Change

Change
37.



'SRET!'


Tiffany erat memejamkan matanya. Air matanya mengalir beranak sungai di pipinya tanpa henti. la hanya bisa berharap bahwa semua ini adalah bagian dari mimpi buruknya. la tak ingin melihat rambutnya yang selalu dirawatnya berakhir dengan cara yang kejam seperti ini. Apa pula yang harus ia katakan pada agensinya nantu? Bagaimana kalau mereka membatalkan kerjasama itu karena penampilannya berantakan? Pada Andrew, bagaimana ia menghadapinnya? Dadanya semakin terasa sesak mengingat Andrew yang suka sekali mengelus atau mengacak acak rambut panjangnya ketika menjahilinya, dan itu acapkali menenangkannya. Membuatnya merasa dilindungi. Dan Vino...


"Ah!"


'Tiriring!'


"Eh?" Itu tadi suara Jaz, bukan?


"Jaz!"


Tiffany merasakan Vey dan Nuke yang tadi memeganginya dengan erat kini melepasnya begitu saja dan berlari menuju sumber suara.


Tiffany merasakan secercah harapan untuknya. Andrew? Apakah Andrew datang dan menyelamatkannya?


Dibukanya matanya perlahan mencari keajaiban itu. Hal pertama yang dilihatnya adalah punggung seseorang. la senang karena keajaiban itu sungguh ada. Orang ini menyelamatkannya. Tapi ia juga merasakan


kecewa. Kecewa karena punggung itu bukanlah milik orang yang ia tunggu. Itu adalah punggung seorang perempuan. Rambut seginya berkibar tertiup angin dari jendela. Tiffany berusaha menelan perasaan kecewanya dan mencuri pandang ke arah Jaz


yang ternyata sedang memegangi tangannya yang terlihat memerah, didampingi oleh Vey dan Nuke. Gunting yang tadi berada di tangannya sudah terlempar sedikit jauh dari mereka.


"Apa urusanmu, sialan?!" Jaz berteriak jengkel pada gadis yang berdiri antara dirinya dan Tiffany.


Gadis itu lebih memilih berbalik, tidak memedulikan teriakan amarah milik Jaz, dan menunduk, mengulurkan tangan pada Tiffany.


"Kau baik baik saja?"


Mata Tiffany membesar. Gadis ini adalah gadis yang duduk dibelakangnya. Sekali lagi, Tiffany benar benar merasa tidak mengenalnya. Senyumannya ternyata lebih hangat dari yang ia duga.


"A, aku baik baik saja. Terima kasih."


Tiffany mengusap air matanya dan menerima uluran tangan gadis itu. Memberi isyarat kalau ia sungguh sungguh dalam ucapannya.


"Kenapa kau ikut campur?! Ha?!"


Jaz yang merasa diacuhkan kembali meraung marah, tak mengindahkan kedua temannya yang berusaha menenangkannya.


Setelah membantu Tiffany hingga berdiri sempurna, gadis itu kembali berbalik ke arah Jaz dan teman temannya, menatap mereka tanpa suara.


"A, apa kau lihat lihat? Katakan sesuatu!"


"Kurasa kalian tidak mengenal kata jera, ya? Sebenarnya apa yang kalian dapatkan dari mengganggu orang lain?"


"Apa?! Kau mau mengancam kami lagi dengan pacar mafiamu itu?! Kami tidak takut!"


Gadis itu merogoh kantongnya untuk mengeluarkan handphonenya dengan gerakan perlahan. Tiffany menatap tidak mengerti pada Jaz dan teman temannya yang mengikuti gerakan gadis itu dengan tatapan horor. Vey bahkan sudah terlihat akan menangis dari matanya yang berkaca kaca dan kakinya yang gemetar. Sedetik kemudian, bersamaan dengan gadis itu mengangkat hpnya ke telinganya..


"Lihat saja nanti! Akan kuberi pelajaran kalian berdua!" Jaz berbalik dan segera mengambil langkah langkah besar keluar dari kelas diikuti oleh Vey dan Nuke yang terbirit di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tiffany bertanya sambil memberi tatapan kagum setelah mereka bertiga tak lagi terlihat oleh mata.


Gadis itu mengedipkan matanya.


"Hanya sedikit gertakan."


Mereka tertawa lepas bersama sebelum saling mensejajari langkah keluar dari kelas yang telah sepi.


"Mau ke kantin bersama?"


"Boleh. Tapi sebelum itu, beritahu aku namamu. Aku Tiffany."


"Aku Inka."


****


"Oke, minggir pak."


Akhirnya, bisik Vino sambil menghembuskan nafas lega bersamaan dengan pak supir yang mengacungkan jempol pada Shirley dan


menghentikan mobilnya perlahan. Keheningan tadi benar benar tidak nyaman untuknya. Setelah dipicu oleh akhir pembicaraan dengan pembahasan yang salah, lagu lagu mellow yang distel pak supir semakin memperburuk suasana. Vino menahan dorongannya untuk berteriak sedari tadi guna menumpahkan ketidaknyamanannya.


Tapi sekarang itu tidak penting lagi. Mobil taksi mereka berhenti di depan sebuah bangunan sederhana yang menarik perhatiannya.


Nans.. Salon?


Segera ia tolehkan kepalanya ke arah Shirley di belakangnya. Melotot menuntut penjelasan. Gadis itu hanya memperlihatkan cengiran tak bersalah sebelum menepuk ringan bahu pak supir.


"Terima kasih, pak. Tapi saya tidak bawa uang tunai. Berikan aku rekening bapak."


"Loh, nggak bisa-"


"Tipnya 3 kali lipat."


"Oke, sebentar kak."


Vino memutar matanya melihat pak supir tergesa gesa menunjukkan nomor rekeningnya setelah menemukannya entah dari mana. 2 menit kemudian Shirley menunjukkan bukti transfer dari handphonenya pada pak supir yang langsung berbinar wajahnya.


"Makasih banyak kak. Moga lancar rezekinya."


"Ayo turun, Vin."


Doa pak supir diabaikan sepenuhnya oleh


Shirley yang sudah bergerak turun setelah membuka pintu mobil. Justru Vino yang mengamininya dalam hati. la bertukar senyum dengan pak supir sebelum ikut membuka pintu mobil dan turun menyusul Shirley.


"Kenapa kau membawaku ke salon?"


"Aku akan mengubahmu menjadi kupu kupu jantan yang indah dalam sekejap. Ayo masuk!"


Shirley menarik tangan Vino yang otaknya sedang berusaha mencerna perkataan Shirley, tapi kemudian memilih menyerah dan pasrah akan nasibnya. Mereka memasuki pintu kaca bangunan sederhana 2 tingkat


tersebut dan menemukan reorang wanita setengah baya yang sedang duduk membaca buku. Wanita itu langsung bangkit menghampiri mereka saat menyadari kedatangan pengunjung yang tak lain adalah orang yang ia tunggu.


"Ibuu!" Shirley segera menghambur ke dalam pelukan wanita yang dipanggilnya 'ibu' itu. Wanita tersebut tersenyum sambil


menepuk nepuk punggungnya.


"Sudah lama sekali kau tidak main kemari."


Shirley menganggukkan kepalanya yang tenggelam di bahu wanita itu perlahan sebelum melepas pelukannya.


"Aku sibuk sekali."


"Dan tiba tiba kau datang untuk mengenalkan pacarmu padaku?"


Vino terkesiap kaget mendengar gurauan itu. Tapi belum sempat ia menyangkalnya, Shirley sudah bergerak cepat merangkul lengannya sambil tertawa renyah.


"Apakah kami terlihat cocok?"


"Bukan begitu. Kami hanya teman. Dia membawaku kesini untuk suatu tujuan yang tidak kuketahui." Vino buru buru menjelaskan setelah menarik lepas lengannya dari pelukan Shirley.


Wanita tersebut tertawa mendengar perkataannya dan lantas menyodorkan tangannya.


"Jangan khawatir. Aku tahu kalau kau bukan pacarnya. Elly sudah menjelaskan situasinya padaku. Lagian anak ini terlalu arogan untuk dapat menemukan pacar. Kenalkan, namaku Nancy. Orang terdekatku biasanya memanggilku Nans."


"Vino." Vino menerima uluran tangannya dan menjabatnya.


"Ayo kemari. Aku sudah menyiapkan tempat untukmu."


"Eh, tunggu tunggu! Aku bahkan belum mengatakan apa yang perlu ibu lakukan!" Shirley menahan pergerakan mereka dengan tangannya.


Bu Nancy menoleh padanya sambil tersenyum miring.


"Dan kau ingin mengatakan kalau pendapatmu lebih baik dari penilaian dan pemikiranku?"


Shirley segera melepaskan tangannya sambil menunjukkan cengiran aneh.


"Tentu tidak. Semua tahu kalau kau ahlinya."


"Bagus. Ayo kemari, Vino."


Bu Nancy melangkahkan kakinya diikuti oleh Vino dibelakangnya. Shirleypun akhirnya mengikuti mereka segera setelah memperbaiki topi dan kacamata hitamnya. Salon ini walau kecil, selalu ramai oleh para pelanggan setia bu Nancy. Ia harus berhati hati jika tidak ingin identitasnya terbongkar.


"Oke, duduklah."


Mereka berhenti di depan sebuah kursi yang letaknya agak lebih jauh dari tempat duduk lainnya.


Vino bertanya dengan raut gelisah carilah mendudukkan dirinya.


"Apa yang akan kau lakukan padaku?"


"Tenang saja, tidak banyak yang akan kelakukan. Mungkin yang akan kuubah sepenuhnya hanyalah rambutmu."


"Juga berikan dia lensa kontak, bu! Vino berkacamata selalu dan itu mengganggu!"


"Kalau kau ingin lensa kontak yang sekaligus dapat membantu penglihatannya, kau harus pergi ke dokter mata. Disini aku hanya memiliki lensa kontak untuk hiasan."


"Yah. Vino, matamu minus berapa?"


"3 kanan, 2 kiri."


"Oke, aku yang akan mengurusnya. Pokoknya ia harus mengenakan lensa kontak. Papa pasti setuju."


"Ya, ya, terserah. Sekarang pergilah ke dapur, nak. Aku sudah menyiapkan nasi goreng kesukaanmu."


"Benarkah?!" Mata Shirley yang berbinar sedetik kemudian menyipit penuh selidik.


"Tunggu, apa kau sedang mencoba mengusirku?"


Bu Nancy tergelak mendengarnya.


"Kurang tepat. Apa kau tidak ingin ini menjadi kejutan untukmu?"


Shirley menggangguk paham setelah 5 detik memasang mode berpikir.


"Okelah kalau begitu. Aku menunggu kejutan terbaik darimu. Aku masuk dulu, Vino. Jangan khawatir, ibu adalah yang terbaik."


Shirley melenggang ke belakang sambil bersenandung pelan. Tempat ini benar benar memberikannya kehangatan, kenyamanan, kebebasan baginya untuk mengekspresikan perasaannya. Hal berharga yang baru baru ini disadarinya.


"Akan kuhabiskan semuanya!" Teriaknya sebelum menutup pintu yang mengarah ke bagian belakang salon.


"Padahal dia sudah sarapan tadi."


Gumaman Vino ternyata terdengar oleh bu Nancy yang menanggapinya dengan tawa


kecil.


"Dia terlalu mudah dibaca, bukan? Seperti anak kecil yang membutuhkan kasih sayang dan kehangatan," ujarnya sambil memasangkan Vino kain untuk menutupi tubuhnya.


"Kau berteman dengannya?"


"Begitulah."


"Untuk pertama kalinya ada yang berstatus teman untuknya. Dia gadis yang baik walau keras kepala. Kuharap kau bisa saling memahami dengannya."


Vino mengangguk kaku. Tak tahu harus menjawab seperti apa. Bu Nancy tertawa lagi melihat sikapnya.


"Hahaha. Maaf jika kata kataku membuatmu gugup. Ini sebenarnya tidak seserius itu. Aku sudah menganggapnya seperti anak gadisku sendiri. Terkadang aku hanya terlalu mengkhawatirkan jiwanya yang terlalu rapuh. Tapi kurasa sekarang ia akan baik baik saja. Nih, pakai."


Vino menatap bingung pada benda yang disodorkan Bu Nancy padanya. Sebuah penutup mata.


Bu Nancy menyeringai jahil sambil mengedipkan matanya.


"Ini juga akan menjadi kejutan untuk dirimu sendiri."