
"Jam berapa sekarang?" tanya Lexsa sambil melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Pukul 23.03" batin Lexsa kembali fokus berjalan.
Lexsa duduk di semen yang berbentuk kursi panjang pada tempat pemberentian bus.
.
.
.
Rumah Fiano...
Fiano dan mamanya sedang nonton di ruang tamu, jendela berbentuk persegi mengarah tepat ke halaman luar rumah Lexsa.
"Kenapa rumah Lexsa lampu depannya di matiin?" tanya Selmi yang tak lain adalah mama Fiano.
"Udah tidur kali" jawab Fiano santai.
"Tapi gak biasanya Lexsa mematikan lampu luar, Lexsa kan paling takut kalau gelap-gelap. mama tahu benar!" jawab Selmi tak berhenti menatap keluar jendelanya.
"Takut gelap? ternyata itu cewek gak berani kalau gelap-gelap ya..." batin Fiano sambil tersenyum licik.
"Jangan-jangan Lexsa nggak di rumah lagi!" ujar Selmi sedikit panik.
"Memang biasanya seperti itu kan, ma?" jawab Fiano fokus menonton acara hingga tak melewatkan sedikit pun adengannya.
Selmi mematikan televisinya.
"Ma! kenapa dimatikan?! Fiano belum selesai nontonnya" ujar Fiano kesal.
"Cari Lexsa sampai ketemu! baru boleh kamu nonton, kalau gak ketemu tidur di ruang tamu nanti malam" pintah Selmi berjalan ke arah kamarnya sambil membawa remot di tangan kanannya.
"Sebenarnya anaknya siapa sih? Lexsa atau gue?!" tanya Fiano beranjak dari sofa.
Di luar...
Fiano mengendarai motor pribadinya.
"Lexsa ini biasanya kemana, ya?" pikir Fiano bertanya-tanya.
"Kalau gak di kuburan pasti di Cafe dekat lapangan voli" batin Fiano.
Memang benar, Lexsa hanya memiliki dua tempat yang pasti ia datangi.
Kuburan. di sini tempat Lexsa untuk curhat dengan kedua orangtuanya. bila hatinya sedih, risau, kangen, dan senang sekali pun.
Lexsa tidak akan pernah lupa untuk kesana, tapi semenjak Lexsa memutuskan menjadi seorang komikus ia menjadi sangat sibuk.
Lexsa mungkin hanya sekali sebulan untuk mampir ke kuburan karena waktu luang yang sangat tipis untuknya.
Bukan cuma itu saja, Lexsa pernah mengalami sakit maag.
Mungkin pertemuannya tadi dengan teman sekelasnya dulu adalah hal yang paling langka untuk Lexsa.
Di cafe...
"Nggak ada!" kata Fiano.
Fiano berjalan menuju kasir.
"Permisi, saya mau bertanya sesuatu" ucap Fiano.
"Silahkan" kata kasir.
"Apakah mbak pernah bertemu cewek dengan rambut di sangul, biasanya dia sering pakai pakaian serba hitam dan juga memakai penutup kepala berwarna hitam?" tanya Fiano.
"Di sini terlalu banyak orang, jadi saya tidak memperhatikannya" jawab kasir ramah.
"Hmm...kalau begitu terimakasih" pamit Fiano melangkah keluar.
...
"Kemana dia? perasaan gue jadi nggak karuan nih gara-gara lu" batin Fiano cemas.
Fiano menjalankan motornya.
"Woi! lu ngapain disini?" tanya Fiano yang telah menemukan penampakan Lexsa yang sedang duduk sambil memainkan hpnya.
"Nunggu bus" jawab Lexsa santai dan kembali menatap layar hpnya.
"Lu kira ini masih sore! mana ada bus jam segini" ujar Fiano turun dari motornya mendekati Lexsa.
"Tuh ada!" jawab Lexsa langsung berdiri dan berjalan masuk ke dalam bus.
"Eh..." -Fiano
"Bye!" pamit Lexsa sambil ngedadahin Fiano dari balik kaca bus.
"Terus apa gunanya gue cari lu?!" teriak Fiano kesal.
Fiano kembali naik ke atas motornya.
"Gitu rasanya di kerjain!" batin Lexsa senyum-senyum sendiri.
"Neng, kasian pacarnya di gituin" ucap pak supir membuka pembicaraan.
"Pacar?!" tanya Lexsa sambil menaikan alis kanannya.
"Iya" balas pak supir meliriknya dari balik kaca kecil di depannya.
"Rasanya saya mau muntah pak!" balas Lexsa sambil menutup mulutnya.
biar kayak nyata gitu.
"Saya yang repot bersihinnya" ujar pak supir.
"Emangnya muntah bisa di tahan? aneh!" batin Lexsa heran.
"Bercanda doang pak!" jawab Lexsa sambil tersenyum kecil.
"Untunglah!" ujar pak supir lega.
Supir bus ini sudah lama mengenal Lexsa, lebih tepatnya seperti seorang paman dan cucu yang saling berbagi cerita.
...
"Udah sampai neng" ujar pak supir.
"Cepat banget!" ucap Lexsa kaget.
Lexsa berjalan pelan keluar bus.
"Ini pak ongkosnya" ucap Lexsa menyodorkan uang berwarna biru.
"Neng ini kembaliannya..." ujar pak supir.
"Kemana anak itu?"
"Selalu saja seperti ini, menghilang entah kemana?" ujar pak supir kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Maaf pak! Lexsa selalu menghilang, jangan marah ya..." batin Lexsa.
Lexsa berjalan menuju pintu rumahnya.
"Kemana perginya? perasaan gue letaknya di bawah pot bunga ini deh" ujar Lexsa panik.
"Kenapa? kunci rumah lu hilang?!" tanya Fiano dari belakangnya.
"Lo curi?" tanya Lexsa menatap matanya tajam.
"Lu kalau nuduh orang pakai bukti dong!" balas Fiano kesal.
"Kalau sampai lo yang ambil kunci gue, lihat aja nanti apa yang terjadi sama muka lo" ujar Lexsa memberikan peringatan.
"Hebat banget lu bisa nonjok gue, nyentuh dikit aja nggak bakal pernah bisa!" ujar Fiano santai.
Lexsa membuka aplikasi yang tersambung dengan kamera cctv rumahnya.
"Lo tahu kan gue nggak pernah main-main" ujar Lexsa pelan.
"Tahu!" jawab Fiano singkat.
"Lo mau ngaku dan langsung kasih gue kuncinya atau mau gue tonjok dulu tuh muka" ujar Lexsa mendekatkan wajahnya.
"Gue nggak nyuri kunci rumah lu!" ucap Fiano.
"Belum ngaku juga?" tanya Lexsa sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Suer, gue nggak nyuri kunci rumah lu" jawab Fiano menekankan kata 'nggak'.
Kyaa!!!
tonjokan keras mengenai muka Fiano.
"Aduh...ah!!"
"Lu gila ya? nonjok orang sembarangan tanpa bukti yang jelas!" ujar Fiano sambil menyentuh pipi kirinya.
Lexsa segera mengambil kunci rumahnya dari saku jaket Fiano.
"Eh...ngapain lu?!" tanya Fiano heran.
"Ini apa? hah!" tanya Lexsa balik.
"Hmm..."
"Lo berhasil ngerjain gue! tapi lo harus tahu dong yang lo kerjain itu siapa" bisik Lexsa pelan di telinganya.
Fiano masih memegang pipinya yang kesakitan.
"Gue...LEXSA FINALIA adalah salah satu murid taekondo yang berhasil membawa banyak medali emas! jadi lo harus berhati-hati deh kalau mau ngerjain gue lagi, oke!" bisiknya lagi.
"Kok gue nggak tahu! yaelah lu pandai benar ya buat cerita. biar gue waspada gitu?" bisik Fiano di telinganya
"Lo nggak percaya? Ayo masuk dan lihat semua medali gue!" ucap Lexsa menarik tangannya kasar.
"Bisa pelan gak dikit! lu itu cewek" ujar Fiano.
"Siapa bilang gue cowok?! gue cewek!" ucap Lexsa yang telah berhasil membuka pintu rumahnya.
"Cewek itu biasanya lembut nggak kasar kayak lu" ujar Fiano.
"Ya...ya...ya"
"Terserah lo mau katain gue apa! lagi pula gak penting buat gue" ucap Lexsa pelan.
Lexsa melepaskan gengaman tangannya.
"Cari aja sendiri dimana letaknya, gue udah lupa" ucap Lexsa yang telah pergi menjauh dari Fiano.
Lexsa berjalan ke dapur.
"Dimana?"
"Alah pasti tuh cewek boong sama gue" batin Fiano sambil terus mencari-cari.