
Ulangan akhir semester telah usai beberapa hari lalu. Waktunya untuk menikmati liburan di penghujung tahun. Rara dan Reza berencana untuk pergi keluar negri, lebih tepatnya ke eropa. Rara ingin sekali pergi menengok ke daerah Italy, disebuah kotanya Milan. Namun, Rara ragu untuk membuka kedok yang sudah lama Rara kunci erat- erat dan menjaganya.
"Are you on vacation in the big castle? then pick up your past in milan. ( Apakah kamu jadi berlibur ke kastil besar? lalu menjemput masa lalu mu dimilan)," suara Merisa membuyarkan lamunan ketakutan Rara.
"I really wanted to pick him up but i was very afraid of it.. scared of squeezing both of them then made me difficult later on, ( Aku ingin sekali menjemputnya tapi aku sangat takut akan itu.. takut terhianati keduanya lalu membuatku sulit di kemudian hari)," Rara mulai bimbang dengan perasaannya yang sudah lama ia jaga.
"You are an adult so you know which one to choose (kamu sudah dewasa jadi kamu tau apa yang harus kamu pilih)" balas Merisa, mempercayakan pilihan Rara.
❄💭❄💭❄💭❄
"Ngapain sih lu bawa gue kesini?!" tanya Stefan pada Reza, sedari tadi malam hingga kini di pagi buta Reza terus memaksa Stefan yang berakhir di tanah Eropa kelahirannya. Reza memaksa Stefan terus menerus untuk menaiki pesawat jet milik Reza, lalu Reza mengemudikan pesawat jet miliknya dengan entengnya itu membuat Stefan terus saja menggelengkan kepala melihat tingkah Reza yang bossy nan pamer itu.
"Liburan bertiga sama Rara."
"Rara ada disini?" tanya Stefan lagi yang kemudian di jawab gelengan oleh Reza.
"Nanti lo juga tau," jawab Reza masih dengan wajah datarnya.
Reza tersenyum sebelum merogoh ponselnya di celana bagitu ia selesai berbicara. Reza kemudian segera mendial nomer seseorang sebelum melekatkan ponselnya itu pada telinganya.
"Rara Caesar, my baby honey..," sapa Reza dengan nada menyebalkan sesaat setelah panggilan itu terhubung.
"Sebentar lagi orang orang gue bakal jemput lu. bersiaplah atau liburan lo kali ini akan kandas begitu saja." Reza mengeluarkan ancaman pada wanita disebrang sana. Semua itu agar Rara mau menuruti perkataannya.
"....."
"Gue gak ngancem lu hanya saja liburan lo suram gak ada arah.. disini Stefan juga udah nunggu lo," balas Reza asal. mata lelaki itu lantas melihat arloji ditangannya yang menunjukan pukul dua pagi. lumayanlah.
"Lagipula, suara lo masih terdengar segar. jadi yakin gue kalo lo masih belum tidur sama sekali. So, bersiap..gue nunggu lo disini, Sayang."
❄💭❄💭❄💭❄
"Nama gue Rara ! bukan Sayang!" pekik Rara pada ponsel ditelinganya. Tapi terlambat, panggilan itu bahkan sudah terputus sebelum Rara menyelesaikan ucapannya.
Dasar ES!
Rara benar benar tidak habis pikir setan apa yang sedang ia hadapi sekarang. Reza sangat luar biasa. Rara pikir lelaki itu akan membaik namun setelah sikap dingin yang diberikan pada Rara kini sikapnya berubah menyebalkan, suka mengatur dan tidak suka di tentang.
Lantas membuat Rara lupa, setan tetaplah setan. Lucifer tidak akan berubah menjadi Gabriel hanya dalam satu malam. Dan itu dibuktikan dengan Reza yang dengan seenaknya memerintah plus mengancam Rara hanya berselang satu hari sejak lelaki itu menghilang dari ujung hidungnya.
Bahkan Rara masih baru saja ada disini.. dengan Luna. Bagaimana Rara bisa meninggalkan Luna sekarang? Raralah yang berniat menginap dirumah Luna.
Rupanya berhadapan dengan Reza Devano Caesar benar benar masalah, membuat Rara menyesal dengan keputusannya yang telah ia ambil. Seharusnya Rara tidak menyetujui surat apapun namun karena itu adalah rekomendasi dari Mommynya dengan terpaksa Rara menyetujuinya. lalu Rara mulai pelan pelan menerimanya walau hatinya masih terpaku dengan laki laki yang selalu berada dalam mimpinya. Masa lalunya.
penyesalan memang selalu dibelakang, Rara!
"Lo mau kemana, Raa?"
Rupanya gerakan Rara untuk mengambil tasnya yang terletak di nakas sebelah ranjang Luna membuat temannya itu tebangun. Temannya itu sepertinya terus siaga mengenai segala gerakan disekitarnya. sebelumnya memang Luna sudah tertidur dan Rara hanya memandanginya sebelum ia keluar rumah untuk menjawab telpon dari Reza.
"Si Es nyuruh gue pergi liburan sama diaa maksa pula," jawab Rara sambil menunjukan wajah sebalnya membuat Luna tertawa kecil melihat sikap yang ditunjukan Rara padanya.
"Bukannya itu yang lu tunggu tunggu," goda Luna dan benar saja itu membuat pipi Rara memerah.
"Nggak... ya tuhannn.." bantah Rara. Luna terus saja tertawa kecil melihat sahabatnya itu menahan perasaannya terhadap Reza, selalu menutupinya.
"Seriuss.." goda Luna lagi. Pipi Rara semakin memerah menahan malu.
"Serius Lun!" bantah Rara dengan menutupinya dengan wajah normalnya.
"Iya dehh kalo masih mau ditutupin," balas Luna sambil tersenyum miring.
"Yaudah gue balik dulu, jangan kangen gue, bye."
"Bye, jangan lupa oleh olehnya," celetuk Luna.
"Iya, bawel."
❄💭❄💭❄💭❄