Change

Change
31.



"Jika saat ini kau memintaku untuk kembali, aku akan kembali kesampingmu sekarang juga."


Tangisan yang telah mati matian ia tahan kembali tumpah tanpa bisa ia hentikan. Seluruh air matanya melesak keluar bagai bendungan yang jebol dan mencurahkan seluruh isinya. Bolehkah? Bolehkah ia egois?


"Tiffany?" Suara Vino yang khawatir kembali menggetarkan hatinya.


Dibekapnya mulutnya sendiri tuk meredam isakannya yang tak kunjung mereda. Sungguh, ini terlalu berat untuknya. la baru saja bisa menerima kepergian Vino sekaligus mensyukuri keberadaan Andrew disampingnya sebagai sahabatnya. Bagimana ia bisa menerima kepergian Andrew yang tiba tiba dan tanpa alasan? Tanpa menyampaikan apapun padanya?


la bisa melepas Vino karena merasa masih bisa bertahan dengan hadirnya Andrew. Tapi sekarang?


Dulu ia pernah terbiasa dengan kesendirian dan tahu betul seperti apa rasanya. Setelah hidup dengan semua kehangatan ini, kembali pada saat itu adalah hal yang paling ia takuti.


Tiffany mengepalkan tangannya. Tidak akan ada yang menyalahkanya jika ia berlaku egois sekali ini. la ingin Vino menemaninya.


"Vino, aku ingin kau pulang."


Kata itu hampir meluncur dari mulutnya saat panggilan lain masuk ke handphonenya. Panggilan dari pembimbing agensinya itu membuatnya tertegun.


Kata yang pernah Vino katakan terngiang di telinganya,


"Besok ayo kita berjuang bersama lagi. Sehingga saat kita bertemu lagi nanti, ada banyak cerita hebat dan menakjubkan yang bisa kita bagi satu sama lain."


"Tiffany? Kau baik baik saja? Katakan sesuatu!"


Suara yang sama.


Suara yang sama dengan suara yang saat itu bersemangat menceritakan Paris Fashion Week beserta malaikat musim gugurnya. Suara yang sama dengan suara yang saat itu memberitahukan keputusannya untuk mengubah dirinya.


Tiffany bergetar, air matanya semakin deras beranak sungai membasahi kerah bajunya. Setega itukah ia? Meminta Vino untuk pulang dan meninggalkan segalanya? Sedangkan ia sendiri disini juga sedang mengejar impiannya? Sependek itulah pikirannya?


Dihapusnya kasar air matanya. Dihirupnya nafas panjang berkali kali hingga tangisnya berhenti sebelum akhirnya berkata mantap,


"Tidak, Vino. Terima kasih. Ayo kita berjuang. Selatah kita berhasil dan Andrew tak juga kembali, kita yang akan menariknya kembali dengan kuasa kita."


"Tiffany.."


"Ok. By, Vino. Aku mencintaimu."


Tiffany menutup panggilannya dan memeluk ponselnya dengan erat ke dadanya, menguatkan dirinya sendiri. Ia tak boleh mundur. la sudah terlalu terlena dengan cinta Vino dan perlindungan dari Andrew. Kepergian mereka harus membuatnya menjadi kuat. Sendiri atau tidak itu adalah pilihannya. Jika ia tidak ingin sendirian, tentu ia yang harus berjuang.


Baik Vino maupun Andrew telah mengambil keputusan untuk keluar dari zona nyaman mereka dan sekarang gilirannya. Jika disini ia tida berani melangkah maju, ia tidak berhak menyebut dirinya sahabat mereka.


Dihubunginya nomor yang tadi memanggilnya, pembimbingnya dari agensi. Panggilannya diangkat setelah dering pertama. Pemberitahuan bahwa ia telah boleh mengikuti latihan bersama para trainee lain di studio mereka.


Tiffany tersenyum cerah. Jalannya terbuka lebar.


"Aku mendoakan keberhasilanmu, Tiffany."


Itu pesan terakhir Andrew untuknya. Entah kenapa, ia yakin Andrew masih peduli padanya dan ia sungguh tak ingin mengecewakannya. Ia akan berjuang sembari terus menunggu, mengharapkan kepulangan pahlawannya.


"Oke, pak. Aku akan segera ke studio setelah kelasku selesai."


Dimantapkannya langkahnya memasuki gerbang tinggi kampusnya. Beberapa mata terang terangan memandangnya tidak suka. Ini tidak mudah, tapi ia tidak akan menyerah sebelum mencoba.


***


Vino menengadahkan kepalanya ke atas, ke arah langit yang begitu biru terbentang luas tanpa batas. Ia sungguh lega Tiffany tidak memintanya kembali, tapi tetap saja ia mengkhawatirkannya.


'Andrew, sebenarnya apa alasanmu melakukan ini?'


"Nih."


Vino menoleh dan menemukan Shirley yang menyodorkan segelas minuman panas lengkap dengan senyuman membiusnya.


"Apa ini?"


"Lemon panas dengan madu. Ini bagus sekali untuk memulihkan energi."


Shirley mendudukkan dirinya di antara hamparan rumput hijau di bawah mereka setelah Vino menerima gelas pemberiannya. Menyeruput pelan minumannya sendiri dan tersenyum kecil saat Vino ikut mendudukkan diri di sebelah kanannya.


Vino merasa kehangatan bersamaan dengan mengalirnya cairan menyegarkan itu di tenggorokannya. Bukan hanya di tubuhnya, tapi juga kehangatan di hatinya. Ia tak terlalu paham, tapi ia merasakan sedikit ketenangan melihat kehadiran Shirley disampingnya. Andrew bukan satu satunya temannya.


"Kau tahu, Vino. Aku selalu merasa bahwa aku adalah gadis tersial di dunia, setidaknya sampai lebih kurang seminggu yang lalu?" Shirley membuka perbincangan mereka dengan senyuman getir. Matanya menerawang jauh.. mata yang sarat akan luka.


"Kau? Bagimana bisa? Selain papamu yang over itu, kurasa tak ada masalah apapun dalam hidupmu." Vino yang belum mengerti


arah percakapan menanggapinya tanpa menimbang kata katanya.


Shirley menggeleng lemah.


"Aku kehilangan ingatan masa kecilku sampai sekarang. Dari kecil hingga berumur 12 tahun, apa saja yang telah kulakukan, telah kulalui? bersama siapa? Aku belum menemukan jawabannya. Yang kuingat hanyalah mama. Mama yang meninggalkan rumah saat aku berusia 12 tahun."


Vino terenyuh melihat sosok gadis disampingnya. Sosok seorang gadis yang rapuh bernama Shirley sedang bergetar menahan tangisnya. Bukan Shirley sang ambassador Rommy, atau sang supermodel majalah majalah dunia.


Mengikuti naluri, Vino mendekat dan meraih tangan kanan Shirley, menyalurkan kekuatan.


Shirley tersentak tapi tak menarik tangannya. Menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ceritanya.


"Saat itu mama pergi dan tak pernah kembali. Suatu hari, diam diam aku meminta kak Elly menyelidiki mama. Apa yang ia lakukan, dimana ia tinggal, dan semacamnya. Setelah menemukannya, aku pergi menemui mama. Mama ternyata tinggal di desa besama nenek, membuka toko roti kecil yang selalu ramai. Hari itu aku tertegun melihat senyum mama yang tanpa beban, tak kuasa melangkah masuk. Aku takut kedatanganku justru merusak kebahagiaan mama."


Setetes air mata meluncur bebas membasahi pipi Shirley. Vino meremas tangan Shirley yang berada dalam genggamannya, memberi isyarat bahwa ia disana, disampingnya, mendengarnya.


"Tapi keingintahuanku akan masa laluku membawaku kembali ke tempat itu. Karena hanya mama yang kutahu untuk menggali masa laluku. Kak Elly menjadi pendampingku saat aku berumur 13 tahun, tepatnya setelah mama pergi. Sebelumnya mamalah yang selalu menemaniku kapanpun. Seluruh pekerja di rumah juga diganti dengan


yang baru setelah perginya mama. Sebenarnya pak Budi juga mengetahui masa kecilku, tapi ia adalah orang kepercayaan papa, dan papa tidak akan suka mendengar aku membongkar masa laluku."


Shirley menghela nafasnya sejenak.


"Aku memberanikan diri datang dan masuk ke toko, membeli roti, lantas pergi ke kasir yang dijaga oleh mama. Mama langsung mengenaliku dan sontak memelukku sambil terisak. Aku pun ikut menangis karena merasakan kehangatan tidak asing yang kerindukan. Seluruh pengunjung menonton kami. Akhirnya nenek meminta kami untuk masuk ke rumah. Mama awalnya terlihat takut saat melihat kehadiran kak Elly, tapi kembali terlihat tenang setelah kuyakinkan kalau semuanya akan baik baik saja. Itu pertemuan yang menyenangkan. Hingga akhirnya aku menyinggung masa laluku."


"Mama berkata dengan ekspresi pilu; 'Kami dijauhkan papamu darimu karena kami dianggap akan mengganggu karirmu. Mengganggu karirmu berarti mengganggu kemajuan 'Rommy', dan bagi papamu, 'Rommy' adalah hal terpenting baginya. Melebihi cinta dan keluarga.'"


Shirley mengangkat kepalanya. Menatap hamparan tumbuhan hijau di depannya yang bergerak berirama.


"Setelah itu mama berpesan pada kak Elly untuk tidak pernah lagi membiarkanku menghubunginya. Saat kutanya alasannya,


ia mengatakan bahwa papa tidak akan membiarkanku. Walau kali ini mungkin tidak akan ketahuan, suatu saat pasti akan ketahuan dan papa akan menggunakan segala cara untuk menjauhkan kami. Aku yang awalnya masih ingin menolak akhirnya bungkam saat mama mengatakan kalimat terakhirnya yang tak akan pernah kulupakan; 'Aku tidak ingin lagi terpuruk, Shirley.'"


Shirley menarik bibirnya, membentuk senyum kecil. Wajah mamanya hadir di pelupuk matanya.


"Kami berpelukan sekali lagi sebelum pulang. Mama banyak memberikan nasihat nasihat kecil padaku, berterima kasih akan kedatanganku, dan berdoa untuk keberhasilanku. Sejak saat itu, aku tak pernah bertemu mama lagi."


Vino masih bungkam dengan tangan kanan Shirley yang berada dalam genggamannya, menunggu Shirley melanjutkan kata katanya. Gadis ini yang memilih untuk bercerita. Karena itu, hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah menjadi pendengar yang baik.


"Mulai hari itulah, aku membatasi diriku. Aku takut orang yang dekat denganku akan terpuruk, seperti yang mama katakan. Aku selalu berpikir kalau aku bisa bertahan dengan terus seperti ini. Tanpa komitmen apapun, dengan siapapun."


Vino tersentak kaget saat tangan Shirley yang berada dalam genggamannya, tiba tiba balik menggenggamnya, lantas menariknya kuat ke


belakang hingga mereka jatuh terbaring ke rerumputan, berhadap hadapan.


"Whoa!"


Shirley tertawa melihat ekspresi shock Vino tepat dihadapannya. Vino yang terpesona dengan tawa itu tertegun, terbuai dengan wajah malaikat di depannya. la baru tersadar saat Shirley menghentikan tawanya dan sontak mengarahkan wajahnya ke arah langit, menyembunyikan semburat merah di pipinya.


"Ka, kau mengagetkanku!"


Shurley mengulas senyum dan ikut memandang langit biru diatas mereka. Perlahan melanjutkan kisahnya.


"Selalu seperti itu. Sampai seminggu yang lalu. Sampai aku bertemu denganmu, Vino."


"Eh?" Vino yang refleks menoleh kembali kelabakan mengembalikan matanya ke atas, Takut tertarik lagi oleh pesona Shirley yang bagai magnet alami para pria.


"Sejak bertemu denganmu, aku jadi menyadari kalau aku masih membutuhkan orang lain. Aku merasa sudah membatasi diriku, tapi masih ada orang orang di sekelilingku yang kusayangi. Aku hanya membatasi diri pada kata 'teman', tapi tidak diluar itu. Apakah ini ada hubungannya dengan ingatanku yang hilang? Aku tidak tahu. Tapi sekarang, aku selalu ingin dekat denganmu, ingin berbagi cerita denganmu, ingin menjadi tempatmu berbagi, sebagai teman tentunya."


Shirley terkikik kecil, geli dan tidak yakin atas perkataannya sendiri.


"Aku merasa terserah apapun yang terjadi nanti, apapun yang akan papa lakukan, aku tidak akan menyerah begitu saja. Awalnya kak Elly memarahiku akan keegoisanku, tapi setelah itu ia menyerah karena kekeraskepalaanku." Vino ikut tersenyum mendengar itu, menyetujuinya dalam hati.


"Haaaaah.. Aku benar benar lega telah membagi ceritaku."


Shirley merenggangkan kedua tangannya ke atas dan membentangkan jari jemarinya, tersenyum senang pada langit yang menaungi mereka.


"Kenapa kau menceritakan semua ini padaku?" Vino bertanya hati hati. Hal yang menjadi pertanyaannya sejak tadi. Shirley tergelak mendengar pertanyaannya.


"Sudah kubilang, kan? Karena kau temanku. Apa gunanya teman jika kau tidak bisa membagi bebanmu padanya?"


"Bagaimana jika aku membocorkannya ke publik?"


"Tidak akan. Kalau kau orang seperti itu, kau sudah memotretku saat tidur di pesawat menuju Paris dan menyebarluaskannya di media sosial, kemudian untung."


"Saat itu aku belum mengenal siapa kau! Selain itu-"


Vino tiba tiba bungkam saat Shirley memutar tubuhnya dan menghadap sempurna padannya. Lantas meraih tangannya dan menyatukan jemari mereka. Mata mereka yang bertemu saling terkunci satu sama lain. Dan setelahnya Vino mengutuk Shirley yang tersenyum manis sambil mengucapkan kata yang manis pula.


"Apa kau tak tertarik untuk berbagi masalahmu denganku?"