.. give me a clue.. What floor are you in? (aku ingin masuk dan bertemu ayah dari Reza... dia kenal dengan ku... beri aku petunjuk, lantai berapa ayah berada?)" ucap seorang wanita itu panjang lebar.
"Nona bisakah anda berbicara menggunakan bahasa Indonesia? Saya tidak mengerti apa yang anda katakana," jawab petugas itu dengan lembut lalu memasang wajah bingung. Reza semakin mendekat karena sangat penasaran dengan sosok wanita tersebut.
"He knows me! Please let me in! ( dia tau aku! Tolong izinkan aku masuk!)," sosok wanita itu kembali membantah menutupi kebingungannya dengan jawaban petugas itu yang ia tak mengerti.
"Tuan Reza!," panggil petugas itu lalu membungkukan badannya ketika melihat Reza dibelakang sosok wanita tersebut. Sosok wanita tersebut membalikan badannya ketika petugas itu memanggil nama Reza. Evelyne sosok itu. Sosok yang sudah lama pergi.
"Vel..," panggil Reza lemah.
"Give me a chace to explain everything ( beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya)," Evelyne memeluk tubuh Reza yang kaku karena kaget dengan kedatangan Evelyne.
"Can I explain everything? ( bisakah aku menjelaskan semuanya?)." Evelyne melepaskan pelukannya dari Reza.
"Please leave my face and don't disturb my life from now on because I can live without you (tolong pergi dari hadapanku dan jangan ganggu kehidupnku mulai sekarang karena aku sudah bisa hidup tanpamu)," jawab Reza sambil menepis tangan Evelyne yang berada di pundak Reza.
"And one more I have considered you not from this earth! ( dan satu lagi aku sudah menganggapmu tiada dari bumi ini!)" jawab Reza lagi lalu berlalu pergi.
" I did not board the plane! (aku tidak menaiki pesawat itu!)," teriak Evelyne ketika Reza hendak pergi. Langkah Reza melambat, matanya berkaca- kaca menahan tangis rindu dan kecewa yang ada. Reza masih menghadap berlawanan arah dari Evelyne, langkahnya terhenti, tangannya sibuk mengetik pesan dusta pada Rara.
"Maafkan aku Raa telah mengecewakanmu," ucap Reza pelan.
❄💭❄💭❄💭❄