
"Siapa yang suruh lo berhenti lari?"
Ini kedua kalinya Rara dibuat terkejut oleh suara yang sama. Tanpa Rara duga, Reza didekatnya. Cowo itu sedang bersandar didinding tidak jauh dari lapangan.
"Gue udah selesai.. sekarang mau minum," jawab Rara yang Nampak kesal karena acara minumnya ditunda karena kedatangan Reza.
"Lima putaran terakhir nggak dihitung! Gue maunya lo lari sendiri!," ucap Reza dengan tatapan dinginya.
Rara terkejut. Membayangkan dirinya harus mengulang lima putaran lagi dalam keadaan tak berdaya seperti ini, rasanya ia ingin mati saja. Kepalanya sudah pusing luar biasa dan, sepertinya ia dehidrasi.
"Jadi, gue harus lari lima putaran lagi?" Tanya Rara tak percaya.
"Iya."
Alex langsung mendekat. "Gila lo zaa! Nyuruh Rara lari lagi, gak liat apa dia udah kecapean.. pacar macam apa lo yang nyiksa pacar sendiri."
Alex yang memilih ikut campur justru semakin memperburuk mood Reza. Reza meratapnya marah. " Jangan ikut campur!"
"Bukan gitu!!" Alex menyahut. "Rara bisa pingsan kalo lo suruh lari lagi."
"Harusnya lo nggak usah lari bareng dia," Reza tidak mau kalah.
"Udah, Udah. Gue lari lima putaran nih.. sekarang." Rara berusaha menengahi, lalu berjalan gontai kembali kelapangan.
"Ra, lo udah pucet jangan dipaksain." Alex berusaha mencegah Rara, tetapi Rara justru berusaha meyakinkan.
"Lima putaran sebentar,kok. Gak sampai sepuluh menit."
Rara mulai berlari sementara Reza dan Alex mengawasi dari pinggir lapangan. Siapa pun yang menyaksikan pemandangan dilapangan saat ini tentu dapat melihat bahwa Rara sudah sangat kelelahan. Gerakan Rara semakin melemah dan melambat.
Rara menyeka peluhnya ketika belum genap melewati empat putaran. Gerakannya sudah tidak bisa disebut lari. Matanya sesekali terpejam karena tidak kuat dengan sinar matahari yang menyorot tajam.
Alex sudah hampir bergerak menyusul Rara, tetapi Reza lebih dahulu melangkah ke lapangan untuk mengahampiri.
"Berhenti!!," perintah Reza tepat ketika Rara hampir melewatinya.
Untuk beberapa saat, Rara tidak menggubris ucapannya. Cewe itu masih berusaha keras melakukan hukumannya.
Reza pun menyusul Rara dengan mudah. Tanpa perlu berlari, Reza berhasil meraih sebelah tangan Rara untuk membuatnya berhenti.
"Saya bilang berhenti!" ucap Reza penuh penekanan.
Rara kini menghadap Reza dengan posisi sedikit menunduk. Sebelah tangannya menyentuh dadanya yang berdetak encang karena Rara memaksakan kndisi tubuhnya. "Tinggal...satu...putaran...lagi,Kak," kata Rara susah payah.
Rara berbalik hendak kembali melanjutkan berlari, tetapi Reza menarik tangannya agar tidak beranjak sedikit pun.
Tarikan tangan Reza yang kuat membuat Rara hampir tumbang untung Reza buru- buru menahan kedua bahunya.
"Dibilangin berhenti!" Reza marah besar entah kepada siapa. Melihat kondisi Rara yang tidak berdaya seperti ini, Reza tampak kesal pada dirinya sendiri.
Rara yang sudah sempoyongan, berjuang keras mengangkat kepala untuk menatap Reza. Lagi- lagi Rara membuat cowok itu marah besar.
"Siapa Stefan?"
❄💭❄💭❄💭❄
Flashback on
Rara duduk dengan tangan bergetar menggenggam ponsel Stefan dengan layar yang retak namun masih aktif.
Bahkan ada sisa darah pada ponsel itu saat petugas kepolisian menyerahkan ponsel itu pada Rara. Rara yakin kalau itu adalah darah Stefan.
Sedangkan Stefan, ia sudah berada di Emergency Room dan sampai sekarang, tidak ada tanda kalau operasi atau penanganan pada Stefan akan berakhir.
"Di mana?! Dimana ruang putraku?!!" seru suara seorang laki- laki yang histeris tidak jauh dari tempat duduk Rara. "Anakku!! Dimana anakku Stefan?!"
Rara mendongak dan melihat pria paruh baya dengan wajah memerah. Dibelakangnnya ada dua orang wanita cantik, yang satunya sedang merengkuh bahu wanita yang lebih tua yang sedang menangis hebat.
Rara tau kalau itu adalah ibu dan ayah Stefan, sedangkan satunya adalah kakak perempuan Stefan yang pernah Rara dengar dari Stefan, Olin.
Tatapan Olin begitu menusuk Rara. Matanya melihat Rara, ponsel Stefan, dan tas sekolah disamping Rara secara bergantian.
Ayah Stefan sudah berada di depan pintu rawat dan mencoba untuk melihat melalui celah yang ada.
Hati Rara tertusuk ribuan duri tak terlihat. Stefan mengatakan kalau dia akan bersamanya sampai ajal memisahkan, baru beberapa jam yang lalu Stefan mengatakannya dan kini Stefan sedang berjuang di dalam sana.
"Dad, sabar ya, Dad," Rara mendongak dan melihat Olin yang menenangkan ayahnya.
"Ini semua karna dia pelakunya!" ucap Olin lagi dengan wajah marah dan menunjuk diri Rara.
Tubuh Rara terasa kaku kenapa Olin dengan tega menyalahkan Rara seperti itu. Tidak cukupkah semua kebencian Olin pada Rara terbakar panas di kala itu.
Rara melihat keputusasaan ayah Stefan dengan mata kepala Rara sendiri. Mata Rara dan ayah Stefan bertemu dan bisa ditebak kalau mata ayah Stefan juga melihat barang yang sama yang tadi dilihat oleh Olin.
"Kau—Apakan anakku? Siapa ayahmu?! Biar dia berhadapan dengan ku karena anak perempuan nakalnya telah membuat Stefan terluka cukup parah!" Tanya ayah Stefan bertubi- tubi.
"Dia adalah Rara Natasya Putri Ken." Olin menyela bahkan sebelum Rara bisa mencerna pertanyaan ayah Stefan. "Dia adalah anak adri pemilik perusahan terbesar dan juga anak dari model terkenal, Maura."
Ayah Stefan menatap Rara tajam. Lebih menusuk dan lebih dingin dari pada tatapan Stefan.
"Jangan mentang- mentang kau anak dari keluarga Ken bisa melakukan ini semua," ucap ayah Stefan dengan wajah merah marahnya.
"Kau—" ucapan ayah Stefan tertahan. Ayah Stefan meraih bahu Rara, menarik Rara hingga berdiri. Rara tahu kalau ayah Stefan ingin mengarahkan semua amarahnya pada Rara.
Tepat sebelum kata- kata tajam itu keluar, dokter yang menangani Stefan juga keluar dari ruangan yang tertutup rapat tadi.
Jantung Rara berdebar cepat. Rara begitu berharap kalau dokter akan mengatakan kalau Stefan baik- baik saja. Berharap kalau Stefan akan segera sadar dan menemani Rara menghadapi cobaan yang seperti mimpi ini.
"Bagaimana putra saya, Dok?!" Tanya ayah Stefan sambil mendorong Rara sedikit ketika ia melepas cengkramannya pada bahu Rara.
Dokter itu menghela napas dan melepas masker yang menutupi wajahnya.