
"Apa yang kau kat-" Lam tertegun oleh senyum yang dibuat oleh pemilik wajah disampingnya. Wajah menyebalkan dengan rambut pendek yang sering ditutupi topi olahraga dan selalu memasang ekspresi sinis atau merendahkan ini ternyata memiliki senyum yang luar biasa menenangkan hatinya.
"Aku bertaruh kau tak ingin Vino tahu pembicaraanmu dengan gadis berambut merah tadi."
"Ap, apa?" Ucapan tiba tiba Elly menarik Lam kembali dari lamunannya dan otomatis membungkam mulutnya sendiri dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Pipinya memanas. la tidak mendengar apa yang Elly katakan dan memberi respon seperti orang idiot.
"Hmph." Elly membungkam tawanya. Sepenuhnya menyangka kalau godaannya berhasil. "Aku akan memberitahukannya pada Vino jika kau berlaku tidak sopan," ujarnya dengan senyuman menantang sambil menyerahkan handphone kembali pada sang pemilik.
"Hah, tentang apa?"
Elly menaikkan satu alisnya. Apa pria ini sedang berpura pura? "Tentang kau yang mengatakan pada gadis penggantimu, 'Biarkan ia, ia kelelahan'. Padahal kau membenci
orang asing memasuki dan menduduki teritorimu."
Sekarang Elly sepenuhnya mendapat perhatian Lam. Tatapannya mulai menajam yang sayangnya tidak berhasil membuat Elly ciut. Mata Elly menyipit seakan menyelidik. "Kau mengkhawatirkannya, kan?"
"Oh Tuhan, kau benar benar pemancing emosiku. Itu karena dia model baru dan masih berada di bawah tanggung jawabku." Lam menyisir rambut depannya menggunakan jarinya dengan ekspresi lelah.
"Ya, ya, ya. Aku akan lebih percaya lagi kalau kau tidak protes saat suatu hari nanti aku memasukkan salah satu model barumu ke kantormu dan mempersilahkannya untuk meluruskan punggungnya di
sofamu." Seringai Elly melebar berkat nafas Lam yang bertambah cepat seiring ia menggertakkan giginya.
"Sekali kau lakukan itu, kupastikan kau akan membayarnya, nona manager yang terhormat." Suara Lam dingin. Sedingin es. Merayapi punggung dan leher Elly.
Elly memutuskan menyudahi godaannya. Ia mengakui kali ini ia merasakan takut di hatinya. Hal yang seumur hidup tak akan diakuinya tentunya.
"Menurutmu bagaimana Vino sekarang? Model rambutnya cocok untuknya, kan?" Elly melepas topinya dan mengibas ngibaskannya seperti kipas, tak peduli akan rambut pendeknya yang berantakan. Ia hanya mencoba terlihat santai dan tidak terintimidasi.
Lam memutar matanya. Sekali lagi takjub akan emosinya yang tak mudah meledak hari ini. Nalurinya berkata kalau ia sepertinya telah berubah menjadi manusia yang lebih baik. Tapi hal yang membuat Lam memutar matanya adalah fakta kalau wanita di sebelahnya sama sekali tidak menunjukkan daya tariknya sebagai wanita. Ya, bukan tidak punya. Karena Lam dapat melihat jelas wajah jelitanya. Akan lebih sempurna lagi jika yang menghiasinya adalah senyum malaikatnya yang tadi ditunjukkannya.
"Haah.." tak sadar Lam menyuarakan nafasnya.
"Apa seburuk itu?"
"Oh, Vino? Tidak juga. Kuakui aku tadi tidak terlalu memperhatikannya. Tapi kurasa ia tidak terlihat aneh."
"Kau terlalu fokus padaku, tuan staf." Seringai Elly kembali.
"Yeah. Kepalaku tadi hanya dipenuhi tentang bagaimana caranya memukul kepala seorang wanita tanpa harus dipecat dari pekerjaan."
Elly tertawa. Benar benar lepas. Entahlah, ia seperti tidak lelah sama sekali. Padahal seharian ini ia terus bekerja kesana kemari.
"Tapi kurasa aku tidak perlu meragukan hasil dari penata rias pilihan milik manager pribadi ambassador Rommy."
Elly menjentikkan jarinya. "Tentu saja."
"Nama keluargamu Fixon, bukan?" Lam yang fokus ke hpnya mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kenapa?"
"Akan kutambahkan dibelakang nama kontakmu. Agar tidak tertukar."
Elly berdecak. "Ada berapa Elly yang kau kenal memangnya?" Pertanyaan yang keluar tanpa pikir panjang.
Sayang Lam tak mendengarnya. "Ah, tapi kurasa nona manager lebih baik. Tidak akan pernah tertukar." Jari Lam menari di keyboardnya. Seringainya ikut keluar. Seakan ia baru saja terpikirkan suatu penemuan yang luar biasa.
"Terserah kau sajalah." Elly menghembuskan nafas lelah tepat sebelum handphonenya berdering.
"Itu nomorku", ujar Lam saat Elly membukanya.
"Aku tak memintanya."
"Aku juga tak memintamu menyimpannya.
"Kalau begitu tidak akan kusimpan." Handphone
Elly kembali ke sakunya dengan hampa.
"Fine. Sekarang ceritakan apa saja yang telah Vino lakukan di pekerjaan pertamanya."
"Kurasa tidak buruk. Ia punya potensi." Elly menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga sembari bersandar.
"Aku ingin detail yang singkat."
Elly berdecak. "Ck. Jangan beri aku perintah, tuan staf."
"Dan tolong jangan pancing emosiku, nona manager."
Mereka kembali bersitegang beberapa detik sebelum,
"Hmph, hahaha.."
Tawa yang mengalir dari keduanya. Lam dengan tawa kecilnya dan Elly dengan tawa lepasnya.
"Sepertinya kita tidak akan pernah mencapai inti pembicaraan." Elly mengusap matanya yang berair setelah tertawa. Lam menyetujui dengan memberi smirk andalannya.
"Mari adakan gencatan senjata." Lam menaikkan sebelah alisnya pada Elly yang menyodorkan tinjunya.
"Dilarang memancing emosi satu sama lain hingga pembicaraan selesai."
"Ok." Lam membenturkan kepalan tinjunya pada kepalan milik Elly.
"Baiklah. Dari mana aku harus mulai?"
Lam mengangkat bahu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Jadi, saat pemotretan dimulai.."
Flashback
"Oke, semua ready?!" Suara Billy menggelegar di studio tepat setelah Shirley keluar dari ruang rias dan menarik seluruh mata padanya. Vino yang sudah keluar dan menunggu lebih dulupun ikut terlonjak kaget oleh teriakan Billy karena terlalu terfokus pada aura Sang ambassador.
Shirley melangkah ke depan puluhan kamera dengan langkah profesional yang mantap, tatapan angkuh, dan senyum kecilnya yang seakan menyihir orang yang melihatnya untuk tunduk. Rambut panjangnya dibuat bergelombang dengan dibiarkan jatuh di belakang punggungnya, anak rambut membingkai kedua pipi sempurnanya, jidatnya yang terbuka memancarkan aura feminim sekaligus dominan. Dress hitam dengan corak
menahnya menyempurnakan penampilannya. Malaikat maut yang sedang jatuh cinta? Entahlah apa konsepnya, tidak ada yang peduli tentang itu sekarang.
"Dia seperti orang yang tidak kita kenal, bukan?"
suara Elly yang sebenarnya duduk di sebelah Vino terdengar amat jauh.
"Yeah." Vino meringis sambil menoleh padanya. Elly terkekeh sambil menggerakkan tangannya hendak mengacak rambut Vino, tapi berhasil menghentikan niatnya. "Ups, hampir saja. Aku lupa rambutmu sudah ditata."
"Haha." Vino yang gugup kembali membuat gerakan seakan memperbaiki kacamatanya.
"Jangan khawatir. Kau benar benar terlihat hebat." Elly mengacungkan dua jempolnya dengan ekspresi serius.
"Sepertinya pengaruh pakaian memang luar biasa. Manusia bisa merubah auranya hanya dengan merubah kostumnya," lanjutnya lagi masih dengan ekspresi yang sama.
"Ganti background!"
Teriakan Billy kembali terdengar disusul larian para kru kesana kemari. Pengambilan gambar memang berjalan mudah, cepat, dan lancar berkat Shirley yang fotonya selalu berhasil diambil bagus dari sudut dan angle manapun.
Tiba tiba Billy menoleh ke arah Vino dan berteriak,
"Kau anak muda, bersiap! Aku akan memberimu kesempatan di sesi ini!"