
Dering ponsel menggelegarkan kamar Rara. Rara terbangun dari tidurnya menyadari dering ponselnya yang mengganggu telinganya. Rara menatap handphonenya yang diletakan diatas nakas, pukul 2 pagi waktu GMT+1. Rara mencuri curi melihat waktu sebelum mengangkat telpon dari Reza. Rara kembali bertanya - tanya untuk apa Reza menelponnya sepagi ini?
Rara menggeser tanda hijau lalu mendekatkan ponselnya ke telinga. Terdengar suara berat dari ujung telpon
"To-long gu-ee Raa," ucap laki laki disebrang sana dengan suara berat yang sulit diucapkan.
"Lu kenapa,Zaa?" Tanya Rara khawatir lalu dengan cepat turun dari ranjangnya dan berlari menuju kamar Reza, tanpa mematikan handphonenya lebih dahulu.
Rara melihat Reza yang sedang menggigil di atas kasurnya sambil membawa handphone yang ikut pula bergetar karena reaksi tubuhnya. Rara memeriksa tubuh Reza tepat di dahinya dan benar saja suhunya sangat hangat, Reza demam.
"Reza badan lo panas! Mau gue panggil dokter gak?"
Reza membuka matanya yang terasa sangat berat, samar - samar Reza melihat Rara yang sedang khawatir. "Ke..uhuk na - pa?"
"Mau di panggilin dokter gak!?" Rara mengulang pertanyaannya dengan suara yang lebih keras. Reza menggeleng lemah.
"Gak..uhuk per- lu," Jawab Reza dengan diselingi batuknya, bisa bisanya Reza berbicara ketus disaat dia sakit. Rara tak habis pikir dengan sifat Reza yang memang sudah mendarah daging.
"Uhuk,Uhuk." Reza kembali terbatuk.
Rara semakin tidak yakin dengan melihat kondisi Reza yang kembali terbatuk. Rara berjalan mondar - mandir dengan panik, apa yang harus Rara lakukan? Rara sedang berada di negri orang, tidak mungkin kan kalo Rara membeli obat sepagi ini.
Rara masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil handuk yang sudah disediakan, menggunakan air hangat bisa kan? Rara pernah membaca di website dulu kalau air hangat bisa menurunkan demam. Rara membuka keran wastafel yang berwarna kuning keemasan dan membasahi handuknya, lalu meletakan handuknya di dahi Reza untuk mengompres Reza. Dengan sabar Rara mengompres Reza yang panasnya tidak kunjung turun dan menyentuh telapak tangan Reza dengan hangat.
"Cepet sembuh, Zaa!" Ucap Rara menyemangati Reza dengan tulus.
❄💭❄💭❄💭❄
Reza membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa berat dan Reza masih merasakan pusing walau tidak separah kemarin. Reza menyentuh kompres diatas dahinya dan mendapati Rara yang tertidur dengan posisi duduk bersimpuh dilantai, sedangkan kepala Rara diletakkan di atas kasur sambil menggenggam tangan Reza erat.
Semalaman dia ngerawat gue?. Batin Reza.
Reza melihat beberapa handuk kecil yang Rara letakan di dalam mangkuk, Reza memperhatikan wajah Rara yang sangat tenang. Hatinya ikut tenang, seolah- olah sakitnya sudah menguap kemana ketika melihat wajah tenang Rara. Reza menggerakan tangannya sedikit membuar Rara tersadar.
"Lo udah bangun?"
Reza mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
"Sorry, udah buat lo bangun. Oasti lo capek abis ngerawat gue semaleman."
"Gak pa pa, lo mau makan apa? Biar gue panggil pelayan buat buatin lo makanan," ucap Rara sambil bangkit dari duduknya tapi tangannya tertahan oleh Reza.
"Lo lagi sakit, Zaa."
"Rara!" Panggil Reza tegas sedangkan Rara hanya membalas dengan raut kesal.
"Yang sakit disini lo bukan gue! Jadi lo istirahat aja gue mau ke bawah manggil pelayan buat buatin lo bubur."
Reza tak bisa berkata apa- apa lagi mendengar omelan Rara, gadis itu makin lama jadi meniru sikap memerintahnya juga.
❄💭❄💭❄💭❄
Setelah pelayan membawakan bubur ke kamar Reza, Rara bergegas mengambil tasnya di kamarnya untuk ke mal. Bukan untuk shopping maupun jalan jalan, melainkan membelikan Reza obat di apotek.
"Lo mau kemana? Kok keluar? Temenin gue makan dong..kan gue lagi sakit," tanya Reza curiga disertai seringaian kecil karena melihat Rara terburu buru keluar dari kamarnya.
"Mau beli obat buat lu," jawab Rara yang dengan cepat keluar dari kamar Reza karena tak mau mendengar larangan Reza lagi.
"Ehh, tapi kann!---" teriakan Reza tak terdengar lagi dari telinga Rara karena pintu kamarnya sudah tertutup.
"per favore, prepara la macchina (tolong siapkan mobil)," ucap Rara kepada pelayan yang berada di pojok dinding ruang tengah. Pelayan itu bergegas menyampaikan pesan tersebut kepada supir yang bertugas.
"Kamu mau kemana?" Tanya Stefan yang masih dengan wajah bantalnya itu.
"Ke apotek beliin Reza obat," jawab Rara yang begitu terburu - buru.
"Gue temenin!" Teriak Stefan yang melihat Rara berlari kecil menuju luar.
"Gak usah!" Jawab Rara dengan suara yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh Stefan yang jaraknya sudah jauh darinya.
Rara keluar dengan tergesah gesah lalu menaiki mobilnya yang sudah siap di depan. Baru saja Rara ingin menancapkan gasnya tetapi terhenti begitu saja ketika suara ketukan kaca di sisi pintu terdengar.
"Raa, gue ikut!" Suara Stefan yang terdengar, lelaki itu terus saja berusaha untuk ikut dengannya. Rara pun menuruti ucapan Stefan, ia keluar dari kursi kemudi untuk bergantian dengan Stefan sedangkan Rara duduk di kursi penumpang disebelah kursi kemudi.
"Kemana?" Tanya Stefan yang sudah menancapkan gas mobil, menjalankannya keluar mansion.
"Farmacia ambreck," Jawab Rara lalu diangguki Stefan. Stefan menancapkan gasnya dalam, melajukannya lebih cepat dari sebelumnya.
❄💭❄💭❄💭❄