
"Cepat sedikit!" pintah Lexsa tak sabaran menunggu Mella membereskan barang-barangnya.
"Lexsa!" panggil bu. rara.
"Iya bu! kenapa bu?" tanya Lexsa sambil mengeluarkan senyuman terpaksa.
"Jawab pertanyaan nomor enam ini" ujar bu. Rara kepadanya.
"Tapi...bu"
"Nggak ada tapi-tapi! sepertinya kamu lebih pintar daripada teman yang lainnya**" cetus bu. Rara.
"Mm..."
"Ayo jawab cepat**!" ucap bu. Rara.
semua murid melirik ke Lexsa sebentar lalu kembali fokus pada papan tulis di depan.
"No, apa jawabannya?" bisik Lexsa.
"Min tiga" jawabnya pelan.
"Sudah dapat hasilnya?" tanya bu. Rara.
"Udah bu" jawab Lexsa percaya diri.
"Jadi berapa hasilnya?" tanya bu. Rara kembali sambil mengerutkan keningnya.
"Hasilnya min tiga, bu" jawab Lexsa.
"Apa benar yang di katakan Lexsa barusan anak-anak?" tanya bu. Rara kepada seluruh murid.
"Salah, bu!"
"Jadi berapa hasil seharusnya?"
"*Min dua***" jawab semua murid kompak.
Fiano tertawa kecil, mata Lexsa menatapnya dengan tajam tanpa berkedip sedikit pun.
"Cowok licik" batin Lexsa kesal.
"Lexsa berdiri di luar sampai bel istirahat berbunyi" pintah bu. Rara.
"Oke bu..." ucap Lexsa pelan.
Lexsa berjalan pelan keluar kelas.
"ternyata gak gue aja yang berdiri di luar kelas" batin Lexsa sambil melihat ke arah tiga serangkai di samping kelasnya.
Tiga serangkai itu adalah Teo dan kedua anggota gengnya yang tidak pernah absen untuk keluar dari kelas.
"Untung aja gue turutin kata Fiano" batin Lexsa kesenangan.
"Walaupun yang di katakannya itu salah, tapi sangat berguna untuk gue keluar dari sana" batinnya lagi.
Lexsa sebenarnya termasuk siswi yang pintar dalam semua mata pelajaran, tapi ia tidak menunjukkan kepintarannya di depan murid lainnya termasuk Fiano sendiri.
Lexsa berdiri tegap layaknya seorang Tentara, sedangkan Teo dan kedua pengikutnya tampaknya sudah duduk santai di atas bangku panjang yang di sediakan di depan kelas mereka.
"Neng, nggak capek berdiri terus?" tanya Hainan dari kejauhan.
"Tuh cewek cantik juga ya, Bos!" ujar Cleo sambil menatapnya lama.
"Gue jitak nih kepala!" kata Teo kesal.
"Memang benar kan yang di katakan Cleo barusan" ujar Hainan menambah-nambahkan.
"True! tapi dia udah jadi milik gue" bisik Teo kepada kedua anak buahnya.
"Eh...bos mah semua cewek cantik lo sikat sampai habis, tapi nggak ada yang jadi" ujar Cleo.
"*J*adi apa?" tanya Hainan pura-pura nggak tahu.
"Jadi pacar!" jawab Cleo dan Hainan kompak.
Dukk...
Teo membenturkan kepala Hainan ke kening Cleo.
"Aduh..."
" Duh...kepala gue bisa gegar otak nih" ucap Hainan sambil mengelus-gelus keningnya.
"Gue juga nih" ujar Cleo melakukan hal yang sama dengan Hainan.
"Enak? atau mau sekali lagi?" tanya Teo.
"Udah...udah, bos!" balas mereka berdua kompak.
"Makanya kalau punya mulut di rem dikit atau di pasang aja gembok sekalian" saran Teo.
"Maaf bos, kami nggak bakal ngomong kayak gitu lagi" ucap Hainan.
"Gue juga" susul Cleo menyesal.
Satu jam kemudian...
Semua siswa-siswi keluar dari kelas mereka masing-masing menuju kantin, ada juga yang pergi ke taman, lapangan, perpustakaan, toilet, dan masih banyak lagi.
"Enak, kan?" tanya Lexsa sambil tertawa kecil.
"Enak banget daripada harus berdiri di luar selama satu jam penuh" sindir Fiano yang telah berjalan cepat meninggalkan Lexsa sendirian.
"Ceh...lihat aja ya perlawanan gue selanjutnya!" batin Lexsa sambil memikirkan sebuah rencana.
Lexsa berjalan ke arah kantin.
"Nasgor, Bik! punya Lexsa duluan" pintah Lexsa sambil memegang uang sepuluh ribu di tangan kanannya.
"Ini pesanannya, dis" ujar Bibi kantin ramah.
"Makasih, bik"
"Sama-sama, dis**"
Dis adalah singkatan dari anak gadis yang biasanya Bibi kantin ucapkan kepada semua siswi di sekolah ini. alasannya karena Tidak hafal namanya, wajar saja siapa yang bakal hafal semua murid di sekolah ini.
jumlahnya aja lebih dari empat ratus murid.
Lexsa mendapati tempat duduknya, duduk di tengah-tengah sangatlah mengasikkan daripada duduk di tempat yang lain.
"Jadikan nanti pindah tempat duduk?" tanya Mella yang baru saja datang menghampiri Lexsa.
"Pastilah!" tegas Lexsa.
"Btw, gue belum tahu siapa nama lu?" tanya Mella sambil duduk di hadapan Lexsa.
"Gue Lexsa, lu?" ucap Lexsa ramah.
"Gue Mella, semoga kita bisa menjadi teman ya" ucap Mella sambil menyanduk kuah soto ke mulutnya.
"Gue boleh duduk di sini, kan?" tanya Fiano ntah dari mana datangnya.
"Nggak boleh" ucap Lexsa lantang.
"Boleh kok!" ujar Mella sambil mengeluarkan senyuman manis ke arah Fiano.
"Kayaknya ini orang minta gue bully habis-habisan ya!" batin Lexsa menahan amarah.
"Duduk gih" sambut Mella ramah.
"Teman lu baik amat daripada lu!" bisik Fiano di sampingnya.
"Perasaan kursi di samping Mella itu kosong deh, napa lo gak duduk di sana!" tanya Lexsa menunjukkan ekspresi marahnya.
"Gue lebih suka di sini" jawab Fiano sambil menikmati makanannya.
"OH" balas Lexsa sambil sedikit menjauh darinya.
Plakk...
suara pecahan piring yang jatuh ke bawah lantai. Geng Blaster lagi-lagi membuat ulah kepada siswa yang lemah.
"Mereka nggak ada kapok-kapoknya udah di skors tiga hari, di panggil orangtuanya, dapat hukuman, tapi masih aja nggak pernah bertingkah lebih dewasa" jelas Mella terus memperhatikan tingkah laku mereka.
"Yang penting jangan ikut campur aja" balas Fiano santai.
tanpa berbasa-basi Lexsa keluar dari zona nyamannya karena suara pecahan piring yang menganggu telinganya.
"Eh...lu mau kemana?!" tanya Fiano memegang tangan kanannya erat.
"Kalian punya otak gak sih? masa iya teman di bully tapi kalian nontonin aja, emangnya ini acara pertunjukkan!" ujar Lexsa mengelakkan tangan Fiano pelan.
"Tapi...mereka kuat banget daripada lu yang cuma sendiri doang!" bantah Mella yang sama sekali tidak di dengarkan Lexsa.
Lexsa berjalan mendekati mereka.
"Lo lagi lo lagi, kayaknya ini sekolah punya lo ya?" tanya Lexsa santai.
"Iyalah" jawab Cleo percaya diri.
Hainan memegang kerah baju siswa yang mereka bully itu. Teo duduk di depan siswa yang di bullynya sambil senyum-senyum nggak jelas.
"Untung gue pakai rok kalau nggak..."
"Kalau nggak lu bakal nendang kita gitu? hebat banget nyali lu!" potong Hainan cepat.
"Oh, nantangin gue?" tanya Lexsa sambil mengepalkan tangan kanannya.
semua siswa-siswi melihat ke arah mereka berempat seolah menonton pertunjukkan teater.
"Coba aja kalau berani" tantang Hainan.
Bukk...
pukulan pelan mendarat tepat di perut Hainan.
"Hebat!" puji Cleo.
" Aduh...perut gue!" ucap Hainan menahan rasa sakit.
"Gue balas tindakan lo sama teman gue barusan" ujar Cleo yang ingin mendaratkan pukulan di kepala Lexsa tapi berhasil di cegah oleh Joan dan juga Teo di sampingnya.
"Wah! anak bangsawan udah masuk sekolah" ujar seorang siswa kepada siswa lainya.
"Gue pengen sama dia! dia ganteng banget kayak malaikat surga" kagum beberapa siswi.