
" Kakek Ray terlihat sangat lelah sekali, sebaiknya Kakek istirahat saja.. ini dibicarakan besok pagi bisa..ketika menjemput Rara besok, saya akan datang lebih awal" ucap Reza bijak.
"Tidak!! Aku ingin dibicarakan sekarang " bantah Merisa.
"Baiklah, kita bicarakan sekarang" ucap Kakek Ray pasrah.
"Saya ingin kalian berdua segera bertunangan" tegas Merisa membuat Rara dan Reza melebarkan mata kaget.
" aku tidak mau" bantah Rara.
"Raa—" ucapan Rico terpotong.
"Apa!? Lo mau bilang disuruh Mommy di alam kubur, HAH!" Rara memotong ucapan Rico sambil berteriak marah. Kini emosi Rara meluap habis.
"Bukan, gue dukung lo, kalo lo nolak" Merisa melotot kea rah cucunya Rico karena tidak mendukungnya.
"Ini Indonesia bukan Negara kita yang diluar sana.. kenapa Nenek Merisa dan Kakek Ray menginginkan kami segera Bertunangan? Kalian tahukan Adat kebiasaan Bertunangan kita? Kamu akan tinggal satu rumah dan bahkan satu kamar.. bagaimana jika pihak sekolah tahu? Dan murid – murid sekolah tahu? Apakah kalian tidak memikirkannya?" ucap Reza panjang lebar dengan rentetan pertanyaan.
"Soal sekolah, aku akan membayarnya agar tutup mulut, dan soal murid akan jadi urusan kalian" balas Kakek Ray.
"Baiklah, Bagaimana kita bicarakan pada keluarga saya juga?" Saran Reza dan berharap keluarganya tidak menyetujui rencana gila ini.
"Kedua orangtuamu sudah menyetujui..apalagi Dira, dia sangat senang mendapat menantu cantik seperti Rara" balas Kakek Ray.
"Tapi Kek, setelah saya lulus SMA, Saya akan kuliah di Germany. Bagaimana dengan Rara?" Reza terus saja mencari – cari alasan agar rencana gila ini tidak terlaksana.
"Nah, dengan begitu..jadi kau tidak bisa main – main dengan sembarang perempuan dan kau tidak bisa menjalin hubungan kembali dengan Vely" alasan demi alasan terus saja muncul solusinya di mulut Ray, karena Ray sudah mennyiapkan seribu alasan dari jauh jauh hari.
"Memang Vely masih hidup?" Tanya Reza melemah ketika nama Vely terlontar dimulut Kakek Ray. Merisa dan Ray mengangguk pelan. Sedangkan Rara terdiam dengan pikiran yang penuh.
"Tadi, aku dan Reza bertemu Vely di Mall" ucap Rara melambat, tidak berdaya. Merisa dan Ray melotot kaget lalu mengambil tindakan.
"Keputusan sudah final besok kalian akan bertunangan, aku akan menyiapkan semua keperluannya, kalian tinggal hadir sebagai pemeran utama saja" tegas Kakek Ray sambil menggebrakan meja pelan.
"Tapi—" ucapan Rara terpotong dengan Merisa yang sudah menunjukan wajah merah menahan marah.
"tidak ada tapi- tapian, aku ingin hubungan kalian selamat dari Si cabai hijau itu" Rara dan Reza hanya terdiam, mereka tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Rara bangkit lalu berjalan lemah menuju kamarnya kemudian tertidur pulas dikasurnya berharap semua beban pikirannya hilang.
❄💭❄💭❄💭❄
Pagi ini Rara dan Reza berangkat sekolah dengan diam. Pembicaraan tadi malam membuatnya kehabisan kata- kata.
"Jangan banyak gerak nanti kecapean.. wajahmu pucat sejak pembica—" ucapan Reza terputus ketika tiba didepan kelas Rara.
"Iya" balas Rara lalu berbalik memasuki kelasnya. Sedangkan Reza berbalik lalu melangkah menuju kelasnya.
" Lo kenapa Ra?" Tanya Angel, teman sebangkunya.
"Gak apa- apa. Lagi banyak pikiran aja" jawab Rara lemah.
"Gak mau cerita?" Angel berusaha mengurangi beban pikiran Rara sambil menebak- nebak masalah Rara dalam pikirannya.
" Gue gak apa- apa kok" secara tiba- tiba air mata mengalir deras pada wajah cantik Rara, membuat Angel bingung dengan Rara yang tiba- tiba menangis. Isakan Rara membuat Sarah dan Luna yang sedang sibuk menyalin tugas menoleh lalu memasang wajah khawatirnya.
"Lo apain, Jel?" seru Sarah.
Angel menggelengkan kepala tanda tidak tahu. "Sumpah gak gue apa- apain. Tiba- tiba nangis."
"Lo kenapa Raa?" Tanya Luna. Rara membalas dengan gelengan kecil, ini bukan masalah yang harus diceritakan secara terbuka. Bahkan, masalah ini tidak boleh ada yang tahu.
"Nggak apa- apa, lagi sedikit pusing aja" jawab Rara beralasan. Namun, alasan Rara tidak membuat Luna percaya, mana mungkin pusing membuat Rara menangis, pasti ada sesuatu.
Seorang guru memasuki kelas Rara dengan membawa beberapa guru lalu memulai pelajaran dengan hangat. Namun, secara tiba- tiba Luna mengangkat tangannya dan memberitahu keadaan Rara yang sedang Drop.
"Apakah benar begitu Rara?" Tanya guru itu memastikan lalu Rara membalas dengan anggukan kecil.
Rara berharap gurunya akan menyuruhnya pergi ke UKS karena hari ini Rara benar- benar malas mengikuti mata pelajaran apa pun, kalau pun masih bertahan didalam kelas percuma karena saat ini otaknya tidak sanggup menerima pelajaran.
"kalau begitu, istirahat di UKS Ra, daripada nanti sakit kamu makin parah. Luna temani Rara yaa karena UKS sepi.. dokter yang berjaga sedang berhalangan hadir" usul guru tersebut.
" Baik, Buu" balas Luna yang segera bangkit sambil menuntun Rara.
"Kenapa gak gue aja cobaa.. kan lumayan bisa madol pelajaran" keluh Angel yang langsung mendapatkan senyuman mengejek dari Luna.
Alex menggendong dan membawa Rara menuju UKS, membaingkan tubuh Rara pada kasur UKS. Luna yang sangat khawatir langsung mencari minyak kayu putih didalam UKS.
"Rara kayaknya lagi ada masalah" ucap Luna sembari mengarahkan minyak kayu putih ke hidung mancung Rara.
"Reza juga dari tadi diem. Kayak ada masalah yang dia pikirin" balas Alex.
" Atau jangan- jangan mereka putus" tebak Luna.
"Bisa jadi, tapi tadi pagi gue liat masih barengan" balas Alex.
"Oh iya, thanks yaa Kak"
"Yoi!" Alex pergi dari UKS lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang OSIS. Rara terbangun dari pingsannya dalam keadaan diam, rasa yang Rara rasakan tetap sama, pikiran penuh tanpa hilang sedikit pun.
Sudah 20 menit berlalu sejak Rara terbangun. Namun, suasana UKS tetap sama sepi tanpa kata. Sebenarnya Luna mempunyai rentetan pertanyaan pada benaknya tapi sulit ia keluarkan.
" sebenarnya ada apa, Ra? Kalo ada masalah bilang gue jangan dipendem ntar stress" Luna akhirnya angkat suara. Bulir air mata mengalir sedikit demi sedikit di wajah cantik Rara. Pertanyaan Luna membuatnya teringat dengan kejadian tadi malam dan copy-an surat yang diberikan Rico tadi pagi. Rasa sakit atas janji yang pernah ia katakana pada masa lalunya secara tiba- tiba menghantuinya kembali.
flashback on
"Stef, lihatlah sepasang suami istri itu yang sedang bermesraan di bawah rindangnya pohon walau usianya sudah cukup tua,"Stefan tersenyum tipis kea rah Rara.
"Bagaimana kita membuat janji, kamu tulis janji kita dikertas ini lalu simpan di kotak peti ini dan kita kubur dibawah pohon rindang itu," Stefan menyodorkan kertas kosong sambil menunjukan kotak peti tua.
"Janji untuk apa?," Tanya Rara yang Nampak bingung atas perkataan Stefan mengenai janji secara tiba- tiba.
"Untuk bersama sampai ajal memisahkan."
"Okay," Rara menuliskan janjinya begitu pun Stefan lalu mereka memasukan kertas janji mereka pada kotak peti kosong yang sudah disiapkan Stefan dan menguburnya dibawah pohon rindang.
"Ayo, pulang langit sudah mulai gelap" Stefan berjalan mendahului Rara untuk menyebrang menuju mobil yang terparkir di sebrang jalan. Namun, tiba- tiba—
BRAAK!!
flashback off
Panggilan Luna membuyarkan lamunan Rara tentang masa lalunya tanpa Rara sadari lamunannya membuat air matanya mengalir sangat deras dan itu membuat Luna cukup panik.
"Raa, cerita biar lo lega" bujuk Luna lagi.
" Gue dijodohin, Lun" balas Rara lemah.
" Sama?' Tanya Luna penasaran.
"Reza" suara Rara makin melemah.
" Baru dijodohin doang, belom Nikah gak usah diambil pusing, Raa" ucap Luna santai.
" Nanti malam, Lun."
"Nanti malam apa?."
"Janji bantu gue biar orang gak tau, ini hanya lo yang tau."
"Iyaa."
" Gue bakalan Tunangan sama dia nanti malam," ucapan Rara tidak membuat Luna kaget sedikit pun.
" Baru Tunangan doang.. belom Nikah" balas Luna santai.
" Tunangan adat luar itu tinggal satu rumah dan bahkan satu kasur" jelas Rara yang gemash karena Luna masih tetap santai.
"WHAT! LO—" balum selesai Luna berteriak, Rara dengan gesit membekap mulut Luna.
"Bacot! Dibilang jangan sampe orang tau" amuk Rara.
" Apa yang gak boleh orang tau?" Tanya seseorang di ambang pintu UKS.
WATTPAD: @liekaleo
INSTAGRAM: @lieka_leo