Change

Change
32.



"Apa kau tak tertarik untuk berbagi masalahmu denganku?"


Oh sial, umpat Vino dalam hatinya yang bergetar. Matanya memanas. Jiwanya yang lelah dan terluka tak kuat menolak kehangatan yang ditawarkan Shirley.


Akhirnya ia tahu inilah yang ia butuhkan. Walau ia terdengar kuat saat berbicara dengan Tiffany, sungguh ialah yang paling terluka. Perasaan kehilangan sahabat terdekatnya, perasaan bersalah telah mendahului egonya hingga memicu pertengkaran, dan pada akhirnya tidak dapat menghentikan kepergian Andrew yang berakibat menyakiti banyak pihak. Menyakitinya, menyakiti Tiffany, dan menyakiti Andrew sendiri. la berpikir kalau semua ini adalah salahnya, dan ini terlalu berat untuk ditanggungnya sendiri. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Tapi sekarang ia tahu. Membagi bebannya, bangkit, dan melangkah maju.


"Haaah.."


Tangan kirinya yang terbebas dari genggaman Shirley digunakannya untuk menutupi matanya. Silaunya mentari semakin membuat matanya yang sudah memanas menjadi perih. Menangis di depan seorang gadis tidak ada dalam kamusnya.


Walau begitu, ia tak menarik tangannya dari kehangatan yang ditawarkan Shirley.


Kalimat Shirley selanjutnya sukses membuatnya luluh sempurna.


"Vino, apa yang terjadi? Ceritalah. Aku mendengarmu."


Dan semuanya mengalir begitu saja. Kekhawatirannya akan asumsi Lam menyebabkannya menuduh Andrew melakukan hal buruk pada Tiffany, Andrew yang pergi dan mendorongnya menjauh, ketidakpahamannya akan maaf yang Andrew utarakan, ketakutannya akan Andrew yang kembali ke masa lalunya, kegelisahannya akan Tiffany yang sendirian, keinginannya untuk kembali dan mendampinginya tapi dunia modeling yang telah membuatnya tertarik menahannya.


Shirley diam mendengarkan seluruhnya dengan takzim, tanpa menyela sedikitpun. Tapi Vino dapat merasakan genggaman gadis itu yang kian mengerat, menyatakan kepeduliannya.


"Semua ini terlalu tiba-tiba, dan aku butuh waktu untuk menerimanya sepenuhnya. Aku tahu kalau aku harus bangkit, tapi kakiku seperti tak bertenaga."


Vino mengakhiri ceritanya dan menghirup nafas panjang. Lantas tersenyum. Shirley benar. la jauh lebih baik sekarang.


"Shirley, terima kasih. Aku lega telah membagi ceritaku."


"Don't mind."


Vino melepas tangan mereka dan bergerak mendudukkan dirinya.


"Hey! Berbaring lebih nyaman tahu!" protes Shirley yang dibalas tawa oleh Vino.


"Kalau begitu berbaringlah. Leherku pegal."


"Ck, dan aku kau suruh mengobrol dengan punggungmu." Shirley yang sewot ikut mendudukkan dirinya dan memukul pelan lengan Vino. Vino kembali tergelak saat Shirley memutar matanya jengah berkat Vino yang berlagak kesakitan dan meringis. Shirley yang awalnya dongkol ikut tersenyum karena tawa lepas Vino.


"Kau benar benar terlihat lebih baik sekarang."


"Apakah tadi wajahku benar benar semenyedihkan itu?"


"Entahlah, tapi aku tahu ada yang tidak beres. Pertama, lukamu itu bukan luka yang biasa diterima di Body Maker. Terlebih itu belum ada saat kunjunganku ke kabin, yang artinya itu luka baru. Kau tidak akan diloloskan dari BM jika masih ceroboh dan terluka. Kedua, kacamatamu tidak ada. Jelas ada yang tidak beres."


"Whoa, apa kau agen rahasia yang menyamar menyadi model?"


Shirley mengibaskan rambutnya sambil tersenyum bangga.


"Kau lupa siapa aku. Aku berkeliling dunia. Dan karena itu, aku dituntut untuk menguasai berbagai bahasa. Kau kira bisa dengan otak yang pas pasan?"


"Jangan sombong kau." Vino menyeringai sambil mengacak acak rambut Shirley yang kemudian ditepis oleh si empunya. Shirley merapikan rambutnya sambil bersungut kesal.


Vino tersenyum melihatnya. Ya, inilah Shirley yang ia kenal. Sang bintang telah kembali ke hadapannya. Dekat tapi tak terjangkau.


"Kau tak penasaran alasan Andrew meninggalkan kalian?"


Pertanyaan tiba tiba Shirley cukup membuat Vino tersentak.


"Entahlah..."


"Kurasa aku mengerti alasannya."


"Apa?! Apa itu?!"


Shirley berdecak. "Dasar bodoh."


Lantas mengeluarkan lidahnya ke arah Vino,


"Tak akan kuberitahu."


Shirley refleks mengangkat tangannya membentuk blokade di depan wajahnya saat melihat tangan Vino yang kembali bergerak untuk mengacak rambutnya.


"Jangan acak rambutku lagi!"


Seringai Vino muncul. "Tergantung sikapmu."


"Itu hal yang tidak bisa kuberitahu! Bahkan Andrew sendiri tak bisa mengatakannya padamu. Jika kau ingin tahu, kau sendiri yang


mencari tahu."


Vino menyibak rambutnya dengan kasar dan meringis saat jarinya menyentuh lukanya.


"Aaaargh! Ini semua membuatku bingung! Bagaimana caraku mencari tahu?!"


"Andrew bertanya padamu tentang barang berharga yang kau beresiko merusaknya, kan?"


"Ya, pertanyaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang terjadi."


"Dan kau menjawab kalau kau akan lebih memilih melepasnya dan menyimpannya di tempat yang aman?"


"Memangnya kau akan menjawab apa?"


"Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Lalu?"


"Tidakkah kau seharusnya mengerti? Hal berharga apa yang sedang Andrew berusaha lepaskan saat itu?"


Vino terdiam, membiarkan otaknya mencerna. Dia sebenarnya tidak bodoh walau tidak juga jenius. Otaknya masih bisa bekerja lebih baik dari orang biasanya jika ia mau menggunakannya. Hal yang saat itu sedang berusaha Andrew lepas?


Seketika pukulan keras Andrew yang menghantam pipinya berkelebat di pikirannya.


Berganti dengan wajah kesal pemuda itu saat mengatakan ia terbebani dengan tanggung jawab menjaga Tiffany yang padahal ia terima diawal kepergiannya.


Jangan jangan hal berharga yang Andrew takut merusaknya hingga lebih memilih melepasnya adalah...


"Ka..mi?"


"Bingo."


"Tapi, tapi kenapa? Apa yang akan ia lakukan hingga hubungan menjadi rusak? Kita selama ini baik baik saja. Bukankah sekarang ia justru telah merusaknya dengan sengaja?"


Shirley mengangkat tangannya.


"Soal itu harus kau tanyakan langsung padanya."


"Kau sama sekali tak membantu."


"Kau hanya perlu menunggu."


"Apa?"


"Tidak akan ada orang yang bisa melepas barang berharganya begitu saja. Pasti ia tetap akan melihatnya atau mengawasinya, memastikan keutuhannya."


"Jadi maksudmu, ia akan kembali?"


menginginkan jatuh atau hancurnya kalian."


"Kau benar." Vino akhirnya menyunggingkan senyum tulus dari hatinya.


"Terima kasih, nona Shirley."


Shirley tertawa mendengar panggilan Vino


padanya.


"Kau mulai terdengar seperti staf penjaga BM yang cuek itu."


"Oh, kak Lam?"


"Siapa namanya?"


"Lam..Pierce, kalau aku tidak salah."


"Hmm.."


"Ada apa?"


"Eh? Tidak ada. Entah kenapa nama itu seperti tidak asing untukku.


"Apa mungkin ia terkenal sebagai staf tampan?" Vino menaikkan sebelah alisnya menggoda Shirley.


Shirley menanggapinya dengan senyum miring.


"Bisa jadi. Apa itu mengganggumu?"


"Wow. Asrama itu benar benar high level. Seorang staf saja bisa menarik perhatian


supermodel dunia."


Mereka berdua tertawa bersama, tawa lepas tanpa beban yang sejenak terlupa. Kepercayaan di antara mereka tumbuh dan mengikat mereka tanpa suara.


"Yosh!" Tiba tiba Shirley bangkit dan mengeluarkan handphonenya, mengabaikan tatapan bertanya Vino. la menghubungi Elly dan sedikit menauh setelah wendengar nada sambung.


Tak lama ia kembali dengan seringainya yang membuat bulu kuduk Vino berdiri.


"Ayo ikut aku."


"Kemana?"


"Menuju langkah selanjutnya untuk mengubah dirimu. Kau ingin melangkah maju kan?"


Shirley mengedipkan sebelah matanya sebelum melenggang menjauh meninggalkan Vino yang masih berada dalam mode 'aku tak paham maksudmu' miliknya.


\*\*\*\*


Elly memandang tak percaya pada benda tak bersalah di tangannya. Kalau saja ia tak ingat kalau itu adalah barang mahal, ia sudah membantingnya ke tanah dan menginjak nginjakya hingga pecah berkeping keping.


"Gadis kecil manja sialan itu!" Umpatnya.


Baru saja ia merasa bisa bernafas lega setelah berbicara dengan banyak pihak, anak itu sudah memintanya lagi melakukan ini itu seenak jidatnya. Tepat ketika Elly hendak menyuarakan protesnya, panggilan sudah ditutup sepihak olehnya. Menyisakan Elly yang terperangah akan nasibnya.


Elly mengerang kesal aebelum mengambil notes kecilnya di dashboard mobil dan mencatat hal hal yang diminta Shirley. Tentu ia akan tetap melakukannya. Selain karena ini adalah tugasnya, mungkin lebih karena ia ingin Shirley bahagia. Gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu telah terlalu lama menyimpan semuanya sendirian. Walau kesal, Elly tetap turut senang melihatnya yang telah menemukan tempat berbagi.


la mengenakan earphone bluetoothnya sebelum menyalakan mobilnya. Menekan tombol panggil ke sebuah kontak dan menunggu panggilan tersambung sembari menjalankan mobilnya. Tak lama, ia tersenyum mendengar suara seorang wanita setengah baya mengangkat telfonnya.


"Ya? Ada apa, Elly?"


"Maaf bu, apakah penuh?"


"Hm, tidak terlalu. Apakah nak Shirley ingin potong rambut lagi?"


"Tidak, kali ini bukan Shirley. Tapi dia juga akan datang."


"Potong rambut?"


"Mungkin sedikit lebih dari itu. Semacam mengubah penampilan. Dia calon model kami. Kaulah ahlinya, jadi kurasa kaulah yang paling tahu kekurangannya. Tolong sediakan tempat."


"Mau kusediakan tempat untukmu sekalian? Kau pernah berjanji akan membiarkanku menata rambut urakanmu itu. Ingat?"


"Tidak sekarang, bu Aku ada urusan lain, jadi aku tidak akan datang. Selain itu, rambutku tidak urakan."


la memutus panggilan sebelum ibu pemilik salon langganannya itu semakin cerewet masalah penampilan tidak feminimnya.


Bukannya 'Rommy' tidak memiliki penata rias sendiri untuk para model mereka, justru yang mereka miliki adalah yang terbaik. Tapi Elly sudah mengenal ibu ini sejak ia kecil dan tahu betul kualitas pekerjaannya. Shirley juga sudah mengenalnya.


la pertama kali membawa Shirley kesini saat Shirley kebingungan melihatnya yang terburu buru pamit pulang suatu hari. Shirley yang keras kepala tidak membiarkannya bebas dan bersembunyi di bawak jok tengah mobilnya, kemudian keluar dari sana saat ia sudah sampai di depan rumah sakit. Ya, saat itu ibu sedang sakit. Saat itulah Shirley mengenal ibu.


Elly tersentak saat suara klakson mobil di belakangnya berbunyi nyaring, menariknya sadar setelah melamun sesaat. Lampu yang


ternyata telah berubah hijau tanpa disadarinya seakan memerintahnya untuk segera menekan gas.


Elly menekan klakson mobilnya sekali sebagai ungkapan maaf pada mobil mobil di belakangnya sebelum melaju. Sementara tangan kanannya memegang stir, tangan kirinya menari di atas layar handphonenya, mencari kontak kedua yang harus ia hubungi. Nada sambung kembali terdengar.


"Dengan Billy. Saat ini aku sedang sibuk. Jadi tolong-"


"Halo, pak Bil."


"Nona Elly?! Maaf, aku tidak melihat layar handphoneku!"


"Lupakan. Bagaimana? Sudah kau temukan penggantinya?"


"Itulah yang sedang ku usahakan sekarang. Bagaimanapun pembatalan ini terlalu mendadak. Meski berkat Anda kami bisa mengundur tanggal deadline, kami tetap berharap bisa menerbitkan katalog penting ini hari ini. Tapi memang tidak mudah mencari yang kualitasnya sebaik nona Shirley. Mungkin kami memang harus menunggu besok seperti yang anda katakan."


"Shirley bersedia hari ini, tapi dengan satu syarat."


"A, apa?! Sungguh?! Hari ini?"


"Kau akan menerima syaratnya?"


"Ya, apapun itu! Aku jamin pihak kami akan menerimanya!"


"la ingin membawa model pendamping pria pilihannya."



"A, apakah dia model yang professional? Maaf, Anda tahu katalog kali ini sangat penting untuk kemajuan bisnis kami di kancah internasional. Bahkan kami kesusahan mencari model pengganti karena membutuhkan model berkualitas tinggi seperti Shirley Butler."


"Tidak, dia amatir."



"Kusarankan, jangan langsung menolaknya. Hak penerbitan sepenuhnya masih milik kalian. Pikirkan saja dulu. Ia punya potensi. Walau tidak di sampul depan mungkin kau bisa meletakkan gambarnya di kolom kecil bagian belakang. Jika ia memang tidak becus, kau bisa menariknya di tengah pemotretan. Waktu kita tidak banyak. Segera hubungi aku begitu kalian telah mengambil keputusan."


Elly menutup panggilan bersamaan dengan sampainya ia di depan pagar tinggi menjulang dengan lambang 'Rommy'. Satpam yang telah mengenal wajahnya langsung membuka pagar tanpa banyak bertanya.


Elly langsung melajukan mobilnya menuju asrama dengan tulisan 'modelling' di atasnya sembar menguatkan mentalnya. Ini bagian yang tersulit.