Change

Change
1



"Hidup gue adalah urusan gue! mending lo jangan ikut campur deh" ucapan yang selalu Lexsa katakan ketika tindakannya dilarang Fiano.


gadis yang berumur enam belas tahun ini telah hidup sendirian selama enam tahun setelah kepergian kedua orang tuanya.


entah kenapa Lexsa selalu kesal ketika urusan pribadinya di campuri oleh Fiano teman semasa kecilnya. tidak hanya teman masa kecil bahkan Fiano juga tinggal di samping rumahnya.


satu bulan yang lalu Lexsa mau mengikuti balap liar, seseorang telah merusak motor kesayangannya.


siapa lagi kalau bukan Fiano, hanya dia yang selalu seperti itu kepada Lexsa.


"Fiano!! lo mau cari mati ya?!"


ujar Lexsa saat mengetahui motornya telah kehilangan dua roda di depan dan di belakang.


besok adalah hari pertama Lexsa masuk sekolah menengah atas. sebenarnya dua hari yang lalu adalah hari pertamanya masuk sekolah tapi karena mata yang tak sanggup menahan rasa kantuk akhirnya di tunda.


Derrttt...


bunyi alaram di kamar Lexsa. Lexsa mematikan alaramnya, bukannya bangun dan bersiap-siap malah kembali tidur nyenyak.


siapa yang bakal tidak ngantuk, Lexsa kemarin pulang tengah malam bukan tengah malam sih tapi lebih tepatnya menjelang subuh. entah mengapa dia selalu seperti itu.


Ting...tong...ting...tong


suara bel dari depan pintu masuk rumah Lexsa."nih anak belum bangun juga, ya!" guman Fiano kesal.


"Lewat pintu belakang aja!" ide Fiano sambil berlari cepat ke arah pintu belakang.


Fiano telah memasuki rumah Lexsa, pelan-pelan Fiano berjalan menelusuri kamar Lexsa sambil membawa air di dalam gayung.


"bagus! pintunya gak di kunci" kata Fiano. Fiano memasuki kamar dan berdiri di samping tempat tidur Lexsa.


"Lexsa bangun!" teriak Fiano.


suara teriakan Fiano sama sekali tidak berguna untuk kuping Lexsa yang tebal.


"Jangan salahkan gue" ucap Fiano sambil menyirami muka Lexsa dengan air yang di bawanya dari kamar mandi.


sontak membuat Lexsa terjaga dari tidurnya, Lexsa menatap tajam Fiano.


"Lo gila ya! jadi basahkan selimut gue" ujar Lexsa kesal.


"Gue kan udah bangunin lu! lu aja yang tidurnya kayak kebo" jawab Fiano santai.


"Pokoknya gue nggak mau tahu, lo harus keringin selimut gue!" pintah Lexsa beranjak dari kasurnya.


"tenang aja" ucap Fiano seraya mengambil selimut Lexsa dan menjemurnya di lantai atas.


Fiano turun ke lantai bawah, kembali ke kamar Lexsa.


"dimana dia?" pikir Fiano bingung.


"Maafkan gue Fiano!" ujar Lexsa dari balik pintu.


Lexsa mengunci dengan cepat pintu kamarnya, berlari secepatnya dari sana.


"Eh...Lexsa bukain pintunya! ntar gue telat nih" teriak Fiano yang sama sekali tidak terdengar oleh Lexsa.


"Gimana nih? lima menit lagi masuk!" Pikir Fiano panik.


"jendela! ya...lewat jendela aja" ide Fiano.


Fiano berhasil keluar dari dalam kamar Lexsa tinggal mencari bus untuk berangkat ke sekolah.


di sekolah...


"Apa enaknya sekolah? nggak asik!" pikir Lexsa sambil mencari dimana letak kelasnya.


"Hei! lu keren amat dah" ucap Teo yang tak lain adalah Ketua geng Blaster.


Lexsa tak menghiraukannya sama sekali, ia terus berjalan sampai berhasil menemukan dimana letak kelasnya.


"Lu di kelas mana? sama nggak sama gue?" tanya Teo ramah.


"Gue belum pernah kayak beginian sama cewek lain, cuma lu doang!" ucapnya lagi.


"Lu, Cuek amat deh!" ucap Teo menyentuh rambut Lexsa yang terikat kuat.


dengan cepat Lexsa memutar tangan Teo searah jarum jam.


"Auh!! sakit...sakit, lepasin tangan gue!" ucap Teo memelas kesakitan.


"Makanya jangan macam sama gue!" ujar Lexsa belum melepaskan tangan Teo.


"L**epasin tangan gue!" ujar Teo menahan rasa sakit.


"Gue cuma butuh satu kata!" pintah Lexsa di kupingnya.


"Apa?!" tanya Teo penasaran.


"MAAF!" ujar Lexsa mengeraskan suaranya.


"gue?" kata Teo.


"Iyalah! kan lo yang cari masalah sama gue duluan" kata Lexsa.


"Apa? gue nggak kedengaran, gue budeg" tanya Lexsa.


"MAAF!!" teriak Teo.


"Cowok pintar!"


Lexsa melepaskan tangannya, ia telah mendapati dimana letak kelasnya.


Lexsa berdiri di ambang pintu, kakinya berat untuk masuk ke dalam kelas.


"D**ua tahun mendatang, gue bakal kayak mana, ya? apa gue langsung di pecat menjadi murid? atau?" pikir Lexsa.


"N**gapain berdiri di sana? kayak nggak ada kerjaan aja" ujar salah satu murid.


"Hehe..." jawab Lexsa tersipu malu.


Lexsa mencari-cari tempat duduk, sayangnya tak satu pun kursi yang kosong untuk di dudukinya.


"Hei! lu duduk disitu" pintah seorang cowok yang berdiri di samping Lexsa.


"Thank ya!" jawab Lexsa sambil segera duduk disana.


Lexsa merebahkan kepalanya, lipatan tangan di gunakan untuk penganti bantal kesayangannya.


ZZzz...


"Kapan dia datang?" tanya Fiano kepada teman di depan mejanya.


"Dua menit yang lalu" jawabnya.


Fiano duduk di sebelah Lexsa karena itu memang kursinya.


"Pelajaran hari ini di mulai dengan absen terlebih dahulu" ucap bu. Rara selaku guru matematika.


"Bla.. bla...bla" ujar bu. Rara panjang lebar.


"Fiano" panggil bu. Rara.


"hadir bu!" jawab Fiano singkat.


Bla...bla...bla


"Lexsa" panggil bu. Rara pelan.


"Lex, bangun!!" ujar Fiano di sampingnya.


Fiano menyengol siku Lexsa dengan tangan kirinya. Seketika Lexsa terbangun dari tidurnya.


"Ha...hadir bu!" ucap Lexsa terbata-bata.


"pelajaran di mulai! buka buku halaman 21" pintah bu. Rara kepada semua murid.


semua murid mengikuti perintah bu. Rata terkecuali Lexsa.


"Kok lo gentayangan dimana-mana sih!" bisik Lexsa kesal.


"gue juga punya hak untuk sekolah, emangnya lu aja yang bisa! gue juga bisa kali" jawab Fiano tanpa melirik ke arahnya.


"Memang benar lo punya hak untuk bersekolah, tapi gak samaan juga kali sama gue" bisik Lexsa tambah kesal.


"Gue juga nggak suka sekolah bareng sama lu, tapi nggak papalah" jawab Fiano dengam suara pelan.


"Lo belum puas ya buat gue menderita selama tiga tahun belakangan ini?!" tanya Lexsa heran.


"Belum!" jawab Fiano melirik ke arahnya sebentar.


Lexsa berpikir sejenak...


"*B*eberapa bulan ke depan gue bakal cepat tua nih kalau duduk sebangku terus sama dia" pikir Lexsa.


"Gimana ya caranya supaya gue bisa menjauh sama nih cowok" pikirnya lagi.


"Ya...pindah tempat duduk!" ide Lexsa dalam benaknya.


Lexsa memperhatikan sekelilingnya, mencari tempat duduk yang aman untuk segera menjauh dari Fiano.


Lexsa mengode teman yang duduk di belakangnya, sekitar dua meja dari tempat duduknya.


"Shuutt...woi!" panggil Lexsa kepadanya.


"Gue?" jawab Mella singkat.


"Iya lu terus siapa lagi!" ujar Lexsa tak sabaran.


"Kenapa?" tanya Mella penasaran.


"Ayo tukar tempat duduk" pintah Lexsa sesekali melihat ke arah guru yang menerangkan.


"Tapi..." ucap Mella tersipu malu.


"Aduh...kenapa lagi sih?!" tanya Lexsa mulai kesal.


Fiano yang duduk di sebelahnya sama sekali tidak melihat tindakannya, ia fokus memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran.