Change

Change
36.



Tiffany berulang kali melirik jam dinding dengan resah. Sudah jam segini, keluhnya. Tapi dosen tercintanya belum juga mengakhiri materinya. Perutnya sudah meronta karena kelaparan. Maklum, karena khawatir pada pesan Andrew, ia tidak berselera makan tadi pagi dan hanya meminum segelas susu sebagai sarapannya.


"Oke, mungkin sampai di sini dulu. Ada yang mau ditanyakan?"


"Haaah..."


Tiffany menutup mulutnya kaget saat suara nafas lega yang ia hembuskan jauh lebih nyaring dari yang ia duga. Sedetik kemudian ia baru mengerti bahwa tadi ternyata bukan hanya suara nafasnya, tapi milik seisi kelas.


Tiffany mengulum senyumnya sambil mulai menutup satu persatu buku bukunya seperti yang juga dilakukan teman temannya. Di kepalanya, sudah menari makanan makanan kantin yang membuatnya melupakan seluruh pikirannya. Memang benar kata orang, 'yang berada dalam kepala orang lapar hanyalah perutnya'.


"Yak! Kamu! Silahkan bertanya!"


Dalam sekejap mata seisi kelas mengarah ke arahnya dengan tatapan membunuh yang membuat bulu kuduknya berdiri.


"Bu, bukan aku!" Sergah Tiffany sambil menutup wajahnya dengan salah satu bukunya.


"Bisakah anda jelaskan sekali lagi poin terakhir pak?"


"Eh?"


Suara itu ternyata berasal dari belakangnya. Perlahan ia menoleh dan melihat gadis yang duduk tepat di belakangnya sedang memandang lurus ke arah dosen yang sedang kembali mengoceh dengan percaya diri. Ia tidak terlihat terganggu sama sekali oleh deathglare yang dilemparkan seluruh teman temannya padanya.


"Hebat," gumam Tiffany lirih. Ia tidak terlalu mengenal gadis itu. Satu hal yang ia tahu hanyalah gadis itu duduk dibelakangnya dan selalu sendirian. Saat ini Tiffany sadar kalau ia tak pernah benar benar memperhatikan gadis itu sebelumnya.


"Ck, sial banget emang tu cewek."


"Iya, sumpah aku lapar banget."


"Tau, bisanya cuma tebar pesona."


"Di kampus sok rajin. Padahal diluar kerjaannya kelayapan malam sama anak anak geng."


"Ssst, awas dia dengar. Mati nanti kamu dihajar cowoknya."


Tiffany mengerutkan kening mendengar kasak kusuk teman temannya. Diliriknya sekali lagi gadis itu dan hanya menemukan


ekspresi datar di wajahnya. Tiffany yakin


gadis itu juga mendengar semuanya sebaik dirinya. Tapi kekuatannya menahan emosinya membuat Tiffany kagum.


'Siapa ya, namanya?' pikir Tiffany. Selama ini ia hanya bergaul dengan Vino dan Andrew. Belum lagi kelasnya ramai sekali. Tentunya ia tidak terlalu mengingat nama orang orang yang tidak banyak berpartisipasi dalam kegiatan kegiatan khusus kampus atau tidak sering mempublikasikan dirinya.


"Kau mengerti?"


Dosen kembali bertanya padanya setelah menjelaskan poin terakhir yang dimintanya.


"Mengerti pak. Terima kasih."


"Oke, ada yang ingin bertanya lagi?"


"TIDAAAKKK!!!"


Seluruh kelas serempak mengumandangkan jawaban yang sama dengan lantang bahkan sebelum pak dosen menarik nafasnya. Maksud mereka jelas. Deklarasi perang pada siapapun yang berani kembali mengajukan pertanyaan.


"Baik, kalau begitu kelas kita hari ini sampai disini."


"TERIMA KASIH, pak! "


Suara riuh langsung menyelimuti ruangan. Membereskan buku buku sambil mengobrol ria, bertanya tanya apa yang akan dimakan di kantin, saling menunjuk teman untuk mentaktir, siulan godaan saat ada yang dijemput pacar dari kelas sebelah, dan segala macam keributan yang ditimbulkan teman temannya itu selalu membuat Tiffany tersenyum getir. Takjub akan keberadaannya yang hanya bagaikan seekor kutu kecil.


Tidak terlihat jika tidak dicari.


Beberapa teman prianya dulu memang sering menggodanya dengan sekedar menepuk bahunya atau mengajaknya ke kantin. Terkadang bahkan mengajaknya pulang bersama. Tapi tentunya ia tidak pernah merasa nyaman dengan itu. Selain karena pandangan benci teman teman wanitanya tiap kali menatapnya, itu bukan bentuk perhatian yang ia inginkan.


Mereka berhenti melakukan semua itu padanya sejak ia terlihat dekat dengan Andrew dan Vino. Dan ketika kabar bahwa ia pacaran dengan Vino tersebar, sama sekali tak ada lagi yang datang padanya untuk menggodanya. Tapi tetap saja, teman teman perempuannya masih membencinya.


Bahkan mungkin lebih dari dulu. Entahlah, mungkin ia memang tidak ditakdirkan berbaur dan memliki banyak teman.


Tiffany kembali ingin menangis saat mengingat Andrew. Ketiadaan pria itu disisinya benar benar membuatnya terpukul melebihi dampak atas kepergian Vino. Tapi ia segera menggelengkan kepalanya untuk mengesampingkan pikiran tersebut. la tak boleh terlarut dalam perasaan sedihnya. la harus segera makan siang kemudian berangkat ke studio untuk latihan. Jangan sampai ia tertinggal oleh Vino yang terus merengsek maju demi dirinya.


Tiffany bangkit setelah membereskan buku bukunya dan siap menggendong ranselnya saat mereka datang ke sampingnya. Salah satu dari mereka merangkul bahunya dengan akrab.


"Halo~ Tiffany sayang.. Apa kabarnya nih?"


"E, eh?"


"Lupa ya, tugasmu sebagai pesuruh kami? Hm?"


"Nggak lupa kok, Jaz.. Aku sengaja kok nggak nuruti kalian lagi.."


Teman Jaz yang sedang merangkul bahunya menyahut dari belakang mereka dengan nada suara yang dibuat buat seperti suara Tiffany dan ekspresi wajah memelas.


Disampingnya teman mereka seorang lagi yang ikut menyahut dengan nada suara yang sama,


"Betul.. Lagian pacar tercintaku sedang cuti.. Tak ada yang bisa mereka gunakan untuk mengancamku sekarang.."


"Hahahahahaha."


Mereka tergelak bertiga merendahkan Tiffany


yang masih berada dalam raingkulan lengan Jaz.


Tiffany menatap sekelilingnya yang mulai sepi. Beberapa dari teman kelasnya beradu mata dengannya, tapi mereka semua memilih berlalu tanpa melakukan apapun. Memilih tidak mencari masalah dengan Jaz dan kelompoknya.


Tiffany mencengkram erat ranselnya. Siapa yang ia tunggu? Vino? Andrew? Tak akan ada yang datang. la tak akan pernah bisa maju jika terus seperti ini.


"Maaf, aku harus cepat. Aku ada urusan," katanya dengan satu tarikan nafas sambil berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Jaz.


"Akh!"


Tiffany berteriak kaget dan meringis saat Jaz menarik rambut panjangnya ke belakang hingga ia harus mendongak menatap wajah mereka bertiga yang memerah menahan emosi.


"Coba katakan sekali lagi."


"Kubilang, aku ada urusan. Aku harus cepat."


Tiffany menatap mata Jaz, Nuke, dan Vey di hadapannya bergantian tanpa gentar. Ia tak boleh kalah dan menyebabkan dirinya diremehkan lagi.


'Sret'. 'Bruk!'


"Akh!"


"Aku tak pernah sekesal ini padamu sebelumnya."


Tiffany menggigit bibirnya sendiri menahan perihnya kulit kepalanya. Tapi ia melarang dirinya sendiri untuk mengeluarkan ringisan kesakitannya.


"Aku juga. Awalnya aku tak tertarik sama sekali padanya." Kali ini Nuke yang bersuara dengan tangannya yang menyilang di depan dadanya.


"Sasaran kita waktu itu si Cupu Kacamata itu, bukan? Buat ngedeketin Andrew? Hey, dimana dia sekarang!?"


Vey berteriak di depan wajah Tiffany sambil berkacak pinggang.


Jaz menarik bahu Vey mundur dan kemudian mengambil alih tempatnya di depan Tiffany. Meraih dagunya dengan telunjuknya dan mendongakkan wajahnya ke atas.


"Benar sekali. Kami tak ada urusan denganmu waktu itu. Kemudian bukannya kau sendiri yang mengorbankan dirimu untuk melindungi pacar cupumu? Hm? Kenapa sekarang malah mencoba melarikan diri dari tugasmu?"


"Tau! Sekarang malah nempel mulu sama Andrew. Ke kelas diantar, kelas selesai dijemput."


"lya sumpah, nge-betein banget. Diguna guna apa coba Andrew sama nih anak sampai mau aja jadi bodyguardnya."


"Jadi sekarang mana malaikat pelindungmu itu, nona?"


"Ya, paling juga Andrew akhirnya ninggalin dia. Daripada ngantar jemput pacar orang mendingan juga main sendiri. Banyak cewek yang mau main sama dia. Cewek single pastinya."


"Kaya kita kita."


Vey dan Nuke cekikikan sendiri tanpa menyadari Jaz yang mulai mengeluarkan aura hitam dari tubuhnya.


"Vey. Nuke."


"Eh, i, iya Jaz!!"


Mereka gelagapan menyahut panggilan dingin yang dilontarkan Jaz.


"Coba lihat ke bawah. Pastikan mobil Andrew tidak ada. Jangan sampai kita terkena masalah dengannya."


Vey segera berlari ke arah jendela dan mengeluarkan kepalanya setelah membukanya.


"Sepertinya mobilnya yang biasa tidak ada. Kecuali kalau dia ganti mobil."


"Kurasa tidak. Karena jika ia benar benar datang, pasti ia sudah sampai di depan kelas ini."


"Artinya nona kita benar benar ditinggalkan."


"Andrew tidak ada, si Cupu juga tidak ada. Tapi kau tetap harus menepati janjimu, Tif. Gara gara kau kami tidak bisa bermain dengan si Cupu."


Mata Tiffany panas karena menahan tangisnya. Kulit kepalanya perih sekali. Tubuhnya juga sakit karena ditarik jatuh oleh Jaz tadi. Perutnya juga kelaparan. Tapi sekali lagi ia mengingatkan dirinya untuk tidak terlihat lemah di hadapan orang orang seperti mereka.


la bergerak menjauhkan dagunya dari tangan Jaz dan perlahan berusaha untuk bangkit.


"Aku tidak ingat pernah berjanji menjadi pesuruh kalian selama lamanya. Saat ini Vino tidak ada. Tak ada yang perlu kulindungi,"


ujar Tiffany setelah berhasil berdiri sempurna. Ditepuk tepuknya ranselnya yang berdebu sebelum menempatkannya di punggungnya dengan sempurna.


"Maaf, aku harus segera pergi. Jika tak ada lagi yang ingin dibicarakan, tolong berikan aku jalan."


'PLAK!'


"Kya!"


"Jaz! Tahan!" Sementara Vey menjerit kaget atas tindakan spontan itu, Nuke mencengkram bahu Jaz yang bergetar menahan amarahnya yang memuncak.


"Jangan keterlaluan. Kalau ia beritahu pihak sekolah papa kamu bisa marah besar lagi."


Tiffany gemetar sambil menyentuh pipi kanannya yang memerah. Matanya panas menahan air mata yang mendesak keluar. Dilayangkannya tatapan tak percaya pada Jaz di hadapannya .


"Apa?! Kau benar membuatku muak! Berlagak cantik hanya karena menang kontes kampus! Hanya karena kau diundang agensi idol itu bukan berarti kaulah gadis terhebat di dunia! Berhenti menempeli Andrew dan memanfaatkannya! Peluk saja erat erat pacar cupumu itu!"


"A, apa maksudmu? Aku dan Andrew adalah sahabat. Tak ada hubungan lebih atau-"


"Diam kau! Dasar munafik! Aku bisa melihat jelas dari matamu maksud tersembunyi!Dasar cewek ular!"


"Bener tuh. Kalau satu tidak cukup, cari aja lagi sana yang mirip mirip si Cupu. Jangan tiba tiba naik level! Sadar diri dong!"'


"Yah, palingan juga dia macarin si Cupu buat dapat perhatian Andrew doang. Niat kita juga gitu. Si Cupu lebih mudah dideketin daripada Andrew."


"Vey. Nuke."


Suara sedingin es milik Jaz kembali menghentikan Vey dan Nuke yang nimbrung percakapan untuk semakin memanaskan suasana.


"Ya, Jaz?"


"Gunting."


Jaz menyodorkan tangannya pada Nuke yang


menjawab panggilannya.


"Eh, ada sih. Tapi buat apa?"


"Udah kasih aja. Kamu mau nerima amarahnya nanti?" bisik Vey sambil menyikut Nuke yang kemudian segera mengeluarkan gunting dari tasnya, menyerahkannya ke tangan Jaz.


Tiffany merinding melihat Jaz yang memainkan gunting di tangannya sembari menyeringai. Refleks ia menggerakkan kakinya mundur satu langkah ke belakang. Air matanya lolos jatuh membasahi pipinya tanpa disadarinya.


"A, apa yang akan kau lakukan?"


Jaz menyeringai dingin sembari memberi isyarat pada dua temannya untuk memegangi Tiffany. Mereka berdua mengangguk dan mengambil tempat masing masing di samping Tiffany, mencengkram lengannya, menahan total pergerakannya.


"Le, lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!"


Jaz mendekat dan meraih rambut panjang Tiffany, menempatkannya di bahu kanannya dengan lembut. Kelembutan yang mengerikan


untuk Tiffany saat ini.


"Kau bertanya apa yang kita lakukan? Bukankah jelas?"


Tiffany menutup matanya yang basah dengan pasrah saat Jaz mengangkat guntingnya.


"Kami hanya ingin menghukum teman kami yang sombong."


'SRET'.