Change

Change
38.



Shirley melahap suapan pertama nasi gorengnya sambil menunggu panggilannya diangkat.


"Hm, nasi goreng bu Nans adalah yang terbaik!" Serunya girang sendiri dan bergegas menyusul suapan kedua, ketiga, dan seterusnya.


"Nona Shirley? Ada yang bisa saya bantu?"


"Oh!" Shirley segera menghabiskan makanan di mulutnya, lantas menyambar segelas air putih yang sudah diletakkannya di dekatnya.


"Uhuk, uhuk!"


"Apa kau baik baik saja, nona?"


Suara di telefonnya kembali terdengar. Kali ini sarat dengan kekhawatiran.


"Baik, baik. Bukan masalah. Tapi pak dokter, aku membutuhkan sesuatu."


"Katakan saja, nona."


"Apa kau bisa menyiapkan untukku lensa kontak? Rincian minusnya akan kukirim lewat email."


"Hanya itu?"


"Kurasa."


"Itu mudah."


"Baiklah, pak dok, terima kasih. Aku akan meminta kak Elly untuk mengambilnya. Kapan bisa siap?"


"Tidak lama. Aku akan memberi kabar setelah selesai."


"Thanks."


"Jangan berterima kasih, nona. Ini sudah kewajibanku."


Panggilan ditutup. Shirley segera meletakkan handphonenya dan melanjutkan menyantap nasi gorengnya yang menggoda.


la benar benar senang hari ini. Tadi moodnya sempat memburuk karena Vino yang ditelpon pacarnya di tengah sarapan mereka. Tapi karena itu justru hubunganya dengan Vino menjadi lebih dekat, bukan?


Shirley terkikik geli sendiri menanggapi pemikirannya. Sejak kapan ia menjadi begitu hiperbolis seperti ini? Entahlah.


Selain itu, hari ini akan menjadi sempurna jika pemotretan Vino benar benar diberi izin oleh klien mereka. Dengan begitu, ia dapat menarik Vino lebih dekat untuk masuk ke dunianya.


la sebenarnya sangat mencintai pekerjaannya. Hanya terkadang ia merasa tersiksa oleh tuntutan dan kekangan papanya. Dengan adanya Vino di dunia yang sama dengannya, ia merasa akan bisa kembali memberikan dirinya sepenuhnya kepada pekerjaannya. Ia merasa bersemangat hanya dengan memikirkannya.


'Drrt.'


Pesan dari Elly tersebut dibukanya. Pupil matanya melebar sekaligus senyumnya.


"Pak Bil menerima keinginanmu. Tapi ingat, bukan berarti foto Vino akan digunakan olehnya."


Ya, itu cukup. Ia hanya perlu mengeluarkan Vino ke permukaan. Para pemburu pasti akan menemukannya, cepat atau lambat. Skill dapat dilatih, tapi paras dan tubuh adalah bakat alami. Dan Vino memilikinya.


'Drrt.'


"Hm?"


Satu pesan lagi dari Elly. Pesan suara?


"Jangan terlalu senang hingga melupakan diri. Bagaimanapun, ini beresiko tinggi. Kau akan terluka lagi."


Shirley menatap horor hapenya setelah menjatuhkannya ke lantai karpet bu Nans.


Suara pria.


Bagaimana bisa seorang pria menggunakan ponsel Elly? Elly bukanlah orang yang akan membagi privasinya begitu saja, terlebih untuk pria. Perasaan khawatir mulai menyelubungi benak Shirley.


Tapi sesuatu yang lain mendorongnya untuk memutar pesan tersebut sekali lagi. Ya, lebih dari perasaan khawatirnya, ada sesuatu yang lain. Suara pria ini mengusiknya. İa merasakan suatu perasaan.. familiar?


****


"Hei! Kembalikan ponselku!"


Elly berteriak sambil berusaha menggapai ponselnya yang berakhir di tangan Lam. Pria ini merebutnya dari tangannya begitu saja setelah ia mengirim pesan singkat untuk Shirley.


Dan yang lebih tak terduga untuknya, pria ini mengirim pesan suara yang berisi peringatan pada Shirley!


Ini sungguh bukan hal yang baik. Gadis itu rapuh. la butuh kata kata yang lebih lembut agar tidak mengusik traumanya


akan masa lalu.


"Kembalikan kataku!"


Sialnya pria ini terlalu tinggi.


Pria ini hanya perlu mengangkat ponselnya dengan lurus ke atas, tanpa ia perlu berjinjitpun Elly tak dapat meraihnya. Tentunya ia menahan dirinya agar tidak melompat lompat seperti orang bodoh. Ditambah seringai menyebalkan yang Lam sematkan untuknya membuatnya jengkel bukan kepalang.


Elly menghela nafas, memilih menenangkan dirinya. Ia bersedekap, lantas menatap Lam.


"Bukankah kau terlalu ikut campur? Siapa kau sehingga berhak memberi peringatan semacam itu padanya?"


Tatapan jenaka Lam yang mengejeknya tadi berubah menjadi tajam dan menusuk.


"Kau benar benar tahu caranya memancing emosiku, ya?"


"Kau bilang tidak menyukainya. Tapi kau terlalu berlebihan mengkhawatirkannya."


"Itu karena kau tidak memperingatkannya akan resikonya. Kita sama sama tidak ingin ia terluka. Aku sebagai penggemarnya dan kau sebagai manajernya. Begitu juga ribuan penggemarnya yang lain."


"Aku tahu kalau ia tidak akan melupakan resiko itu. Tidak akan pernah. Tindakanmu yang merebut ponselku dan mengirim pesan suara begitu saja pada gadis yang bahkan tak tahu namamu tidaklah rasional."


Tatapan Lam semakin menajam. Dingin hingga terasa menusuk tulangnya. Mata hitamnya seakan menyedot kebanyakan oksigen yang ada hingga Elly hampir merasakan sesak di dadanya.


'Ting!'


Elly mengikuti langkah Lam yang keluar lebih dulu dari lift. Pria itu terlihat lebih mengerikan ketika ia diam. Apakah kata kataku terlalu kasar? batin Elly. Entah kenapa ia memikirkannya. Memikirkannya hingga tak menyadari Lam menghentikan langkahnya. Hidungnya sukses menubruk punggung kokoh Lam dan aroma musk pria itu memenuhi indra penciumannya lebih cepat dari gerakan mundurnya.


"Hei, jangan berhenti tiba tiba!"


Gerutuan itu lebih ditujukannya pada dirinya sendiri yang merasakan keinginan menghirup aroma itu lebih lama.


Elly tidak suka menggunakan parfum, tapi ada satu parfum yang terkadang digunakannya untuk menghadiri acara acara resmi. Elly tidak pernah mengganti parfumnya tersebut karena baginya aromanya adalah yang terbaik.


Tapi aroma pria sialan di depannya ini membuatnya tergoda untuk menanyakan parfum yang dikenakannya. Tentu saja, ia menahan dirinya dari melakukan tindakan konyol itu.


Elly tersentak kaget saat tiba tiba Lam berbalik dan menyerahkan hpnya kembali padanya. Tatapannya telah menjadi lebih tenang dan terkendali seperti biasa.


"Pesanku sudah kuhapus. Katakan pada nona Shirley kalau aku minta maaf. Bukan maksudku untuk ikut campur."


Elly menerima ponselnya setengah tak percaya. Takjub saat melihat pesan itu benar benar telah terhapus.


Bergegas ia menulis pesan baru untuk Shirley.


"Aku minta maaf untuk pesan tadi kalau itu mengganggumu, Shirley. Pria itu petugas di BM yang merahasiakan kunjunganmu ke kabin Vino, ingat? la hanya khawatir papamu akan mengetahui ini. Aku memberitahunya karena membutuhkan sedikit bantuannya. Kau tenang saja. Percayalah padaku seperti yang biasa kau lakukan. Semuanya akan baik baik saja ."


'Send.'


Elly memasukkan ponselnya ke saku setelah memastikan pesannya terkirim.


"Oke. Jadi, apa kita sudah sampai? Dimana ruangannya?"


"İkuti aku." Lam berbalik dan melanjutkan langkahnya yang disejajari oleh Elly.


"Hei, tuan staf."


"Hm."


"Bukankah kau mengetahui tentang Shirley terlalu banyak?"


"Itu bukan urusanmu."


"Tentu saja itu urusanku. Kalau ternyata kau stalker atau semacamnya, aku akan melaporkanmu sebelum keselamatan artisku terancam."


Lam mendengus pelan sebelum menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu cokelat besar dengan tulisan 'Ando Wallen' yang terpahat di depannya.


"Kita sudah sampai, dan aku bukan stalker."


Mengabaikan tatapan menyelidik Elly yang masih tertuju padanya, Lam mengetuk pintu dua kali, kemudian berkata keras,


"Pak. İni aku, Lam. Aku bersama nona Elly."


Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka dan memperlihatkan wajah hangat pak Ando dengan senyum bersahabatnya.


"Nona Elly? Kenapa anda tidak mengabari terlebih dahulu? Saya bisa menjemput anda dari pintu depan."


Elly tersenyum simpul.


"Terima kasih, pak."


"Ada yang ingin anda bicarakan, bukan? Ayo, silahkan masuk. Lam, kau boleh kembali. Terima kasih telah mengantar nona Elly."


Pak Ando bergeser ke pinggir mempersilahkan Elly memasuki ruangannya. Lam yang lega dan hendak berbalik terhenti oleh Elly yang meraih lengannya.


"Dia juga perlu ikut, pak Ando. Ini adalah hal yang kami berdua perlu bicarakan dengan anda."


"Eh? Berdua?"


"Sepertinya anda telah salah paham. Saya tidak mencari Lam ke BM hanya untuk memintanya mengantar saya ke ruangan anda. Jika begitu, saya bisa meminta salah satu staf yang pertama kali saya temui di lantai bawah."


Pak Anda tersenyum saat menimpali,


"Saya tahu betul perangai anda yang membatasi interaksi dengan orang yang tidak terlalu anda kenal."


"Anda benar. Tujuan pertama kedatangan saya kali ini benar benar mengunjungi Lam."


"Untuk apa?"


"Tidak bisakah kita duduk terlebih dahulu, pak?"


"Oh, astaga. Maaf, maaf. Silahkan masuk."


"Ayo." Elly menyentak pelan lengan Lam yang berada dalam setengah genggaman tangannya.


Lam berdecak pelan sebelum berbisik lirih,


"Tidak bisakah kau menyelesaikannya sendiri? Sepertinya ini akan jadi merepotkan. Aku tidak suka hal hal merepotkan."


"Ini usulmu. Kau harus bertanggung jawab," jawab Elly enteng sebelum melangkah masuk, tak lupa menarik paksa lengan Lam untuk mengikutinya.


Mereka duduk di sofa berhadapan langsung dengan pak Ando yang masih mempertahankan senyumnya.


"Jadi? Ada apa diantara kalian berdua?"


"Kami teman dekat sejak lama, pak."


Lam sempat berjengit saat tiba tiba, Elly merangkul bahunya dan menariknya mendekat. Rangkulan itu mengerat saat ia bergerak hendak melepaskan diri. Lam menahan diri untuk tidak mengumpat. Lengan kecil wanita ini tidak selemah kelihatannya. Tatapan takjub yang dilemparkan pak Ando padanya hanya dibalasnya dengan senyuman aneh. Oh Tuhan, apa pula dosanya hingga ia terjebak dalam situasi seperti ini.


"Benarkah?!"


"Benar, kan?" Elly kali ini menoleh padanya dengan senyum lebar yang membuatnya kesal setengah mati.


"Y, ya pak. Begitulah. Haha."


Akan jadi seperti apa sandiwara ini? İtu batin Lam yang bersuara.