Change

Change
3



"Bos, apa-apaan sih?" umpat Cleo kesal.


"Lu udah berani lawan gue! Hah?!" tanya Teo membesarkan bola matanya.


"Nggak, Bos" jawab Cleo sambil menundukkan kepalanya ke bawah.


"Cabut!" pintah Teo kepada kedua anak buahnya.


"Ke...kenapa Bos kita harus pergi? bukannya tadi kita hampir menang lawan tuh cewek?" tanya Hainan bingung.


"Lo tahu nggak? dia ini anak yang punya sekolah!" jelas Teo sambil beranjak dari hadapan Lexsa dan Joan.


Sontak membuat Cleo dan Hainan kaget dan mengikuti langkah Teo yang telah mendahului mereka.


"Lu nggak papa, kan?" tanya Joan khawatir.


"Nggak, makasih ya..." ucap Lexsa kembali ke tempat duduknya semula.


"OMG! hati gue bisa terbagi dua nih" cetus Mella sambil berangan-angan.


Lexsa tidak menanggapi Mella, ia duduk di sebelah Fiano sambil menyuap nasgornya yang tinggal sedikit.


"Lu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Fiano simpati.


"Udah tahu pakai nanya lagi!" ucap Lexsa pelan.


"Gue tahu! cuma basa-basi doang sebagai teman" jawab Fiano melanjutkan suapan ke mulutnya.


"Ouh!" balas Lexsa.


Bel berbunyi...


semua murid masuk ke dalam kelas secara beraturan.


"Pindah! Pindah...pindah" pintah Lexsa tergesa-gesa.


"Oh iya...gue lupa" ucap Mella sambil membawa tasnya pindah ke tempat duduk Lexsa.


Fiano berjalan masuk ke dalam kelas sambil membawa botol mineral di tangannya. ia terkejut saat melihat wajah Lexsa berubah menjadi wajah Mella.


matanya teralihkan ke meja paling belakang, tepatnya dimana Lexsa duduk sekarang.


"Pindah seenaknya" batin Fiano sambil duduk di kursinya.


"Hei!" sapa Mella ramah.


Fiano membalas dengan senyuman terpaksa.


"Kelas akan di mulai, sebelum itu mari kita sambut kedatangan murid baru pindahan dari Amerika Serikat ini" jelas bu. Eli selaku wali kelas.


"Wah...Amerika Serikat! pasti bakal keren nih daripada Fiano" puji salah satu siswi kepada siswi yang lainnya.


"Pasti dia!" ucap Mella tak sabaran.


"Lu kenal?" tanya Fiano heran.


"Yang tadi itu loh, yang di kantin nolongin Lexsa ngelawan Cleo" jelas Mella.


"Ouh..."


"Silahkan masuk**" sambut bu. Eli ramah.


langkah kaki memasuki ruangan terdengar familiar di telinga Lexsa, tapi ia tak mempedulikannya. ia sibuk dengan gambar yang di lukisnya di atas buku catatan kecil yang biasanya ia bawa ketika Smp.


"Salam kenal, nama gue Joan Rifander, panggil aja gue Joan" sambut Joan antusias.


"Pilih dimana kamu mau duduk" pintah bu. Eli yang berdiri di sampingnya.


"Mm..."


"Sama gue aja!"


"Gue ajalah! gue lebih pintar"


"Semoga dia sama gue" batin Brenda percaya diri.


"Gue mau duduk sama dia" tunjuk Joan ke arah Lexsa.


Lexsa seperti merasakan sesuatu menunjuk ke arahnya, benar saja itu adalah jari Joan.


"Tapi...bu! saya..." bantah Lexsa kaku.


"Silahkan duduk di sana dan Lexsa kamu harus menerima semua teman jangan pilih-pilih" tegas bu. Eli.


"Iya bu!"


Joan berjalan pelan hingga menuju mejanya.


"Parfumnya wangi banget" puji Brenda kepada teman sebelahnya.


"Iya...gue juga mencium aromanya, seperti bau kacang almond yang di panggang hingga matang" ucap Viani mendengus lama.


"Lexsa beruntung banget bisa duduk semeja dengan dia, gue iri!" ujar Viani.


"Gue juga!" ucap Brenda melirik ke arah Lexsa dan Joan sebentar.


"Ibuk hampir lupa, kalau kelas kita belum memiliki seorang Ketua kelas" ucap bu. Eli mengagetkan semua murid.


"Gue juga lupa kalau soal begituan" ucap Mella kepada Fiano.


Fiano tidak mempedulikan perkataan Mella barusan, ia memikirkan Lexsa di belakang.


"Semoga dia tidak membuat masalah dengan anak punya sekolah ini" batin Fiano khawatir.


"Jika iya, pasti urusannya bakal panjang" batinnya lagi.


"Ketua kelas kita biar sesuai naluri ibuk saja" ujar bu. Eli sambil memperhatikan semua muridnya.


"Siapa ya kira-kira?" ucap seorang siswa yang penasaran.


"Yang pasti dia cowok!" ucap teman di sebelahnya.


"Dia adalah..." kata bu. Eli semakin membuat semua siswa penasaran dengan jawabannya.


"*Lagian gak mungkinkan seorang cewek jadi pemimpin"


"Lexsa*!" ujar bu. Eli sontak membuat Lexsa terkejut tidak hanya Lexsa tapi semua teman-temannya juga terkejut mendengarkan ucapan bu. Eli barusan.


"Bagaimana mungkin? Lexsa menjadi seorang pemimpin!" batin Fiano tercengang sambil melirik ke arah Lexsa lama.


"Baru kali ini gue melihat seorang cewek yang menjadi pemimpin alias Ketua kelas. waktu Sd yang jadi Ketua kelas di sekolah gue seorang cowok, begitu pula Smp" jelas Stev panjang lebar.


"Gue juga sama kayak lo!" ucap teman di sebelahnya sependapat.


"Lexsa? bukannya Lexsa siswi yang biasa-biasa aja" ujar Brenda tak setuju.


"Iya...ya!" pikir Fiano teralihkan oleh ucapan Brenda barusan.


"Lexsa adalah..."


"Bu**!" potong Lexsa cepat.


"Baiklah, kalau begitu! pelajaran hari ini tentang..." ucap bu. Eli.


Bla...bla...bla


Bel pulang telah berbunyi, semua murid telah pulang duluan tanpa membersihkan kelas terlebih dahulu.


"Kayaknya cuma gue deh yang punya hati di kelas ini" umpat Lexsa kesal sambil mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai kelas sendirian.


"Gue nggak terlambat, kan?" tanya Fiano dari balik pintu.


"Kayaknya lo gak ada guna deh kemari, gue udah hampir selesai" ujar Lexsa tanpa melirik ke arahnya.


"Jendela belum di tutup, papan tulis belum di hapus tulisannya, dan..." jelas Fiano panjang lebar.


"Kalau lo tahu, ngapain masih disana! bantuin gue kalau lo punya hati" ucap Lexsa menatapnya tajam.


"Begitu dong!" ujar Fiano sambil berjalan pelan ke arah jendela dan merapatkannya satu persatu.


lalu membersihkan tulisan di papan tulis sedangkan Lexsa merapikan meja dan kursi yang berantakkan.


lima menit kemudian...


"Udah selesai?" tanya Fiano sambil melirik ke arah jam tangannya.


"Dikit lagi" ucap Lexsa merapikan barisan paling depan, itu juga meja yang terakhir ia rapikan.


"*Yuk pulang! udah selesai, kan?"


"Semua manusia punya hak yang harus mereka dapatkan begitu pula dengan gue, punya hak untuk menolak tawaran lo*!" tegas Lexsa sambil berjalan cepat keluar dari kelas.


"Terserah lo!" ujar Fiano yang sama sekali tidak di dengar Lexsa.


Di rumah Lexsa...


"Gue harus cepat-cepat keluar dari rumah sebelum tuh cowok datang dan ngelarang gue buat keluar dari sini" batin Lexsa bergegas menganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam di sertakan topi untuk menyembunyikan rambutnya agar tidak ketahuan Mama Fiano.


karena biasanya sore-sore begini Mama Fiano jalan-jalan keliling komplek sambil membawa anjing peliharaanya.


Beberapa menit kemudian...


Lexsa berjalan cepat sambil menutupi wajahnya dengan baju yang di kenakannya.


Lexsa berjalan hingga menuju tempat pemberentian bus kota.


Skip...


Lexsa sampai di Cafe, tempat yang biasa ia kunjungi. di sini adalah tempat nongkrong Lexsa dan beberapa temannya.