Change

Change
12. POTONGAN



Lampu merah yang menyala di atas pintu menandakan operasi yang sudah berjalan selama tujuh jam itu masih berlangsung tidak satu pun dari kami yang meninggalkan tempat ini.


Tidak ada rasa lapar ataupun lelah yang menghampiri Rara. Rara hanya mengkhawatirkan Stefan di dalam sana. Walau usia Rara masih terbilang muda tetapi Rara sudah mengetahiu semua yang ada.


Rara sempat melihat Stefan saat dia dipindahkan ke ruang oprasi tadi. Dan kondisinya penuh dengan luka diwajahnya. Ada busa putih yang menyangga lehernya dan darah segar keluar mengenai seragam sekolahnya.


Bang Rico yang sudah datang sebelum oprasi dimulai berjalan menghampiri Rara yang duduk menyendiri. Bang Rico duduk disamping Rara dan menyentuh bahu Rara.


Kehangatan yang sama seperti yang Stefan berikan pada Rara tapi semua terasa sangat berbeda. Berbeda karena Rico bukan Stefan, berbeda karena Stefan tetap berada di ranjang persakitan dan sedang berjuang untuk sembuh di dalam ruangan itu.


"Stefan pasti akan baik- baik saja. Kamu mau makan dulu? Pasti belum makan kann," kata bang Rico ramah sambil menenangkan adik kecilnya. Rara .


Rara kecil menggeleng pelan. "Aku gak laper, Bang. Aku mau nungguin bang Stefan," ucap Rara pelan dan serak.


Rara sempat bertemu pandangan dengan ayah Stefan yang menatap Rara sinis.


Lampu merah padam. Kami berlima serempak berdiri dan menunggu dokter keluar dari pintu itu. Operasi telah selesai.


Stefan adalah laki- laki kuat. Stefan pasti akan bertahan. Stefan harus bertahan.


" Bagaimana operasinya, Dok?!"Tanya ayah Stefan begitu pintu terbuka dan dokter keluar dari pintu itu.


Dokter melepaskan maskernya dan entah kenapa perasaan Rara kecil sungguh tidak enak sekali melihat wajah dokter itu. 'Apakah Stefan selamat?' batin Rara kecil.


"Kami sudah melakukan semampu kami untuk menolong Stefan, putra anda."


Air mata Rara kembali keluar. Rico yang melihat Rara kecil kembali mengeluarkan air matanya memeluknya sangat erat.


"Selama proses operasi, anak anda sempat mengigau dan memanggil nama 'Rara' berulang kali."


Keempat pasang mata itu menatap Rara yang juga kaget mendengarnya. Stefan terus memanggil Rara?


"Kami sempat kehilangan putra anda empat kali. Namun, kami berhasil membawanya kembali lagi."


Napas lega terdengar dan baru Rara sadari ternyata Rara juga menahan napas sedari tadi karena informasi mengenai operasi tersebut.


"Tapi—" kata- kata dokter itu tertahan serempak kami berlima masuk kedalam situasi tegang kembali


"Cidera otak yang dialami anak anda sangat parah sehingga bisa kami katakana kalau anak anda ada di tahap koma. Kami tidak bisa meramalkan kapan dia akan sadar dan juga—"


Rara tercekat mendengar ucapan dokter tersebut tangan Rara terangkat menutup mulutnya. Air mata Rara semakin deras terasa menjatuhi pipi. Hanya pelukan erat saja yang bisa Rico lakukan pada adik kecilnya itu.


"Bisa kami katakana kalau anak anda sekarang masih hidup karena kami memasang alat bantu pernapasan dan alat pacu jantung di tubuhnya. Dengan kata lain, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkan anak anda,"dokter itu melanjutkan pembicaraannya sedikit terperinci.


"Saya sarankan perbanyak komunikasi dengan pasien, beri dia motivasi hidup dan semangat untuk berjuang. Meskipun, dalam tahap koma, pasien masih dapat mendengar suara di sekitarnya," dokter yang menangani Stefam berbicara lagi dan lagi.


Kami semua yang berada di depan ruangan operasi terdiam. Air mata diwajah ayah Stefan mengalir. Kak olin yang sudah menahan tubuh ibunya yang terlihat pucat dan lemah.


"Pasien akan kami pndahkan ke ruang isolasi untuk menjauhkannya dari Virus dan Bakteri yang akan mengganggu kesehatannya, saya permisi,"lanjut dokter itu untuk terakhir kalinya.


Kaki Rara lemas. Rara terduduk di lantai masih dengan bekapan dimulut. Rico memeluk adik kecilnya yang sudah kesekian kali menangis.


Ponsel Rico berbunyi nyaring memecah hening yang ada. Panggilan yang berasal dari nomer yang sangat ia kenal.nenek merisa. Rico mengangkatnya dengan tangan gemetar menahan kepala Rara yang sedang menangis.


Betapa kagetnya Rico setelah menerima telpon itu. Wajahnya pucat pasi. Neneknya mengatakan bahwa mommynya meninggal dunia karena terkena tembakan tepat di dada kirinya.


"Kenapa bang?" Tanya Rara polos dengan menggunakan logat Indonesia yang diajarkan Maura Mommynya.


"Mom—" ucap Rico terputus dengan mata yang berkaca- kaca menahan tangis. Sulit untuk mengatakannya pada adik kecilnya Rara, terlebih Rara sedang sedih karena Stefan. Ia tidak ingin menambahkan beban kesedihan Rara adiknya. Namun, kenyataan ini harus Rara ketahui karena Rara berhak atas itu.


"Warum?(kenapa?)" balas Rara yang kembali menggunakan logat germmanynya. Sedangkan keluarga dari pihak Stefan pun penasaran dengan ucapan Rico yang teputus- putus. Mereka ingin tahu bencana apa yang menimpa keluarga Ken yang terkenal penguasa itu.


"telah ti-a-da," jawab Rico yang langsung terdengar tangisan Rara yang amat kencang lalu gelap


Dan gelap~~


Semua tak terlihat~~


Hanya sedih yang menyisakan~~


Hanya kecewa yang tersisa~~


Flashback off


❄💭❄💭❄💭❄


"Sar," panggil Rara pelan.


"Anjir!! Gue kira lo matii bikin panic tau gak..," balas Sarah yang membuat Rara ingin tertawa namun, Rara hanya bisa tersenyum dengan keaadaan yang sangat lemah.


"Noh, tadi pacar lo bolak balik nanyain lo," celetuk Luna yang mendapat senyuman Rara. Rara terus berpikir dengan ucapan Luna. Reza masih peduli padanya?


"Lu pingsan atau koma..? lama amat bangunnya," timpal Angel sambil memberi segelas air putih pada Rara.


"Gue bangun langsung di introgasi begini.. mending gue tadi gak usah bangun," canda Rara yang langsung membuat mereka berempat tertawa.


"Oiya, Kak Stefan sama Kak Alex juga nanyain lo terus di chat," ucap Luna dengan senyum liciknya.


"Nyaut satu orang lagi Raa,"timpal Sarah mengikuti wajah licik Luna.


"Apaan sih kalian gak jelas deh.. bangun- bangun diginiin," omel Rara seraya meminum segelas air yang diberikan Angel.


"Jel, tolong dong Handphone gue," lanjut Rara sambil menunjuk ranselnya yang terletak tidak jauh dari Angel angel membuka tas Rara, meraih Iphone milik Rara dan menyerahkannya.


Rara membuka aplikasi Chatting-nya. Reza harus mengantarkannya pulang kerumah.


Rara_np.ken : Zaa, anterin gue pulang dong


Tak butuh waktu lama, Rara langsung mendapat balasan dari Reza.


Reza_Dvc : Udah bangun? 


Reza_Dvc : Mau pulang? 


Rara_np.ken : Iya 


Rara_np.ken : Tapi lo sibuk gak? Kalo sibuk mending gak usah anter gue pulang.


Tak ada balasan dari Reza, bahkan laki- laki itu sama sekali tidak membaca pesan Rara. Sepertinya Reza langsung berjalan menuju UKS.


"Gimana? Lo udah ngehubungin seseorang buat anter lo pulang?," Tanya Luna saat Rara meletakan Handphone miliknya.


"Udah kok, dia udah jalan ke sini."


❄💭❄💭❄💭❄


Dengan langkah terburu- buru Reza melangkah menuju ruang Uks. Reza sangat tergesa- gesa ingin mengetahui keadaan Rara setelah ia buat pingsan di siang bolong karena berlari. Belum lagi permintaan Rara untuk mengantarnya pulang ke rumah, pasti ada sesuatu. Langkah Reza begitu cepat tanpa mempedulikan seluruh siswi yang berdiri di tepi lapangan sekolah yang menatapnya takjub.


"Raa," panggil Reza yang masih tetap Cool begitu membuka pintu UKS. Semua terdiam tidak ada yang berani berucap selain Rara.


"Ayo, pulang Ra," ajak Reza.


Rara mengangguk.


"Bisa jalan, kan?," Tanya Reza.


"Iya, tapi masih pusing," keluh Rara seraya memakai sepatunya.


"Tunggu.." Laki- laki itu berjongkok dihadapan Rara.


"Naik!" suruh Reza.


"Oh my good!" teriak Sarah, Angel dan Luna heboh.


"Beneran?" bisik Rara yang diangguki Reza. Akhirnya Rara naik kepunggung Reza.


"Raa, tasnya sama hape lo!" seru Angel menyodorkan tas gendong milik Rara.


Reza meraihnya dan memakai tas gendong berwarna abu- abu milik Rara didepan, sedangkan dengan enteng Rara duduk di punggung Reza.


Reza dan Rara pun keluar dari ruang UKS. Begitu mereka melewati lapangan, seluruh siswi berteriak histeris. Mereka seperti melihat salah satu adegan drama korea secara Real.


'Kenapa hati mu selalu berubah Reza?' batin Rara.


'Adakah aku dihati mu?' batin Rara lagi.