
"Mohon ikuti saya."
Elly yang berdiri di samping Billy mengangguk dan memberi isyarat pada Vino dan Shirley untuk mengikuti mereka.
"Kau kesal?" pertanyaan Shirley disela langkahnya itu mengagetkan Vino.
"Eh?"
"Benar kan? Apa kau kesal karena aku terus menerus dipandangi oleh mereka?"
Alis Shirley bergerak menggoda.
"Tidak! Itu tidak seperti itu!"
"Hahaha. Kau tidak perlu bereaksi berlebihan seperti itu. Aku tidak bermaksud kesana, kau tahu."
Sesekali Shirley mengangguk menanggapi mata yang terus tertuju padanya. Vino masih menunggunya menyelesaikan perkataannya.
"Kau kesal karena mereka sama sekali tidak memperhatikanmu kan?"
"Yah, kurasa begitu. Entahlah, aku tidak yakin."
"Selamat kalau begitu."
Vino menghentikan langkahnya dan menoleh pada Shirley yang tersenyum penuh arti.
"Apa maksudmu?"
"Itu adalah perasaan terpenting untuk seorang model."
Di depan mereka tampak Elly dan Billy telah menghentikan langkah mereka di depan sebuah pintu. Shirley memberi isyarat pada Vino untuk segera melanjutkan langkah dan mengikuti memasuki pintu tersebut.
Ruang pemotretan itu telah siap dengan segala persiapan dan pencahayaannya.
"Nona Shirley, silahkan ikuti saya ke ruang rias," ujar seorang staf yang ditanggapi Shirley dengan anggukan dan senyum kecilnya.
"Kami benci tidak dilihat, kami kesal tidak diperhatikan. Karena itu, kami akan berusaha dengan segala kemampuan kami untuk membuat para juri tanpa mahkota itu melihat kami. Jika kau sudah mengerti itu, kau akan baik baik saja." Shirley berlalu setelah menyelesaikan ucapannya yang bernada arogan itu.
Vino tersenyum. Ia merasakan hatinya menghangat. Ia bisa merasakan kalau gadis itu sebenarnya benar benar mencintai pekerjaannya. Terlebih karena Shirley mengatakan itu dengan mode bintangnya, Vino merasa semangatnya kali ini menyala nyala. Motivasi langsung dari sang idola benar benar
ampuh untuknya.
Celetukan Elly yang bernada santai tersebut sukses membuat seisi studio hening. Seluruh mata tertuju pada Vino. Pandangan tak percaya, kagum, penasaran, meremehkan, dan berbagai emosi lain yang sama sekali tidak berusaha disembunyikan oleh para pemilik mata disana tercurah begitu saja. Vino merasa nyalinya ciut seketika. Belum lagi deheman Billy untuk mencairkan suasana bagai suara palu pengadilan untuknya.
"Ehm, nona Elly. Sebelum itu, biarkan aku meluruskan sesuatu. Terus terang aku tidak ingin menggunakan model pemula amatir untuk project ku kali ini. Tapi aku telah menyetujui syarat darimu. Syarat tersebut adalah, 'aku akan membuat sesi pemotretan
untuknya, bukan menggunakannya.' Begitu bukan?"
"Yap, itu benar. Kau hanya perlu membuat sesi pemotretan untuknya untuk melihat ia memiliki potensi atau tidak. Kau bebas membuang atau menghapus fotonya setelah itu."
Vino meringis mendengar ucapan Elly. Apakah ia sekarang sedang menjalani semacam tes? Tes yang kegagalannya telah dipastikan ini membuat semangatnya melebur total.
"Baiklah. Bawa juga anak muda ini ke ruang rias."
"Baik, pak. Lewat sini."
Seorang staf perempuan yang menyahut perintah Billy mengarahkan Vino ke sebuah ruangan yang berbeda dari Shirley.
"Duduklah di sana," kata staf tersebut setelah membantu Vino melepas jasnya.
Vino duduk dengan lesu. Staf perempuan tersebut yang menyadarinya tersenyurn simpul.
"Hey, nak. Kau tahu cara terbaik memulihkan kepercayaan diri?"
Vino menunggu. Terlalu enggan untuk sekedar menoleh dan menjawab staf yang dianggapnya terlalu ikut campur.
"Angkat wajahmu."
Vino yang kaget karena wanita itu tiba-tiba mengangkat dagunya keatas hendak menyuarakan protes, tapi pantulan wajahnya
di cermin membuatnya tertegun. Ia hampir melupakan wajah barunya ini.
"Kau lihat? Terkadang manusia terlalu sulit menyadari kelebihan yang ada padanya hanya karena perkataan orang lain."
Senyuman ibu staf di belakangnya yang ikut terpantul di cermin menenangkan Vino. Serta merta ia ikut tersenyum. Pujian Elly dan Shirley di salon tadi kembali ke ingatannya. Bahkan Shirley menganggapnya mirip dengan aktor Korea. Vino mendengus geli.
"Kurasa aku telah memulihkanmu."
Vino menyisir rambut depannya dengan jarinya sebelum menimpali,
"Kuharap kau tidak menyesal di depannya, Bu."