Change

Change
4



"Lama banget lu datangnya, kita udah nunggu lama nih" -Nindy


"Maaf...maaf, gara-gara piket gak jelas itu" umpat Lexsa kesal.


"Lexsa piket?" tanya Michael menaikan sedikit alisnya.


"Jarang banget gue dengar hal kayak begituan" sahut Rahel mendadak.


"Malahan hampir gak pernah Lexsa piket kelas, kecuali..." -Nindy


"Kena marah sama bu. Dea" ujar mereka bertiga kompak.


"Masih ingat ya!" ujar Lexsa tersipu malu.


"Masihlah" balas Rahel cepat.


"Pesan makanan kek, gue udah laper nih" ucap Lexsa mengagetkan semuanya.


"Sama! gue juga merasakan hal yang sama kayak lu barusan" sahut Michael meniru.


"Mana daftar menunya?" tanya Rahel kepada Nindy.


"Tuh...di depan lu sendiri, masa nggak nampak?" jawab Nindy.


Rahel mengambilnya lalu membaca satu persatu daftar menu yang ada.


"Nggak ada menu yang baru" ujar Rahel kecewa.


"Alah banyak gaya lu, bilang aja duit lu nggak cukup buat beli yang lu suka" balas Lexsa.


"Dari dulu lu memang tahu gue banget ya, gue salut banget sama lu" ucap Rahel sambil menepuk punggungnya pelan.


"Pasti ada maunya nih" ujar Michael.


"Benar! kalau di puji tandanya..." -Nindy


"Minta di traktirin" balas Lexsa.


"Iya, kan?" tanya Lexsa kepada Rahel.


"Tepat!" jawab Rahel singkat.


"Ya udah berarti hari ini gue yang traktirin kalian semua makan besok giliran Rahel, setuju nggak?" jelas Lexsa.


"Setuju!"


"Gue harus pesan yang banyak nih" ucap Rahel pelan.


"Jangan terlalu banyak jugalah, nanti uang saku gue habis lagi" ujar Lexsa.


"Iya...iya, gue bercanda doang kok" jawab Rahel sambil tersenyum.


"Pelayan!" Teriak Rahel.


Pelayan itu menghampirinya segera sambil membawa buku catatan kecil di tangan kirinya dan sebuah pena di tangan kanannya.


"Saya pesan satu cappucino latte dan satu porsi omlet" -Rahel.


"lu apa?" tanya Rahel kepada Lexsa.


"Gue mau minum jus naga dan satu porsi ayam panggang" jawab Lexsa.


"lu?" tanya Rahel kepada Nindy.


"Gue mau minum milkshake dan satu porsi ayam bertutut" jawab Nindy.


"lo?" tanya Rahel kepada Michael yang asik bermain game online.


"Samain aja kayak lu" jawab Michael tanpa melirik ke arahnya.


"Itu aja deh kayaknya" ujar Rahel ramah.


"Di tunggu ya pesanannya" ucap Pelayan ramah.


"Iya" balas Rahel singkat.


"Game online terus! gak usah peduliin gue" sindir Rahel pelan.


Michael segera mematikan layar hpnya kemudian meletakkan hpnya di atas meja.


"Rahel kenapa? berantem sama Michael?!" tanya Nindy heran.


"Hel?" ujar Lexsa merasa aneh dengan tatapan Rahel kepada Michael di depannya


"Gue...gak berantem kok, cuma jaga jarak aja" jawab Rahel berhenti menatap Michael.


"Masa iya udah lama jadian masih aja kayak anak-anak" ujar Nindy peduli.


"Siapa yang kayak anak-anak? gue atau dia? hah!" tanya Rahel penasaran.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Lexsa kepada Michael penasaran.


"Waktu itu dia minta gue pakai baju dengan warna yang sama kayak dia, tapi gue pakai warna yang salah. jadinya dia marah-marah kayak gini deh sama gue, sampai-sampai gak mau duduk bareng-bareng lagi" jelas Michael panjang lebar.


"Cuma itu?!" jawab Lexsa terkejut.


"Hal yang simpel banget kayak begituan di jadikan bahan perkelahian" ujar Nindy.


"Astagah!" ucap Lexsa sambil menepuk jidatnya pelan.


"Apanya simple? malahan baju yang mirip itu adalah hal yang paling mendasar dan paling penting buat gue" ungkap Rahel sambil memayunkan bibirnya.


"Iya...iya, tapi kasihan Michaelnya" ucap Nindy.


"Kasihan? kenapa harus kasihan sama dia?!" tanya Rahel heran.


"Dia juga butuh waktu untuk merefleksikan dirinya dengan bermain game" jawab Nindy.


"Mm...benar" sahut Michael setuju.


"Berarti disini gue yang di salahin, gitu?" tanya Rahel cemberut.


"Gue setuju banget tuh sama omongan lu tadi" balas Michael antusias.


"Gue juga!" sahut Nindy setuju.


"Oke! gue udah baikan sama Michael, makasih atas omelan kalian yang sangat berguna buat gue" ucap Rahel sambil memeluk erat kedua sahabatnya.


"Hmmm"


Rahel melepaskan pelukannya begitu pula dengan Lexsa dan Nindy.


"Jangan berantem lagi ya..." saran Nindy.


"Iya..." -Rahel


"Permisi, gue mau duduk dekat Michael!" ucap Rahel.


Nindy mengubah posisi duduknya menjadi di samping Lexsa.


"Nggak marah lagi, kan?" tanya Michael.


Rahel mengelengkan kepalanya pelan.


"Nggak" ucap Rahel sambil mengambil hp Michael dan memberikannya ke Michael.


"Main gih" pintah Rahel sambil tersenyum.


"Entar aja habis pulang dari sini" jawab Michael.


"Nin!" panggil Lexsa di sebelahnya.


Nindy yang tadinya fokus pada layar hp di tangan kanannya kini menatap siapa yang berkata kepadanya.


"Mana Erjie?" tanga Lexsa penasaran.


"Kok tanyanya ke gue?" jawab Nindy.


"Lu pacarnya kampret!" balas Rahel gemas.


"Hehe..." -Nindy


"Hari ini katanya dia ada jamuan makan bersama dengan seluruh keluarganya, jadi gue biarin deh dia nggak ikut sama gue" jelas Nindy.


"Ooh"


Dua orang pelayan menghampiri meja mereka.


"Udah datang, udah datang!" sambut Rahel semangat.


"Ini pesanannya!" ujar Pelayan ramah.


"Makasih ya..." ucap Nindy sambil meletakkan hpnya di atas meja.


"Sama-sama"


"Punya gue...punya gue!!" ucap Rahel tak sabaran.


"Santai dong, lu bakal kebagian kok" ujar Nindy.


"Iya...sabar dikit napa" ucap Lexsa sambil menarik pesanannya ke hadapannya.


"Nih, punya lu!" ucap Nindy sambil memberikan pesanannya.


"Makasih" -Nindy


"Nih...makan yang banyak" ucap Rahel kepada Michael di sampingnya.


"Mm..." -Michael


Semua menikmati hidangan mereka masing-masing, sesekali terdengar omongan singkat dari Rahel kepada Nindy.


Sedangkan Lexsa berusaha untuk menghabiskan makanannya karena Lexsa tak bisa menahan nafsu makannya.


Beberapa menit kemudian...


"Gue balik ya, jangan lupa di bayar jangan lari loh!" tegas Rahel.


"Siapa juga yang mau lari?" jawab Lexsa sambil memeriksa uang di dalam dompetnya.


"Bye...Lexsa, Bye...Nindy" pamit Rahel berbarengan dengan Michael.


"Cukup?" tanya Nindy.


"Sepertinya cukup" jawab Lexsa.


"Yuk ke kasir!" ajak Nindy menarik tangan Lexsa.


...


"Jadi berapa total semuanya, Mbak?" tanya Lexsa penasaran.


"Total semuanya adalah tiga ratus lima ribu" balas kasir ramah.


"Ini Mbak" ucap Lexsa sambil memberikan sejumlah uangnya.


...


"Gue pulang dulu ya...lu cepat pulang sepertinya sebentar lagi akan turun hujan" pamit Nindy sambil menaiki motornya.


"Iya...gue tahu! hati-hati di jalan" ucap Lexsa sedikit mengeraskan suaranya.


"Hmm..." balas Nindy yang telah mengas motornya menjauhi Cafe tempatnya berada.


"Gue sendirian dan akan selalu seperti itu" batin Lexsa sambil berjalan menuju pemberentian bus.


...


"Apakah semalam ini masih ada bus yang datang?" pikir Lexsa bertanya-tanya.