
Shirley menopang dagunya bosan. Tangannya tak berhenti menggonta ganti saluran televisi yang sama sekali tidak menarik untuknya.
Getaran telefonnya mengalihkan perhatiannya. Pesan dari Elly.
"Aku segera ke salon setelah mengambil pesananmu dari dokter."
Mata Shirley termenung memandang layar handphonenya. Mau tidak mau suara pria yang tadi telah menggunakan ponsel Elly untuk mengirim pesan padanya kembali datang ke pikirannya. Elly berkata kalau ia adalah petugas di BM. Sepertinya ia mengingatnya. Entahlah, ia juga tidak terlalu yakin.
Tapi ia tahu ia pernah bertemu dengan pria ini. Sekali atau dua kali, mungkin. Kalau tidak, tidak mungkin suara pria ini terasa familiar untuknya.
Atau suaranya hanya mirip dengan suara orang yang ia kenal?
Satu lagi, ia memperingati Shirley akan resiko tindakannya. Hal ini bukanlah hal yang bisa disadari oleh sembarang orang. Papanya yang keras padanya memang merupakan rahasia umum di Rommy. Tapi tidak dengan fakta kalau
ia pernah terluka parah karena itu.
Apakah pria ini menyadari sesuatu darinya?
Atau Elly yang memberitahunya?
Yah, sepertinya itu yang paling masuk akal.
Mungkin Elly memberitahukan segalanya agar pria itu mau membantunya. Entah bantuan seperti apa, tapi Shirley tahu kalau itu pasti demi memenuhi keinginan egoisnya yang kesekian kalinya, dan ia tidak berhak marah.
Shirley tertawa miris. Sepertinya sekarang ia tidak lagi memiliki muka untuk bertemu pria itu. Pasti pria itu sudah berpikir kalau ia adalah gadis yang menyedihkan, pengecut, dan rapuh. Benar benar berbeda dari imej tak terjangkau yang selalu digunakannya untuk melindung
dirinya.
Shirley memeluk lututnya di atas sofa tersebut dan menenggelamkan wajahnya. Dihelanya nafas panjang.
Bagaimana jika pria itu memberitahu teman temannya? Tidak mungkin kan? Elly pasti sudah melakukan sesuatu tentang ini.
"Shirley? Kau baik baik saja?"
"Kya!"
Sentuhan tiba tiba di bahunya menyentak kaget Shirley hingga refleks ia berteriak dan menjauhkan dirinya sebelum menoleh.
"Hey! Kau me- Vino?!"
Bola mata Shirley membesar sempurna melihat manusia di depannya yang telah bertransformasi ke wujud yang tidak dikenalnya. Sedikit terlalu berlebihan, tapi Shirley merasakan tarikan besar untuk melompat dan menenggelamkan diri dalam pelukan pria seksi ini. Mendengarnya mengatakan padanya kalau ia adalah miliknya, tidak tertarik lagi pada gadis manapun, dan akan melindunginya. Kira kira seseksi itulah gambarannya. Terlalu seksi hingga Shirley merasa berat untuk berbagi.
"Errr.. gimana?"
Vino salah tingkah karena dihadiahi tatapan intens oleh gadis cantik di depannya.
'Sempurna!' batin Shirley berteriak. Kekhawatirannya akan masa lalunya yang akan terkuak sepenuhnya menguap begitu saja.
"Bagaimana kejutannya? Kau suka?"
Bu Nans muncul dari pintu dan berjalan ke samping mereka dengan senyum bangga. Shirley segera menyongsongnya dan mengguncang guncang bahunya.
"Kau hebat, Bu! Ini melebihi ekspektasiku! Apa saja yang telah kau lakukan?!"
Bu Nans tertawa melihat mata Shirley yang berbinar seperti anjing kecil. Digerakkannya tangannya untuk mengelus kepala gadis itu.
"Tidak banyak. Dari awal ia memang memiliki struktur wajah oval yang bagus. Jadi yang perlu kulakukan hanyalah menonjolkannya yang disebut teknik contouring. Aku menggunakan tone dengan warna yang sedikit lebih gelap dari warna kulitnya untuk menegaskan bentuk tulang pipinya dan sedikit bubuhan di beberapa tempat lain. Ayo Vino, duduklah. Aku akan mengambilkan nasi goreng untukmu."
"Hei, hei, tunggu dulu, Bu! Penjelasanmu belum selesai! Bagaimana dengan rambutnya?"
Shirley mencibir kesal melihat Bu Nans yang melengos pergi begitu saja tanpa memberikan jawaban apapun. Dialihkannya perhatiannya pada Vino yang tadinya menggunakan kaos oblong hitam dan celana training, sekarang telah raib entah kemana. Berganti dengan celana jeans berwarna biru tua yang senada dengan jas yang ia kenakan diatas kaus putihnya.
"Kau benar benar terlihat luar biasa."
Shirley lagi lagi tak dapat menahan pujiannya sebelum menarik Vino untuk mendudukkan diri di sofa.
"Begitukah? Tapi kurasa aku sedikit tidak nyaman dengan ini." Vino berkata sambil menyapu sekilas rambutnya dengan jarinya.
"Sudah. Dan ya, kuakui aku sedikit tak percaya kalau yang terpantul adalah bayanganku."
Shirley tertawa mendengar ungkapan Vino yang sungguh sungguh. la bergerak meraih handphonenya dan menunjukkan satu gambar dari sekian hasil penelusuran Google.
"Kau terlihat sepertinya."
"Sialan, kau berlebihan." Vino menyingkirkan ponsel Shirley dari pandangannya sembari mengulum senyumnya.
Bagaimana bisa ia disamakan dengan aktor tersohor Korea itu? Jelas sekali kalau yang barusan murni majas.
Tapi ia tidak menampik kalau ia merasa senang sekarang. la merasakan rasa percaya diri dalam dirinya. Ia merasa kalau ia yang sekarang dapat berada diantara Andrew dan Tiffany dengan membusungkan dada. Si cupu? la tak melihat orang yang cocok dengan julukan itu sekarang. Tuhan, ia sungguh ingin berlari dan menunjukkan dirinya yang baru pada Tiffany, memeluk gadis itu dan menggandengnya di kampus dengan percaya diri.
Oh, sial, persetan dengan Andrew. Ia akan fokus melangkah maju sekarang. Ia merasa sudah mulai melihat cahaya.
Tapi andai saja..
Oke, cukup.
"Maaf menunggu." Bu Nans yang membawa sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk menghampiri mereka.
"Seharusnya kau tak perlu melakukannya, Aku sudah sarapan tadi." Vino berkata dengan raut tidak enak sambil bangkit dan menerimanya. Serta merta wangi yang lezat menggelitik hidungnya.
"Makan saja. Kau akan lupa kalau kau sudah makan."
Vino sudah setuju dengan argumen Shirley bahkan sebelum ia menyantapnya.
Dan suapan pertama meruntuhkan harga dirinya.
Makanan restoran mahal tadi tak lagi tersisa. Vino mengakui sepenuhnya keajaiban nasi goreng dihadapannya. Shirley tersenyum senang melihat Vino lahap menyantap nasi gorengnya, lantas menoleh kembali pada bu Nans, menuntut penjelasan lebih.
Bu Nans menghela nafas.
"Kau benar benar keras kepala. Sudah kubilang tak banyak yang kulakukan. Setelah melihat struktur wajahnya dari dekat, kurasa ia tidak cocok dengan kesan imut. Ia lebih cocok dengan kesan maskulin. Karena itu aku tidak
memberinya makeup berlebihan."
Shirley mengangguk ngangguk mendengar dengan bersemangat.
"Karena wajahnya oval, ia cocok dengan model rambut apa saja, tapi sebisa mungkin ia harus menghindari poni agar wajahnya tidak terlihat bulat. Karena itu aku memotong poninya. Kemudian aku memberi sedikit volume lebih pada rambut bagian atasnya agar rahangnya terlihat lebih tegas, seperti potongan pompadour atau undercut yang telah dikolaborasi. Dan.. Sim salabim. Selebihnya adalah efek dari outfit yang dikenakannya."
Shirley bertepuk tangan saat bu Nans menggerakkan tangannya seakan sebuah tongkat sihir, disusul suara tawanya mengalir. Vino ikut tersenyum melihat gadis itu.
Sepertinya tempat ini benar benar seperti rumah untuknya. Syukurlah, bisik Vino. Setidaknya Shirley tak lagi menunjukkan sisi rapuhnya yang kesepian, yang membuat Vino memandangnya sebagai seorang gadis biasa, bukan bintang idola yang dikejarnya.
Pintu dibuka oleh sosok wanita dengan topi olahraga dan jaket kulitnya, wanita yang menjemput Vino tadi pagi.
"Kak Elly!"
"Ck, tak bisakah kau membuka pintu dengan lemah lembut?"
Gerutuan bu Nans hanya ditanggapi cengiran
tak bersalah oleh Elly yang merogoh kantong jaketnya, menyerahkan barang yang ditemukannya pada Shirley.
"Sorry, bu. Dan Shirley, ini pesananmu dari
dokter Mete."
"Yay!"
"Tapi, kau benar benar luar biasa, bu."
Elly berjalan menghampiri Vino dan menatapnya, sebelum meletakkan tangannya di kepala Vino dan mengacaknya pelan sambil mengeringai.
"Kau terlihat seperti model yang hebat sekarang."