
"ohh iyaa Zaa, sepertinya cara berbicara kita akhir akhir ini tidak biasanyaa," Rara merasa cara berbicaranya dengan Reza tidak seperti dulu yang menggunakan gue lu dan dengan nada yang ditinggikan.
"Tidak biasa seperti apa?" Tanya Reza yang justru bingung dengan ucapan Rara.
"Yaa, lebih pakai aku kamu dari pada gue lu," Jawab Rara santai.
"Ohh, biasa aja lo aja kali yang ke baperan," balas Reza dengan cool nan ketus. Justru Reza membalikan kata kata Rara sehingga Rara kesal atas jawaban Reza. Sebenarnya yang Reza tunjukan tidak seperti apa yang dia rasakan, rasanya Reza malu dengan pernyataan Rara yang katanya akhir akhir ini ia memakai aku kamu. Namun, segera ia tutupi dengan sejurus kata kata ketusnya.
Rara memajukan bibirnya tanda cemberut, dengan jahil Reza menaikan sebelah alisnya. Menggoda Rara adalah jurus andalan Reza, sangat seru melihat Rara merona merah lalu kesal karenanya.
"Kalo mau dicium bilang aja kan jadi mudah gak usah drama cemberut cemberut gitu," goda Reza.
Nihh orang punya berapa kepribadian sihh!. Batin Rara kesal.
"Gue gak mau!" Teriak Rara keras, sebal dengan Reza yang selalu membuatnya malu dan kesal. Huh! Menyebalkan.
"Apanya yang gak mau?" Tanya Stefan yang baru saja datang sambil menyampirkan jaketnya di sofa lalu duduk tepat disebelah Rara.
"Stefan! Sejak kapan lo balik?" Ucap Rara girang lalu dibalas senyum manis Stefan. Reza hanya melihatnya dengan tampang kesal sambil berpikir pikir tentang perilaku Rara yang berubah drastis. Sebelumnya Rara kesal dengannya tetapi begitu melihat Stefan kekesalan itu seperti hilang ditelan bumi.
Apa yang tadi itu juga karena Stefan? Sial gue kalah cepat. Batin Reza sambil mengepalkan tangannya.
"Baru saja aku balik," jawab Stefan yang amsih dengan senyuman lebarnya.
"Lo gak apa apa kan? Gak di pukul atau di apain kann?" Tanya Rara khawatir sambil mengecek ngecek tubuh Stefan. Khawatir ada bekas pukulan atau goresan karena Kak Olin yang begitu emosional. Stefan malah menjawab dengan gelengan kepala dan senyum manisnya yang selalu setia diberikan kepada Rara.
"Kalo gak tau apa apa diem gak usah sok sok an tau ada apa," Rara membalas timpalan Reza yang begitu ketus. Reza berdecih lalu menatap sinis Stefan dan pergi meninggalkan Rara dan Stefan berdua saja di ruang tengah.
"Yaudah kalo lo udah balik gue bikinin minum yaa," Rara bangkit hendak pergi ke dapur untuk membuatkan Stefan minum. Rara menebak nebak Stefan dan Kak Olin bertengkar, itu kenapa Rara mau membuatkan Stefan minum untuk menetralkan pikiran dan juga pastinya Stefan haus karena lelah bertengkar.
Stefan malah mencengkal tangan Rara dengan kuat mengajak Rara duduk kembali di sebelahnya.
"Gak usah Raa, yang sekarang aku pengen cuman kamu aja disebelah aku," ucap Stefan datar lalu menyenderkan kepalanya di bahu Rara. Walaupun Rara sedikit pendek tetapi Stefan masih bisa menjangkau kepalanya dengan bahu Rara. Setetes demi tetes Stefan menangis, ini pertama kalinya bagi Rara melihat Stefan menangis dalam diam. Stefan yang selalu pemberani dan menampakan senyum lebarnya seolah olah dialah yang paling bahagia di dunia kini terlihat lemah di hadapan Rara.
" Kakak lo menyakiti lo?" Tanya Rara khawatir melihat Stefan yang begitu lemah. Stefan membalas gelengan kepala, hal ini tidak boleh diberitahukan kepada Rara. Jika Stefan memberitahu kepada Rara pasti Rara akan membencinya dan Olin.
"Tidak apa apa, hanya saja tadi dijalan aku melihat seseorang yang mirip dengan ibu dan ayahku," dusta Stefan.
"Mau ke makam nyokap bokap lo? Mumpung kita masih di milan , makan nyokap bokap lu di milan kan?" Saran Rara dengan rentetan pertanyaan.
"Gak ada yang tersisa dari kecelakaan itu hanya ada abu dengan bangkai pesawat yang ada," ucap Stefan sedih. Rara menggerakan tangannya keatas kebawah pada lengan atas Stefan, menenangkannya.
"Beri mereka doa," saran Rara lagi kemudian diangguki Stefan. Stefan bangkit dari duduknya sambil menghapus air mata yang tersisa pada wajahnya kemudian mengajak Rara untuk kembali ke kamarnya, tidur karena waktu sudah larut malam. Mengantar Rara menuju depan kamarnya.
"Night Raa,"
"Night juga Stef," balas Rara lalu menutup pintu kamarnya, bersiap untuk tidur.
❄💭❄💭❄💭❄