Change

Change
27. BERTEMU KEMBALI



Rara menggarukan kepalanya bingung. Rara dan Stefan sudah berada di mall terdekat dari mansionnya, tetapi tidak menemukan plang bertuliskan 'Farmacia ambreck' dimanapun!


"Tanya satpam aja kali Raa dari pada bolak balik lagi," saran Stefan yang sudah lelah mengitari mall untuk menemukan apotek.


"Tapi farmacia ambreck bener di mall ini kann?" Tanya Rara tidak yakin dengan Stefan yang mengantarkannya ke mall besar ini. Rara harus membeli obat Reza di Farmacia ambreck karena obat obatan disana sangat lengkap dan terpacaya kegunaan obatnya.


"Iyalahh bener aku kan udah lama disini, kamu juga udah lama disinii pasti tau lahh," Jawab Stefan dengan raut jengkelnya lalu menarik tangan Rara mengajaknya bertanya pada satpam.


"Signore, dov'รจ Farmacia Ambreck? (pak, dimana Farmacia ambreck berada?)" Tanya Stefan pada satpam yang berjaga.


"al 2 ยฐ piano sul lato sinistro dell'edificio, (di lantai 2 di bagian kiri gedung)" Jawab satpam itu.


"grazie, (terima kasih)" balas Stefan lalu menarik Rara menuju lift.


Sesampainya di lantai dua, Rara dan Stefan mengikuti petunjuk satpam tersebut hingga menemukan plang bertuliskan 'Farmacia ambreck'. Rara segera memasuki apotek tersebut dan berkeliling, berharap bisa menemukan obat yang cocok untuk Reza sedangkan Stefan bergerak menuju toko buku yang tepat berada di sebelah Farmacia ambreck.


Rara mencari cari obat untuk Reza tanpa sengaja Rara menjatuhkan kota berisi obat yang ia tidak ketahui namanya, sambil menggerutu pelan. "Reza pake sakit segala sihh."


Sepasang mata membantunya untuk mengambil kotak tersebut, Rara sedikit terpana melihat orang yang berada di hadapannya saat ini. Seseorang wanita berkulit putih bersih, berambut pirang, tubuh yang ramping, paras yang cantik, tangan yang lentik dan kaki yang jenjang. Wanita itu tersenyum pada Rara dan memberikan kotak obat tersebut.


"Can I help you? ( Ada yang bisa saya bantu?) " Mata itu bahkan suaranya sepertinya Rara pernah melihat dan mendengarnya.


"can you help me find a cure for fever and cough medicine, (bisakah kamu membantuku mencari obat penurun panas dan obat batuk)" Rara ingat dia adalah Vely, Evelyne Denaya Davies. Wanita masa lalu Reza, sekarang Rara punya kesempatan emas untuk mencari tahu masa lalu Reza selama ini. Rara tidak akan meninggalkan kesempatan emas itu begitu saja. Tidak akan!


Selagi Evelyne mencarikan obat yang Rara ucapkan ,Rara mencuri curi untuk memotret Vely. Tak lama untuk mencari obat yang cocok, Vely memberikan dua kotak obat pada Rara.


"Vely, remember me? (Vely, ingat aku?)" Tanya Rara memastikan sambil mengambil dua kotak obat dari tangan Vely.


"Friend of Reza, right? ( Teman dari Reza, iya kan?)" Tambah Vely lagi untuk memastikan dugaannya benar. Sebenarnya Rara sedikit kesal karena dimata orang lain Rarw hanyalah teman. Tunggu! Sejak kapan Rara mementingkan itu? Ohh tidak jangan bilang Rara mulai menyukai Reza


"Yes, of course ( iya, benar)" Jawab Rara dengan senyum yang sedikit di paksakan.


"may I ask for your number? (bolehkah aku meminta nomer mu?)" Izin Rara untuk meminta nomer Vely karena posisinya ini sedang genting tidak mungkin kan Rara mengajak Vely untuk makan bersama dan menceritakan seluruh masa lalu Reza ketika Reza sedang mengaduh kesakitan di kasur mansion, sendirian pula.


Vely menampakan senyum tipis yang terukir atas pertanyaan izin Rara. Rara pun terus bertanya tanya karena setiap perkataan dan gerak geriknya selalu mendapati senyum manis dari Vely. Apakah wanita itu seperti ini? Terseyum setiap saat, lebih terlihat fake you know?


"Sure,(tentu)" Vely memberi izin lalu Rara mengeluarkan handphonenya untuk diberikan pada Vely. Vely pun mengetik setiap digit nomernya pada handphone Rara, setelah selesai menyimpan nomernya pada handphone Rara ia pergi melanjutkan kegiatannya yang tertunda.


Rara pun melanjutkan aktifitasnya untuk membayar obatnya pada kasir yang berjaga kemudian menghampiri Stefan yang sedang melihat lihat buku di toko buku sebelah apotek.


"Stef!" Panggil Rara dengan girangnya.


"Udah?"


"Iya, udah nihh" Rara menunjukan kantung berisi obat pada Stefan.


"Mau langsung pulang?" Tanya Stefan yang sebenarnya tidak ingin pulang. Stefan ingin bejalan jalan dengan Rara, sunggu bayangan indah. Namun, jawaban Rara membuat bayangan indah itu hilang.


"Iya, kasian si Reza masih sakit," Jawab Rara yang masih memikirkan Reza yang begitu lemah di kasur.


"Yaudah, ayo!" Seru Stefan kemudian menggandeng Rara mengajaknya untuk pulang.


โ„๐Ÿ’ญโ„๐Ÿ’ญโ„๐Ÿ’ญโ„