
Sesampainya di rumah Rara. Rara mengajak Reza untuk masuk agar ia bisa mengobati luka di wajah Reza, sedangkan Stefan mengikuti Rara dan Reza tepat dibelakang.
"Lo ngapain nyintilin gue," ucap Reza ketus.
"Ge..er lo! Gue nyintilin Rara bukan lo! Mau banget yaa gue cintilin," balas Stefan membuat wajah Reza sedikit memerah menahan amarah.
"Rara pacar gue! Jadi lo gak berhak nyintilin pacar orang," Reza memasang wajah yang amat sangat dingin.
"Udahlah, kalian baikan," Rara menengahi perdebatan Reza dan Stefan yang baru saja dimulai sambil duduk di sofa empuk ruang keluarga. Reza dan Stefan ikut duduk di samping Rara lalu melanjutkan perdebatannya. Namun, beberapa menit kemudian Kakek Ray dan Nenek Merisa datang karena kebisingan mereka.
"Ada apa ini ribut- ribut," ucap Nenek Merisa yang tiba- tiba saja masuk.
"Halo, Nek!" sapa Stefan membuat Nenek Merisa dan Kakek Ray melotot kaget atas kehadiran Stefan.
"Stef!?," panggil Nenek Merisa pelan namun penuh penekanan. Stefan membalas panggilan Nenek Merisa dengan wajah polosnya.
"Yaa tuhan! Bagaimana aku bisa melihat setan berwujud manusia ini," ucap Merisa yang dilanjut kekehan dari Stefan dan Rara, sedangkan reza terdiam tidak mengerti apa yang mereka ucapkan dan tertawakan.
"Ini aku, Nek. Stefan," Merisa menatap Stefan tidak percaya karena dia dan Rara lah yang menghadiri upacara pemakaman Stefan, tepat di depan mata dengan tangisan yang menderai. Jika di ingat- ingat lagi Rara lah yang sangat kehilangan karena upacara pemakaman Stefan bersamaan dengan berita duka kematian Mommya. Maura. Setelah beberapa hari kemudian, Rara terkena gangguan mental (Depresi) yang membuatnya mudah marah dan yang paling parah melupakan semua ingatan tentang masa lalunya yang kelam, bahkan kini Rara masih mengidap gangguan mental (Depresi) tersebut.
"Nek!," panggil Stefan membuyarkan lamunan Merisa, sedangkan Rara sibuk mengobati luka di wajah Reza.
"Bagaimana bisa kau masih hidup?," Tanya Kakek Ray yang sedari tadi mematung karena kehadiran Stefan.
"Kalian mengenal, Stefan? Dia murid baru disekolah ku," ucap Rara pada Neneknya dan juga Kakeknya.
"Aku memang masih hidup, Nek, Kek. Hanya saja aku Koma selama 2 tahun lamanya," jawab Stefan yang langsung mendapati wajah kaget Merisa dan Ray.
"Apakah kau lupa, Ra!?," Tanya Merisa pada Rara yang masih menatap bingung.
"Ntahlah, seolah- olah perasaanku sedag dimainkan. Aku sangat merindukan Stefan sampai menangis tetapi aku lupa siapa Stefan dan juga suaranya sangat mirip dengan bayang bayangku yang sering mengitariku. Itu membuat ku sangat sedih," jawab Rara polos.
"Kamu lupa denganku, Ra?,"Tanya Stefan dengan wajah yang sedikit sedih yang dilanjut tawa ledek dari Reza.
"Mantan itu emang harus dilupakan," timpal Reza lalu dibalas tinjuan kecil Stefan. "Sialan!" gerutu Stefan pelan.
Rara terdiam tidak menjawab pertanyaan Stefan, ia sibuk mengompres rahang Reza yang lebam karena tonjokan. Namun, hatinya tidak sesuai dengan ekspresinya. 'Maaf Fan gue lupa sama lo, tapi bayangan lo selalu ada di mimpi gue, dengan suara yang sama. Namun, wajah yang selalu tertutupi dengan bayang- bayang.. disisi lain gue sudah memiliki sedikit perasaan pada Reza, tapi jujur gue penasaran dengan lo dan juga gue penasaran sama kisah cinta dan gue' batin Rara.
'Tapi gue takut dengan menggali masa lalu, semakin gue berdiri di dua cinta dan gue akan sulit memilih," batin Rara lagi.
❄💭❄💭❄💭❄
Seminggu berlalu, cepat bagaikan kereta express. Namun, Stefan masih saja mengikuti Rara dan berusaha membuat Rara teringat padanya.
"Raa, kamu ingat gak? Kita pernah makan Ice Cream berdua..kayak orang itu," Stefan terus saja berusaha mengingatkan kejadian masa lalu yang pernah ia dan Rara lalui.
"Dibilang gue gak inget!," bentak Rara kesal karna sudah seminggu lamanya , ia berhadapan dengan Stefan. Itu membuat Reza sedikit menjauhi Rara dengan alasan sibuk. Padahal Reza tengah cemburu melihat Stefan yang terus mengejar - ngejar Rara.
"Apa kamu mau kubawa ke taman itu? Biar ingat semua perjanjian kita," Tanya Stefan yang masih saja menekan Rara untuk ingat.
Bulir air mata Rara turun setetes demi setetes, itu membuat Stefan panik dan sedikit senang karena ada harapan Rara untuk ingat denganya. Kisah masa lalunya. Dan Milan.
"Gue capek, Fan," lirih Rara.
"Please, go away from me," lanjut Rara sambil mengelap air mata yang menetes pada wajah cantiknya itu.
"Why?," Tanya Stefan dengan tatapan sendu.
Belum sempat menjawab pertanyan singkat Stefan nama Rara terpanggil pada Speaker sekolah yang terletak disudut setiap ruangan. Bukan hanya namanya tapi nama- nama sahabatnya ikut terpanggil, kecuali Angel.
"Maaf, Fan. Gue harus ke Ruang OSIS sekarang.. nama gue dipanggil, tuh," ucap Rara yang bangkit lalu pergi meninggalkan Stefan sendiri
"Sampai kapan,Ra?," gumam Stefan sambil menatap punggung Rara yang sedikit demi sedikit menghilang.
❄💭❄💭❄💭❄
Sudah sepuluh menit berlalu sejak kedatangan Rara. Ruang OSIS masih saja menampakan suasana tegangnnya. Kak Angel sebagai Sekretaris OSIS terus saja memarahi Rara, Luna dan juga Sarah. Terlebih lagi Reza yang menatap tajam nan dingin membuat siapa saja akan bergelidik ngeri melihatnnya.
Kak Angel mendorong Rara maupun sahabat Rara untuk segera keluar dan menerima hukuman.
"Berhenti!," seru Reza dengan suara dinginnya ketika Rara hendak keluar bersama sahabat- sahabatnya itu. Sarah sangat ketakutan sambil meremas roknya menahan rasa takutnya. Sedangkan Rara memohon dalam batin agar Reza meringankan hukumannya karena dirinya adalah kekasih Reza.
"Kenapa, Zaa?," Tanya Kak Angel melembut karena takut terkena amukan Reza.
"Biar gue aja," jawab Reza singkat dan jelas. Kak Angel mengangguk mengerti.
'Mati Gue!' umpat Sarah dalam hati.
"Ke lapangan sekarang!," seru Reza dengan cepat Rara, Luna dan Sarah berlari ke lapangan mengikuti intruksi dari Reza.
Di lapangan Rara, Luna dan Sarah dibuat kebingungan karena reza yang belum menampakan dirinya, memberi intruksi tanpa memberi hukuman. Umpatan demi umpatan terlontarkan pada bibir cantik Rara, Luna dan Sarah.
"Tega banget si batu es nyuruh ke lapangan di siang bolong gini," umpat Luna.
"Tau tuh.. gak punyahati emang.," timpal Sarah yang langsung diangguki ketiganya.
"Kejam banget dari tatapannya aja," gerutu Rara yang disetujui para sahabatnya. Tanpa mereka sadari seorang laki- laki tengah memperhatikan mereka dari balik badan.
"Lari dua puluh putaran!,"
Lagi- lagi Rara dan kedua sahabatnya itu dibuat terkejut dengan suara yang sangat dekat itu. Mereka berbalik dan baru menyadari reza yang sudah siap memberi hukuman.
"Tapi kak kita gak bawa baju olahraga," kata Luna beralasan. Luna sangat- sangat menolak untuk berlari disiang bolong begini, bisa- bisa badannya hitam dan bau setelah selesai berlari. Terlebih lagi putaran yang Reza berikan sangat berat untuk ukurannya karena lapangannya sangatlah luas.
"Masa nanti aku masuk kelas keringetan. Bisa- bisa pada ngejauhin aku karna bau," timpal Sarah yang sama- sama tidak setuju dengan hukuman yang Reza berikan.
"Lari sekarang!," seru Reza dengan nada ketusnya.
Baru saja Rara membuka mulut kembali membantah. Namun, ucapan yang keluar justru bertolak belakang dengan kata hatinya. "Iya."
"Sadis banget!," gerutu Rara yang jelas- jelas didengar Reza.
"Masih ada yang mau kalian omongin sebelum mulai lari?," Tanya Reza bernada menyindir.
"Nggak. Kita lari nih sekarang," buru- buru Rara dan kedua sahabatnya itu berlari mengitari lapangan yang sangat luas.
Bagaimana ini? Rara gagal menahan diri untuk tidak mengumpat. Rara yakin Reza mendengar jelas semua umpatannya tadi. Rara jadi tidak berani lagi menoleh kea rah cowo itu.
Semua baik- baik saja untuk lima putaran pertama. Walau peluh sudah memenuhi kening, Rara dan kedua sahabatnya itu masih punya tenaga untuk berjuang berlari lima belas putaran lagi.
Rara memberanikan diri menoleh kea rah Reza tadi. Namun, cowo itu sudah tidak ada disana. Rara mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan tetap tidak berasil menemukan Reza. Rara hanya melihat ada Angel yang memberi semangat dipinggir lapangan.
Seketika Rara menghela napas lega karena tidak lagi merasa diawasi dan kalau lelah Rara bisa menyudahi putaran ini begitu saja. Toh, Reza juga tidak memperhatikan.
Tenaga Rara sudah hampir habis setelah berlari sepuluh putaran. Sedangkan kedua sahabatnya sudah selesai berlari genap dua puluh. Masih setengah jalan lagi dan gerakan Rara semakin melemah. Keringatnya bahkan sudah berceceran diubin lapangan, Sebelum kemudian menghilang tersengat teriknya sinar matahari.
Rara baru saja berniat menyudahi usahanya ketika memasuki putaran kelima belas. Namun, seseorang yang tiba- tiba bergabung dengannya dilapangan sambil menyodorkan air mineral. Ya seseorang itu Alex, sahabat Reza. Alex memberikan air mineral pada Rara.
"Nih, buat lo,"ucap Alex sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Makasih, tapi saya sudah bawa," tolak Rara. Namun, sebenarnya Rara ingin sekali meminum habis air mineral itu. Tetapi, Rara tetap ingin jual mahal untuk menjaga Imagenya.
"Serius? Gak mau nih..? gue minum yaa," goda Alex yang melambatkan larinya membuat Rara ikut melambat.
Baru saja Rara membuka mulut untuk mengatakan 'Jangan.' Namun, ucapannya yang keluar justru bertolak belakang dengan batinnya. "Silahkan."
"Udahlah, gue maksa soalnya lo udah kelihatan capek," ucap Alex sambil meletakan sebotol air mineral ditangan kosong Rara. Seketika Rara maupun Alex berhenti dari larinya.
Rara mengangguk lalu membuka botolnya dan meminumnya perlahan.
"Siapa yang suruh lo berhenti lari?,"
...