
Sudah 20 menit yang lalu Rara sampai di Parco lambro, namun Rara hanya berdiam diri duduk pada kursi taman karena Stefan sesampainya di Parco lambro ia meminta izin untuk pergi sebentar dan meninggalkan Rara berdua dengan Reza di kursi taman.
"Lama banget sihh si Stefan," rengek Rara yang sudah sedari tadi menunggu Stefan.
"Pulang aja yuk," ajak Reza lalu di balas dengan gelengan kepala Rara.
"Gak mau, mau nunggu Stef aja kalo lo mau pulang silahkan ajaa. Toh, gak ada yang ngajak lo," oceh Rara panjang lebar dengan tolakan yang amat menusuk.
"Masih mau nunggu Stefan?" Tanya Reza jengkel lalu diangguki Rara.
"Ehhh, gue lama yaa?" Tanya seseorang dari kejauhan yang tak lain Stefan. Stefan membawa dua ice cream yang dengan mudah menebak bahwa ice cream itu rasa vanila dan stroberi.
"Gak kok,Stef," Rara bangkit dengan girang begitu melihat Stefan mendekat. Stefan memberika ice cream pada Rara yang baru saja ia beli di seberang jalan sedangkan Reza menatap kesal melihat Rara yang sangat senang melihat kehadiran Stefan.
"Makasih, Stef," Rara dengan sopan mengucapkan terima kasih kepada Stefan dan sekali lagi Reza tersakiti melihat kedekatan Rara dengan Stefan. Apakah dirinya tak terlihat begitu tampan sampai sampai Rara lebih memilih bercanda bersama Stefan? Terasa di abaikan kehadirannya sekali lagi setelah kemarin.
Stefan dengan hati- hati menggenggam tangan Rara lalu mengajaknya ke sebuah pohon yang rindang dengan jalan setapak, meninggalkan Reza sendiri di kursi taman. Memang pohon maupun jalan sedikit bersalju karena eropa akan memasuki musim baru yaitu salju.

"Ada apa dengan pohon ini?" Tanya Rara bingung karena dengan tiba tiba Stefan membawanya pada pohon ini. Stefan hanyalah diam dan melepaskan genggamannya kemudian dengan cepat menggali tanah dengan tangan kosong padahal salju pun ikut menumpuk pada tanah tersebut. Tangan Stefan yang diselimuti kedinginan yang amat sangat segera ia tindas demi barang yang ia cari di bawah sana.
Stefan mengeluarkan peti tua yang ia dapatkan setelah menggali sedangkan Rara bingung akan barang tersebut. Terasa tidak asing namun tak pernah terlihat. Stefan membersihkan peti tersebut dari tanah tanah yang masih menempel lalu memberikannya pada Rara yang sedari tadi masih menatap Stefan bingung membuat Stefan harus memberikan jawabannya lagi.
"Ini peti janji kita, dulu kamu dan aku menulisnya disini," jelas Stefan lalu diangguki Rara. Rara menyentuh peti itu dan seketika kepala Rara sakit teramat sangat, sepotong ingatan itu kembali.
"Janji untuk apa?," Tanya Rara yang Nampak bingung atas perkataan Stefan mengenai janji secara tiba- tiba.
"Untuk bersama sampai ajal memisahkan."
Kali ini berbeda wajah itu sudah bisa terlihat, wajah itu benar benar Stefan. Wajah yang selalu datang dalam mimpi Rara.
"Raa?" Tanya Stefan memeriksa keadaan. Mata Rara bergerak dan jatuh pada mata Stefan lalu tersenyum girang.
"Lu ada, Stef!" Teriak Rara lalu di balas dengan wajah bingung Stefan.
"Aku memang ada, Ra," balas Stefan dengan polos kemudian tawa Rara pecah.
Gue bawa ke sini makin gila kali ya. Batin Stefan dengan candaan kecil.
Rara membuka peti tua itu dan mengambil kertas yang ada di dalam peti tersebut. Rara membaca kata demi kata sampai meneteskan air mata walau tidak sederas biasanya. Stefan mengeluarkan cincin yang ada di peti tersebut lalu berlutut persis seperti Reza yang menyatakan cinta namun ini bukan Reza tetapi Stefan, cinta masa lalunya.
"Ra, Sono arrivato in ritardo ma voglio raccogliere la promessa perché finora ho mantenuto questa promessa e voglio che ci piaccia quello che scriviamo su questo documento ( Ra, aku memang datang terlambat tetapi aku ingin menagih janji itu karena sejauh ini aku sudah mempertahankan janji ini aku ingin kita seperti apa yang kita tuliskan di kertas ini)" ucap Stefan panjang lebar, Rara tertegun.
"vivrai con me per sempre? (maukah kamu hidup bersamaku selamanya?)" Ucap Stefan dengan tulus persis seperti Reza kemarin. Rara tertegun tak tahu apa yang dia akan katakan.
"Emmm, ak--" jawaban Rara terputus karena teriakan seorang wanita yang memanggil nama Stefan dengan lengkap. Cantik, tinggi dan putih kata yang mendeskripsikan wanita tersebut. Siapa dia? Mengapa tergesah gesah?