Change

Change
21. KAMERA



"Sepertinya kita tidak salah menjodohkan Rara dengan Reza," ucap Merisa yang sorot matanya terus memandangi tingkah kedua pasangan tersebut hingga langkah pasangan itu hilang dibalik pintu.


"Kau ingin aku gendong juga sweetheart?" Goda Ray pada istrinya Merisa membuat seisi ruangan tertawa melihat wajah Merisa yang memerah menahan malu.


"Ingatlah umur Ray, belum sampai menggendongku pinggangmu sudah encok," canda Merisa menambah candaan dalam ruangan.


"stef, du hast eine lebensschuld mir gegenüber (stef, kau punya hutang nyawa pada ku)," ucap Revan menatap Stefan tajam membuat suasana harmonis berubah menjadi mencengkram.


"Hast du nicht schon dafür bezahlt? (bukankah kau sudah membayarnya?)" Balas Stefan dengan senyum miringnya. Yaps! Ini alasan kenapa Stefan menghilang bertahun tahun dari Rara. Masalah yang begitu besar dan menakutkan.


" Wow, es ist toll, dass du weißt, ob ich es war, der es getan hat (wah, hebat sekali anda mengetahui jika itu saya yang melakukannya)"


"Cukup Revan! Buang jauh jauh dendam kalian berdua, sekarang yang harus kalian pikirkan adalah kebahagiaan Rara!" Merisa menengahi Revan dan Stefan bersamaan dengan kembalinya Reza ke ruang makan.


"Dendam? Apa yang tidak aku ketahui?" Tanya Reza bingung ketika masuk.


"Ti-dak ada a-pa a-pa kamu hanya salah dengar," bantah Ray terbata bata. Jelas jelas Reza mendengarnya dengan jelas namun niatnya ia urungkan untuk mengetahui fakta yang pernah ada di keluarga Rara. Sikapnya itu untuk menghormati keluarga Rara karena ia hanya sebatas calon belum masuk keluarga besarnya. Toh, nanti terbongkar seiring berjalannya waktu. Karena angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam.


"okay maybe I misheard it," balas Reza pasrah.


❄💭❄💭❄💭❄


Wajah sumringan Rara hadir begitu Stefan mengajak Rara berjalan jalan keluar untuk menikmati liburan. Namun, paparazi yang sedari Rara, Stefan dan Reza menginjakan kaki di german terus membuntutinya dan mempotretnya disetiap moment justru membuat mereka harus menjaga sikap dan perilaku diri sendiri. Bahkan, Revan menyuruh para bodyguard nya untuk mengawal kegiatan liburan mereka.


"Kita akan kemana fan?" Tanya Rara riang begitu Rara menduduki kursi penumpang di sebelah supir sedangkan Stefan duduk di kursi supir. Nyaris saja Stefan melajukan mobilnya, suara teriakan memanggil mengurungkan niat Stefan untuk melajukan mobilnya. Stefan menoleh lalu mencari sumber suara yang memanggil namanya tadi.


"Nyet, gue ikut! Gue aja yg nyetir! Awas lu!" Usir Reza, orang yang tadi memanggil namanya.


"Enak aja Jing, gue yang ajak Rara duluan so, gue yang nyetir," balas Stefan dengan senyum miringnya. Tak ada yang mau mengalah satu sama lain, akhirnya tonjok menonjok pun terjadi yang hanya Rara bisa lakukan adalah menggelengkan kepala melihat tingkah laku kekanak kanakan mereka.


"Udah dehh...kalo tuh muka kalian lebam gue gak mau ngobatinn, gue disini niatnya liburan bukan ngurusin kalian," bentak Rara yang sudah muak melihat aksi tarik mendorong mereka hanya untuk mendapatkan kursi kemudi.


"Yaudahlah gue ngalah duduk di belakang ," ucap Rara penuh penekanan yang langsung di tanggapi Reza dan Stefan.


"Yaudah gue belakang," balas Reza lalu membuka pintu belakang untuk duduk di kursi penumpang. Tak banyak bicara Rara masih duduk tenang pada titik awalnya. Tipu muslihat yang Rara rencanakan berjalan dengan mulus.


"Ayo Fan! Kita berangkat!" Seru Rara menatap Reza melalui spion dengan tatapan mengejek.


Sialan gue ditipu. Batin Reza.


"Bagaimana malam nanti kita ke milan, Fan? Gue pengen besok gue ke taman yang lo bilang,Fan," usul Rara disertai rencana baiknya. Reza hanya menatap diam menahan kecemburuannya. Tunggu, sejak kapan kecemburuan itu hadir? Bukankah sejak lama Reza menyangkal perasaan ini.


"Boleh saja, kamu mau mengingat kenangan itu?" Jawaban Stefan membuat Rara tersenyum girang dan membalas anggukan kepala pada pertanyaan Stefan diakhir.


" Gue gak diajak?" Komentar Reza yang merasa diabaikan kehadirannya disini.


" Komm schon, gue yang ajak lo berlibur disini," pinta Reza. Ini hal langka, seorang Reza memohon? Karena kehadiran Stefan di liburan ini membuat Reza lemah akan Rara. Rara lebih memilih Stefan dari pada ia.


Padahal Reza sengaja mengajak Stefan untuk memamerkan kemesraan ia dengan Rara namun semuanya berbanding terbalik ketika Rara lebih memilih mencari kenangan lamanya dari pada bermesraan bersamanya. Reza akui kedatangan Rara ke tanah eropa ini memang sudah direncanakan Rara untuk mengetahui tentang kenangan lamanya. Namun keinginan tersebut Rara tiadakan karena takut, tetapi karena Reza tidak ingin kedepannya kehidupannya dengan Rara terganggu dengan masa lalu yang menghantuinya ia memaksa Rara untuk berlibur di tanah eropa ini.


Paksaan demi paksaan yang ada sampai Rara mau pergi berlibur di tanah eropa ini. Ini semua demi kehidupan kedepannya bersama Rara, ia harus memendam jauh jauh rasa kecemburuan itu.


"Okay, lo boleh ikut tapi jadi anak baik yaa," balas Rara dengan ejekan kecil. Mobil terhenti tidak jauh dari cologne cathedral.


Cologne cathedral Sebuah gereja katedral Katolik Roma di jantung kota Koln. Gedung gereja bergaya Gothic ini dibangun pada tahun 1248 memiliki bentuk yang unik. Desain Katedral Cologne mirip dengan Katedral Amiens dalam hal rencana tanah, gaya dan lebar proporsi tinggi dari nave tengah.


"Ngapain ke gereja? Banyak dosa lu?," candaan menohok dari Reza pada Stefan. Reza masih jengkel pada Stefan karna Stefan menang segalanya mengenai Rara di tanah eropa ini. Reza menanamkan betul betul janjinya ketika liburan ini berakhir ia akan membuat Rara tidak bisa jauh jauh dengannya dan akan selalu di andalkan.


Liat aja sekarang dia sama lo nanti setelah selesai liburan dia bakal sama gue lagi. Batin Reza sambil tersenyum miring.


"Kalo lu gak mau ikut gak pa pa, di mobil aja," jengkel Rara sedari tadi Reza dan Stefan tidak henti hentinya memojokan satu sama lain.


"Iya gue ikut," jawab Reza pasrah.


Ketika sudah sampai didalam gereja tersebut Rara langsung mengeluarkan kameranya untuk membuat sebuah video berdurasi pendek.


"Tunggu, jangan bikin video dulu tunggu gue balik yaa baik baik disini," ucap Reza membuat Rara dan Stefan bertanya tanya apa yang akan Reza lakukan? Kenapa harus menunggu dia?


Setelah 10 menit menunggu Reza, sosok Reza pun tampak dengan satu tangan menyembunyikan sesuatu yang Rara tidak ketahui apa yang Reza sembunyika.


"Ayo! Kau buat video itu aku sudah siap," ajak Reza. Rara pun memulai membuat videonya.


"Hello everyone, I'm in Germany with Reza and Stefan," Rara mengarahkan kameranya pada Stefan lalu Reza. Ketika Rara mengarahkan kameranya pada Reza tiba - tiba Reza berlutut lalu mengeluarkan bunga lilly di hadapan Rara, terekam sempurna pada kamera Rara.


"I love you Rara, will you be my life partner forever?" Pernyataan Reza membuat Rara bersemu merah. Reza mengatakan pernyataan cinta didepan umum, bahkan didepan Stefan.


"Apasihh zaa, malu maluin pake berlutut segala, berdiri!" Rara memegang pundak Reza untuk mengajaknya berdiri sedangkan kamera Rara di ambil alih oleh Stefan.


"answer my question first," tolak Reza untuk berdiri.


"Yes, I will," jawab Rara lalu langsung dibalas pelukan Reza yang begitu tiba - tiba. Moment itu membuat Stefan sakit hati berkali kali tangannya begetar memegang kamera, ingin rasanya ia pergi dari sana namun ia tidak ingin terlihat lemah.


" You promise?" Bisik Reza tepat ditelinga Rara ketika memeluk Rara erat.


"I promise" Jawab Rara lembut dengan senyuman yang mengembang.


Hari itu adalah hari yang membahagiakan bagi Rara.


❄💭❄💭❄💭❄