Change

Change
15. PASRAH



Namun, Rara tidak tahu kalau Reza mengendarai mobilnya dengan ngebut dan menyusul Rara ke café. Setelah Evelyne selesai menjelaskan semuanya, entah kenapa Reza sangat khawatir dan merasa sangat bersalah pada Rara.


Dengan kecepatan maksimal, Reza mengendarai mobilnya. Ketika sampai di café, Reza melihat langit yang sudah mendung. Reza berlari masuk ke dalam café.


" Permisi mba, apa tadi ada cewek bule turunan Eropa? Tingginya segini," Tanya Reza pada seorang pelayan. Reza memang sengaja menyebutnya bule agar lebih mudah.


" Masnya juga bule ganteng," jawab pelayan itu sambil tersenyum genit. Reza berdeham pelan.


" Oh, tadi baru aja keluar cewenya," lanjut pelayan itu.


Reza berlalu pergi, mencari- cari keberadaan Rara. Dia semakin cemas ketika tahu hujan tiba- tiba turun dengan derasnya. Namun, dengan tiba – tiba Reza menghentikan mobilnya yang tidak jauh dari sebuah halte yang ramai.


Matanya menatap sosok Rara yang sedang terhimpit banyak orang. Reza keluar dari mobil, membiarkan tubuhnya terguyur hujan. Ketika Reza melangkah satu kakinya, Reza kembali berhenti. Stefan sudah membawa Rara pergi duluan, menerobos hujan yang deras dengan satu jaket yang menutupi keduanya.


JDUARRR!!


Petir mulai saling menyambar. Reza melihat Rara mengeratkan dekapannya pada tubuhnya sendiri. Reza masih diam ditempat, menatap keduanya pergi. Tetap bergeming dan tak mau memanggil juga.


❄💭❄💭❄💭❄


"Gue pulang ya," kata Rara yang sudah melihat jam dan menunjukan bahwa hari mulai gelap.


"Gue anter, Ra," ucap Stefan yang siap menyambar kunci mobilnya.


Namun Rara menahannya. "Gak usah. Udah malem. Gue udh ditunggu supir di bawah," ujar Rara sepenuhnya berbohong.


"Yakin, udah sampai supirnya?," Tanya Stefan menatap Rara.


"Udah. Bajunya gue pinjem dulu, gue bawa pulang biar di laundry dulu," ucap Rara menatap Stefan. Rara beranjak bangun ari duduknya.


"Gak usah dibalikin kan punya lo sendiri." Stefan juga beranjak bangun dari duduknya, mengikuti langkah Rara.


" Dress ini punya gue? Kok gue lupa punya drees kayak gini," kata Rara sambil melangkah keluar.


"Eh tunggu. Lo gak masuk ke apartemen lo?," Tanya Rara saat tahu Stefan mengikutinya sampai depan lift.


"Masuk ke apartemen lagi?," Tanya Stefan memastikan yang dibalas anggukan kepala Rara.


"Mau anter lo sampe bawah. Mastiin lo gak pa pa," ucap Stefan membuat Rara menunduk malu. Perasaan ini muncul kembali setelah sekian lama namun Rara tidak tahu perasaan apa ini?.


TING...


Pintu lift terbuka. Rara dan Stefan masuk kedalam. Menunggu sampai lift mengantarnya ke lantai dasar.


TING...


Pintu lift terbuka lagi ketika sudah sampai pada lantai dasar. Rara dan Stefan keluar dari lift. Masih dalam keadaan diam di antara keduanya, sampai Stefan menghentikan langkahnya di pintu luar apartemen.


"Sampai sini aja," ucap Rara menatap Stefan.


"Lo gak pa pa sendiri?," kata Stefan lagi, menatap Rara penuh khawatir.


Rara menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Mengulangnya terus menerus, berusaha menetralkan jantungnya yang tiada henti berdetak cepat.


"Huhhh..." Rara memantapkan langkah kakinya.


Tidak jauh berjalan dari aprtemen, tiba- tiba mulut Rara mulai dibekap oleh sosok tangan berukuran besar. Rara terus meronta, sampai pandangannya mulai menghitam.


❄💭❄💭❄💭❄


Flashback on


Acara pemakaman Stefan sudah selesai dilakukan sejak dua jam yang lalu. Namun, Rara masih tersungkur menangis disamping makam.


"Stefan pasti sudah tenang disana.. jangan menangis lagii masa cucu cantik nenek menangis.." Nenek Merisa berusaha keras untuk menenangkan Rara kecil karena banyak Wartawan yang meliputnya dan juga makam Stefan.


"Kenapa orang yang rara sayang pergi, Nek," ucap Rara polos membuat Nenek Meria tertegun.


"Setiap orang pasti ada saatnya tiada..kita tak tahu persis itu kapan karena hanya tuhan yang menentukan," jelas Nenek Merisa yang kemudian mengeluarkan bulir air matanya. Mengingat upacara pemakaman menantunya yang belum lama usai, sekitar dua hari yang lalu.


Rara hanya mengangguk lemah menanggapinya, air matanya terus mengalir deras. Rara hanyalah bocah kecil yang meranjak Remaja, umurnya yang belum genap tida belas tahun harus mengalami kesedihan yang amat mendalam.Momynya dan juga sahabatnya Stefan.


"Nona Rara.. Tuan Revan menugaskan saya untuk mengantar Nona menuju kastil besar," jelas seorang pria berbadan tegap dengan para rombongannya yang tak lain bodyguard keluarga Ken.


"Dimana Daddy? Aku tidak melihatnya di pemakaman Mommy kemarin." Ucapan Rara membuat semua bodyguard Rara termasuk Nenek Merisa menunduk diam tidak ada jawaban sama sekali.


"SAYA BILANG DIMANA DADDY? KENAPA TIDAK ADA YANG MENJAWAB? KALIAN SEMUA PUNYA TELINGA KANN?," teriak Rara dengan rentetan pertanyaan menusuk.Nenek Merisa hanya bisa mengelus pundak Rara. Penderitaan yang tidak diketahui namun sangat menyakitkan.


"Raraaa..cucu Nenek yang cantik.. tolong jaga nada bicaramu yaa banyak media yang meliput," bisik Nenek Merisa tepat di telinga Rara. Rara sangat terkenal, berita berita tentangnya pasti menjadi berita terhangat karena Rara adalah model Eropa yang terpopuler. Belum lagi ayahnya sang pengusaha terbesar dan ibunya model terpopular, sangat diimpi impikan banyak orang mempunyai keluarga seperti Rara.


"Baiklah," ucap Rara panjang, tersadar banyak kamera meliputnya.


"Aku akan ikut kalian," pasrah Rara. Nenek Merisa tersenyum melihat keputusan Rara, Rara kecil sekarang sudah meranjak dewasa yang bisa mengambil keputusannya sendiri.


"Kearah sini Nona," balas seorang bodyguard menunjukan jalan.


Mimpi itu muncul lagi.


Muncul dengan berbagai kelanjutan.


Semua sangat berbeda dengan kehadirannya.


Kehadirannya membuat semuanya terungkap.


Namun  sakit menyertainya.


Rasa sakit yang tak pernah hilang~~~


Flashback off


❄💭❄💭❄💭❄