
Ketika Rara sampai di depan gerbang vila Luna, ia menyerit begitu ia melihat jika terdapat mobil yang terparkir tepat di depan gerbang vila, sementara seseorang bersetelan gelap sudah berdiri di samping mobil itu dan menunduk hormat kepadanya.
"Nona Rara Ken," sapa lelaki itu dengan nada sopannya. Rara menyerit. "Iya?"
"Saya diperintahkan Tuan Muda Reza untuk menjemput Nona disini."
Jawaban lelaki itu membuat Rara menampakkan pandangan terkejut. Hell..! kenapa dia merasa jika dia sedang dikuntit sekarang? kenapa Reza bisa tahu dia ada disini? karena jujur, ketika Reza berkata dia akan menyuruh orang menjemputnya, Rara mengira orang itu akan menjemput Rara di mansionnya.
"Dari mana Reza tau saya disini?" Rara berkata kesal, dan mata Rara cukup awas untuk melihat ada sedikit senyuman yang tersungging dibibir lelaki itu dikarenakan pertanyaan yang Rara ajukan.
"Ketika anda berhubungan dengan Tuan Muda Reza, harusnya anda sudah tidak perlu bertanya seperti itu lagi, Nona," jawab lelaki itu sembari membuka mobil yang tidak Rara ketahui mereknya.
"Tuan Muda Reza sangat berpengaruh. Dan sangat mudah untuknya jika hanya untuk mencari ada dimana Tunangannya sekarang."
Jawaban itu membuat Rara mendidih. Dia bukan Tunangan Reza yang sebenarnya karena ia sungguh tidak menginginkan perjanjian diatas kertas itu. Tetapi, karena Rara merasa ia tidak memiliki pilihan lain, mengingat Reza sudah pasti akan menggunakan ancaman andalannya lagi jika Rara tidak segera menuruti perintahnya, membuat Rara langsung masuk kedalam mobil tanpa bertanya. Lelaki yang berbicara tadi pun langsung menutup pintu mobil disebelah Rara dan berjalan untuk memasuki bangku kemudi.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga mobil itu berjalan. Dan selama perjalanan darat mereka, Rara tidak bisa mengabaikan betapa mewahnya interior mobil yang ia naiki.
Dasar Es!
Rara sudah mulai mengantuk saking nyamannya mobil yang ia naiki ketika ia melihat mobil itu mulai memasuki pintu gerbang besar yang terbuka, dimana gerbang itu menyuguhkan pemandangan berupa pelataran luas di baliknya. Rara bisa melihat juga, terdapat bangunan besar dengan logo Caesar, sementara Rara juga bisa melihat jika saat ini juga terdapat sebuah helikopter berlogo sama juga yang terparkir di pelantaran luas itu.
Tanpa Rara sangka- sangka, lelaki itu menggeleng mendengarkan pertanyaan Rara. "Tuan muda Reza menunggu anda di kastil besar milik nona di Jerman, Nona. tujuan kita bukan di sini."
"Hah?!"
Rara memekik tidak habis pikir melihat betapa abnormalnya Reza. Jarak Indonesia - Jerman sangatlah jauh kurang lebih 6841 miles , yang pastinya membutuhkan waktu sehari lebih untuk pergi kesana. Dan Reza menyuruhnya pergi sekarang? Di pagi buta seperti ini? Disaat Rara belum tidur sama sekali? lelaki itu memang gila, Reza sepertinya sengaja menyuruh Rara untuk tidak tidur hari ini. sudah pasti, Reza memang berniat untuk membunuh Rara dengan mengambil paksa waktu tidurnya.
"Katakan pada tuan mu ini Gila! perjalanan ini sangat jauh dan juga saya belum sempat tidur...betapa lelahnya saya," ucap Rara terdengar tidak senang.
senyum geli terlihat di wajah lelaki itu menyadari betapa polosnya Rara. "Itu fungsinya ada helikopter disini, Nona Rara. Tuan Muda Reza sudah memperhitungkan semuanya hanya untuk anda."
Oh My! ternyata setelah puas menjadikan Rara orang gila karena berbicara dengan patung balok es, sekarang Reza bertingkah seakan- akan Reza sedang menjadikan Rara seorang Anastasia steel. Fix, Rara benar benar memberikan dua jempol penghargaan tentang betapa kerennya si drama king itu. Reza kelihatannya adalah si raja drama yang suka berganti peran, mulai dari patung balok es hingga Christian grey seperti sekarang.
Dan rupanya pemikiran Rara tentang Reza yang hendak menjadikannya Anastasia steel memang benar sekali, karena ketika Rara sudah menaiki helikopter itu, Rara menemukan sebuket bunga lily cantik.
Rara tersenyum geli dan mengumpat di detik selanjutnya bersamaan dengan helikopter yang bergerak meninggalkan tanah. Ini tidak boleh, tidak boleh. mana mungkin saat ini Rara merasa hatinya mulai berdebung kencang hanya karena kelakuan Reza, semakin lama semakin banyak rasa cinta Rara pada Reza walau terkadang rasa kesal menyertainya.
senyum Rara terus mengembang melihat bunga lily yang cantik itu. menggengamnya, seperti barang yang sangat penting. Memang bunga itu penting, pemberian Reza itu yang membuatnya penting. Reza sangat manis, Rara pikir Reza hanyalah lelaki yang tidak peduli apapun. Namun, kali ini berbeda, Reza mulai membuka hatinya untuk Rara.