Change

Change
14. BASAH



Rara menggesekan kedua telapak tangannya berlawanan arah lalu mengusapkannya ke arah kedua tangannya. Sialnya hujan mengguyur secara tiba- tiba ketika Rara hendak keluar menuju gerbang depan untuk mencari taksi dan sekarang buruknya tubuhnya basah kuyub di sebuah halte yang ramai.


Dengan dress tanpa lengan dan hanya sepanjang lutut, juga tanpa membawa jaket. Lengkap sudahh. Di halte semakin ramai, satu per satu orang mulai berlarian untuk berteduh disini. Meminggirkan motornya dan meneduhkan tubuhnya di halte ini. Tubuh Rara sedikit terhimpit sambil memegang tas kecilnya dan memeluk tubuhnya erat. Dingin sekali disini.


Hujan semakin deras, ditambah petir yang menggelegar. Satu per satu orang mulai kembali pergi setelah memakai jas hujannya. Rara menundukan kepala, setelah banyak orang yang pergi suasana kembali tenang. Rara menggeser sedikit tubuhnya ke samping kiri, menatap air hujan yang turun ke aspal jalan dan mencipratkan buliran air.


"Hujannya deres ya," suara bariton laki- laki membuat Rara menoleh ke asal suara. Mata Rara membulat sempurna ketika melihat siapa yang berada disampingnya.


"Kak...Stefan?," ujar Rara hati- hati, takut kalau Rara salah lihat.


"Lo ngapain disini?," Tanya Stefan balik membuat Rara kaget.


"Nyari taksi.. gue mau pulang," ucap Rara menatap lurus kedepan.


"Tumben sendiri? Biasanya selalu sama supir," kata Stefan, membuat Rara membulatkan matanya. Kini Rara menatap Stefan yang sedang menatapnya juga.


"Reza mana? Biasanya gandengan terus sama dia," Tanya Stefan lagi.


JDUARRRR!!!


Petir mulai menyambarkan suaranya dilangit. Mata Rara terpejam rapat karena kaget lalu Rara kembali membuka mata dan menatap Stefan.


"Gue gak bareng Reza, lagi mau sendiri," dusta Rara, kalau Rara mengatakan Reza membatalkan jalan- jalannya tadi..


"Oh gitu.. rumah lo jauhkan dari sini," ucap Stefan yang sedikit menggantung.


"Iya," jawab Rara mengelus lengannya, menatap hujan yang hampir mereda.


"Lo kan udah basah, gue juga. Gimana kalo lo mampir ke rumah gue, sekedar neduh sama bilas saja, abis itu gue anter lo balik?," usul Stefan yang kontan membuat Rara berpikir.


"Gak macem- macem kan, Kak?," Tanya Rara tajam.. Stefan hanya tertawa saja. "Kalo emang macem- macem udah gue lakuin dari dulu."


Rara tertawa kecil menanggapinya. "Emang rumah lo di mana?," Tanya Rara menatap Stefan.


"Gak jauh dari sini kok," ucap Stefan melepas jaket miliknya.


"Lo ke sini naik a—"


"Gue gak bawa mobil ataupun payung, soalnya tadi gue emang lagi mau ke toko buku dan rumah gue emang deket dari sini. Maaf kalo Cuma bisa nutupin kepala lo pakai jaket gue,yaa. Gue tau bakalan basah juga akhirnya, tapi seenggaknya kepala lo gak kena hujan lagi," ucap Stefan membuat Rara menatap dalam diam.


Dia udah lancar berbicara bahasa Indonesia. Batin Rara.


"Lo kenapa?," Tanya Stefan menurunkan jaketnya lagi, menatap Rara bingung.


"Gu..gue.."


"Santai aja sama gue, udah ayo nanti lo malah sakit," ucap Stefan kembali melebarkan jaketnya di atas kepala Rara dan kepalanya.


Rara dan Stefan mulai berjalan beriringan. Air hujan yang jatuh ke aspal memberi cipratan kecil kea rah kaki Rara. Mata Rara menatap Stefan yang setengah badannya mulai basah karena memegang jaketnya. Rara juga semakin mengeratkan dekapan pada tubuhnya sendiri.


"Nah, sampe deh," ucap Stefan sambil menurunkan jaketnya yang basah ternyata bukan rumah, tetapi apartemen. Stefan memeras jaket miliknya hingga tak ada air yang menetes dari jaketnya lagi.


"Yuk!," ajak Stefan lalu menarik pergelangan tangan Rara.


Rara dan Stefan masuk kedalam lift, menuju lantai 12. Tadi Rara sempat melihat Stefan menekan tombol 12 pada liftnya.


"Lo udah kasih tau nenek Merisa dan Kakek Ray?" Tanya Stefan keluar dari lift ketika pintunya terbuka.


"Oh iya! Lupa!," jawab Rara menepuk keningnya pelan. Dengan gerakan cepat, Rara mengambil I-phone miliknya lalu bersiap mengetik pesan kalau ia akan pulang terlambat. Namun, seketika ia teringat bahwa Handphonenya mati karena kehabisan baterai, itulah yang membuat Rara mencari taksi tadi.


Stefan membuka pintu apartemennya dengan paswordnya lalu pintu itu terbuka. Mata rara melihat sekeliling, rapi sekali apartemen Stefan. Rara sempat mengira apartemen laki- laki sangatlah buruk kotor dan kumuh. Namun, ini diluar dugaan Rara.


"Lo tunggu sini, biar gue ambil baju dulu," ucap Stefan yang tidak Rara gubris. Rara masih menatap sekeliling. Tak lama, Stefan kembali.


"Nih, gue ada Dress jaman lo dulu.. semoga masih muat," ujar Stefan.


"Makasih," ucap Rara lalu mengambil dress tersebut.


"Ya udah, cepet sama mandi. Gue gak mau lo pulang terus sakit," ucap Stefan yang dibalas anggukan kepala Rara.


Masih disimpan? Pentingkah ini? Gue jadi penasaran sama kisah kita dulu batin Rara.


❄💭❄💭❄💭❄