
"hmm.." balas Reza yang sedari tadi tertawa dalam benaknya.
"denger gue ngomong gak Zaa?"
"hmm.."
"apa?" Tanya Rara.
"apa" Reza mengulangi ucapan Rara.
"ihhh.. Reza nyebelin banget" rengek Rara.
Mobil Reza tengah memasuki pintu masuk mall. Ketika Reza mengambil tiket masuk, ia mendapat sapaan dari satpam yang berjaga pada pintu masuk.
"Tuan Reza" Reza membalas senyuman tipisnya. Rara dibuat bingung dengan sapaan satpam pada Reza. 'Reza sering nongkrong bareng satpam kali ya' canda Rara dalam hati.
Reza dan Rara turun tepat didepan loby utama lalu Reza memberikan kunci mobil sportnya pada satpam yang tengah berjaga didepan lobby.
"Tuan Reza" satpam itu membungkukan badan sekilas yang berate sapaan. Reza dan Rara mulai memasuki dalam Mall.
"Boleh gue tebak?" Tanya Rara sambil berjalan mengiringi Reza.
"Apa?" Tanya Reza balik.
"Mall punya lo ya?"
"hmmm.."
"jawabannya gitu gitu aja" ucap Rara sambil memasang wajah cemberutnya. Reza melirik wajah Rara sekilas ingin sekali ia mencubit pipi Rara gemas. Namun, Reza mengurungkan niatnya semata- mata agar terlihat dingin.
"dasar patung es" gumam Rara. Namun, terdengar oleh reza.
Reza berpura- pura tidak mendengar gumaman Rara lalu mengikuti langkah Rara yang sudah pergi menjajah kios Branded.
❄💭❄💭❄💭❄
Sudah lebih dari tiga jam Rara berbelanja, tangannya kini sudah penuh. Begitu juga Reza, tangannya sudah penuh belanjaan Rara. Reza melirik jam, jam sudah menunjukan pukul 19:55.
"udah malem. Ayo pulang!" ajak Reza sambil menarik tangan Rara pelan. Namun, mata Reza kini bertemu sosok dalam masa lalunya yang sudah lama tidak hadir. Mendadak langkah Reza terhenti Reza menatap manik mata yang dulu ia kagumi, sebaliknya sosok itu menatap Reza dengan tatapan rindu.
"Vely" ucap Reza pelan. Rara melihat arah manik mata Reza yang tertuju oleh seorang wanita keturunan Eropa, wanita itu berjalan menghampiri Reza dan Rara.
"Reza"kata pertama yang wanita tersebut lontarkan.
" I miss you so much, Do you miss me?" lanjut wanita itu. (aku sangat merindukanmu, apakah kamu rindu aku?)
"impossible. You are dead" jawab Reza membuat Rara melongo. (tidak mungkin. Kamu sudah mati)
"lo gak berkhayal Zaa, depan lo ada cewe beneran" Rara menggoyangkan tubuh Reza yang sedari tadi mematung lalu menghentikan kembali.
"Hello, my name is Evelyne Denaya Davies" Vely mengulurkan tangan pada Rara, lalu saat Rara ingin membalas uluran tangan dari Vely tiba- tiba Reza menepis tangan Vely dan menarik kasar Rara menuju mobil.
Sedangkan Vely hanya terdiam menatap punggung Reza dengan perasaan sedih dan kecewa. "if you know I'm not boarding the plane it won't all be like this" gumam Vely. (jika kamu tau aku tidak menaiki pesawat itu semua tidak akan begini)
❄💭❄💭❄💭❄
"dia masa lalu gue" ucap Reza menjelakan agar Rara tidak berpikir yang aneh- aneh.
"gue juga punya masa lalu" balas Rara.
"maaf gue baru bisa bilang sekarang karna kalo gue cerita sama lo sama aja gue buka kedok lama yang sudah lama terkunci"
"it's okay zaa, lo cerita dikit aja juga gak apa- apa"
"dulu dia pacar gue saat gue tinggal di Germany. Lebih tepatnya tiga tahun yang lalu. Gue deket banget sama dia sampai bikin impian bersama. Satu impian terbesar dia menjadi Model, sebelum tante Maura meninggal dia sempat membuat Vely menjadi Model terkenal. Sampai ia mendapat tawaran menjadi Model utama sebuah Agensi di London. Ia sangat senang dan ia berangkat dengan pesawat, bersemangat sekali. Kemudian 20 setelah pesawatnya terbang, Germany mendapat berita bahwa pesawat itu jatuh. Gue sangat terpukul atas kejadian itu, makanya gue pindah ke Indonesia, ikut Ortu" jelas reza panjang lebar.
"terus yang di mall.. Vely mana tuh.. kok bisa muncul" Rara memasang wajah kagetnya karena yang ia lihat jelas jelas Vely manuasia asli dan bukan makhluk halus. Hahaha.
"gue gak percaya kalo itu Vely, jadi tadi gue narik lo"
"tapi tadi asli Zaa. Bukan makhluk halus" Reza terdiam lalu tertawa sekeras- kerasnya membuat pipi Rara merah menahan malu. 'gak apa- apalah gue malu daripada dia terus terusan dingin ketus datar' batin Rara.
Mobil Reza berhenti dihalaman rumah Rara, didepan pintu sudah terlihat para penjaga kekar. Rara memberitahu penjaganya agar memanggilkan para pelayan lalu menyuruh para pelayan untuk membawa barang belanjaan Rara ke dalam kamar. Bi Inah menghampiri Rara dan Reza dengan wajah pucat.
"Non, Tuan Besar dan Nyonya Besar datang, dia menunggu Nona Rara dan Tuan Reza di ruang makan" Rara dan reza bersamaan menunjukan wajah kaget lalu Rara melirik jam. Jam menunjukan pukul 20:33, wajah Rara seketika pucat. Ia tidak tahu alasan apa yang bagus untuk ia katakana pada nenek dan kakeknya.
"tenang aja, cuman Kakek Ray dan Nenek Merisa" Reza berusaha menenangkan Rara dari rasa takutnya.
"tapi –" ucapan Rara terputus karna Reza telah menariknya menuju ruang makan.
"Hello, Wie gent es euch beiden?" sapa Nenek Rara saat Rara dan Reza duduk di sebrangnya (hallo, apa kabar kalian berdua?)
"konnen wir nur englisch sprechen?" balas Rara lesu. ( bisakah kita berbicara memakai bahasa inggris saja?)
"warum?" tanya Nenek Rara dengan tatapan bingung. (kenapa?)
"I don't want to speak Germany " kini Rara memakai bahasa inggris agar kakek dan neneknya tidak memakai bahasa Germany lagi. ( aku sedang tidak ingin berbicara bahasa jerman )
"or we better use Indonesia only, because we are in Indonesia not in Germany or anything else" lanjut Rara. ( atau lebih baik kita menggunakan bahasa Indonesia saja karena kita sedang berada diindonesia bukan jerman atau yang lainnya)
" ayo cepat makan aku sudah lapar" Kakek Ray menengahi Rara dan Nenek Merisa. Kemudian semua terdiam lalu makan dengan tenang.
"kabarku dan Rara baik Nenek Merisa" ucap Reza setelah makan malam selesai.
"begitu. Saya mengajak Reza dalammakan mala mini karena ada yang ingin saya bicarakan pada kalian. Saya sudah izin pada orang tua mu Reza jadi jangan khawatir" jelas Kakek Ray. Reza dan Rara membalas anggukan kepala tanda mengerti.
"jadi saya dan ray ingin kalian berdua se—" ucapan Merisa terpotong karena kehadiran Rico diiringi sapaan.
"Nenek Merisa, Kakek Ray apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu" Rico sengaja memotong pembicaraan Neneknya. Merisa.
"kamu tidak sopan sekali memotong pembicaran saya dan juga kamu kenapa pulang terlambat? Apa setiap hari kamu seperti ini? Kasian sekali Rara ditinggal abangnya setiap hari.. lebih baik Rara ikut saja dengan saya dan Ray di Germany banyak yang memperhatikannya. Rara juga bisa melanjutkan karirnya sebagai model. Abang macam apa kamu tidak memperhatikan Rara" Merisa memarahi Rico panjang lebar membuat seisi ruangan tertawa.
" aku tidak ingin melanjutkan karir modelku saat ini, mungkin setelah aku lulus akan ku lanjutkan dan aku nyaman disini nek, sungguh!" ucap Rara membuat semuanya berhenti tertawa.
" aku setiap hari pulang cepat nek, cuman hari ini saja aku telat. Banyak pekerjaan yang harus ku urus disini, Nek" timpal Rico.
"Rara! Sungguh kau cuti 3 tahun dari karirmu?" Tanya Merisa serius dan tidak mempedulikan Rico.
"lanjutkan inti pembicaraan kita. Aku sudah mengantuk dan lagi Reza harus segera pulang karena ini sudah jam 10" keluh Ray.